Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 35



Setelah semua orang pergi dari tempat ruang makan, Rahimah pun di suruh oleh Ustadzah Habibah untuk makan dulu barulah rencananya mereka akan pulang.


Saat Rahimah sedang makan, semua orang tengah mengantar kepergian Abdar dan keluarganya, hingga hening ... Rahimah pun tidak mendengar lagi suara orang-orang itu setelahnya.


Selesai dengan makan siangnya, Rahimah tidak tega membiarkan cucian piring kotor yang menumpuk. Ia pun segera membantu para santri yang mencuci piring terlebih dahulu, tentu usai meminta izin pada Ustadzah Habibah secara paksaan bahwa ia ingin membantu, mau tidak mau Ustadzah Habibah mengizinkannya.


Usai membantu para santri, Rahimah pun kembali ke ruangan Ustadz Rasyid guna menemui Ustadzah Habibah.


"Assalamu'alaikum," ucap Rahimah di depan pintu yang terbuka lebar.


"Wa'alaikummusalam," sahut dari dalam.


"Imah, masuk sini ... sudah selesai bantu-bantunya?" tanya Ustadzah Habibah saat melihat Rahimah di depan pintu dan segera menyuruhnya masuk untuk bergabung.


Di ruangan tersebut hanya ada Ustadzah Habibah, Ustadz Rasyid, dan Ustadz Abizar. Karena yang lain tengah memberikan pelajaran kepada para santri.


Perlahan Rahimah masuk ke dalam, dan ikut duduk di sofa dekat dengan Ustadzah Habibah. Ia pun menanyakan apakah mereka, akan pulang sekarang.


"Iya, sudah Bu. Apa kita pulang sekarang Bu?" ujar Rahimah menatap Ustadzah Habibah yang sudah ia anggap orang tua sendiri.


Ustadz Abizar memperhatikan Rahimah dari tempat duduknya di sebrang meja kerja Ustadz Rasyid, tapi Rahimah sama sekali tidak meliriknya.


"Kalau begitu kamu tunggu sebentar di sini ... Ibu mau ke kelas Ustadzah Badawiya dulu, izin pamit sama beliau!" Rahimah yang melihat Ustadzah Habibah hendak bangkit dari duduknya, segera mencegatnya.


"Sekalian saja saya ikut pamit Bu, biar egak bolak balik," ucap Rahimah hendak ikut.


"Gak usaah, kamu di sini aja dulu. Lagian kelasnya itu berlawanan arah, kalau kita mau pulang ... pasti juga lewatin ruangan ini."


"Kamu gak perlu khawatir, di sini kamu gak cuman sendiri ... itu ada Ustadz Rasyid sama Ustadz Abizar yang nemenin kamu," sambung Ustadzah Habibah.


"Santai aja Imah, anggap keluarga sendiri," sahut Ustadz Rasyid menimpali, Ustadz Abizar melirik Rahimah sekilas dan kembali membaca kitab.


"Tapi Bu, saya gak enak ... perempuannya cuman saya sendiri di sini," kata Rahimah menawar.


"Tenang aja, sebentar lagi Madinah bakalan kesini kok. Tadi dia pamit mengantar kitab dan akan segera kembali," mendengar Madinah yang akan segera datang, terpaksa Rahimah mengalah dan duduk manis lagi.


"Iya, sebentar lagi Dinah kemari," kata Ustadz Rasyid tanpa menoleh tetap pada buku di tangannya. Rahimah mengangguk pasrah.


"Sebentar ya Ibu tinggal dulu, Asalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam," sahut mereka.


Tidak ingin terlihat menganggur, Rahimah pun mengeluarkan Hp dari dalam tasnya untuk menghilangkan rasa jenuh.


Seperti tadi, Ustadz Abizar meliriknya secara sembunyi-sembunyi. Ustadz Rasyid yang melihatnya pun memajukan sedikit badannya pada Ustadz Abizar sembari membisikkan sesuatu.


"Ajak dia bicara," ujarnya sangat pelan.


Ustadz Abizar tersentak kecil, menggaruk-garuk tengguknya walau tidak gatal ia pun mengangkat bahu, tanda bingung ingin bicara apa?


Keheningan pun begitu terasa karena semua memilih diam, sekali lagi Ustadz Rasyid membisikkan perintah pada rekannya itu, yang malah tidak di hiraukannya. Melihat itu Ustadz Rasyid jadi gemes, kesal ia pun menendang tulang kering Ustadz Abizar yang berada di bawah mejanya.


"Aww ...." refleks Ustadz Abizar memekik karena terasa sakit, Rahimah yang mendengarnya melirik sekilas.


Dapat Rahimah lihat, Ustadz Abizar tengah mengusap-gusap kakinya, kemudian ia kembali melihat pada Hp-nya.


Ustadz Abizar melotot pada sang pelaku karena sudah menendang kakinya, tapi sekarang Ustadz Rasyid yang membalasnya, hanya menunduk seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ekhemm," deheman Ustadz Abizar mengudara di ruangan tersebut, sejenak memecah keheningan tapi hanya bersifat sementara karena masih tidak ada yang bersuara.


Sibuk dengan lamunan sendiri, tiba-tiba mereka di kagetkan dengan kedatangan seseorang. "Assalamualaikum," ujar Madinah seraya masuk.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab serempak sambil menoleh.


Ustadz Rasyid merasa lega saat kedatangan adiknya di ruangan tersebut, sempat saling lirik pada sang adik ia pun memberi kode dengan ekor matanya menunjuk kepada Rahimah dan Ustadz Abizar.


Paham dengan kode yang di berikan, Madinah tersenyum sembari duduk di dekat Rahimah dan mengajaknya bicara.


"Imah, kalau egak salah ... kamu tinggalnya masih di dekat Ustadzah Habibah 'kan?" tanya Madinah.


"Iya, mbak. Di ... (menyebutkan nama alamat) tapi aku di depan gangnya," sahut Rahimah.


"Di depan gangnya itu, bukannya cuman ada ruko-ruko ya?" Ustadz Abizar menajamkan pendengarannya guna tahu tempat tinggal Rahimah.


"Memang betul mbak, aku tinggalnya di salah satu ruko di sebelah kanan," aku Rahimah.


"Oiya .., kalau gak salah Ustadz Abizar punya keluarga'kan di sekitar situ?"


"Haa," refleks Ustadz Abizar memekik saat tiba-tiba Madinah bertanya padanya.


"Ehh, iya ... aku punya tante di sekitar situ," ucap Ustadz Abizar.


"Oya? Siapa namanya Ustadz Abizar? Mungkin saja saya kenal!" Ustad Abizar yang di panggil oleh Rahimah menjadi salah tingkah.


Madinah dan Ustadz Rasyid, tersenyum sendiri melihat teman yang sangat jarang berbicara itu. Mereka pun membiarkannya tanpa ikut menyela.


"Tante Farhana, biasa di panggil tante Hana," Kata Ustadz Abizar menatap Rahimah yang juga menatapnya saat mengatakan nama tantenya.


"Tante Hana, yang jualan boneka ya mas? Kenal kok mas, saya sama beliau," Rahimah tanpa sadar merubah nama panggil Ustadz Abizar.


Rahimah adalah salah satu orang yang suka menghargai lawan bicaranya, apa lagi jika ia memang benar-benar tahu tentang sesuatu yang di bahas ... maka ia akan berbicara santai dengan lawan bicaranya.


Sangat istimewa di pendengaran Ustadz Abizar, saat ia di panggil dengan sebutan Mas ... karena biasanya hanya orang yang sangat dekat saja yang memanggilnya seperti itu.


"Tempatnya cuman terhalang dua ruko dari saya mas, dulu waktu kecil saya sering main sama anak beliau. Kalau gak salah nama anak tante Hana itu ... Alara?"


"Tapi dia masuk ke pesantren, jadi saya gak pernah ketemu dia lagi waktu dia mondok," ujar Rahimah.


"Alara sekarang sudah menikah dan sekarang dia menetap di malang bersama suami. Tapi rencananya, dia akan datang berkunjung ke tempat tante Hana katanya, mungkin sekitar seminggu lagi," jelas Ustadz Abizar.


"Benarkah itu mas? Saya baru tau. Soalnya pas saya pindahan ... saya cuman sebentar ngobrol sama tante Hana, jadi saya gak sempat nanya-nanya tentang Alara," Rahimah tidak sadar kalau ia tersenyum saat mengenang teman kecilnya.


"Pindahan? Emang pindah kemana?" tanyanya, semakin santai saja mereka.


"Kebetulan saya sempat tinggal di Bandung, dan baru-baru ini saya kembali ke Jakarta," terangnya.


Madinah yang melihat gelagat akan habis tentang bahan pembicaraan, segera angkat suara.


"Jadi Imah, kapan-kapan kalau kita atau Ustadz Abizar mampir ke tempatmu, gak masalah'kan?" ucap Madinah.


"Tentu, dengan senang hati mbak. Mampirlah ketempat ku kalau mbak kebetulan ke sana," ucap Rahimah tulus.


"Assalamualaikum," seketika semuanya menyahut dan menoleh, ternyata itu adalah Ustazah Habibah yang baru kembali.


"Maaf ya Imah, Ibu jadi kelamaan ... soalnya tadi di suruh Ustazah Badawiya, pakai acara perkenalan dulu di kelasnya." Rahimah hanya mengangguk maklum.


"Tidak apa-apa Bu, apa kita pulang sekarang?"


"Iya, kita pulang sekarang. Madinah, Bibi pulang dulu ...."


"Iya, Bi ..."


Setelah berpamitan, Rahimah dan Ustadzah Habibah segera menuju halaman pesantren. Tiba di tempat mereka memarkirkan mobil, mereka sudah di sambut oleh supir yang tadi lebih dulu ke mobil usai ikut makan siang bersama.


Saat mereka sudah duduk, sang supir bergegas menghidupkan mobil dan menginjak pedal gas ... perlahan tapi pasti mobil pun pergi meningalkan pekarangan pondok tersebut.


Di perjalanan, Ustadzah Habibah mengatakan sesuatu yang sulit untuk di terima oleh Rahimah.


"Imah ... bagaimana menurutmu tentang Ustadz Abizar?" Rahimah yang awalnya tidak mengerti, jelas merasa binggung atas pertanyaan dari Ustadzah Habibah.


"Sudah saatnya, kamu memulai kehidupanmu dengan seorang pasangan Imah. Jangan hanya karena masa lalu ... hingga menghalangimu untuk menggapai kebahagian sebagai seorang istri." Rahimah tertunduk sedih, saat ia sudah mengerti arah pembicaraan dari Ustadzah Habibah.


"Diantara tanda-tanda kebesaran Allah dia telah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kalian cenderung serta merasa tentram kepadanya. Allah menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang. Sungguh dalam hal ini, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang mau berfikir (Ar-Rum:21)." Ustadzah Habibah memberikan sedikit pencerahan kepada Rahimah.


"Pikirkanlah Imah, apa kamu tidak kasihan sama Rahman yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang, dari seorang ayah? Apa kamu tidak ingin Rahman bahagia saat mempunyai ayah?" semakin menundukkan kepala, kala menyangkut prihal tentang Rahman yang tidak mempunya orang tua lengkap.


Rahimah bahkan tidak mempunyai jawaban untuk pertanyaan itu, jika di tanya kasihan jelas ia merasa kasihan ... tapi jika cara untuk membahagiakan itu hanya dengan menikah? Maka lidahnya terasa kelu, walau untuk menjawab sepah, dua patah kata saja.


“Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (Al-Hujurat: 13)." Ujar Ustadzah Habibah.


"Ibu kenal baik dengan, Ustazd Abizar. Ibu harap kamu mau membuka hati dan saling mengenal satu sama lain," sambungnya lagi.


"Kamu jangan khwatir soal sikapnya, jika mengenai sifat baik dan buruknya ... kami sudah tau semua tentang hal itu. Dia bahkan sampai sekarang belum menikah, karena sangat pemalu."


"Entahlah, Bu ... biarkan saya berpikir dulu," ucap Rahimah pada akhirnya, karena sejak tadi hanya suara Ustadzah Habibah yang terdengar.


Mendengar jawaban itu, sudah sangat bagai angin segar bagi Ustadzah Habibah, Ia pun membiarkan Rahimah diam kembali.


Menarik tangannya yang dari tadi sempat di pangku oleh Ustadzah Habibah, pandangannya pun menoleh ke arah luar jendela mobil.


...****************...


"Tomi, segera temukan tempat tinggal wanita yang bernama Rahimah itu, tadi aku bertemun dengannya lagi di pesantren ... (menyebutkan salah satu nama pesantran), jika kau bergerak cepat kemungkinan kau bisa mengikutinya dari tempat itu," saat Abdar sampai di dalam rumahnya, ia segera pergi ke kamarnya guna mehubungi Tomi tanpa sepengatahuan Maryam dan Adit, tentu dengan alasan yang benar-benar ingin ia lakukan dan langsung di terima.


📞"Siap tuan, laksanakan?"


"Bagus, ku tunggu informasi darimu ... dua puluh empat jam dari sekarang," ujarnya sembari mematikan teleponnya.


Melepas baju koko, sarung dan kaos baju, kini tinggallah celana pendek yang melekat di tubuhnya. Ia pun beranjak dari tempatnya berdiri, pergi ke kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya karena rasa penat dan lelah. Belum sampai di kamar mandi ... tiba-tiba ia di kejutkan oleh seseorang.


"Hei, bro ... gua langsung balik aja ya? Sekalian mau mampir cek kantor dulu, nanti gue kasih kabar lo, kalau ada rapat sama klien," ujar Adit menyebulkan kepalanya dari balik daun pintu.


Sempat terkejut, ia pun segera bersikap biasa-bissa saja guna menutupi rasa kagetnya itu.


"Eemmm, pergilah," ujarnya kembali berjalan dan masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Abdar menatap dirinya dari pantulan cermin. Ia memenga dada sebelah kirinya, yang sempat berdetak hebat saat mendengar Rahimah menjadi seorang janda.


Ada bayang-bayang penyesalan yang kini Abdar rasakan, sepuluh tahun sudah kejadian itu berlalu ... dan sekarang ia baru merasakan rasanya takut akan dosa yang mengejarnya.


Tidak ingin niat baiknya menjadi seorang mu'alaf terhalang, Abdar pun bertekat untuk memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh ... lalu meminta maaf dan akan bertanggung jawab atas segala kesalahannya pada Rahimah.


Abdar akan mencari tahu dulu tempat tinggalnya, baru ia akan mencari informasih masal terkait kehidupan Rahimah dan anaknya.


Jika benar dugaannya, tentang suami Rahimah yang tega menceraikannya saat tahu bahwa Rahimah tidak perawan ... maka ia akan bersedia menggantikan suami Rahimah sebagai ayah dari anaknya, dan ia akan mencoba menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri. Pikir Abdar.


Cukup dengan pikiran-pikiran yang belum pasti, Abdar pun segera menghidupkan keran air dan berdiri di bawah kucuran air tersebut.


Sejenak ia merasa releks saat air itu berjatuhan di atas pemukaan kulit, mengambil sampo dan sabun mandi lalu ia usapkan pada seluruh tubuhnya. Di rasa cukup, Abdar lekas membilas badannya.


Melilitkan handuk, Abdar keluar dari dalam kamar mandi sambil menggosok-gosok kepalanya dengan handuk lain.


Tiba di meja rias, Abdar memakai hair dryer agar lekas mengeringkan rambutnya. Selesai dengan itu, ia bergegas memakai baju dan celananya.


Kemudian berjalan ke arah ranjang, mengambil laptop di atas nakas lantas Abdar duduk di kasur empuknya sambil menghidupkan laptopnya.


Membuka salah satu akun website yang sangat umum untuk diakses, menampilkan halaman pencarian, Abdar pun mengetik sesuatu.


Belajar sholat ketiknya pada keyboard.


Muncullah berbagai informasi yang Abdar butuhkan, ia pun memilih salah satunya yang bertuliskan;


detikNewsBerita 


...10 Bacaan Sholat, Tata Cara, dan Terjemahannya...


Fithria Pratiwi - detikNews


Senin, 01 Jul 2019 15:46 WIB


Share


 Komentar


10 Bacaan Sholat, Tata Cara, dan Terjemahannya/Foto: iStock


Jakarta - 


Setiap bacaan sholat yang diucapkan memiliki arti. Panduannya beserta terjemah di bawah ini bisa membantu untuk menjalani rukun Islam yang kedua ini.


Sholat merupakan rukun Islam kedua yang terdiri dari sholat wajib dan sholat sunah. Sholat wajib artinya sholat yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Sementara sholat sunah, kita akan mendapatkan pahala jika melakukannya tetapi jika tidak mengerjakan tidak akan mendapatkan dosa.


Bacaan sholat dimulai dari takbir hingga salam. Ada beberapa tutunan bacaan sholat beserta gerakannya yang harus dilakukan. Berikut penjelasan beserta artinya:


Abdar dengan serius membaca setiap tulisan di artikel itu, Ia juga beberapa kali mengganti dengan judul yang berbeda tapi isinya tidaklah jauh dengan artikel sebelumnya. Tidak cukup sekali dalam membaca, ia pun mengulangnya hingga berkali-kali agar mudah untuk di ingat.


Puas dengan artikel tersebut, Abdar menggantinya dengan sebuah akun yang menyediakan berbagai video gerakan Shalat dan bacaannya.


Setiap gerakan di video itu pun tidak luput ia ikuti, mulai dari cara membaca niat Sholat walau belum hafal, kemudian mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga sambil membacakan "allahu akbar."


Kemudian tangan disedekapkannya pada dada dan ikut membaca doa, di rasa belum dapat untuk mengikuti doa itu ... Abdar pun hanya melakukan gerakan dan menutup mulutnya tapi menajamkan pendengaran hingga video tersebut selesai dan kembali mengulangnya beberapa kali.


Hampir satu jam lamanya Abdar menonton video tersebut, sehingga pinggangnya terasa sakit. Menutup laptopnya dan meletakannya di samping ia duduk, meluruskan kedua kakinya ... Abdar lantas menghempaskan tubuhnya kebelakang sambil bergumam.


"Haahh, melelahkan," ujarnya dengan mata terpejam. Hingga tanpa sadar Abdar tertidur karena mata yang terasa berat.


...****************...


Rahman tersentak dari tidurnya, ia pun lekas duduk setelah sempat membaca doa, di ambilnya jam tangan yang berada di atas nakas dan di lihatnya jam sudah menunjukkan jam 14:24 WIB.


Bergegas keluar kamar dan tidak lupa mengambil handuk yang menggantung di daun pintu dalam kamarnya, Rahman juga mengganti sarung yang tadi ia gunakan untuk Sholat dengan sarung khusus mandi.


Saat sudah menutup kembali pintu kamar, dilihatnya keadaan rumah yang masih sepi. Dapat di pastikan kalau sang mama belumlah pulang, Rahman pun berjalan menuju kamar mandi guna menyegarkan tubuhnya.


Usai mandi Rahman Rahman lekas mengenakan baju taekwondo-nya di dalam kamar, lalu kembali lagi ke dapur untuk makan. Sebelum pegi Rahman mencuci piring kotor dulu, setelahnya ia pun turun ke lantai dasar untuk pergi.


Memakai jaket dan memasang helm sepedanya, Rahman menuntun sepedanya keluar rumah lalu mengunci pintu dan menyimpan anak kunci ke dalam saku jaketnya.


Rahman menyusuri pinggir jalan raya dengan sepeda tinjaknya, Rahman tidak meras takut ... karena beberapa temannya juga menggunakan sepeda tinjak guna menuju dojang. Dengan terus mengayuh sepedanya, dari kejahuan Rahman sudah dapat melihat sebagian dari teman-temannya yang lebih dulu di depannya juga tengah mengajuh sepedanya.


Menambah kecepatan kayuhnya, Rahman pun dapat bergabung dengan teman-temanya yang lain, walau pun hanya mengekor di belakang.


Tiba di parkiran, ia segera memasang standar sepedanya kemudian masuk ke dojang bersama teman-teman yang lain.


Berlatih hingga kurang lebih satu jam, kemudian mereka istrahat untuk mengembalikan tenaganya, setelahnya latihan di bubarkan. Sama saat Rahman berangkat tadi, ia kembali mengayuh sepeda menyusuri pinggir jalan dengan temannya hingga sampai pada rumahnya.


BERSAMBUNG ....


Maaf kalau baru UP, mohon dukungan ya semua 🙏. Minta like, komen, gift, kopi, atau Vote bila berkenan. Untuk semuanya Aku ucapkan terima kasih🤗.


Salam sayang 😘


.


Noormy Alinsyah