Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 77 Musibah membawa hikmah



Abizar turun dari mobil sambil tersenyum ramah menerima sambutan para warga. Dihimpit oleh ayah dan ibu ... calon pengantin pria itu berjalan hendak memasuki kediaman Rahimah.


Sebagian tamu laki-laki tetap duduk di tempat, dan sebagiannya lagi ikut melihat mempelai pria dari sisi pinggir agar bisa memberi jalan.


Belum melewati para tamu Abizar melihat Rahman yang berdiri tidak jauh darinya di samping Abdar.


Sang rival yang menyadari tatapan itu tertuju pada anaknya segera menyarankan Rahman untuk ikut bergabung dengan calon ayah tiri, tapi Rahman terlihat enggan.


Dengan merangkul bahu sang putra, Abdar berlapang dada membimbingnya berjalan mendekati Abizar.


"Selamat, pak Ustadz." Abdar berbasa-basi menyalami sambil membawa Rahman ke hadapan Abizar.


"Terimakasih." Sambut Abizar ramah.


Rahman yang diambil alih oleh calon ayah tiri tidak bisa berpaling, ia pun ikut berjalan memasuki rumah.


Abdar yang meresa di tinggalkan oleh masa depan, bergeming menatap nanar punggung Abizar dan Rahman dari belakang. Tidak sanggup menyaksikan acara ijab kobul, Abdar memutuskan pergi dari acara tersebut.


Baru satu langkah ia berjalan ke samping, tiba-tiba Abdar merasa ada sesuatu yang melesat dan menerjang lengan atas kirinya tanpa suara bagai lemparan batu kerikil menggunakan ketapel.


Merasa sedikit perih, Abdar pun menoleh memastikan lengannya. Ternyata baju kemaja nya bolong dua di bagian lengan atas kiri dan sedikit hangus mengeluarkan asap, muat untuk satu jari jika dimasukkan.


Mendekap lengannya dan terasa basah. Memperhatikan telapak tangan, Abdar tersentak mendengar jeritan seorang warga yang minta tolong.


"Tolong." Menoleh ke asal suara, Abdar kembali terkesiap mendapati sang calon pengantin yang jatuh dengan posisi tengkurap bersimbah darah membuat baju putihnya bercampur warna merah.


"Abi," seketika teriak histeris dari kedua orang tua Abizar membuat keadaan semakin panik.


Ternyata peluru senjata api itu hanya membuat sedikit kulitnya tergores di lengan dan tetap melesat mengenai Abizar.


Menyadari situasi yang berbahaya Abdar langsung mencari asal usul peluru itu datang. Ia pun menangkap sekelebat bayangan seseorang di seberang jalan.


"Tomi," terik Abdar di sela-sela kepanikan para warga.


Tomi yang juga mengerti keadaan tanpa di perintah dan hanya dengan intruksi panggilan, langsung melesat.


Memanggil anak buah yang berjaga melalui airphone kecil di telinganya, semua pun mengepung Jack.


Jack tidak menduga, bahwa Abdar juga sudah menempatkan anak buahnya di setiap sudut disekitar acara demi mengantipasi keadaan.


Acara yang awalnya bernuansa bahagia, seketika berubah dengan kepanikan para tamu dan kesedihan kedua orang tua mempelai karena anaknya yang tiba-tiba terluka oleh tembakan.


"Abi," panggil ibu Ismawati sambil menangis melihat anaknya yang jatuh tengkurap menahan sakit di punggung kirinya.


Adit segera menghubungi ambulans dan polisi, ia lekas membantu mengangkat Abizar bersama yang lain. Kursi di susun rapat guna meletakkan tubuh ringkih Abizar, dengan posisi menyamping.


Dinding penghias acara langsung di robek Adit guna mengikat lukanya sementara, sebelum ambulans datang.


Abdar menarik Rahman dan merangkul nya erat, takut akan ada tembakan susulan walau sudah di kendalikan anak buahnya.


Warga yang menyaksikan keadaan pengantin juga tidak berhenti khawatir, dan merasa kasihan.


Kabar Abizar yang terkena tembakan pun sampai ke telinga Rahimah. Tanpa mempedulikan riasannya, Rahimah datang menghampiri Abizar sambil menangis khawatir.


"Mas Abi," lirih Rahimah dengan suara bergetar.


Abizar yang mendengar suara Rahimah perlahan membuka mata dan berusaha tersenyum, seolah mengatakan ... semua baik-baik saja.


Ibu Ismawati tatap menangis di dalam dekapan suaminya yang menenangkannya.


Sepuluh menit kemudian, ambulans datang dan perawat langsung mengangkat tubuh Abizar menggunakan tandu.


Abizar sudah di bawa ke rumah sakit di dampingi kedua orang tuanya. Sedang Tante Hana menyusul dengan mobil lain bersama anak dan menantunya.


Rahimah pun demikian, meminta Dinda mengantarnya ke rumah sakit guna memastikan keadaan Abizar.


Semua orang sibuk mengkhawatirkan Abizar dan tidak sadar dengan keadaan Abdar yang sebenarnya juga terluka.


Itu karena Abdar memakai baju batik berwarna merah darah pemberian adiknya supaya segaram dengan Maryam, sehingga darah yang keluar itu tersamar'kan bersama bajunya.


Adit bergabung bersama Tomi, meringkus Jack yang melawan berusaha kabur. Sempat terjadi perkelahian antara Jack dan Tomi, karena bantuan anak buah dari Jack.


Perkelahian terhenti ketika pihak polisi datang mengepung, dan berakhir oleh musuh yang dapat di lumpuhkan.


Kediaman Rahimah segera di bubarkan dan di amankan oleh pihak kepolisian, Khadizah dan Ustadzah Habibah bersama Wahyu dan Hawa ikut di mobil Dinda. Sedang Soraya dan Nurul menunggu di rumah karena keadaan mereka yang tidak memungkinkan.


Tidak memerlukan waktu lama, mobil ambulan pun tiba di rumah sakit dan segera di ambil alih oleh perawat yang bertugas.


Karena luka di akibatkan tembakan, dokter segera melakukan tindakan operasi.


...****************...


Sementara itu ....


"Bagaimana ini, Dinda ... sama mas Abi?" tanya Rahimah terdengar gelisah, ketika mobil yang membawa mereka belum sampai.


"Kamu tenang aja, sebentar lagi kita sampai!" balas Dinda sambil segera memeluk Rahimah dari samping. Tadi ketika hendak berangkat ... Wahyu meminta kunci kepada Dinda untuk menyetirnya.


"Berdoalah, semoga keadaan Abi tidak parah dan baik-baik saja, Imah," kata Ustadzah Habibah yang duduk di samping Rahimah yang lain.


"Amin," do'anya.


Setelah mobil terparkir sempurna di parkiran mobil Rahimah segera turut dan masuk ke dalam rumah sakit. Ia yang tadi berangkat karena terburu-terburu, bahkan sampai lupa untuk memakai sendal.


Bertanya kepada resepsionis, tentang pasien dengan luka tembak .., ia pun segera naik ke lantai atas saat sudah diberi tahu bahwa di ruang oprasi tanpa mempedulikan Dinda dan yang lain.


Rahimah yang berlari dan meninggal yang lain masuk ke dalam lift sendiri. Sampai di lantai atas, ia kembali bertanya kepada perawat yang ada.


Mengikuti arahan yang ia dapat, Rahimah berjalan cepat mencari ruangan tersebut. Hingga dari kejauhan ia bisa melihat keluarga Abizar yang menunggu di depan ruang operasi sambil duduk dengan menunduk.


Rahimah memelankan laju kakinya berjalan mendekat, samar ia mendengar suara ibu Ismawati yang mengeluh pada sang suami di sampingnya. Karena ia yang tidak memakai sendal, kehadirannya pun tanpa disadari orang-orang.


"Ini gara-gara Abi tidak mendengar apa kata ibu, seharus ia mendengarkan ...," ucapnya dengan suara parau.


"Sudah ibu larang untuk tidak melanjutkan pernikahan ini, tapi Abi keukeuh ingin menikahi Rahimah." Seketika Rahimah berhenti berjalan mendengar pengakuan dari calon ibu mertuanya itu.


"Sudah, bu ... ini semua bukan salah Abi. Ini semua terjadi karena memang sudah takdir, jadi beristighfarlah dan berdoa untuk kesembuhan Abi," kata pak Baharudin.


"Tapi ini terjadi karena ia yang melawan perkataan ibu, pak! Pasti ini teguran, karena sudah menyakiti hati Ibu dengan menentang ibu," air mata Rahimah tiba-tiba menumpuk tatkala mendengar Abizar yang berani melawan ibunya demi dirinya.


"Tante Wati, jangan berkata seperti itu ... tidak baik. Ini memang sudah garis tangan mas Abi, bagaimana pun kita menentang atau menolaknya, jika Allah menghendakinya ... maka kita hanya bisa pasrah dengan ketetapan Allah," ucap Alara menimpali duduk di sebelah suaminya.


"Tante tetap, tidak bisa terima." Gugur sudah air mata Rahimah, merasa Abizar yang bertentangan dengan ibu kandungnya.


"Imah." Panggilan Dinda menarik perhatian mereka kepada sosok yang di panggil.


"Imah." Kata Alara bangkit dan mendekat menjadi tidak enak hati, jika sahabat kecilnya itu mendengar.


Bergegas mengusap jejak air mata di pipi, berusaha tersenyum kepada orang-orang di sana.


Ibu Ismawati yang melihat, melirik sinis. "Kenapa kamu tersenyum? Apa kamu senang, karena Abi terluka?"


"Astaghfirullah," pekik semua orang.


"Ibu, istighfar! Imah juga bersedih dengan keadaan ini, ibu liatkan ... karena kejadian ini mereka terpaksa menunda ijab kobul," ujar pak Baharudin menegur sang istri.


"Alangkah baiknya, jika tidak hanya ditunda ... tapi juga batal." Hampir saja Rahimah jatuh jika Dinda tidak menahan punggungnya.


"Kenapa tante berkata seperti itu?" tanya Dinda kesal.


"Apa tante, tidak setuju dengan pernikahan ini?" sambung Dinda memastikan.


"Iya ... saya memang tidak setuju," aku Ibu Ismawati lantang.


"Kenapa seperti itu, bu Wati?" Ustadzah Habibah bertanya keheranan.


"Tentu kalian tahu, kenapa saya tidak setuju dan ingin membatalkannya!"


"Sudah, sudah ... tidak baik di bahas di sini! Ini rumah sakit, sebaiknya nanti kita bicarakan lagi," lerai pak Baharudin engan membahas masalah pribadi, takut di tegur oleh perawat yang melihat mereka karena ribut.


Mereka pun diam, paham dengan perkataan ayah Abizar.


Rahimah duduk menjauh dari keluarga Abizar bersama kerabatnya. Dinda dan Khadizah hanya bisa mengusap punggungnya, tanpa berkata apa pun.


...****************...


.


"Apa kita, perlu menyusul ke rumah sakit?" Tanya Adit kepada Abdar dan Rahman yang duduk di kursi tamu undangan.


Semua orang sudah pergi, hanya tinggal mereka di tempat itu.


"Bagaimana, Rahman? Apa kamu ingin menyusul mama-mu?" Candra turut bertanya.


"Terserah saja," kata Rahman pendek.


"Ya Sudah, kita susul saja. Biar Ari dan Zidan yang mengurus di sini," usul Candra. Karena tadi mereka juga ikut dalam penangkapan Jack. Jadi jika polisi memerlukan keterangan, Ari dan Zidan bisa bersaksi terkait penembakan.


"Ayo." Kata Abdar sambil berdiri.


Baru saja Abdar berdiri, tapi kembali terduduk karena merasa pusing.


"Elu Kenapa?" Adit segera memeganginya.


"Astaghfirullah hal azim," pekik Adit tersentak. Yang lain tidak kalah terkejutnya melihat darah di tangan Adit.


"Kamu, terluka?" tanya Candra yang memperhatikan lengan Abdar.


"Coba buka, bajunya?" saran Zidan.


"Kepala gw pusing." Aku Abdar ketika Adit melepas kancing bajunya.


"Sepertinya, Abdar juga kena tembak." Adit segera mengikat lengan kiri atas dengan baju itu menyisakan kaos putih tanpa lengan yang juga sudah berubah merah di pinggang kiri Abdar.


"Ayo kita ke rumah sakit, sekarang kita ke rumah sakit bukan karena menjenguk saingan lu .., tapi karena ngobati luka lu," selohor Adit sambil memapah Abdar.


"Memang saingan apa?" tanya Ari.


"Siapa lagi, kalau bukan Ustadz muda itu."


"Loh, jadi Abdar suka ya sama mamanya Rahman?" jelas saja mereka terkejut saat mengetahuinya.


"Jangan dengerin dia," bantah Abdar sambil memiting leher Adit karena tangannya yang bertengger di bahu sang asisten.


"Awww, sialan lu." Adit memukul tangan Abdar agar mengendur.


Candra dan Rahman tersenyum melihat perdebatan kedua orang di depannya. Setelah berpesan kepada Ari dan Zidan, mereka pergi ke rumah sakit.


"Gw heran, kenapa lu bisa sampai luka kena tembak?" kata Adit sambil melirik di balik kemudi, ia berusaha cepat menjalankan mobilnya.


"Mana gw tau," ketus Abdar.


"Kemarin, pas nolongin Rahman tangan kanan ... sekarang tangan kiri .., besok-besok mungkin di tengah kali ya?" canda Adit agar Abdar terus bicara.


"Iya, di tengah ... tapi gw bunuh dulu elu sebelum itu terjadi," balas Abdar sambil bersandar dengan mata terpejam.


"Tapi Kayanya bukan elu lagi yang kena tembak. Mungkin elu yang nembak seseorang sama pistol keramat yang di tengah itu," ucap Adit ngelantur.


"Ngomong apaan sih," kesal Abdar bertambah pusing.


"Ya, siapa tau! Ini pertanda, akan ada calon pengantin pria yang baru."


Abdar diam, tidak menyahut lagi. Candra dan Rahman juga diam tanpa mau mengerti maksud ucapan Adit.


"Abdar ...." Panggil Adit.


Tidak ada sahutan.


"Abdar ...." ulangnya.


Masih sama.


"Wah, gawat. Jangan-jangan ni anak pingsan," kata Adit khawatir.


Walau peluru itu hanya lalu, tapi tetap berbahaya jika di biarkan tanpa pengebotan.


"Tenang aja, gw belum pingsan. Kalau lu lama bawa mobilnya, baru gw pingsan beneran," ujar Abdar membuat Adit lega.


"Om, nggak apa-apa?" Rahman menatap khawatir ayahnya yang duduk di samping kemudi.


"Iya, nggak apa-apa. Om baik-baik saja." Abdar berusaha menoleh dan tersenyum pada Rahman walau sebenarnya kepalanya tambah pusing, tapi tetap ia paksakan.


Sesampainya di rumah sakit ia segera di bawa ke ruang IGD dan sedikit mendapat jahitan.


"Kamu bisa nemuin mama-mu dulu Rahman, bersama om Candra. Kami akan menunggu di sini," kata Adit.


"Rahman di sini aja, Om," tolaknya. Rahman lebih memilih bersama dengan Adit.


...****************...


.


"Bagaiman, dokter keadaan anak saya?" tanya Baharudin usai operasi.


"Tidak apa-apa, pelurunya tidak terlalu dalam. Pasien sekarang hanya perlu banyak istrahat, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang observasi (pemulihan dan perawatan pasca operasi). Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak pasien yang lain," pamit dokter cepat.


"Baik, terimakasih banyak dokter."


"Sama-sama."


"Nak Imah, sebaiknya kamu pulang dulu .... Abi juga belum bisa di temui." Pak Baharudin mengusir halus.


Ia kasian dengan keadaan Rahimah yang masih dengan baju pengantinnya


"Tapi, saya ingin bertemu mas Abi pak," tolak Rahimah.


"Tidak, sebaiknya kamu pulang dulu. Lihat keadaanmu." Rahimah memperhatikan dirinya yang mengundang perhatian orang-orang.


"Sebaiknya kita pulang dulu, Imah. Nanti sore kita kembali lagi," usul Dinda yang di setujui Ustadzah Habibah dan Khadizah.


"Kalian tidak datang lagi, juga tidak masalah," sahut Ibu Ismawati.


"Bu," tegur sang suami.


Rahimah menatap ibu Ismawati sedih, sementara yang di tatap langsung membuang muka.


"Ayo, Imah," ajak Khadizah.


"Pak Bahar, kami permisi dulu. Nanti kami akan berkunjung lagi," pamin Ustadzah Habibah mewakili yang lain.


"Iya, terimakasih bu Ustadzah."


Mereka pun pergi meninggalkan keluarga Abizar dengan perasaan kecewa.


"Udah repot-repot kita datang, malah kaya gitu sambutannya," gerutu Dinda.


"Sudah, jangan dipikirkan."


Di persimpangan ketika mereka sudah hendak keluar tidak sengaja Dinda melihat Adit yang menelpon seseorang.


"Bukannya itu mas Adit ya?" Tunjuk Dinda.


"Iya," ujar Wahyu.


"Mas Adit." Sang empuh menoleh ketika di panggil oleh suara yang selalu ia rindukan.


"Ngapain mas Adit di sini?"


"Ini, Maryam telepon ... dia marah-marah karena mas lupa pamit pergi ke sini, tadi dia bantuin jagain rumah Rahimah," jelasnya.


"Udah, pulang aja Mas. Ustadz Abizar juga belum bisa di jenguk."


"Emang mas nggak mau jenguk kok, tadinya mau jekuk tapi serang nggak jadi." Dinda memicing mendengar penuturan Adit.


"Jangan bilang, kalau mas nggak jadi jenguk karena liat aku pulang?" tebaknya kepedean.


"Siapa bilang gara-gara liat kamu pulang?"


"Ter--."


"Mama," perkataan Dinda terpotong oleh suara Rahman yang datang bergabung bersama Candra dan Abdar yang hanya memakai kaos tanpa lengan, menjadi pusat perhatian mereka.


"Rahman." Rahimah Langsung mendekap anaknya erat dengan pikiran kalut.


"Loh, kenapa sama mas Abdar?" Wahyu menjadi juru tanya bagi yang lainnya.


"Kayanya, sebelum peluru itu singgah di badannya pak Ustadz ... pelurunya mampir dulu di lengannya Abdar. Makanya kita obati dulu lukanya," kata Adit sambil menaikkan turunkan alisnya kepada Dinda.


Dinda seketika merasa malu.


"Sudah baikan?" tanya Wahyu lagi.


"Iya, sudah baikan. Sekarang kita mau balik ke rumah Rahimah dulu jemput Maryam."


"Ya Sudah, kita pulang sama-sama."


Mereka berjalan bersama beriringan menuju tempat parkir. Rahimah sekilas melirik lengan berotot Abdar yang di perban.


Ingin bertanya keadaannya tapi segan karena banyak orang-orang. Akhirnya mereka pulang dengan formasi sama seperti mereka berangkat tadi.


Ketika hendak masuk kedalam mobil, Rahimah tidak sengaja kembali melirik Abdar dan mata mereka bertemu pandang. Abdar tersenyum lembut menatapnya, tapi Rahimah segera menundukkan pandangnya.


"Apakah ini pertanda, Imah?" batin Abdar bertanya.


BERSAMBUNG ....


Akhirnya, selesai juga nulis .... Maaf, kalau kelamaan update nya πŸ™. Soalnya kehidupan nyata sedang banyak acara, karena bulan Rajab sering diadakan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. sekaligus haul Akbar guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-banjari (Ulama besar Kalimantan Selatan, Sekumpul) jadi mohon dimaklumi ya! ☺


Saya harap kalian ngak bosan baca karya receh saya, semoga selalu di nanti!


Salam sayang .... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Noormy_Aliansyah 😘😘😘