
"Aku tetap tidak percaya, jika bukan kau pelakunya," hardik Shandy menatap tajam kepada Abdar.
"Adit, hubungi Tomi. Kirim identitas selingkuhan Sherlin. Agar dia tahu kalau kita tidak membohonginya," Shandy tersenyum sinis mendengarnya. Ia pikir itu pasti hanya akal-akalan Abdar saja untuk mengetahuinya.
Tanpa banyak bicara Adit segera berdiri dan mengambil Hp di saku celananya. Hp sudah ditangan Adit, ia segera menghidupkannya dan mencari nomor kontak Tomi lalu menekan ikon berwarna hijau.
Setelah didering kedua terdengar sahutan salam dari seberang sana.
"Kirim informasi dan identitas selingkuhan Sherlin," ucapnya to the point setelah membalas salam.
Memutuskan panggilan secara sepihak tanpa mendengar jawaban 'iya atau tidak' atas perintahnya tadi dan tidak lagi mengucapkan salam.
"Bisa jadi kalian membayar seseorang untuk menjadi tersangka, agar kau mempunyai alibi," ujar Shandy sinis.
"Lihat saja nanti, dan kau bisa tanyakan langsung kepada wanita yang kau sebut sebagai saksi dari pemukulan yang kakakmu terima," Adit sangat geram di katakan pembohong.
Abdar juga tidak kalah geram, ya hendak menyahut tapi urung setelah mendengar bunyi pesan masuk dari Hp Adit.
"Ting ... ting, ting ...." Tiga pesan sekaligus masuk ke aplikasi HP Adit.
Bergegas membuka pesan pertama. Dipesan pertama mengenai informasi tentang selingkuhan Sherlin. Kembali Adit membuka pesan berikutnya, dipesan kedua dan ketiga adalah foto ketika Sherlin dan selingkuh sedang bersenang-senang berbelanja di sebuah mall besar. Foto itu sepuluh tahun yang lalu saat hari dimana Abdar memergoki mereka di hotel.
"Kau lihat saja sendiri." Adit menyodorkan Hp-nya kehadapan Shandy.
Ragu-ragu untuk mengambilnya tapi tetap disambut juga.
Dahi Shandy berkerut dalam ketika membaca nama di dalam informasi itu.
"Jack," pekiknya terkesiap melihat foto kakaknya dan Jack.
"Ini tidak mungkin, pasti kalian yang mengarangnya."
"Banggg saattt, Hp ya," Adit terlonjat kaget karena Hp-nya yang di banting Shandy.
Buru-buru memungut Hp yang layarnya sudah pecah tak berbentuk.
"Kalau kamu tidak percaya, sore ini kami akan membawa wanita itu."
"Dimana kau bisa menemukan wanita Itu?"
"Kebetulan, dia ada di kota ini."
Adit berdecak kesal melirik keduanya, mereka sama sekali tidak merasa kasihan dengan keadaan nasib Hp-nya.
Bahkan tetap membahas topik utama walau ada topik Baru, yakni Hp kesayangannya.
"Sulit bagi ku untuk mempercayainya. Sedang dulu dialah yang datang memberikan bantuan kepada ku."
Flashback on
...PEMAKAMAN UMUM KATOLIK...
"Apa dia, mama mu?" tanya seorang pria di samping Shandy.
Shandy menoleh dan mengiyakan. "Ya, ini namaku." jawabnya.
"Ini adalah temanku," tunjuk laki-laki di samping kuburan mama Shandy.
Shandy melihat arah tunjuknya yang mengarah pada makam kakaknya Sherlin.
"Kau mengenal kakak ku? Dia adalah kakak ku."
"Jadi kau adik nya Sherlin?" Shandy mengangguk cepat.
"Kebetulan, Perkenalkan ... aku Jack. Aku dan kakakmu adalah teman. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Ketika aku mendengar kematian Sherlin, aku begitu terkejut dan tidak menyangka. Dan baru ku ketahui bahwa sudah seminggu Sherlin meninggal."
"Tidak apa-apa, terimakasih atas kunjungannya ke makam kakakku," ucap Shandy tulus.
"Ya sama-sama, aku turut prihatin atas tindakan kakak mu yang melakukan aksi gantung dirinya."
"Kakakku bukan gantung diri, tapi dia di bunuh kemudian di gantung," ujar Shandy memandang nanar kedua makam di hadapannya.
Jack terlonjat kaget tapi ia segera bersikap biasa-biasa saja agar raut wajahnya tidak terbaca."
"Benarkah? Lalu apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya Jack gamang.
"Ya, dia adalah kekasih kakakku," lagi-lagi Jack terkejut tapi Shandy tidak menyadari air muka Jack yang tiba-tiba berkeringat dingin karena masih menatap makam ibu dan kakaknya.
"Si-siapa? Apa aku mengenalnya?" dengan sekuat tenaga Jack mencoba bersikap biasa saja guna menutupi mimik wajahnya.
"Mungkin kau juga mengenalnya," kali ini Shandy menoleh pada Jack.
Jack langsung memutus kontak mata dan membuang muka ke arah makam.
"Siapa?" tanya Jack harap-harap cemas.
"Cristian," jawab Shandy dingin.
Jawaban Shandy bagai angin segar bagi Jack. Ia bahkan tanpa sadar menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah," gumam Jack.
"Apa yang kau katakan?"
"Tidak, tidak ada. Apa dia sudah ditangkap?"
"Belum, dia bermain rapi ... hingga semua bukti tidak di temukan, tapi aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mencari cara untuk membalas dendam," geram Shandy penuh amarah.
Jack tersenyum misterius. "Aku akan membantumu, apapun itu ...."
Flashback off
...****************...
.
.
.
Abdar dan Adit, keduanya sama-sama terdiam. Tidak ada yang bersuara dengan pikiran masing-masing menatap keluar jendela mobil memperhatikan mobil lain yang berlalu lalang.
Hanya terdengar suara musik yang di putar supir taksi. Lagu era 90-an yang di nyanyikan artis Malaysia legendaris.
...πΆπΆπΆ...
Aku meminta pada yang ada,
Aku merindu pada yang kasih,
Aku merayu padamu yang sudi,
Merinduku,
Purnama mengambang berbagai warna,
Bila embun pun datang bintang purnama,
Tinggallah aku sendirian bertemankan malam sepi,
Aku meminta pada yang ada,
Aku merindu pada yang kasih,
Aku merindu padamu yang sudi, membujuk ....
...(Siti Nurhaliza: Purnama Merindu)....
Β
"Apa Shandy sebodoh itu? Dengan mudahnya Jack mengasutnya," suara Adit menyela diantara lagu yang masih berputar.
"Dia itu gak bodoh, Shandy hanya gak tau aja kalau gw udah putusin kakaknya," balas Abdar tanpa menoleh, tatapannya masih mengarah keluar jendela mobil sambil menyandarkan punggungnya.
"Dan pasti dia pikir, gw-lah orangnya yang sudah membunuh Sherlin," sambung Abdar sekilas melirik Adit dan kembali melempar pandangan keluar jendela.
Adit menghela nafas kasar, ia gemas sendiri dengan Shandy yang menuduh Abdar sebagai pelaku kekerasan dan pembunuh Sherlin.
"Elu bayangin aja, ketika kakaknya meninggal dalam keadaan, ya ... bisa di bilang tidak wajar dan seminggu kemudian di susul mamanya ... pasti akan membuatnya hilang akal untuk berpikir jernih."
Abdar yang melihat Adit kesal juga tidak bisa menyalahkan Shandy, karena waktu itu Shandy dalam masa berduka.
Ia bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang hinggap kepada Shandy, kehilangan kedua wanita yang begitu berharga dalam kehidupannya secara bersamaan pasti akan sangat mudah membuatnya tersulut emosi, apa lagi ada dendam yang membayanginya.
"Sekarang gimana sama nasib, Hp gw?" Kata Adit bersungut-sungut.
"Ya tinggal lu beli lagi, gitu aja kok repot."
"Iya, gw yang beli ... tapi lu yang bayar."
"Iya bawelll. Kaya miskin banget lu."
"Elu yang bayar, bukan berarti gw miskin. Ini juga terjadi gegara lu."
"Pakcik, kami dah sampai," sela supir taksi menghentikan perdebatan mereka.
(Tuan, kita sudah sampai.)
"Buruan turun, sudah sampai."
Di dalam hati Adit mengumpat sambil turun dari mobil menyusul Abdar yang lebih dulu turun.
Dengan langkah lebar Abdar berjalan memasuki lobby dengan Adit yang setia mengekor di belakangnya. Menghampiri resepsionis mereka pun bertanya.
"Permisi, apa ada orang yang bernama Tamara Josef yang menginap disini?" Sekesal-kesalnya Adit, ia tetap paham dengan tugasnya sebagai asisten dan tanpa di perintah pun Adit sudah bertanya ... karena resepsionis itu memang dalam keadaan senggang.
Resepsionis wanita itu diam beberapa detik dan tersentak kecil ketika Adit mengulang pertanyaannya.
"Permisi, apa ada orang yang bernama Tamara Josef yang menginap disini?"
(Tunggu sebentar tuan, saya panggil teman saya dulu.)
Mengambil gagang telefon yang ada di sampingnya kemudian menghubungi seseorang. Adit pun hanya bisa menunggu karena pelayan itu sedang berbicara kepada orang di seberang telepon.
"Siti, boleh ke sini sekejap? seseorang bercakap sama seperti awak."
(Siti, bisakah kamu ke sini sebentar? ada yang berbicara sama Seperti kamu.)
Menutup teleponnya, wanita itu berbicara sambil menatap Adit yang berarti sedang mengajak Adit untuk berkomunikasi
"Sekejap pakcik, tak lama lagi kawan saya datang."
(Tunggu sebentar tuan, sebentar lagi teman saya datang.)
"Saya, hanya ingin bertanya. Apakah ada orang yang bernama Tamara Josef yang menginap di sini?" ulang Adit untuk yang ketiga kalinya.
"Sekejap pakcik, tak lama lagi kawan saya datang," balasnya kedua kali.
Adit kembali hendak bersuara, tapi keburu resepsionis itu yang bersua.
"Ah, itu dia." Tunjuk wanita di hadapan Adit pada orang yang berjalan kearah mereka dari samping dan ikut berdiri di samping resepsionis tadi dengan baju yang sama.
"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" Adit baru mengerti kenapa resepsionis tadi menelpon seseorang, ternyata untuk membantunya dalam hal komunikasi.
"Begini mbak, apa ada wanita bernama Tamara Josef yang menginap di dini?"
"Maaf tuan, kami tidak bisa memberi tahukan informasi tentang pelanggan disini." Ucapnya sambil mengantupkan kedua tangan di depan dada.
Adit langsung melirik Abdar. Mereka sudah memprediksi bahwa tidak akan semudah itu bisa mencari tahu kamar Tamara, karena semua informasi di hotel ini akan di jamin keamananya untuk mengantisipasi hal yang tidak di inginkan.
Adit pun mengeluarkan sebuah amplop dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada kedua resepsionis itu.
Tadi sebelum pergi dari kantor polisi, Abdar dan Adit sudah meminta surat izin dari petugas kepolisian agar bisa mempermudah langkahnya menemui Tamara.
Wanita yang bertanya dalam bahasa Indonesia itu segera membuka amplop itu dan membacanya. Tidak lama ia pun mengerti.
"Sebentar tuan." Setelah menyimpan kembali surat kedalam amplop ia mengotak atik leptopnya.
"Kebetulan, Nyonya Tamara baru saya kembali dari luar. Nomor kamarnya 219, mari saya antar." Resepsionis itu keluar dari balik meja dan memimpin jalan menuju lift.
Setelah ketiganya masuk kedalam lift, wanita itu menekan tombol 8.
"Ting," bunyi lift yang sudah sampai.
"Mari Tuan," ucapnya masih memimpin jalan menuju sebuah kamar di ujung lorong.
"Ini kamarnya tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Tidak ada, terimakasih karena sudah mengantar kami."
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi." Sedikit membungkuk ia berlalu.
"Tok ... tok ... tok ..," tidak perlu mengulang pintu pun terbuka.
Muncullah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat elegan, dengan mengenakan baju kaos satin sutra berlengan pendek dan celana gucci panjang. Walau pun sudah sedikit beruban tapi tetap terlihat kecantikannya.
"Maaf, kalian siapa?"
"Apa anda Tamara Josef?" Adit membalas dengan pertanyaan.
Wanita itu mengangguk beberapa kali dengan kening berkerut tanda berpikir.
"Sebelumnya saya minta maaf karena telah mengganggu istrahat anda. Perkenalan ... saya Aditya dan ini Abdar Bariq, kami ingin meminta waktu anda sebentar, untuk bicara suatu hal penting."
Wanita itu memperhatikan kedua tamu yang tidak ia kenal.
Hening karena Tamara tidak sama sekali menjawab.
"Ehemm," Adit berdehem memecah keheningan sejenak.
"Ini tentang, kasus kematian Sherlin Sebastian," ucap Adit.
Tamara terlonjat kecil sebelum akhirnya ia mempersilahkan kedua tamunya masuk.
"Silahkan masuk." Kata Tamara langsung berbalik masuk ke dalam.
Keduanya dipersilahkan duduk di sofa panjang yang berada di seberang ranjang dimana Tamara duduki sekarang.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" ucapnya to the points.
"Begini, saat ini kebetulan Shandy sedang di tahan di kepolisian Malaysia ...," jeda Adit.
Dapat Adit lihat wanita itu sempat terkejut dengan berita yang ia bawa.
"Selain karena kasus nar**ba, ia juga melakukan tindak penculikan." Lagi-lagi Tamara kaget.
"Dan, anak yang dia culik adalah keponakan kami berdua."
"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanyanya bingung.
Walau ia mengenal Shandy dan Sherlin tapi ia merasa tidak ada sangkut pautnya dengan kasus penculikan yang di lakukan Shandy.
"Penculikan Ini terjadi kerena dendam lama, dan ada kesalah fahaman di dalamnya," masih Adit yang dominan berbicara.
Sementara Abdar sibuk menyandarkan punggungnya, ia merasa capek dengan tangan yang dari tadi harus di gendong, sangat terasa tidak nyaman ... ingin rasanya ia melepas penyangga itu.
"Maksud anda?" tanya Tamara tidak mengerti.
"Saya dengar dari pengakuan Shandy, anda adalah orang yang memberi tahukan kepadanya tentang perlakuan kasar kekasih Sherlin terhadap Sherlin, betul begitu?"
"Iya belut, Lalu?"
"Apa waktu itu, anda memberitakan namanya kepada Shandy?" Adit berlaga sudah seperti seorang polisi yang menanyai tersangka.
"Saya tidak ingat," sanggahnya.
"Sebenarnya apa masalahnya?" Tamara mulai jengkel.
Abdar juga merasa Adit betele-tele dalam hal penjelasan ini.
"Jadi begini ... Abdar ini adalah mantan kekasih dari Sherlin," tunjuk Adit kepada orang yang berada di sampingnya.
"Anda mengatakan kepada Shandy, bahwa Sherlin di siksa oleh kekasihnya. Sewaktu itu, Shandy tidak tahu jika Sherlin sudah putus dengan saudara Saya, jadi ia mengira kekasih yang menyakiti kakaknya adalah Abdar."
Tamara mulai mengerti arti dari 'kesalahfahaman' yang dikatakan Adit tadi.
"Jadi ... bisakah anda ikut dengan kami ke kantor polisi untuk menjelaskannya kepada Shandy?"
"Ya, tentu. Saya akan membatu kalian. Apa kita berangkat sekarang? Lebih cepat, lebih bagus." Ujarnya seraya berdiri mengambil tas.
Mereka pun kembali ke kantor polisi menggunakan mobil milik hotel dengan Adit yang mengemudi.
Tamara adalah wanita pebisnis yang tidak ingin membuang-buang waktu berharganya, apalagi ini adalah masa berliburnya yang seharusnya ia menikmati tanpa harus terlibat dengan urusan masalah pribadi orang lain. Walau pun ia sudah berumur tapi jiwa mudanya masih ada.
Tiba di kantor polisi mereka langsung menunggu di ruang tamu nara pidana. Tidak perlu waktu lama Shandy datang di antar petugas kepolisian.
"Tante Tamara?"
"Shandy, kenapa kamu jadi seperti ini? Melakukan tindak kriminal? Seharusnya kamu hubungi saya jika memerlukan bantuan, bukankah saya sudah katakan waktu itu?" rentetan pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir Tamara, ada tersirat kekecewaan yang ia ucapkan.
"Maaf." Shandy tertunduk menyesal.
"Itu bukan salahmu sepenuhnya, mungkin waktu itu saya yang lupa mengatakan nama kekasih Sherlin, hingga membuatmu salah paham pada mereka."
"Saya tidak tahu, kalau kak Sherlin sudah putus dengan Kak Cristian." Kini Shandy kembali memanggil Abdar dengan sebutan 'kakak' seperti dulu.
"Cristian?" Tamara membeo.
"Ya, sebelum Abdar menjadi seorang Mua'laf ... namanya adalah Cristian," Adit menyahut.
"Saya pernah mendengar, ketika Sherlin mengatakan kalau dia mempunya hutang permintaan maaf kepada orang yang bernama Cristian. Jadi ... Saya mewakili Sherlin sekaligus Shandy, meminta maaf kepada anda secara tulus."
"Ya, sudah saya maafkan," Abdar yang tadi tidak banyak bicara akhirnya bersuara.
"Mungkin dia menyesal karena telah berselingkuh dengan Jack ... sehingga Abdar harus memutuskannya secara sepihak dan Sherlin tidak memberitahu Shandy karena malu," timpal Adit.
Tamara mengangguk ngangguk mengerti.
"Saya sekarang tahu, kenapa dulu Sherlin mengatakan ketika dia dipukuli oleh Jack ... jika itu adalah hukuman atas perbuatannya yang dulu."
"Dia pasti sangat merasa bersalah hingga mau menerima tindak kekerasan Jack."
"Kak Cristian."
"Abdar," ralat Abdar membetulkan panggilan Shandy.
"Kak Abdar, sekali lagi saya minta maaf atas kesalah fahaman ini."
Abdar dan Adit tersenyum melihat ketulusan dari ucapan Shandy.
"Aku sudah memaafkan mu, aku juga memaafkan kakak mu Sherlin."
"Terimakasih."
BERSAMBUNG ....
.
.
Maaf kalau saya selalu keteteran update nya, saya sudah mengusahakan untuk membagi waktu dengan kehidupan nyata. Tapi rupanya tetap saja akan ada gangguan. Entah itu pekerjaan rumah, atau tentang koataπ . Hehehe karena hasil dari novel saya belum menghasilkan apa-apa selama 3 bulan ini, jadi saya harus merogoh saku celana sampai kedalam-dalamnya guna mengaktifkan paket data π. Sekali lagi mohon dukungannya ya all, jangan kelewatan tekan π, kalau berkenan kasih πΉ atau β, votenya juga boleh. Ngomong-ngomong aku gak pernah tu ngerasain dikasih koin, adakah yang mau ngasih aku tips ...? Baiklah, abaikan curahan hati saya. π β
salam sayang semuanya.ππ
Noormy Aliansyah