Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 31



Dari dojang Rahman dan master Candra, segera pergi ke sebuah restouran yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada.


Master Candra dan Rahman akan bertemu dengan klien yang ingin menggunakan jasa mereka, dalam hal Hacker. Tentu hal ini harus di bicarakan secara rahasia dan aman, agar tidak ada yang mencuri dengar atau apa saja terkait dengan sesuatu yang mereka bahas.


Tapi sebelum ke restouran, mereka mampir dulu ke Masjid yang mereka lewati. Guna melaksanakan sholat Dzuhur, baru melanjutkan perjalanan.


Setibanya di parkiran sebuah restouran tekenal di kota itu, dengan perlahan Rahman turun dari motor sport milik master Candra. Rahman yang tidak pernah ke tempat semacam ini, merasa takjub melihatnya.


Sebuah restouran yang menampilkan kesan kebarat-baratan, dengan dinding dan pintu kaca yang tembus pandang hingga memperlihatkan keadaan di dalam ruangan. Terlihat mewah nan megah hingga mengundang minat bagi yang melihatnya untuk segera masuk ke dalam.



Saat mendorong pintu dan memasuki restoran tersebut, mereka merasakan udara dingin dari sebuah AC menerpa permukaan kulitnya. Rahman pun tidak luput memperhatikan ruangan luas itu, berjejer rapi meja persegi bernuansa klasik nan mewah dengan empat kursi di setiap mejanya.


Di setiap sudut ruangan terdapat pohon hias, agar menampilkan kesan hidup. Detail desain intriornya, menarik perhatian Rahman yang juga memang suka dalam bidang menggambar ... terutama ruangan.


Lamunan Rahman buyar, saat ada seorang pelayan perempuan dengan pakaian sopan tengah mendatangi dan meyapa mereka.


"Permisi, tuan. Silahkan duduk," ucap pelayan ramah mempersilahkan Rahman dan master Candra untuk duduk.


"Sebelumnya, tadi pagi saya sudah pesan private room," aku master Candra.


"Baik, atas nama siapa tuan?" tanya pelayan sopan.


"Atas nama Candra," pelayan menganggukkan kepalanya sekali dan mempersilahkan master Candra untuk mengikutinya.


"Baik, mari ikuti saya tuan." Rahman dan master Candra mengikuti pelayan tersebut yang berjalan dengan jarak satu meter di depan mereka lebih dulu.


Melewati deretan meja, masuk lebih dalam dan mendekati sebuah ruangan berwana coklat. Yang mana terdapat pintu yang juga berwarna senada, dengan ukiran unik di permukaannya.


"Silahkan tuan," ucap pelayan membukakan daun pintu itu lebar-lebar dan mempersilahkan mereka masuk.


"Terima kasih," balas master Candra, seraya masuk di ikuti oleh Rahman dan pelayan tadi.



Terdapat meja bulat besar, dengan delapan kursi yang mengelilinginya. Master Candra pun menarik kursi dan duduk, yang tentu saja juga di lakukan Rahman.


Dengan sopan sang pelayan menyerahkan buku menu, kepada master dan Rahman. "Silahkan tuan, menu-nya."


"Saya sedang menunggu seseorang, jadi untuk saat ini ... saya hanya akan pesan makanan kecil saja." ujar master Candra.


"Nanti tolong ... jika ada yang mencari saya, antarkan dia kemari," kata master lagi.


"Baik, tuan ... silahkan."


Rahman memperhatikan master Candra memesan. "Satu Cappuccino, dan dua potato corner,"Β ujarnya, lalu Rahman pun juga ikut memesan minuman saat di tanya oleh master Candra.


"Kamu ingin minum apa Rahman?" master Candra menatap pada Rahman


"Jambajuiceid," ucap Rahman pendek.


"Baik, mohon tunggu sebentar."


Pelayan pun membungkukkan sedikit badannya dan berlalu pergi, meninggalkan Rahman dan master Candra di sana.


"Jadi, pertarungan seperti apa yang saya lewatkan tadi?" menautkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja sambil mengerutkan kening.


"Hanya pertarungan biasa saja master, anak itu minta di panggil bos oleh saya. Tapi saya tolak mentah-mentah, dan dia malah mengajak saya bertarung ... mungkin maksudnya ingin menunjukkan kehebataannya," jelas Rahman panjang lebar.


"Lalu ... pasti dia kalah?" tebaknya bertanya.


"Ya, dia kalah. Karena tidak terima, akhirnya dia meminta bantuan pada teman-temannya." ucap Rahman sambil tersenyum samar.


"Teman-temannya? Apa kau di kroyoknya?"


"Ya, mereka mengkroyok saya ... tapi mereka bisa saya kalahkan," master Candra tersenyum bangga mendengarnya.


"Bagus ... kamu memang murid ku," ucap master Candra mengacungkan kedua jempolnya.


"Tapi, apa kau tadi apa-apa?"


"Sama sekal tidak apa-apa, master."


"Syukurlah."


Bersamaan, pintu kemudian terbuka dan muncullah pelayan dengan makanan di atas napan di tangannya.


"Silahkan tuan," ujar pelayan saat sudah meletakkan semua hidangan di atas meja.



...(cappuccino)...



...(potato corner)...



...(jambajuiceid)...


"Terima kasih," jawab Rahman dan master Candra bersamaan.


"Sama-sama, permisi tuan," pelayan kembali undur diri dari tempanya.


Master Candra mengambil kentang goreng lalu memakannya. "Nanti, kau harus bisa menjaga diri di tempat yang baru, sekarang saya tidak bisa lagi menjagamu," kata master Candra di sela-sela makannya.


"Saya mangerti master," balas Rahman, lalu ia pun juga mengambil kentang goreng di hadapannya dan memakannya.


"Nanti saya akan selalu berkunjung, bila sedang ada pertemuan dengan klien seperti ini," kembali master Candra mengajak Rahman berbicara sambil mengunyah makanannya.


Rahman tidak menyahut, ia hanyak mengangguk sebagai jawaban darinya.


"Kalau pekerjaan saya selesai dengan pihak kepolisian, saya akan luangkan waktu sebentar untuk-mu sebelum kembali ke Bandung."


"Kamu akan saya ajak jalan-jalan," master Candra kembali berujar dan memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya.


Lagi-lagi Rahman tidak menyahut, ia menanggapinya hanya dengan anggukan. Seiringnya master yang selalu berbicara, kentang dan minumannya pun sudah setengah habis.


"Tok ... tok ... tok ...." perhatian mereka teralihkan saat mendengar ketukan di pintu.


Pintu terbuka dan muncullah seorang pelayan dengan seseorang yang ia tunggu sejak tadi.


"Permisi tuan, tamu anda sudah datang," Candra dan Rahman segera berdiri menyambut tamunya yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Perkenalkan, saya Aditiya. Teman saya di Bandung sudah menceritakan tentang kehebatan anda dalam hal hacker." Ucapnya sambil bersalaman dengan master Candra.


"Saya Candra, menurut saya itu terlalu berlebihan," ujar master merendah.


"Perkenalkan ini Rahman, murid taekwondo saya," giliran Rahman yang bersalaman dengan orang yang memanggil dirinya Aditiya.


"Rahman."


"Aditiya."


"Seharusnya saya yang menyambut anda sebagai tuan rumah, atau saya yang datang ke Bandung ... ini malah terbalik," ucap Aditiya menggelengkan kepala.


"Silahkan duduk, tidak masalah. Memang kebelutan saya bisanya baru sekarang, memberikan jawaban waktu itu, jadi pertemuannya mendadak."


Memang master menunggu persetujan Rahman, dalam mengambil keputusan ini. Karena banyak klien yang harus ia bantu terutama pihak dari kepolisian, menjadikannya memerlukan bantuan Rahman dalam hal ini.


Aditiya duduk dan meletakkan tas jinjingnya di kursi kosong di sampingnya, begitu juga master dan Rahman kembali duduk.


"Sebaiknya kita pesan dulu, anda ingin pesan apa?" master menyuruh pelayan tadi mencatat pesanan. Belum Aditiya berucap, master kembali menyela.


"Kebetulan kami belum makan siang, sebaiknya kita pesan makan siang saja sekalian."


"Boleh."


"Rahman, biar kamu saya yang pesankan ...!" ucap master Candra, Rahman mengangguk pasrah.


"Satu Bulgogi, dan dua Bibimbap, minumnya dua air lemon hangat." pesan master Candra yang segera di catatan pelayan.


"Satu Jjamppong, minumnya samakan saja," pesan Aditiya.


"Ahh, tambahkan tiga air mineral," master Candra menambahkan.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Ujar pelayan beranjak meninggalkan ruangan.


"Jadi, kalian sudah lama menunggu saya?" tanya Aditiya yang melihat bekas makan master Candra dan Rahman, masih meninggalkan setengah isinya.


"Tidak juga," elak master.


Aditiya mengangguk mengiyakan, ia tidak ingin berdebat hanya karena waktu yang sudah ia lewatkan untuk datang tepat waktu.


"Sebaiknya nanti saja kita bahas, selesai makan siang. Tentang masalah yang ingin anda minta bantuan," usul master Candra.


"Tidak masalah, memang saya juga belum makan siang," aku Aditiya.


Rahman diam memperhatikan Aditiya, ia yakin ... bahwa pernah bertemu dengan tamu masternya ini waktu di rumah sakit.


Tidak sengaja Aditiya melirik Rahman yang duduknya hampir bersebrangan dengannya, hanya di batasi master Candra dan satu kursi kosong di samping master Candra membuat ia langsung bertemu pandang.


Aditiya mengerutkan kening memperhatikan Rahman, ia merasa Rahman mirip dengan seseorang yang ia kenal.


Mengalihkan pandang, saat Rahman merasa risih di tatap orang tersebut sambil mengambil kentang gorang yang masih ada di hadapannya.


"Apa Rahman juga orang Bandung?" tanya Aditiya mengudara, menatap penuh padanya.


"Ya, Rahman lahir di Bandung. Tapi sekarang dia tinggal di kota ini," master Candra menjawab mewakili Rahman.


"Apa anda mengenali saya?" tanya Rahman pada akhirnya, ia ingin memastikan.


Master Candra sedikit heran mendengar pertanyaan dari Rahman untuk tamunya tersebut, tidak jauh berbeda dengan master Candra, Aditiya juga merasa sama atas pertanyaan Rahman.


"Apa kita pernah bertemu?" ujarnya mengerutkan kening dalam.


Dengan yakin Rahman mengangguk pasti. "Di rumah sakit, waktu itu anda hendak memindahkan anak perempuan yang satu ruangan dengan saya ke bangsal lain."


"Ahh, waktu itu," reflek ia berseru.


"Jadi saat itu, kamu pasien yang satu ruangan dengan keponakan saya?" kembali bertanya.


"Master ingat, waktu kakek saya meninggal? Beberapa hari setelah kakek meninggal, saat kami masih di kota ini ... saya sakit dan harus di rawat di rumah sakit yang sama dengan keponakan om ini," ujar Rahman menunjuk dengan ekor matanya.


"Benarkah? Kenapa kamu tidak memberi tahu saya?" lagi master Candra terkejut.


"Tidak perlu khawatir master, lagian waktu itu saya di rawat hanya satu malam."


Master Candra kembali ingin bicara, tapi keburu pintu terbuka dengan pelayan yang membawa troli makanan pesanan mereka.


Dengan sopan dan perlahan, dua pelayan menata makanan satu persatu ke atas meja.



...(Bulgogi - daging sapi bumbu kecap)...



...(Bibimbap - nasi campur sayur-sayuran)...



...(jjamppong - mi seafood pedas)...



...(air lemon hangat)...


"Silahkan tuan-tuan, selamat menikmati."


"Terima kasih," jawab serempak.


"Jadi waktu itu, kau hanya satu malam di rumah sakit?" tanya Aditiya sambil mengaduk makanannya.


"Iya, om," Rahman yang sudah siap menyantap makanan bibimbap-nya, urung ... demi menyahut pertanyaan Aditiya.


"Syukurlah, hanya satu malam, memangnya kau sakit apa Rahman?" Kembali Rahman menggantungkan tangannya di udara, sebenarnya Rahman terbisa makan dalam keadaan diam. Mendapati orang-orang yang selalu mengajaknya berbicara membuat kesal.


"Alergi udang." Jawab Rahman malas.


"Uhkuk ... uhkukk ...." seketika Aditiya terbatuk saat mendengar jawaban Rahman, ia jadi terkenang seseorang.


Master Candra segera berdiri membantu Aditiya dan menyerahkan air putih sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Anda tidak apa-apa?" tanya master Candra khwatir, bagaimana tidak ... makanan yang di makan Aditiya adalah makanan pedas, di tambah lagi Aditiya yang tersedak, pasti akan sangat tidak enak di pernapasan dan tenggorokannya.


Tidak bisa menyahut, Aditiya hanya bisa melambaikan tangannya saat ia masih dalam keadaan minum.


"Terima kasih, saya tidak apa-apa." meletakkan gelas yang hampir kosong.


Master Candra mengangguk dan kembali duduk di kursinya, Aditiya menatap tekat pada Rahman yang makan dalam diam tanpa melirik siapa-siapa.


Aditiya menelisik wajah Rahman, dia memang sama sekali tidak memperhatikan teman satu bangsal yang tinggal dengan keponakannya waktu itu di rumah sakit. Setelah memperhatikan Rahman, ia merasa jika Rahman memang seperti mirip dengan sahabatnya ... di tambah lagi ada alergi udang.


Ada hubungannyakah? pikirnya


"Ayo tuan Aditiya, mari makan," Aditiya tersentak kecil.


"Ahh, ya silahkan. Tapi kalau bisa anda tidak usah memanggil saya seperti itu, cukup panggil Adit saja," pintanya.


"Baik, Adit. Anda juga bisa panggil saya Candra saja," balas master Candra sebelum di panggil.


"Baik."


Mereka pun makan dengan diam, master Candra tidak ingin kejadian Adit tersedak tadi kembali terulang yang bisa membuatnya tersiksa lagi dengan rasa pedas.


Sementara itu, Rahman saat ini sangat senang, karena kejadian tadi tidak ada lagi yang mengajaknya bicara.


Usai makan siang selesai, master Candra dan Adit terlibat pembicaraan serius. Meja makan pun juga sudah di bersihkan oleh pelayan sebelumnya.


Adit mengelurkan laptop dari dalam tas jinjing yang ia bawa tadi, lalu menyalakannya dan menyerahkannya kepada master Candra.


"Jadi, apa anda bisa membantu kami ...? Tiba-tiba saja kami mendapatkan laporan, bahwa uang dengan jumlah fantastis hilang begitu saja, padahal dari data keuangan yang kami lakukan ... menunjukkan tidak adanya pengeluaran dalam setengah bulan ini. Terhitung dari saat saya meminta bantuan kepada anda waktu itu."


Master Candra menyambut dan meletakkan laptopnya di atas meja, di hadapannya dan sedikit miring ke samping Rahman. Otomatis Rahman juga bisa melihatnya.


Master Candra pun mengeluarkan ipad dari saku jaket dalamnya, lalu menyambungkannya dengan laptop menggunakan kabel yang memang sudah ia bawa. Sekilas master melirik Adit, lalu melirik Rahman.


Ia mencari akal, bagaimana caranya agar Rahman bisa membantunya ... supaya masalah ini cepat selesai, tanpa di ketahui oleh Adit atas keterlibatan Rahman.


Saat master Candra tengah sibuk mencari celah, untuk melakukan kerja sama dengan Rahman ... keberuntungan pun memihak padanya.


"Dreeett ... dreettt ...." telepon Adit bergetar tanda ada panggilan masuk.


"Sebentar saya angkat dulu," ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan sedikit menjauh.


"Hallo, ada apa?" ujar Adit kesal.


πŸ“ž"Bagaimana? Apa dia sudah setuju?"


"Ini gue juga lagi ngurusin ... lu kenapa buru-buru telpon sih?" ucap Adit bersungut-sungut kesal sambil berbisik-bisik.


πŸ“ž"Buru-buru apanya? Ini udah lama dari elu berangkat tadi," sahut orang di seberang sana tak kalah kesalnya.


"Tapi urusannya, baru aja di bahas," katanya malas berdebat.


πŸ“ž"Kenapa baru sekarang di bahasnya?"


"Sialan lo, bisa gak sih gak usah teriak-teriak? Sakit nih kuping gue," makinya yang sempat menjauhkan Hp dari kupingnya.


πŸ“ž"Sory, lagian kenapa jadi baru di bahas? Bukannya lo udah lama perginya?" suara di seberang mulai memelan.


"Tadi kita makan siang dulu, ba---"


πŸ“ž"Gue gelisa di sini, nungguin kabar dari lo. Tapi lo malah enak-enakkan makan siang... sialan lo," kembali suara di seberang meninggi dan memotong perkataan Adit.


"Ya mau gimana lagi, dia belum makan siang ... dan dia ingin makan dulu, masa iya gue larang?" Adit benar-benar kesal di buatnya.


Sementara itu ....


Tanpa berlama-lama master Candra segera memanfaatkan situasi itu, di serahkannya ipad yang sudah terhubung kepada Rahman.


"Kamu lihat, apa malware-nya masih terkoneksi dengan si hacker itu ...!" ujar master pelan bergerak cepat mengotak-atik laptop itu sambil sesekali melirik Adit yang memunggunginya dari jarak yang lumayan jauh.


"Baik, master."


Menurut perhitungannya ... jika malware itu masih terkoneksi, juga uang yang sudah di curi oleh si hacker belum di pindahkan atau di gunakan dari rekening terakhir hacker-nya menyimpan, maka akan ada kemungkinan besar mereka bisa melakukan penarikan kembali.


Selagi Rahman mencari si hacker tersebut, master juga berusaha memperbaiki data yang sudah di salin oleh hacker tersebut. Ia juga melakukan penginstalan akun bara, untuk melumpuhkan malware yang terlanjur menyebar.


"Done," seru Rahman pelan, kembali mereka melihat Adit yang masih dalam posisinya.


"Malware masih terkoneksi. 70% uang yang di curi, bisa saya tarik. 30% sudah ia pergunakan dari rekeningnya." Jelas Rahman pelan.


"Baik, sebentar lagi saya juga selesai melumpuhkan malware-nya." Aku master Candra.


Detik-detik master Candra dan Rahman menyelesikannya tugasnya, Adit berbalik. Bergegas Rahman meletakkan ipad-nya keatas meja saat Adit menunduk mematikan Hp dan memasukkan kekantung celananya.


"Maaf, saya terlalu lama menerima telepon?" ujar Adit sambil duduk.


"Tidak masalah, sebentar lagi ini juga sudah selesai."


"Benarkah? Perasaan tadi baru saya tinggal?" Adit mengerutkan dahinya binggung.


"Paling lama tadi sepuluh menet," sambung Adit masih tidak yakin.


"70% dari hasil peretasan sudah saya tarik kembali, tapi untuk 30% nya ... tidak bisa. Karena sudah dia cairkan. Dan untuk semua data perusahaan, termasuk keuangan, sudah saya perbarui ... juga sudah saya pasangkan pengaman untuk memberikan peringatan terhadap malware yang masuk secara sengaja atau tidak ...!" Jelas master Candra tanpa peduli dengan wajah bingung Adit.


Adit bergeming, ia terpaku tidak percaya bisa secepat itu mengembalikan uang yang sudah di curi orang.


"Maaf, Adit ... sepertinya kami harus segera pulang. Ini sudah lumayan lama kami pergi, pekerjaan saya juga sudah lama menanti." Adit tersentak dari rasa kagumnya.


"Ahh, begitu ya? Baiklah, saya tidak mungkin bisa menahan anda terlalu lama di sini."


"Kalau begitu, terima kasih banyak atas bantuannya? Semoga lain kali kita bisa bekerja sama lagi." ucapnya sambil bersalanam.


"Untuk bayarannya, nanti akan saya kirim ke rekening anda" Master mengangguk faham.


"Biarkan saja, nanti saya yang bayar," ucap Adit yang melihat Cristian mengeluarkan dompetnya.


"Tidak perlu repot-repon, saya jadi tidak enak," kata master Candra sungkan.


"Tidak perlu sungkan, anggap ini sebagai penyambutan tuan rumah," mereka tertawa bersama mendengar candaan Adit.


"Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu."


Master Candra dan Rahman pergi lebih dulu, mrninggalkan Adit yang sedang mencek ulang lamtopnya.


"Hebat sekali dia," gumam Adit memuji master Candra.


BERSAMBUNG ....


Maaf ya semuanya, πŸ™ kalau saya mengecewakan kalian yang mengharapkan pertemuan Rahman dan Ayahnya.


Tapi sampai saat ini malah belum ketemu juga, saya harap kalian sabar ya?😒🀧🀧🀧


Seperti kata pepatah lama. "Dimana ada asap, pasti ada api," gak mungkinkan tiba-tiba saya adakan asap, sementara apinya gak ada? πŸ™„ Nanti yang ada, itu di kira jin lagi! πŸ§žβ€β™‚οΈ


Di tambah lagi ... ini masih musim hujan, kayu pada basah semua, susah banget buat itu api nyala tau ....πŸ˜…


Semuanya mohon pengertiannya ya? Saya sudah merangkai alur cerita dari jauh-jauh hari, dan alurnya memang seperti ini. Paling sebentar lagi mereka pasti ketemu kok, dalam keadaan dan waktu yang sulit untuk dijelaskan. 😁 Sekali lagi mohon sabar dan pengertiannya ya ..!! πŸ™πŸ˜Š


Jangan lupa dukung saya ya semua? Like, gift, kopi atau vote sekalian. Hehehe, saya ucapkan terima kasih sebelumnya, atas semau komentarnya.πŸ™πŸ€­


Oiya, lupa mau kasih tau. Kalau kalian penasaran sama aksi Rahman yang bertarung kemarin, kalian bica cek di ig saya ya .... Ini nama akun ig saya @Army_nt222 (abaikan jika terdapat foto saya🀭) tinggalkan jejak like dan komen, atau pollow my sekalian. ✌😁


Saya ucapkan juga banyak-banyak terima kasih buat kak Ulfa, yang sudah mau di repotin buat bikinin Backsound Rahman bin Rahimah.πŸ€—πŸ™ lope lope sekebon deh,😘😘 tanpa dia apalah saya ini ....🀭


Salam dari Urang Banua😘


Noormy Aliansyah