Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 23



Setelah dari sekolah Rahimah dan Rahman langsung menuju Dojang (tempat latihan) taekwondo.


Saat motornya terparkir, dari kejauhan mereka bisa melihat latihan di alam terbuka di depan gedung Dojang. Semakin mendekat semakin jelas terlihat.


Banyaknya anak-anak usianya di atas Rahman yang mengenakan Dobok (seragam tae kwon do) berjejer rapi dengan tertib mengikuti Aba-aba (instruksi) sang Master (pelatih) yang berdiri tegap sambil mengitari Hubae (junior).


Di depan mereka telah berdiri dua anak lelaki yang berhadapan bersama Master melakukan Seogi (sikap kuda-kuda).


"Chariot.. (mempersiapkan diri)." Seru Master.


"Hana (satu), Dool (dua), Set (tiga)."


"Sijak (mulai)." Sambungnya.


Satu anak melakukan penyerangan dan satunya lagi melakukan tangkisan. Dengan sigap dan semangat mereka mengerahkan kemampuan.


Saat Tendangan sentak ke depan (ap chagi) di lakukan penyerang, Tangkisaan ke bawah (a rae makki) pun di gunakan. Kembali menyerang menggunakan Pukulan ke atas (ol gul jieurigu) dan di balas dengan Tangkisan tengah ke luar (momtong bakkat makki) dan seterusnya.


(Semoga aja yang jago taekwondo gak baca ya. 🙈)


Master yang melihat Rahimah dan Rahman mendekat pun segera memanggil pada rekannya untuk menggantikan Ia melakukan Instruksi, rekannya mengerti Ia pun berseru sambil berlalu.


"Keysok (lanjutkan)."


"Assalamualaikum, Selamat pagi Master." Saat sudah berhadapan dengan master Rahman melakukan Kyoongnyeh (hormat) Satu tangan mengepal dan di satukan dengan telapak tangan yang terbuka di depan dada sembari sedikit membungkuk. Sedang Rahimah mengkantupkan ke dua tangannya dan hanya menenganggukan kepala.


"Wa'alaikumussalam selamat pagi, ayo kita duduk di sana." tunjuknya ke arah pohon yang terdapat dua kursi panjang dengan meja di tengahnya.


Tiba di kursi panjang Rahman duduk di samping Rahimah dan berhadapan dengan masternya.


"Jadi apa yang ingin di bicarakan dengan Saya?" tanyanya dengan kedua tangan yang berlautan di atas meja.


"Begini Master, Kami akan segera pindah dari kota ini. Jadi maksud kedatangan Kami Rahman ingin mengucapkan salam perpisahan." Terang Rahimah.


Sang Master menatap Rahman dengan kening yang berkerut, kembali Ia melihat Rahimah dan meminta waktu untuk berbicara dengan Rahman berdua.


"Bisa Saya bicara berdua sebentar dengan Rahman?" tanyanya, Rahimah melirik pada Rahman yang di angguki oleh Rahman.


"Baiklah Master."


"Ayo Rahman ikut keruangan Saya sebentar." Rahman beranjak mengikuti Master masuk ke gedung Dojang.


Masuk kedalam mereka pun menuju ke sebuah ruangan, Master segera membuka daun pintu saat berdiri di depannya.


Terdapat sebuah meja kerja dengan kursi yang berhadapan, di mana meja itu terdapat beberapa map dan laptop yang tertutup, di sisi kiri meja terdapa lemari buku, dan sisi kanan ada lemari yang terdapat berbagai piala juga piagam. Serta satu set kursi sofa.


Sang Master duduk di kursi sofa di ikuti Rahman. "Bagaimana dengan pekerjaan kita? Kamu akan berhenti atau tetap bertahan?" Sang Master segera bertanya saat keheningan melanda.


"Saya akan tetap bertahan. Master bisa mengabari Saya melalui email, jadi kita masih bisa berkomonikasi dan melakukannya dengan kompeter walau dengan jarak jauh." Rahman memberi solusi.


Master diam tidak menyahut atau mengangguk, tapi Rahman tau kalau masternya mengerti.


"Jadi kapan Kamu akan pindah?"


"Mungkin dua atau tiga hari lagi, karena selain berkemas, di Jakarta juga sedang menyiapkan tempat tinggal kami." Tuturnya.


"Dan uangmu?" sang Master menatap lekat pada Rahman.


"Bisakah Master melakukan sesuatu untukku?" Satu alis Master terangkat menunggu permintaan apa yang akan dikatakan Rahman.


Mengerti dengan itu Rahman segera bicicara.


"Saya berencana membeli ruko di samping tempat ruko kami, dan Saya juga sudah menyelidiki siapa pemiliknya. Yang ternyata adalah seorang Kakek tua yang di tinggalkan anak tunggalnya, usahanya bangkrut karena di tipu sang anak. Saya ingin dia menjualnya kepada Master atas nama Saya."


"Tidak mungkinkan Kakek itu percaya jika seorang anak kecil ingin membelinya?" jelas Rahman panjang lebar.


"Dan Saya ingin Master mencarikan tempat ganti yang layak untuk Kakek itu," sambung Rahman.


"Baik, berikan alamatnya melalui email. Nanti malam Saya akan meminta bantuan rekan Saya di Jakarta, untuk membeli ruko itu atas namamu, dan menempatkan Kakek itu di perumahan yang siap huni."


"Terimakasih Master." Ucap Rahman tersenyum.


"Karena Kamu akan tinggal di Jakarta, bagaimana jika kita terima klien disana?"


"Apa ada klien baru?" tanya Rahman memastikan.


"Ya, baru kemarin mereka menghubungi Saya untuk meminta bantuan dan Saya belum memberikan jawaban. Dia mengatakan sudah seminggu ini sistem keamanan perusahaannya terkendala. Jadi apa sebaiknya kita terima?"


"Karna lusa Saya akan melakukan pertemuan dengan pihak kepolisian yang meminta bantuan untuk melacak black hat hacker, ada kemungkinan Saya berada disana sampai satu minggu."


"Apa Master percaya dengan Saya?" Rahman balik bertanya.


"Tentu, terbukti dalam satu tahun terakhir ini klien kita semakin bertambah," ucap Master bangga.


"Terimakasih Master atas kepercayaannya." Rahman tersenyum tipis.


"Mereka menjanjikan dengan bayaran 200 juta. Ada dua kemungkinan kenapa mereka berani membayar sebanyak itu, Pertama ... memang mereka sudah menyerah dan tidak mampu untuk memulihkan sistem pelindung keamanan perushaan, dan Kedua ... ada, black hat hacker yang mencoba melumpuhkan perangkat sistem perusahaan. Dan kita sebagai white hat hacker, apakah siap untuk bertarung?"


"Jonbi (siap)."


"Bagus, Saya suka bekerja sama denganmu. Kalau begitu Saya akan merekombinasikan Dojang taekwondo di sana, dia juga berada dalam satu naungan dengan tempat kita. Untuk mengurangi kecurigaan Ibu mu atas pekerjaan ini, kita tetap harus berkomonikasih di tempat yang tidak terdeteksi."


"Jika Saya ke Jakarta kita akan melakukan pertemuan disana," kata Master panjar lebar.


"Jonbi Master."


"Tunggu sebentar, Saya akan membuatkan surat rekomendasi agar semakin tambah menyakinkan jika Ibu mu bertanya," Master beranjak dari duduknya menuju meja kerja, terlihat Ia sedang mengeluarkan selembar kertas dari dalam laci yang terdengar habis di buka kemudian tertutup. Sambil duduk Ia kemudia membumbukan beberapa tulisan dengan gerakan tangan yang tengah memengang pena, setelahnya memasukkannya kedalam sebuah amplop.


Kembali sang Master berjalan mendekat sambil membawa sebuah amplop yang kemudian di letakkannya di atas meja sembari duduk kembali di sofa.


"Bawa ini jika Kamu akan ke Jonbi, kabari Saya kapan kamu akan kesana dan Saya juga akan memberi kabar kepada rekan Saya," Rahman mengangguk takzim dan menyimpan amplomnya di dalam saku celananya.


"Jangan lupa, Perlihatkan dulu pada Ibu mu agar di percaya," Rahman tertawa mendengar perintah masternya yang mengira Ia akan lupa.


"Jonbi Master." Kata Rahman sekian kalinya.


"Baik ayo kita kembali ke tempat Ibu mu, kita sudah terlalu lama," mereka beranjak keluar dari ruang kerja sang master dan kembali ketempat Rahimah berada.


Saat mereka sudah hampir mendekat dapat mereka lihat kalau Rahimah sedang melakukan panggilan telepon.


"Baik Mbak, ini Rahman sudah datang. Iya.. Wa'alaikumussalam." Rahimah segera menyimpan Hp nya kedalam tas jinjingnya.


"Siapa Ma?" Tanya Rahman yang menyadari perubahan raut wajah Mama nya tersebut.


"Tadi tante Dizah yang telepon, katanya ada yang mau di bicarakan."


"Ya sudah Ma, kita pulang sekarang." Ajak Rahman.


"Apa sudah selesai?" Tanya Rahimah menatap Rahman.


"Sudah Mbak, Saya hanya menyerahkan surat rekomendasi untuk Rahman. Supaya dia tetap berlatih taekwondo disana." Rahimah menganggu membenarkan, jangan sampai terhenti hanya karena mereka pindah, dan jika ada yang merekomendasikan kenapa tidak.


"Kalau begitu kami permisi dulu Master, Saya titip salam untuk teman-teman seangkatan Saya. Mintakan maaf Saya yang tidak bisa bertemu langsung." Karena jam latihat Rahman di sore hari jadi teman-temannya belum ada yang datang karena pasti masih sekolah.


"Hmm."


"Wa'alaikumussalam."


Ada sesuatu yang di pikirkan Rahimah dan Rahman bisa melihatnya.


...----------------...


"Apa Mbak yakin?" Ucap Rahimah gelisah.


Sekarang ini Khadizah sedang membantu Rahimah mengemas prabotan rumahnya, selepas pulang dari gedung Dojang Rahimah dan Rahman langsung mengepak barang-barangnya.


Rahman yang habis mengemas buku-bukunya dan baru keluar kamar, ikut membantu mengemas di ruang tengah Ia menajamkan pendengarannya saat sekilas menanggap apa yang di katakan Mama nya, Ia jadi penasaran dengan pembahasan apa yang membuat Mamanya gelisah.


"Iya, Mbak yakin. Coba Kamu ingat-ingat dulu, apa kamu ada musuh sampai-sampai ada yang mengintaimu?" Rahman mengerutkan kening saat mendengar itu.


"Sama sekali gak ada Mbak." Ucap Rahimah sendu.


"Tapi orang itu sangat mencurigakan, dia kaya lagi mengintai Kamu untung kamu pagi-pagi tadi udah pergi. Tapi nih yah, Mbak hanya sekedar mengingatkan, kalau kamu mau keluar.. sebaiknya ngintip dulu di jendela kaca, trus liat ke sebrang rumah kamu yang ada pohon gedenya. Soalnya dari tadi kamu belum pulang di tetap diam di situ." Rahman pun mengintip mengikuti saran Khadizah.


"Waktu Mbah merasa curiga jadi Mbak telpon kamu, tapi keuntungan banget pas kamu dateng dia pergi dari situ." Khadizah berujar begitu banyaknya.


Rahman tetap memperhatihan pohon besar yang di maksud Khadizah, saat Ia hendak beranjak dari tempatnya tiba-tiba Ia melihat seorang laki-laki dewasa dengan kemeja hitam dan celana panjang hitam juga kaca mata hitam yang menutupi matanya bersembunyi di balik pohon yang tadi Ia perhatikan.


Memang terlihat jika pria itu sedang memperhatikan rumahnya. Ia berpikir keras, apakah musuh dari hacker yang Ia kalahkan. Tapi selama ini idintitasnya sangat-sangatlah dirahasiakan oleh masternya dan tidak ada yang tau bahwa Ia adalah anak hacker.


"Mama memang ada orang di sana." Khadizah dan Rahimah segera mendekat saat mendengar pernyataan Rahman.


"Mana?" Mereka ikut mengintip di balik gorden. Saat Khadizah dan Rahimah memperhatikan seseorang dari kejahuan Rahman pergi ke kamar meninggalkan mereka.


Ia segera mengirim email kepada Master dan menceritakan bahwa ruamahnya sedang di intai oleh seseorang yang mencurigakan.


Hanya dalam kurun waktu lima belas menit, sebuah motor yang membawa dua pria dewasa datang menghampiri si pria penguntit, saat mereka mendekati pohon itu sang penguntit hendak lari. Tapi segera di tahan oleh salah satu orang yang membawa motor.


Rahman yang sudah mendapat balasan email dari Masternya segera kembali ketempat Mama dan tantenya.


"Eh itu ada orang yang memergoki pria itu." Seru Khadizah.


"Siapa ya Mbak? Kayanya juga bukan orang sini." Rahimah semakin gelisah melihat ada orang lagi yang bukan orang dari kampungnya.


Satu orang dari pengendara motor merangkul si penguntit dan mengajaknya bicara, lalu si penguntit dengan enggan menyerahkan telepon genggamnya yang segera di ambil oleh pria satunya.


Sementara si penguntit di ajak bicara, rekan dari pria bermotor tengah mengotak atik Hp penguntit. Lima menit kemudian Hp nya di kembalikan, kemudian bahu pria penguntit di tepuk beberapa kali oleh orang yang merangkul. Setelahnya mereka pergi membubarkan diri termasuk si pria penguntit.


"Alhamdulillah.. mereka udah pergi Mbak." Rahimah mengucap syukur.


"Iya, ayo lekas kita berkemas, nanti gak selesai-selesai." Seru Khadizah kembali memasukkan barang-barang kedalam kotak.


Rahman pun juga kembali lagi kekamarnya, di lihatnya laptop yang memang belum Ia matikan. Dengan lihai jari-jarinya mengetik di papan keyboard, membuka email yang baru saja masuk.


Ternyata email itu di kirim dari anak buah master yang mengirimkan data dari Hp pria penguntit, Rahman segera meretas isi data si penguntit. Pertama-tama yang Rahman lakukan adalah memasukkan Sebuah malware AbstractEmu.


Agar menghambat pergerakkan Brainware, setelahnya Ia langsung menyusup dan menyalin data penting, termasuk beberapa akun.


Dengan cepat Ia sudah dapat terkoneksi dengan orang yang menyuruh si pria penguntit. Terdapat beberapa pesan dan riwayat panggilan dari hasil penyusupan akun.


Rahman pun melacak akun dari si penyuruh tersebut kembali Ia memasukkan malware, Ia juga tetap tidak melepaskan akun si penguntit. Ia akan tetap mengawasinya, dapat Ia lihat terdapat data diri seseorang yang pekerjaannya tidak diketahui apa.


Mengerutkan kening semakin dalam saat Ia menyadari bahwa orang yang Ia retas juga ternyata termasuk orang suruhan.


Menghela nafas saat Ia yakin bahwa ini akan memakan waktu lama, belum lagi mereka harus mengemas barang. Akhirnya dengan berat hati Rahman menunda penyelidikan dan mematikan laptop lalu menyimpannya ke dalam sebuah tas bergambar buah yang digigit ulat.


...****************...


Dengan setelan kemeja berwarna vany berbalut jas hitam yang dipadu padankan dengan celana hitam panjang, terlihat gagah dan tampan seperti biasanya. Cristian memasuki ruang kerjanya di susul Adit di belakangnya yang juga tampak sangat cerah dengan setelan kemeja biru lembut. Mereka baru saja kembali dari meeting yang di langsungkan di cafenya.


Saat Cristian duduk ketukan pintu membuat mereka menoleh, terlihat Tomi masuk dan membungkukkan sedikit badannya. Adit merasa heran dengan kedatangan Tomi, karena Ia merasa tidak memanggilnya.


"Tuan.." Suara Tomi menggantung di udara saat melihat Cristian mengangkat satu tangannya dengan telapak tangan yang terbuka. Mengisaratkan bahwa Ia jangan berbicara.


Melihat Adit yang duduk di sofa Tomi tertunduk takut kepada Cristian, karena Ia baru menyadari kesalahannya. Bahwa Ia di perintahkan agar jangan sampai Adit tau atas penyelidikannya.


Sementara Cristian sedang menahan geram, mendapati kecerobohan yang dimiliki Tomi.


Tomi semakin takut dengan degup jantung yang bertambah kencang saat Ia melirik Cristian menampakkan wajah dingin padanya, tanpa terasa pelipisnya mengeluarkan keringat dingin. Adit diam melihat keduanya yang tiba-tiba tidak bersuara, Ia berpikir ada sesuatu yang belum Ia ketahui.


Menelan ludah yang terasa susah Tomi pun berucap. "Maaf tuan Saya hanya ingin meminta izin cuti, karena keponakan Saya yang sedang sakit dan tidak ada yang membantu menjaganya." Kata Tomi cepat mencari alasan.


Bukannya Adit puas mendengarnya Ia semakin yakin ada sesuatu yang di sembunyikan dari dirinya. Bukankah selama ini jika ada anak buahnya yang meminta izin maka akan meminta izin padanya.


Lagi-lagi Cristian hanya bisa mengumpat di dalam hati kepada Tomi.


"Bo**h." Rutuknya di dalam hati.


Cristian yang tidak menyahut, membuat Adit berinisiatif memberikan izin untuk Tomi.


"Ya.. tuanmu pasti memberikan izin, kau boleh pergi." kata Adit. Tomi pun keluar dari ruang kerja dengan perasaan prustati.


BERSAMBUNG....


*Keterangan.



White Hat Hacker adalah perentas yang membantu suatu bisnis menemukan celah dalam sistem keamanan mereka, kemudian memberikan solusi untuk mangatasi masalah tersebut*.



Tipe haeker yang juga sering disebut dengan ethical hacker ini juga sering digunakan untuk melindungi bisnis dan organisasi onine dari berbagai macam cybercrimes


2. Black Hat Hacker Kebalikan White Hat Hacker, Black hat hacker adalah mereka yang mengeksploitasi celah keamanan pada sistem maupun software.


Tujuan dari eksploitasi tersebut umumnya adalah untuk menyebarkan malware, mencuri data, mengambil alih atau bahkan melumpukan perangkat yang tertarget.


Dan masih banyak lagi gelar juga nama seorang Hacker.


Brainware adalah pengguna yakni manusia yang merupakan user untuk mengoprasikan sebuah komputer. Contohnya programer, operator dan orang-orang yang memakai atau menggunakan komputer.


Malware AbstractEmu adalah sebuah virus yang dapat mengakses ke data pengguna dan menginstal melware lain.


Misalnya bisa mengizinkan menginstall malware tambahan tanpa harus dari korbannya. Selain itu pelaku juga mendapatkan akses malware ke data sensitif aplikasi lain atau mangendalikan smartphone dari jarak jauh.


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


#salamkakawananbarataan


(salamtemantemansemua)


Salam dari Urang Banua😊✌


Noormy Aliansyah