
Usai bercengkrama menikmati kebersamaan, Rahman pun meminta izin untuk pergi bersama Master Candra. Mereka berencana akan pergi ke dojang (tempat latihan) taekwondo, karena saat ini Master sedang ada di Jakarta ... maka dari itu Ia sekalian yang akan mengantarkannya.
Rahman mendekati Rahimah.
"Ma ... Rahman pergi sekarang ya?" izinnya pada sang Mama.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya?" pesan Rahimah mewanti-wanti.
"Master, mohon bantuannya ... tolong jagain Rahman?" Rahimah beralih kepada Master yang masih duduk bersila dengan rombongan pria.
"Tentu, pasti akan saya jaga."
Dinda yang dari tadi tidak sadar dengan adanya orang asing di antara mereka, memicingkan mata pada Master itu. Ia pun menyikut lengan Nurul sambil berbisaik.
"Itu siapa?" tanyanya sangat pelan di samping Nurul masih melirik pada Master Candra.
"Master taekwondonya, Rahman." Nurul ikut berbisik.
"Sejak kapan ada di sini?" ujarnya mengerutkan kening, masih dengan suara berbisik.
"Ya, sebelum Kamu datanglah!"
"Ehh," pekiknya segera menoleh kepada Nurul yang juga di balas Nurul dan mereka sekarang saling pandang.
"Berati tadi, dia denger juga dong aib-nya aku?" Nurul mengangguk sambil tersenyum lebar dan juga dengan alis yang Ia turun naikkan.
Melihat kelakuan temannya itu, Dinda menjadi kesal. Ia pun berniat ingin kembali mempiting leher Nurul, belum sempat Ia melakukannya ternyata Nurul sudah mempunya insting ... dan segera berlari mencari pertolongan pada suaminya.
Melihat Nurul yang hendak berlari, Ia pun ikut beranjak tapi tidak keburu. Tidak menyerah, Dinda segera mengejarnya. Nurul berhasil duduk di dekat suaminya, saat Dinda hendak menggapainya Ia tersandung kakinya sendiri dan mengakibatkan Ia hilang keseimbangan.
Saat itu juga berbarengan dengan master yang hendak berdiri, alhasil Dinda jatuh menimpa Master Candra.
"Aww ..." pekik Dinda terkejut dengan mata terpejam menahan sakit, tapi terternyata tidak terlalu sakit.
Semua mata mengarah pada mereka berdua, posisi Candra sekarang di tindih oleh Dinda yang menempel di dada bidangnya. Candra terkejut bukan main saat ada yang menimpanya, dan sekarang ... tambah terkejut saat sadar bahwa yang menindihnya adalah seorang wanita.
"Wah si janda kayanya keenakan tuh," celetuk Nurul di hadapannya sambil cekikikan.
Mendengar itu Dinda segera bangkit, Ia pun menopang tubuhnya ... tapi masih tidak sadar bahwa tangannya bertumpu di dada bidang Canda, hingga membut tekanan yang membuat Candra kesakitan.
"Awww," buru-buru Dinda berdiri dan membantunya, Zidan ikut membantu saat mendengar jerit kecil dari temannya.
"Maaf Mas, aku benar-benar gak sengaja ... tadi kaki aku tersandung," Dinda meringis tak enak hati, refleks membantu memapah tubuh besar berotot itu.
"Tidak apa-apa," ucap Candra dingin dan datar sambil mengusap-ngusap dadanya yang sakit.
"Kamu, yakin gak apa-apa Can?" Zidan menimpali.
"Ya, tidak apa-apa."
Dinda yang awalnya merasa bersalah, tapi karena melihat respon orang tersebut saat ia meminta maaf sangat terkesan sombong membuatnya jadi enggan menyesalinya.
"Baguslah kalau tidak apa-apa." Dinda ikut bersikap datar, dan berlalu pergi kembali duduk di tempat meja makan.
Candra yang melihat Dinda pergi sangatlah kesal dengan apa yang menimpanya barusaan, di dalam hati ia mengumpat pada Dinda. Candra menyalahkan Dinda, yang tiba-tiba datang dan jatuh di atasnya.
"Sialan, kenapa pakai acara jalan kesini tadi? Dan jatuh menimpaku?" Rutuknya.
"Master tidak apa-apakan?" tanya Rahman khawatir, termasuk semua orang juga.
Tersenyum kepada Rahman dan menggeleng. "Ayo, kita berangkat sekarang."
"Kalau begitu, semuanya saya permisih duluan," pamit Candra. Rahimah pun mengantarnya ke ke bawa.
Begitu kembali, ternyata tahu-tahu temannya ingin pulang.
"Rahimah, sepertinya kami juga akan pulang." kata Zidan, kemudian menoleh pada Soraya untuk segera pulang.
"Ayo sayang, kita juga pulang ... sebentar lagi jam tidurnya Nuri." Ari ikut-ikutan mengajak Nurul.
"Yah, jadi semua pada pulang nih?" keluh Rahimah saat kembali ke lantai atas.
"Ibu, juga akan pulang sekarang ... soalnya nanti ba'da dzuhur akan ada pengajian di Masjid."
Rahimah hanya bisa menghela napas pasrah, dan mengangguk mengiyakan. Karena memang temannya sudah lama dari tadi pagi.
"Kapan-kapan, kita ngumpul lagi yah?" ucap Soraya sambil mendekat, bersalaman saling menempelkan pipi kiri dan kanan.
" ... 'Kan ada Dinda yang datang belakangan, jadi dia bisa nemenin kamu," Nurul melirik Dinda yang diam di meja makan sambil memainkan HP-nya.
"Dinda pasti lagi putuh teman buat berbagi cerita, dia pasti pengen curhat masalahnya ... tapi karena banyak orang dia jadi sungkan. Tapi aku gak mungkin tetap di sini. Kamu tau sendirikan? Aku sekarang juga sudah punya keluarga yang pertu perhatian," bisik Nurul pelan sambil menunjuk kepada Dinda kemudian Suami dan anaknya.
Rahimah tidak bisa melarang, ia sadar ... teman-temannya sekarang sudah mempunyai keluarga kecil masing-masing. Tapi sekarang, Dinda telah sendiri dan sebaiknya ia akan menghiburnya supaya tidak terkenang lagi.
"Dinda, kami duluan yah?" Soraya, Nurul juga bersama suami dan anaknya masing-masing segera turun kelantai bawa. Begitu juga Ustazah Habibah, kembali di antar selaku tuan rumah dan Dinda.
Selapas semua orang sudah pulang, kini tinggalah Rahimah dan Dinda. Mereka pun terlibat pembicaraan yang cukup serias.
"Kenapa sih, sampai-sampai kamu gak cerita sama kami, soal hubungan rumah tanggamu?" tanya Rahimah, setelah mereka memilih duduk santai di depan TV.
"Aku pikir, masalah ini bisa ku atasi sendiri. Tapi ternyata, lama kelamaan masalahnya bertambah ... dan merepet menjadi tambah besar." jelas Dinda sambil menunduk sedih.
Rahimah ikut sedih, melihat temannya yang harus menjanda diusia yang masih muda. Ia pun menarik tangan Dinda, dan menggenggamnya lembut ... ingin minghibur hati temannya yang kembali sedih.
"Maaf, jika kami tidak peka dalam masalahmu? Dan kau harus melewati semua ini sendirian," mendongkakkan kepala menatap Rahimah, Dinda pun menggeleng.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini murni karena keinginan ku yang tidak ingin membawa kalian kedalam masalahku," Dinda membalas genggaman Rahimah dengan tangan satunya.
"Apa ini karena aku? Karena kamu yang selalu membantu masalahku?" Rahimah benar-benar marasa bersalah, jika semua ini berkaitan dengan dirinya.
Kembali menggeleng sambil tersenyum meyakinkan. "Sama sekali, gak ada hubungannya sama kamu Imah. Ini memang karena kami tidak bisa mempertahankannya. Jadi berhenti menyalahkan diri sendiri."
"Aku masih gak percaya, ini pasti gegara kamu yang sering ke Bandung ... karena selalu di mintai tolong dan bikin hubungun kalian renggang." tentu Rahimah ingin tahu yang sebenar.
Sebenarnya bukan karena Rahimah yang memintanya untuk ke bandung, tapi memang keinginan Dinda. Dari Dinda belum menikah juga sudah sering mengunjungi Rahimah, sehingga sudah seperi rutinitas mingguannya.
sedikit menundukkan kepala, menghela napas sedalam-dalamnya kemudian menghembuskannya perlahan dari mulut, baru memandang Rahimah lekat.
"Haruskah aku cerita sekarang?" tanya Dinda tanpa minat.
"Bukan aku tidak ingin bercerita, hanya saja ... momennya tidak tepat. Ini adalah hari baru kamu dan Rahman, jadi aku tidak ingin merusak suasana hangat ini."
"Nanti pasti akan ada waktunya, biarkan aku ikut menikmati kepindahanmu tanpa menyinggung penyebabnya," Dinda menjelaskan panjang lebar.
"Tadi aku memberitahu kalian, hanya untuk meringankan beban yang mengganjal dihati ku .... Karena tidak bisa bercerita tentang masalah ku selama ini, tapi jika untuk menceritakan detailnya, aku belum sanggup." aku Dinda.
"Aku mengerti, semua itu adalah keputusanmu. Aku juga tidak akan memaksamu, jika kamu belum bisa cerita."
Seketika Dinda melengkungkan senyum lega, ia senang karena Rahimah tidak menuntutnya untuk bercerita sekarang.
"Jadi bagaimana sama kerjaan kamu?" setahu Rahimah, Dinda bekerja di kantor yang sama dengan suaminya.
"Aku sudah memutuskan untuk resign dari kantor itu, aku akan memulai kembali kehidupan yang baru tanpa ada bayang-bayang Mas Angga mulai dari sekarang."
"Serius kamu? kalau kamu berhenti, nanti cari kergìnya susah loh?" khawatir Dinda akan jadi pengangguran.
"Tenang aja, kamu gak usah khwatir. Aku udah ada kerjaan sampingan," Dinda yang paham dengan maksud Rahimah segera menceritakannya, bahwa ia sudah mempersiapkannya dari awal.
Jelas saja Dinda sudah mencari kerjaan sampingan, jika perhitungannya bahwa perceraia itu terjadi, sudah di pastikan ... bahwa ia akan menjadi bulan-bulanan bahan gosip dari para rekan kerjanya.
Tapi sebenarnya, tebih tepatnya bukan ia yang mencari kerjaan itu, melainkan pekerjaan itu datang kepadanya atas perintah dari sang kakek.
Jadi sebelum kuping dan hatinya panas, ia mengantisipasinya terlebih dulu. Dinda juga sudah mengajukan resign saat sidang perceraian pertamanya di gelar, dan sebenarnya ia sudahlah perhenti dan sudah berganti dengan kerjaan baru.
"Kerja sampingan?" Dinda mengangguk sambil tersenyum, sejenak ia lupa dengan kesedihan.
"Memang apa kerja sampinganmu?" Rahimah menjadi penasaran.
"Selamat ya, sudah jadi atasan nih sekarang. Kenapa gak dari kemaren-kemaren aja?" padahal restauran itu sudah lama ingin di berikan pada Dinda, tapi entah kenapa Dinda tidak mau waktu itu.
"Jelaslah aku dulu gak mau, soalnya Mas Angga 'kan gak tau kalau kakek punya usaha restauran. Kalau waktu itu dia tau, aku yakin ... Mas Angga pasti yang kepingin banget ambil alihnya," kata Dinda, tidak ada rasa penyesalan karena terlambat mererima tawaran itu. Ia bahkan seolah bersyukur karena saat ia menerimanya, ia sudah berpisah dengan suaminya.
Rahimah tidak mengerti maksud dari perkatan Dinda, tapi ia tidak ingin ikut campur lebih dalam. Karena itu adalah keputusan Dinda sendiri.
"Jadi kapan kamu ke restauran?"
"Karena hari ini hati aku lagi kacau, jadi mungkin sebentar lagi aku akan ke sana. Mau masak-masak, biar mengalihkan perhatian aku sama masalah peceraian," Dinda melirik jam tangannya.
Rahimah mengangguk setuju, akan lebih bagus jika Dinda mempunyai kesibukan yang membuat pikirannya jernih dari masah.
"Jadi yang tau ini baru aku ya?" Rahimah teringan dengan temannya yang lain.
"Hehehe, aku bingung mau ngasih taunya mulai dari mana dulu, ini juga waktu mau kasih tau masalah pecerayan tadi sempat ragu, tapi karena sesak di dada yang memaksa aku buat cerita sekarang." ucap Dinda menggaruk kepala yang di bungkus kerudung merah itu.
"Dan itu sebenarnya sangat terlambat ...." ketus Rahimah, ia sebenarnya kesal pada Dinda yang baru cerita saat status jandanya sudah di sandang. Hebat sekali temannya ini menyembunyikan masalah, sampai-sampai Ia dan teman-temannya yang lain tidak tahu.
"Maaf." Lirih Dinda menyesal sambil menunduk.
Rahimah jadi merasa bersalah, ia pun memeluk Dinda dengan sayang. " Aku juga minta maaf? Bukan aku marah karena kamu gak kasih tau, hanya saja aku marah pada diri sendiri yang tidak tau kalau kamu lagi ada masalah." jelasnya.
"Gak ada yang salah, memang aku yang gak pengen kalian kepikiran." Rahimah semakin mempererat pelukannya begitu juga Dinda.
"Terimakasih untuk semua perhatian kalian," ucap Dinda tulus.
"Terimakasih kembali." Balas Rahimah lembut.
...****************...
Sepeninggalnya Adit, Cristian segera memakai celana pemberian dokter Firman. Ia pun merasa nyaman saat memakainya, tidak ingin berbaring ia pun memilih duduk sembari bersandar pada sandaran ranjang.
Bosan tidak bisa kemana-mana, ia pun memainkan HP-nya dan membaca email yang masuk. Saat membukanya ada satu imael yang sudah ia tunggu-tunggu dari beberapa hari lalu, belum sempat ia membacanya, tiba-tiba ada rasa sakit yang ia rasakan di area bawa tubuhnya.
"Settt," desisnya, menyingkap sarung yang ia kenakan dan mengintip apa yang ia yakini kalau sakit itu pastilah dari tempat tersebut.
Melirik obat di atas nakas, ia pun segera meminumnya besama air putih. Setelah minum obat, menit berikutnya ia tidak meresa sakit lagi.
Ia kembali membaca pesan email dari seseorang, matanya terbelalak saat tau isinya. Si pengirim pesan memintanya untuk bertemu siang ini, sedang ia dalam keadaan tidsk bisa bertemu. Di lihatnya waktu pesan itu di kirim, dan ternyata dari tadi subuh.
Ia menghela napas, dan segera mencari no Adit lalu menekan warna hijau.
...----------------...
Sementara Maryam ... di luar rumah tengah sibuk memasukkan nasi kotak ke dalam mobil yang baru saja di antar driver delivery, dari cafe kakaknya. Ia akan mengantar nasi kotak ini ke dua tempat, ke panti asuhan dan pesantren tempat Ustaz Rasyid mengajar, sebagai syukuran khitan kakaknya.
Maryam yang asyik membantu memasukkan nasi pun, segera berhenti ketika di panggil Adit.
"Maryam ...." Adit datang bersama dokter Firman, dari arah pintu dalam.
"Sudah selesai ya Pak dokter?"
"Ya, sudah selesai ... dan sekarang saya akan pulang nak Maryam."
"Kenapa langsung pulang ka? Dokternya gak di ajak makan dulu?" Maryam menoleh pada Adit.
"Memang saya yang ingin langsung pergi, soalnya saya sudah ada janji lagi sama pasein lain." sela dokter Firman.
"Apa sudah minum?" kembali ia bertanya.
"Sudah, tadi kami sempat duduk sebentar di ruang tamu dan minum minuman yang sudah di sediakan." Maryam memang sudah membuatkan minuman, dan di taruhnya di ruang tamu. Niatnya ingin sekalian menjamu pak dokrer dengan makanan.
"Kalau begitu saya permisi dulu nak Maryam?" izinnya hendak pulang.
"Tunggu Pak dokter," cegatnya.
"Ini Pak doktet, mohon di terima." Maryam menyerahkan nasi kotak, yang ia ambil dari luar mobil yang belum di masukkan ke dalalm mobil.
"Wah tidak perlu repot-repot nK Maryam,'" kata dokter Firman.
"Sama sekali tidak merepotkan Pak dokter."
Lagi-lagi Maryam melirik Adit, dari tatapannya seakan bertanya tentang bayaran dokter tersebut. Adit yang peka akan hal itu pun mengangguk samar.
"Terimakasih banyak, karena Bapak sudah mau mengkhitankan kakak saya," kata Maryam tulus.
"Sama-sama, itu sudah menjadi kewajiban saya. Kalau begitu saya permisi."
Usai dokter pergi, Adit pun ikut membantu Maryam menyusun nasi kotak ke dalam mobil. Selesai dengan nasi kotak, tiba-tiba HP-nya bergetar. Adit bergeges merogoh celana dan membaca nama si pemanggil.
Tadi saat Adit hendak mengantar dokter itu pergi, ia lebih dulu mengambil HP-nya secara sembunyi-sembunyi yang ia gunakan untuk merekam Cristian waktu khitan.
Selelah tahu siapa si pemanggil, Adit masuk kedalam rumah. Tentu sesudah izin dulu pada Maryam untuk kembali kekamar Cristian, dan segera di persilahkan.
...----------------...
Cristian yang sedang mengetik sesuatu di akun email nya, segera mendongkakkan kepala saat melihat pintu yang terbuka.
"Ada apa?" tanya Adit sudah berdiri di hadapan Cristain.
"Ternyata dari tadi subuh, orang itu sudah mengirim emali untuk petemuan mendesak ini siang nanti," kata Cristian tanpa melihat ke arah Adit, kembali menulis email nya.
"Lalu bagaimana?" Adit paham kenama arah tuju mempicaraan itu setelah melihar raut wajah Cristian yang sangat serius.
"Segera kau temuai orang itu, dan tanyakan apa dia bersrdia membantu kita, jika ia bersedia buat kembali pertemuannya denganku," ucapnya datar.
"Aku sudah mengirimkan alamat pertemuannya padamu," ucap Cristian sebelum meletakkan HP-nya di atas nakas.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang ... kalau tidak, nanti keburu macet."
Adit berbalik dan akan pergi kepertemuan yang sudah di tunggu-tunggu mereka.
"Maryam, kakak pergi dulu ya? Akan ada pertemuan meting dadakan hari ini."
"Jadi agar tidak terjebak macet kakak pergi sekarang."
"Oh, gitu ya? Kalau gitu hati-hati di jalan kak." Pesan Maryam.
"Intan, Om pergi dulu ya sayang. Nanti akan Om bawakan oleh-oleh."
Adit menghampiri Intan yang baru saja keluar dari kamar, sehabis mengganti seragam sekolahnya dengan baru rumahan.
"Yah, padahal Intan baru dateng ... tapi kok Om udah mau pulang?" keluhnya cemberut.
"Om udah lama di sini, dan sekarang Om harus kembali kerja dulu, Om janji nanti bawain Intan oleh-oleh." Dengan cepat kepala anak kecil itu mengangguk tanpa keraguan.
"Assalamualaikum!"
"wa'alaikumussalam." jawab Maryam dan Intan bersamaan.
BERSAMBUNG ....
Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏
Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌
#salamkakawananbarataan
(salamtemantemansemua)
Salam dari Urang Banua😊✌
Noormy Aliansyah