Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 83 Pertemuan Abdar dan Candra



Setibanya Abdar di parkiran kantor dengan senyum yang tidak henti-hentinya terus tersemat diwajah tampannya, kaki jenjang nya segera membawanya masuk dan menuju ruang kerja.


Beberapa karyawan yang berselisih dengannya menatap heran dan penasaran tingkat tinggi, karena kelakuan Abdar pagi ini tergolong langka dan tidak pernah terjadi selama mereka bekerja.


Sedang Abdar yang menjadi pusat perhatian nampak tidak terganggu dan acuh, matanya pun tetep fokus kedepan.


"Selamat pagi, Adit!" Sapa Abdar ketika Adit keluar dari ruang kerjanya.


Adit mengernyit dalam mendengar sapaan yang tidak pernah Abdar ucapkan, terdengar begitu ceria dan bahagia. "Pagi," jawabnya kaku.


Ia lekas menyusul Abdar yang masuk ke ruang kerjanya dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul diotaknya.


"Apa lu udah minum obat?" Tanya Adit menerobos masuk.


"Iya, sudah." Jawab Abdar pendek sambil duduk, masih ada senyum tipis dikedua sudut bibirnya.


"Apa lu nggak salah minum obat?" kembali Adit bertanya.


"Enggak."


"Kenapa hari ini lu nggak kaya biasanya?"


"Apanya?"


Mendekati Abdar, lantas Adit duduk di tepian meja yang sangat rapi.


"Tuh, muka lu!" Tunjuk Adit.


"Kenapa muka gw? Perasaan biasa aja!"


"Biasa dari honggkongg. Itu muka keliatan beda, semenjak gw kerja sama lu ... lu itu nggak pernah senyum-senyum sendiri sambil jalan. Trus tadi, sejak kapan lu nyapa gw 'Selamat pagi, Adit' njirrr baru kali ini," kata Adit dengan berapi-api.


"Ah itu biasa aja," elak Abdar sambil membuka lembar demi lembar laporan di atas mejanya.


"Tapi gw nggak yakin, ini pasti ada sesuatu yang terjadi, dan itu kemungkinan sesuatu yang luar biasa," asumsinya.


Abdar melirik Adit sekilas, tanpa menjawab ia melanjutkan kegiatannya yang membuat Adit tambah penasaran dan curiga bahwa ada yang disembunyikan atasannya ini.


"Gw mau ke resto dulu, ketemu pacar. Lu nggak masalah'kan?" pancing Adit ingin mengetahui suasana hati Abdar.


"Hmm, nggak masalah."


Adit terperangah mendapat izin yang terbilang sangat mulus tanpa drama perdebatan, mengingat kejadian kemarian ia sudah yakin jika tidak akan diizinkan, tapi nyatanya aman terkendali.


Fix ... ada sesuatu yang terjadi yang gw lewatkan.


"Yakin?"


"Hmmm."


"Seriusan."


"Emmm."


"Oke deh, gw pergi bentar. Palingan cuman satu jam-an, yakin nggak apa-apa?"


"Hmmm."


Adit masih belum puas, kembali ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi seketika tidak jadi saat Abdar bersuara.


"Sekali lagi lu nanya? Gw tarik tu Izin." Ancam Abdar menutup map nya kesal.


Ia merasa Adit tengah mengganggu kesenangannya.


"Oke, bay." Langsung berdiri dan berjalan pergi.


Jelas saja Adit tidak ingin membuang kesempatan seperti ini, urusan dengan perubahan sikap Abdar pagi ini mending belakangan, yang terpenting adalah Dinda.


Setelah kepergian Adit, Abdar kembali menerawang saat kejadian dimana ia yang mengungkapkan perasaannya dan tidak sadar membawa Rahimah dalam pelukannya.


Ia tersenyum-senyum sendiri dan tidak menduga akan mendapat tanggapan yang membuatnya begitu bahagia.


Di dalam hati Abdar berjanji, akan menebus semua penderitaan Rahimah selama ini. Membahagiakan ibu dari anaknya dan Rahman.


Tiba-tiba Abdar teringat sesuatu, gegas ia merogoh saku celananya. Menghidupkan Hp dan menekan-nekan nya sebentar, kemudian meletakkannya ke daun telinga.


"Assalamualaikum, Tomi! Apa kau sudah mendapat informasi tentang bangunan kosong itu?"


πŸ“ž"Wa'alaikumussalam. Sudah tuan, rencananya saya akan mengabari siang nanti."


Suara Tomi terdengar menyahut sopan dari seberang sana.


"Katakan sekarang saja," desak Abdar tidak sabar.


πŸ“ž"Menurut info yang saya dapat, bangunan itu baru saja berpindah tangan dua bulan lalu tuan."


"Benarkah? Lalu siapa sekarang pemiliknya?" tanya Abdar semakin dalam.


πŸ“ž"Tuan pasti akan terkejut jika mengetahuinya!"


Mendengar itu Abdar mengerutkan dahi tak mengerti, untuk apa ia harus terkejut.


"Siapa?"


πŸ“ž"Rahman, tuan."


Abdar terbelalak ia benar-benar terkejut, persis sama seperti perkataan Tomi tadi.


"Sejak kapan, Tomi?"


πŸ“ž"Ketika mereka akan tinggal di ruko itu, ternyata Rahman sudah mengurus pembelian bangunan di sampingnya tuan, jadi saat mereka sudah tinggal. Ruko di sampingnya sudah berpindah tangan juga."


"Bagaimana bisa?" tanya Abdar tidak percaya.


Rencananya Abdar ingin membeli bangunan kosong di samping tempat tinggal Rahimah, untuk ia berikan pada anaknya agar memperbesar kediaman putranya itu menjadi sebuah rumah. Tapi ia sedikit kesulitan karena tidak menemukan pemiliknya dan memutuskan Tomi untuk mencari informasi siapa pemilik bangunan tersebut.


Sekarang saat tahu siapa pemiliknya jelas ia tidak menyangka jika anaknya sudah menjadi pemilik dari bangunan itu.


πŸ“ž"Dengan bantuan pak Candra, tuan. Dia yang membeli dan mengurus serta pembalikan nama."


Abdar tercengang, kenapa Candra sampai membelikan rumah untuk putranya. Pertanyaan konyol pun timbul begitu saja.


Apa Candra naksir Rahimah? Kenapa sampai repot-repot membelikan bangunan itu?


"Ada lagi?" tanya Abdar datar.


πŸ“ž"Ada tuan, setahu ibu Rahimah pemilik bangunan itu adalah orang lain. Sepertinya memang sengaja dirahasiakan!"


Apa-apa ini, main rahasia segala.


"Apa motifnya membelikan bangunan itu?"


πŸ“ž"Ibu Rahimah berkeinginan membangun sebuah butik, tapi terkendala dengan keuangan jadi bangunan tetap dibiarkan seperti itu."


"Butik," gumam Abdar.


"Carikan lokasi yang stategis untuk sebuah butik, dan jangan jauh dari tempat tinggal mereka," perintahnya tak terbantahkan.


πŸ“ž"Baik tuan, akan segera saya laksanakan."


"Hmm, Assalamualaikum." Langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Tomi.


Kembali Abdar menghidupkan Hp-nya setelah diam beberapa detik.


"Assalamualaikum." Sapa Abdar pada seseorang di seberang telepon.


πŸ“ž"Wa'alaikumussalam, ada apa Abdar?" balas orang itu.


"Candra, apa kau sibuk? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan!" kata Abdar the de points.


Ternyata Candra yang di hubungi oleh Abdar, semenjak kejadian penculikan Rahman dan Intan sekarang meraka semakin akrab.


πŸ“ž"Kebetulan tidak, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Bisa bertemu sekarang? Datanglah ke cafe ku?"


πŸ“ž"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya, Abdar langsung berdiri dari duduknya dan berjalan tegas ke luar ruangan.


...****************...


.


"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan Abdar?"


Kini keduanya telah duduk di dalam ruangan Abdar.


Abdar diam sejenak sambil memperhatikan orang di hadapannya. Menyandarkan punggung tegap nya pada sandaran kursi, ia pun siap bertanya.


"Ini soal ...," ucap Abdar menggantung.


"Bangunan di samping tempat tinggal Rahman," jelasnya.


"Ada Apa?" tanya Candra santai.


"Apa benar, kau yang membeli bangunan kosong itu. Dan pemiliknya sekarang adalah Rahman?"


Candra tersentak kecil. "Memangnya ada Apa?" ucapnya bersikap biasa saja.


"Jawab saja!" ujar Abdar dingin.


"Sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan kau! Jadi tidak perlu aku jelaskan," Candra menolak memberi tahu.


Abdar berdecak. " Siapa bilang aku tidak perlu tau? Jelas ini ada hubungannya denganku, jadi katakanlah," katanya datar.


"Hubungan apa?"


"Itu kau tidak perlu tau, kau hanya perlu menjelaskan pertanyaan ku tadi saja."


Mata Candra membulat, ia terkesiap dengan apa yang sedang diakui Abdar tentang hubungannya pada Rahman.


"Jadi kau ...," belum selesai Candra berbicara sudah disela Abdar.


"Tidak usah diperjelas, cukup yang tadi saja."


Tidak mengindahkan ia malah masih membahas yang lain. "Ck pantes saja wajah kalian mirip, ayah dan anak rupanya." Ikut menyandarkan punggungnya.


"Candra," peringat Abdar.


Ia meringis, sadar itu adalah privasi dari sesorang. Candra pun diam tidak mengungkitnya lagi.


"Ya, aku yang mengurusnya," aku Candra.


"Kenapa kau membelikan Rahman bangunan itu?"


"Aku bukan membelikannya, tapi membantu membelikannya!"


"Jadi maksudmu bukan kau yang membelinya, tapi orang lain?" Abdar langsung menegakkan tubuhnya.


"Iya, begitulah!"


"Lalu siapa?" Abdar sudah kesal dengan pembahasan yang berbelit-belit.


Ia harus kembali ke kantor, tapi demi masalah ini Abdar rela meninggalkannya. Belum lagi asisten lucnaud nya juga pergi.


"Bukankah sudah tertera siapa nama pemiliknya?" Candra malah menjawab dengan pertanyaan yang membuatnya berpikir keras.


"Rahman," ujar Abdar setelah hampir satu menit termenung.


Candra mengangguk pasti sambil tersenyum simpul.


"Bagaiman ia bisa membelinya?" Abdar begitu terkesiap mengetahui siapa pemilik asli dari bangunan itu.


"Tentu pakai uang," jawab Candra tidak memuaskan Abdar.


"Ck, aku juga tau. Yang ku tanyakan bagaimana Rahman mempunya uang sebanyak itu?"


"Dengan tabungannya, yang didapat selama membantu ku menjadi hackers," terang Candra.


Lagi Abdar terperangah dengan beberapa kenyataan yang baru ia ketahui tentang putranya itu.


...****************...


.


Sambil menyetir Abdar memikirkan anaknya yang sudah bisa menghasilkan uang sebanyak itu, hanya dengan kemampuan otaknya.


Tanpa sadar Abdar tersenyum, Ia begitu bangga pada Rahman. Anak yang baru-baru ini ia ketahui keberadaannya.


Memang putra ku.


Ketika Abdar sampai di kantor, ternyata Adit sudah datang. Mungkin asistennya itu juga mengkuatirkan pekerjaan jika ia terlalu lama pergi, dan tidak sampai satu jam sudah kembali.


"Lu kemana sih? Gw tadi nyariin lu," baru saja Abdar hendak membuka pintu ruang kerjanya, Adit sudah cecarnya.


"Emang kenapa?" Mendorong daun pintu dan masuk tampa melirik Adit.


"Gw punya berita penting," ucap Adit penuh semangat.


"Apaan?" Abdar menatap Adit, menunggu berita yang akan disampaikannya.


"Sini, duduk dulu." Ditariknya tangan Abdar dan menuntun ke arah sofa.


"Ck, apa-apaan sih." Abdar mengibas tangan yang digenggam Adit.


Mungkin Abdar risi jika tangannya digenggam oleh sesama lelaki. Ia pun memilih duduk di kursi lu nggak. Tapi Adit, nampak biasa- biasa saja.


"Ini soal mamanya Rahman," kata Adit serius.


Abdar diam, menebak-nebak jika kabar yang akan di sampaikan Adit sama dengan apa yang sedang ia pikirkan.


"Tadi Dinda, kasih info penting ini. Dia bilang Rahimah dan Abdar ...."


"Batal menikah?!" sambung Abdar santai.


"Wah parah, jadi ini alasan kenapa elu tadi senyem-senyum sendiri," ujar Adit kalah telak.


"Hmmm," gumamnya menjawab.


"Tapi gw penasaran, dari mana lu bisa tau?" ucap Adit dengan kening berkerut.


"Ibu dari anak gw yang kasih tau."


"Hah, serius lu? Kok bisa?"


"Ya bisalah," jawab Abdar pendek.


"Sudah, cepat kembali bekerja!" Abdar memberi ultimatum pada sang bawahan.


Adit mencibirkan bibirnya dan melongos pergi tanpa permisi, ia merasa kesal karena kabar berita yang ia bawa sudah diketahui.


...*******************...


.


Semenjak ungkapan perasaan Abdar diterima dengan baik oleh Rahimah, Abdar menjadi semakin semangat untuk bertemu Rahimah.


Abizar juga tidak mempermasalahkan putusnya rencana pernikahan mereka. Sesuai janji, hari senin Abizar Sudah kembali mengajari Abdar mengaji.


Rahimah sangat senang karena tidak ada kecanggungan antara dirinya dan Abizar.


Rahimah memutuskan meminta pendapat kepada Ustadzah Habibah tentang Abdar yang berniat maju melamarnya.


Saran yang diberikan Ustadzah Habibah adalah, ia kembali melajukan shalat sholat istikharah. Tapi kali ini tidak sama seperti dulu, entah kenapa Rahimah begitu ringan jika meminta tentang pernikahan dengan Abdar ketimbang bersama Abizar.


Rahimah pun bermimpi bertemu sang Ayah lagi, di dalam mimpinya pak Ramlan berbicara berbeda dengan mimpinya dulu yang hanya diam.


"Menikahlah nak jika Dia yang kau yakini baik."


Cerita Rahimah kali ini di sambut pelukan hangat dari Ustadzah Habibah, ia yakin ini jauh lebih baik dari semua rencana yang dibuat manusia.


"Jika kamu memutuskan menerima Abdar menjadi suami dan ayah dari anak kandung kalian, maka ibu akan selalu mendo'akan ... semoga kalian bisa saling berbagi suka dan duka hingga kelak menua."


"Amin," sahut Rahimah tersenyum lega.


Di kesempatan kali Ini, Rahimah tidak ingin ada kesalah pahaman jika Ustadz Abizar nanti tahu, bahwa ia akan menerima lamaran Abdar.


Ia pun mengutarakan niatnya, tapi sebelumnya Rahimah menegaskan jika Abdar datang melamarnya ketika hubungan mereka sudah putus dan itu bisa diterima Abizar.


Tidak lupa juga Rahimah mengatakannya pada Rahman.


...****************...


.


"Rahman." Rahimah masuk kedalam kamar anaknya usai makan malam.


"Iya ma." Langsung menutup buku pelajaran yang sedang ia baca.


"Apa mama mengganggu mu?"


"Nggak kok, ma. Ada apa ma?"


"Ini tentang pernikahan mama?"


"Ada apa sama pernikahan mama?"


Rahman mengang belum di beritahu jika Rahimah tidak jadi menikah, jadi ia pun bersikap biasa saja.


"Mama tidak jadi menikah dengan Ustadz Abizar." Menggenggam tangan Rahman sambil mengusap lembuat.


Rahman dia menyimak.


"Di saat mama memutuskan pernikahan Ini, tiba-tiba ayah kamu datang mengulurkan tangan untuk membawa mama ke ikatan suci pernikahan. Apa Rahman keberatan jika ...."


"Rahman tidak akan menjadi beban bagi mama, apa pun itu ... jika demi kebahagian mama, maka Rahman akan menerima," kata Rahman lembut sambil tersenyum samar.


"Bukan hanya untuk kebahagian mama, tapi juga kamu," ujar Rahimah.


Rahman mengangguk dan tersenyum yang langsung menular pada sang mama.


"Terimakasih, sudah menjadi anak yang membanggakan bagi mama." Pelukan sayang Rahimah berikan dan dibalas oleh Rahman.


"Rahman juga berterimakasih sama mama, karena sudah menjadi mamayang hebat bagi Rahman," ujarnya tulus.


"Sama-sama, sayang." Ucap Rahimah disertai kecupan dikening sang putra.


Tidak ingin tinggal diam, Rahman pun membalas mencium pipi mamanya.


"Rahman sayang sama mama," ungkap Rahman bersungguh-sungguh.


"Mama pun demikian, sayangggg sekali sama Rahman."


Malam ini kebahagian begitu dirasa oleh Ibu dan anak itu, membuat tidur mereka menjadi damai hingga ke alam bawah sadar yang membawanya kepada mimpi indah.


BERSAMBUNG ....


Maaf selalu saya ucapkan karena update yang molor mulu, harap dimaklumi karena kehidupan nyata juga menunggu. πŸ˜…


Hehe ... mending gitu kan? Bagi bagi waktu sama dunia halu, agar dunia nyata tidak cemburu? πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ˜. Semoga yang masih setia membaca tidak marah ya πŸ€—.


Salam sayang ....


Noormy Aliansyah πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜