Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 100 (Extra part.)



Karena untuk melewati bulan puasa masih sangat panjang, jadi di sini akan saya lompat kan beberapa hari guna menyelesaikan extra part. Saya harap teman-teman semua, bisa memaklumi alur cerita ini ya. Terimakasih πŸ™β˜Ί.


.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


.


Janji yang Abdar katakan dua hari yang lalu, sekarang benar-benar ia wujudkan. Tadi malam Rahimah juga sudah mengepak baju yang akan mereka bawa nanti ke kota Mekkah itu.


"Ma, tante Dinda, tante Soraya sama tante Nurul sudah datang." Rahman mendatangi sang mama di kamarnya guna mengatakan jika ketiga temannya sudah tiba.


Teman-temannya itu akan ikut mengantar kepergian mereka, begitu juga Ustadzah Habibah turut hadir karena ia yang sudah bercerita.


Jangan lupakan Maryam dan Intan, mereka sudah tiba lebih awal. Ternyata adik dan keponakan suaminya itu bukan hanya sekedar datang untuk mengantar, tapi juga ikut diboyong oleh Abdar guna Umroh bersama. Tentu Rahimah senang mengetahui hal itu.


Candra selaku pelatih dari Rahman juga ada karena Rahman yang mengundang. Dengan diawali syukuran kecil-kecil'an untuk kepergian mereka, kini Rahimah, suami dan anaknya berserta Maryam juga Intan sudah siap berangkat ke Bandara.


Adit selaku orang yang ditugaskan mengantar Mereka ke Bandara, sudah duduk manis dibalik kemudi.


Sementara teman-temannya menggunakan mobil yang lain dengan Dinda menjadi pemegang kemudi.


Tiba di Bandara mereka mendoakan rombongan Rahimah agar sampai pada tempat tujuan dengan selamat.


.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


.


Rahimah dan yang lain sudah tiba di Madinah. Di sana mereka setiap hari berjalan kaki bersama-sama dari hotel ke Masjid Nabawi, begitu juga di mekkah ke Masjidil Haram.


Mereka berlima melakukan rukun umroh dengan khusyu, ihram, thawaf, sa'i, tahallul. Rahimah tidak pernah menyangka akan datang sebagai salah satu tamu Allah, beberapa kali ia harus mengusap sudut matanya yang tidak berhenti megeluarkan cairan bening, rasa penuh haru dan suka cita pun mengiringi do'anya.


Hari kesembilan mereka kembali ke Indonesia. Penampilan Abdar dan Rahman yang kali ini sedikit berbeda membuat Intan tergelitik untuk menggoda pamannya.


"Intan kok baru tahu ya, Om itu kalau nggak ada rambutnya ... malah jadi ganteng!" katanya sambil tersenyum mengejek.


"Baru tahu kamu? Om kan, memang sudah ganteng. Jadi mau diapain aja ya tetap ganteng," belas Abdar percaya diri.


Seketika Intan melakukan gerakan ingin muntah mendengar jawaban sang paman yang terlampau kepedean. Maryam dan Rahimah terkekeh geli.


"Tapi masih kalah ganteng sama kak Rahman," sahut Intan.


"Karena Rahman anaknya Om, jadi ketularan ganteng," ujar Abdar tersenyum kemenangan.


"Sudah-sudah, ayo kita naik mobil. Itu mas Adit sudah datang." Maryam melerai mereka sambil menunjuk mobil yang perlahan mendekat.


"Hai Om, Adit," sapa Intan girang lama tidak bertemu.


"Hai sayang, ayo masuk." Adit membalas mencium pipi tembem Intan dan berlalu mengambil koper, memasukkannya dalam bagasi mobil.


Sesampainya di rumah Rahimah, mereka sudah disambut kerabat dan tetangga yang diundang Ustadzah Habibah guna mengadakan syukuran kedatangan mereka.


Hidangan yang disediakan selain nasi dan lauknya, tentu oleh-oleh dari tanah suci. Seperti kacang arab, kismis, kurma dan air zam-zam.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


.


Sudah satu minggu sejak kedatangan Rahimah dari umroh, keadaan butik kian ramai. Benar kata orang, bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Ia yang menjual baju muslimah begitu diminati oleh customer.


Pagi ini Rahimah sudah siap menuju butiknya yang berada di ujung jalan, dengan langsung diantar oleh Abdar sekaligus mengantarkan Rahman ke sekolah karena diadakannya santri kilat.


(Santri kilat itu biasa nya adalah kegiatan untuk belajar, solat duha, tadarus hingga solat dzuhur berjamaah.)


"Mas, nanti kalau jemput belikan rujak ya?" pinta Rahimah ditengah perjalanan.


Karena bulan puasa juga banyak yang menyediakan dagangan rujak, jadi tidaklah sulit untuk diiyakan.


"Oke, apa lagi?" tanya Abdar.


"Emmm, apa lagi ya!" Rahimah berpikir sejenak.


"Rahman, kamu nitip apa?"


"Siip." Abdar mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol ke pada Rahman.


"Ada lagi?" Abdar memastikan kalau ada yang diinginkan istrinya lagi.


"Bakso juga, boleh mas."


Abdar mengangguk mengerti. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Abdar sampai mengantar Rahimah di butiknya dan melanjutkan mengantar Rahman.


Satu kecupan mendarat di kening Rahimah diiringi salam. "Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Sore hari, Abdar menjemput Rahimah dengan pesanan yang anak dan istrinya minta. Tadi siang Rahman sudah dijemput Maryam, adiknya.


"Mas, kapan datang?" ujar Rahimah setelah menjawab salam Abdar yang mengagetkannya di ruang kerjanya. Gegas berdiri sambil menyodorkan tangan.


"Baru saja. Kamu kenapa masih kerja? Seharusnya, duduk santai saja sambil nunggu aku datang," omel Abdar yang melihat Rahimah masih mengerjakan pekerjaannya walau sudah sangat sore.


"Nggak apa-apa Mas, kan cuman sedikit membetulkan jahitannya. Ayo kita pulang." Rahimah meraih lengan kokoh Abdar, mengaitkan tangannya dan membawanya keluar ruangan agar berhenti bicara.


"Lain kali kamu nggak usah nunggu mas yang jemput, lebih baik kamu pulang duluan," kata Abdar tidak senang.


Satu helaan napas lolos dari mulut Rahimah. Jika tidak dituruti, ia takut akan langsung dilarang bekerja dan hanya disuruh melihat perkembangan butiknya saja.


"Baiklah, besok aku bawa motor sendiri aja."


"Jangan," tolak Abdar cepat.


"Terus, pakai taksi?"


"Mobil aja, besok akanku minta Adit mengantarnya," ucap Abdar enteng.


"Mas pikir, aku bisa bawa nya?" tanya Rahimah kesal.


"Hehehe, iya ya ... aku lupa."


Rahimah mendelik kesal pada Abdar, karena bisa-bisanya Abdar melupakan itu.


"Ya sudah, boleh bawa motor. Nanti habis lebaran, aku ajarin kamu bawa mobil."


"Nggak usah Mas, aku nggak berani," ujar Rahimah jujur.


"Nggak usah dipikirin, masih lama. Kitakan juga mau ke Malaysia, jadi kemungkinan datang Malaysia aja." Rahimah mengangguk setuju.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


.


Saat ini ketiganya tengah menikmati buka puasa bersama usai solat Magrib. Rahimah yang tadi menitip rujak dan bakso, memilih memakan rujak terlebih dahulu karena sudah tidak sabar.


Rahman juga tengah menikmati bakso titipan nya, sementara Abdar memakan masakan sang istri. Bagi Abdar, makanan yang dimasak Rahimah lebih menggoda dari pada yang lain.


Rahimah menghabiskan rujak nya tanpa sisa, bahkan Abdar dan Rahman saja tidak ikut mencicipi nya. Ia pun beralih meraih bakso yang sudah dihangatkan.


"Mas, kok bakso nya nggak enak sih?" keluh Rahimah.


"Emang bener?" Abdar bertanya pada Rahman.


Rahman menggeleng. "Nggak, enak kok," ucap Rahman yang sudah habis satu mangkuk jumbo.


"Tapi punyaku nggak enak."


"Masa sih? Mungkin karena kamu tadi makan rujak duluan, makanya rasa lidah kamu jadi berubah," kata Abdar dengan kening berkerut.


"Iya, kali ya! Ya sudah, mas aja yang makan." Rahimah langsung menarik piring Abdar dan menukarnya dengan bakso tadi.


Abdar bengong. Ia menatap enggan pada bakso tersebut, dan rasa tak rela melepas nasi yang tinggal sedikit malah dimakan Rahimah tanpa jijik.


"Ayo dimakan Mas, nanti keburu dingin," perintah Rahimah membuatnya pasrah dan segera memakan bakso bulat berserta bihun nya.


Nanti lagi ya dilanjut 😘