Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 71 Numpang sarapan.



Pagi ini Abdar sudah rapi memakai kemeja berwarna vany senada dengan celana kainnya, sepatu hitam mengkilap pun menyempurnakan penampilannya. Berjalan menuruni anak tangga yang berbarengan dengan Intan.


"Mau kemana om?" tanya Intan mendongakkan kepala membuat kedua rambutnya yang dikepang bergoyang seirama.


"Mau antar kamu, sekalian ke rumah kak Rahman." Bisik Abdar sedikit membungkuk.


"Hah, ke rumah kak Ra----."


"Sttt," kalimat Intan terputus karena melihat jari telunjuk Abdar yang menempel dipermukaan bibirnya.


"Rahasia, jangan sampai ketahuan mama kamu," ucapnya masih berbisik. Intan mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Mau ikut nggak?" tanya Abdar.


"Mau dong," balas Intan berbisik.


Mereka kembali melangkahkan kaki yang tadi sempat terhenti diantara anak tangga. Tangan kanan yang dulunya sempat terluka kini sudah mulai sembuh 100% dan iapun memutuskan untuk membawa mobil sendiri.


"Ayo kita sarapan," kata Maryam saat mendengar derap langkah kaki mereka tanpa menoleh.


"Kakak dan Intan nggak ikut sarapan, nanti di jalan aja sarapannya," Abdar mengerlingkan matanya kepada sang keponakan yang dibalas dengan tawa tertahan.


"Loh, kenapa? Kakak mau antar Intan?" Maryam langsung menoleh dan terkejut mendapati kakaknya yang sudah siap mengantar putri kecilnya.


"Iya, kita mau berangkat sekarang," terang Abdar dan diangguki Intan.


"Tapi kenapa mesti makan di luar?" protesnya.


"Sekali-sekali, nggak apa-apakan?"


"Iya, sekali-sekali ma ... nanti nambah deh jadi dua kali," Intan nyengir.


"Ish ... jahatnya kalian, nggak bilang-bilang mau ada rencana sarapan diluar?" Maryam memicing'kan matanya.


"Ini rencana yang tiba-tiba datang, jadi jangan salahkan kakak. Ya sudah kakak berangkat dulu." Menyodorkan tangan guna bersalaman.


Dengan wajah cemberut Maryam menyambutnya. "Ya sudah, hati-hati di jalan," begitu juga kepada Intan.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Maryam memandang keduanya sambil cemberut, detik berikutnya berubah menjadi senyuman. "Seharusnya kakak sudah punya pendamping," gumam Maryam.


...______...


"Emang mau ngapain kita ke rumahnya, kak Rahman?" tanya Intan ketika mobil sudah dijalankan.


"Mau sarapan," sahut Abdar pendek.


"Hah, sarapan di rumah kak Rahman?" Intan tersentak sambil membulatkan mata kecilnya.


"Emmm," Abdar hanya membalasnya dengan gumamman.


"Ih, om Abdar ... Maksud Intan, emang nggak apa-apa gitu kita numpang sarapan di rumah orang?" tanya Intan polos.


"Nggak apa-apa, karena om sudah minta izin sebelumnya sama tante Imah dan kak Rahman. Tapi ini rahasia ya, jangan sampai mama kamu tau."


Abdar memang pernah meminta satu hal ketika kapan mana saat Rahman menolaknya memanggil ayah, ia meminta untuk di ijinkan mengunjungi Rahman kapanpun itu asal di jam yang wajar dan menurutnya sekarang adalah saatnya dengan membawa Intan.


"Kok bisa om dibolehin?"


"Sudah ... kamu bisa nggak jangan banyak tanya? Kalau Nggak, om tinggal kamu? Ikut aja apa yang om lakuin, sekarang yang terpenting kamu jangan bilang sama mama ... karena ini rahasia." Melirik Intan sekilas dan kembali fokus menatap jalanan.


"Iya, Intan janji," sahutnya cepat.


"Bagus anak pintar." Satu usapan lembut di pucuk kepala Intan Abdar berikan.


Terus melajukan mobilnya tanpa kendala, kendati terbilang macet tapi tidak berlangsung lama hingga mereka tiba di rumah Rahman.


"Ayo." Ajak Abdar sambil membuka pintu mobilnya.


"Assalamualaikum." ucap keduanya setelah membunyikan bel rumah.


Dalam hitungan detik, tidak lama pintu terbuka separoh dan muncullah sosok anak laki-laki yang menatap mereka dengan senyum tipis, bahkan hampir tidak terlihat.


"Wa'alaikumussalam," sahut Rahman.


"Boleh'kan, om berkunjung?" wajah pengharapan terpancar dari Abdar.


"Boleh, silahkan masuk." Pintu di buka lebar oleh Rahman, ia pun sedikit bergeser ke samping pintu agar tamunya dapat masuk.


"Kata om Abdar, mau sekalian ikut sarapan, kak," adu Intan nyengir.


Abdar meringis sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidaklah gatal.


"Boleh, ayo." Rahman tidak menghiraukan wajah sang ayah dan melangkah memimpin jalan setelah menutup pintu terlebih dulu.


"Ma, ada Intan sama om ...." Rahman melirik ke belakang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Abdar," ucapnya pelan.


Rahimah nampak sedikit terkejut melihat kedatangan keduanya. "Mau ikut sarapan katanya," sambung Rahman duduk di kursi.


Kembali Rahimah terkejut kecil, Abdar malah membuang muka ke arah lain karena sedikit malu.


"Silahkan duduk." Segera menambah dua piring untuk tamu yang tidak diduga.


Abdar duduk di samping Intan dan tepat berseberangan dengan Rahimah yang sedang menyimpan nasi, sayur dan lauk kedalam piring lantas Rahimah bertanya. "Apa segini cukup?"


"Ah, ya ... cukup," seru Abdar. Di letakkannya ke hadapan Abdar.


Rahimah kembali melakukan hal yang sama dan bertanya pada Intan, setelah mendapat jawaban ia meletakan dihadapan Intan.


"Terimakasih, tante." Senyum lebar diberikan Intan untuk Rahimah yang dibalas pula dengan senyum manis, Abdar pun tidak menyia-nyiakan pemandangan di depan matanya, ia begitu menikmati hal tersebut.


"Silahkan dimakan," Abdar tersadar dari lamunannya.


"Emmm, enak tante," kata Intan dengan mulut penuh.


"Sttt." Rahman menegur Intan sambil menaroh satu jarinya di permukaan bibir.


"Hehe, Maaf," Intan teringat tentang nasehat Rahman yang melarangnya bicara saat sedang makan.


Dengan gerakan tangan yang seolah-olah mengunci mulut lalu mengacungkan jempol di samping bibir tanda mengerti dan kembali makan dengan diam.


Abdar yang melihat kelakuan keduanya tersenyum senang. Rahimah hanya melirik sekilas dan melanjutkan sarapannya.


Dalam benaknya, ia sudah memutuskan untuk memberi tahu'kan Abizar tentang ayah kandung Rahman, agar tidak ada kesalah fahaman nantinya ketika Abdar datang berkunjung lagi. Siapa yang tahu?


Karena hari ini mereka libur mengajari Intan dan Abdar, jadi ia akan membicarakannya nanti hari senin.


Selesai sarapan Rahimah membereskan piring kotor yang di bantu Rahman. "Biar saya bantu ya, tante?" Intan hendak membantu.


"Nggak usah sayang, kamu duduk aja," tolak Rahimah halus.


"Oiya, Rahman belum pernahkan ke rumah om'kan?" Abdar mencairkan suasana yang hening.


Rahman menggeleng. "Sekali-sekali, berkunjung dong ke rumah om," pinta Abdar penuh harap.


Rahman melirik mama-nya sekilas, Rahimah mengangguk mengiyakan. Tidak mungkinkan ia bisa melarang itu.


"Iya," jawab Rahman singkat.


"Gimana kalau besok? Kamu nggak ada kegiatan'kan? Kebetulan besok hari minggu, jadi kamu seharian bisa main di rumah om, atau gimana kalau kamu menginap saja malam ini?" cecar Abdar, ia bahkan tidak memikirkan akibatnya jika membawa Rahman ke rumahnya.


Yang ia pikirkan saat ini adalah ingin mendekatkan dirinya pada keluarga kecil itu walau mendapatkan penolakan sebagai ayah tapi setidaknya ia tetap diterima sebagai kerabat.


"Iya, Rahman tidak ada kegiatan. Besok saya bisa main ke rumah om, tapi kalau menginap ... kasian mama sendiri di rumah." Abdar sedikit kecewa tapi ia mengerti.


"Horeeee, kak Rahman besok main ke rumah kita," Intan menyambut kegirangan.


"Nanti, Intan ajak kak Rahman liat-liat rumah kita. Terus kita bisa main," semangatnya.


"Rahman, kamu om antar ke sekolah bareng Intan!"


"Tapi gimana sama Rayan?" Rahman bertanya bingung, karena ia biasa di jemput temannya.


"Mulai sekarang, om yang antar jemput kamu ya?" Abdar menjawab dengan pertanyaan tak terbantahkan.


Rahman diam dan menatap sang mama meminta jawaban. "Nanti mama bilang sama tante Soraya, kalau kamu sekarang berangkat bareng Intan," usulnya.


Sebenarnya Rahimah terjepit, ia takut temannya itu menanyainya apa sebab Rahman yang mau di antar oleh orang asing, lalu bagaimana ia menjelaskannya. Tapi melihat Abdar yang ingin mengantar jemput juga membuatnya tak tega bila harus menolaknya.


Rahman mengangguk pasrah. Ia juga sejujurnya ingin menolak. Mengingat kesalahan Abdar yang menyakiti mama-nya tak serta merta membuatnya mudah mengiyakan tanpa persetujuan dari ibundanya.


"Ayo, sudah siapkan?" jelas saja Abdar merasa senang karena mendapat respon yang baik dari kedua nya.


Setelah berbalas salam mereka akhirnya berangkat. Sebelumnya Rahimah menghubungi supir Soraya untuk tidak singgah menjemput Rahman, sebab ia tahu kalau sekarang pasti mobil itu sudah di perjalanan.


...****************...


"Ini cincinnya." Dinda meletakkan cincin kehadapan Adit setelah kedua pasang manusia yang membuatnya ikut main drama itu pergi dan Dinda ingin segera mengakhiri dramanya.


"Baiklah, nanti ku belikan yang sedikit lebih kecil." Adit berucap santai sambil memasang cincin yang berada dihadapannya.


"Sekarang aku sudah tau ukuran jarimu." Adit tersenyum senang.


"Mas Adit, saya tidak minta dibelikan cincin ... jadi tidak usah repot-repot," tolak Dinda tegas.


"Siapa bilang ini repot, itu adalah kewajiban ku sebagai kekasihmu." Ucap Adit sambil menaikan turunkan alisnya.


"Sejak dari setengah jam yang lalu." Dinda memutar bola matanya malas.


"Itu hanya pura-pura," bantahnya.


"Siapa bilang pura-pura? Para pelanggan menyakini itu benaran." Dinda berdecak mendengar pendapat Adit.


"Terserah ..!! Mas gak usah bayar makanan yang tadi, jadi mas bisa pergi sekarang," usir Dinda sembari beranjak dari duduknya.


"Uhh manisnya ... baru aja jadian, udah diteraktir aja sama pasangan," Dinda geram mendengarnya.


"Mas Adit bisa gak sih, jangan bikin aku darah tinggi," ketus Dinda.


"Gak bisa, soalnya aku udah diabetes gegara kamu kelewatan manis ... jadi darah tingginya, buat kamu aja," Adit mengulum senyum saat mendengar gombalannya sendiri. Entah dari mana ia bisa merangkai kata-kata yang tidak pernah dipergunakannya.


"Ihh, nyebelin ...." Ucapnya sambil berjalan.


Setelah merasa sudah lumayan jauh, Dinda berbalik badan untuk memastikan kalau Adit sudah pergi.


"Ngapain mas Adit, disitu?" Dinda merasa heran, sebab bukannya pulang ternyata Adit berada di meja lain yang terdapat dua orang wanita dan mereka saling memegang Hp masing-masing begitu juga Adit.


"Dasar buaya," gumam Dinda kembali melangkah ke ruangannya.


...****************...


.


Esok harinya ....


Intan yang berjanji tentang sarapan di rumah Rahimah adalah rahasia, ia pun dengan teguh mengunci mulutnya rapat-rapat.


Tapi untuk kabar kalau Rahman akan bermain seharian di rumah mereka tentu itu tidak bisa di sembunyikan.


"Jadi om kamu pergi buat jemput Rahman?" tadi ketika Abdar pergi kakaknya itu tidak mengatakan apa-apa dan sekarang ia begitu terkejut saat anaknya bercerita rencana hari ini.


"Iya, kak Rahman di ajak main ke sini seharian."


Maryam semakin terkesiap, yang ia tahu kakaknya itu tidak pernah mau repot-repot menjemput orang selain dirinya dan Intan apalagi untuk bermain seharian di kediaman sendiri.


"Kakak nggak salah minum obat'kan ya?" gumam Maryam pelan.


"Obat apa ma?" ternyata walaupun pelan Intan dapat mendengarnya.


"Hah, bukan apa-apa. Ya sudah, kalau om kamu sudah datang beritahu mama ya? Mama mau kebelakang." Yang langsung di angguki Intan.


Setengah jam kemudian Intan memanggil mama-nya, memberitahukan tentang kedatangan Abdar dan Rahman.


"Kakak ...," seru Maryam setelah menemui mereka.


"Selamat pagi, tante." Rahman menyodorkan tangan yang disambut Maryam.


"Pagi, Rahman, kenapa mama kamu nggak diajak sekalian?" Maryam memicing'kan mata melirik Abdar. Ia mempunyai firasat bahwa Kakaknya itu telah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Lagi sibuk tante, katanya buat baju pesenan tante."


"Ohh Iya, tante minta dibuatkan baju sama mama kamu," ucapnya.


"Intan ... ajak kak Rahman-nya main gih, mama ada perlu sebentar sama om kamu." Lagi-lagi pandangan Maryam tajam mengarah pada Abdar.


"Ayo kak, ikut Intan keliling rumah." Tanpa segan Intan menarik tangan Rahman memasuki rumah semakin dalam.


"Jelaskan?" to the points tegas.


"Apa?" Abdar pura-pura tidak mengerti.


Kesal dengan sang Kakak, Maryam segera menariknya ke dalam ruang kerja.


"Aku yakin, ada sesuatu yang kakak sembunyikan dari aku. Jadi beritahu ... ada apa sebenarnya?" Ucapnya sambil berkacak pinggang mengintimidasi Abdar.


"Nggak ada apa-apa," bantah Abdar.


"Nggak mungkin, nggak ada apa-apa. Ngapain kakak repot-repot jemput Rahman buat main disini lagi?"


"Kasih tahu sekarang, atau aku cari sendiri?" ancam Maryam.


Abdar menghela napas, menggaruk kening bingung menjelaskan yang sebenarnya.


"Emmm ...."


Maryam masih menunggu penjelasannya.


"Emmm ...."


"Apaan sih, aemm-aemm? Jelasin dong?" ketus Maryam.


Abdar benar-benar merasa frustasi, cepat atau lambat adiknya itu memang harus tahu tentang keberadaan putranya.


"Rahman ... Rahman itu ...," kembali Abdar ragu mengatakannya.


"Apa?" desak Maryam mengerutkan kening dalam.


"Anak Kakak." Abdar menunduk tidak berani melihat reaksi Maryam.


"Awww," Abdar memekik kesakitan sambil mengusap lengannya yang masih terasa sakit karena luka.


Dilihatnya Maryam memegang sebuah buku yang diambilnya di atas meja kerja dan Abdar yakini bahwa adiknya memukul menggunakan benda itu.


"Maksudnya apa?" geram Maryam marah menuntut penjelasan yang lebih terperinci.


"Ya ... Rahman itu anaknya, kakak." Abdar segera mundur dua langkah kebelakang ketika melihat Maryam mengangkat tangan hendak memukulnya lagi dengan buku.


"Maksud Kakak, mbak Imah itu istri Kakak?" Maryam mencoba menepis pikiran jelek yang tiba-tiba muncul dalam otaknya.


"Bukan ... tapi Rahman adalah anaknya kakak." Abdar kembali hendak menghindar saat Maryam bergerak mendekat, tapi bukannya memukul adiknya itu duduk di sofa dengan mimik wajah kecewa.


"Jadi maksud Kakak?" ucap Maryam lirih tertahan.


"... Mbak Imah adalah korban pelecehan? Dan orang yang sudah memecahkannya adalah kakak sendiri, hingga membuatnya memiliki seorang anak, yaitu Rahman?" Suara Maryam bergetar menatap lesu kepada Abdar.


Sebagai seorang wanita Maryam tahu betul bagaimana perasaan Rahimah yang mendapat perlakuan tidak adil dari seseorang pria. Bahkan sampai mengambil merenggut mahkotanya secara paksa.


"Maaf ...." Abdar berjongkok di hadapan Maryam yang membuat mata sang adik berembun.


"Kamu ingatkan, waktu kakak putus sama Sherlin? Dia selingkuh ... dan itu membuat kakak hilang kendali lalu memilih minum-minuman," ujar Abdar lirih.


"Dari situlah awal mula kenapa itu bisa sampai terjadi, karena kakak yang dalam pengaruh minuman. Kakak nggak bisa menjelaskannya sama kamu, karena itu sudah cukup lama ... Kakak bahkan tidak mengingat semuanya." Air mata Maryam runtuh seketika saat mengetahui kenyataan pahit yang dialami Abdar dan Rahimah.


Mendadak ruangan itu menjadi hening ....


"Apa kakak sudah tahu sebelumnya bahwa mbak Imah adalah wanita itu, hingga ia bisa menjadi guru mengajinya Intan?" tanya Maryam ketika bisa mengontrol emosinya sambil mengusap pelan jejak air mata dikedua pipinya.


Abdar menggeleng cepat. "Kakak nggak tahu sama sekali, bukannya kamu ya yang nyari guru buat Intan dan Kakak?" Maryam mengangguk membenarkan.


Ia yakin Rahimah juga pasti tidak menyangka waktu itu.


"Jadi ... apa Rahman sudah tahu?"


"Iya, baru beberapa hari yang lalu ia mengetahuinya." Abdar menyandarkan punggungnya di tepian sofa samping kaki Maryam.


"Bagaimana pendapat Rahman?" Maryam begitu penasaran dengan reaksi yang ditunjukkan Rahman saat ini, apakah kakaknya diterima sampai-sampai Rahman mau datang ke rumah mereka.


Abdar menghela nafas berat yang tidak luput dari perhatian Maryam.


"Dia nggak mau panggil kakak, ayah," Maryam tersenyum sinis.


"Dia tetap panggil kakak, om ...."


"Pasti karena dia benci banget sama Kakak?" tebak Maryam yakin.


"Mungkin itu salah satunya, tapi alasan yang lain adalah ... karena tidak ada ikatan pernikahan diantara kakak dan mamanya. Rahman takut apabila ada warga yang membicarakan kami," jelasnya.


"Aku setuju dengan pemikiran Rahman. Walau perbuatan kakak itu sulit untuk dimaafkan, tapi dia masih bisa berlapang dada dengan memikirkan gunjingan warga terhadap kakak."


"Ya, kakak tahu itu. Kakak bahkan sangat bangga ketika mengetahui bahwa ternyata kakak sudah mempunya putra sehebat Rahman," ucap Abdar jujur.


"Kalau kendalanya hanya sebuah ikatan, kenapa kakak tidak menikahi mbak Imah aja?"


"Itu tambah nggak mungkin."


"Loh, kenapa?"


"Karena Rahman bilang, Ustadz Abizar akan melamar mama-nya. Dan kemaren kakak nggak sengaja liat jari manis Rahimah sudah ada cincinnya. Itu berarti mereka akan segera menikah," Abdar langsung menjatuhkan kepalanya di atas tangan yang ia topang dikedua lututnya.


"Hah serius?" pekik Maryam.


"Apa Kakak, gak ada rencana untuk menggagal'kannya?" Abdar menggeleng lemah masih dalam posisi yang sama.


"Kita coba pelan-pelan, siapa tahu mereka nggak jadi nikah." Dengan cepat Abdar mendongakkan kepala menatap Maryam.


Abdar mengernyit dalam melihat senyum Maryam.


BERSAMBUNG ....


Ayo dong gays, kasih saya like, komen ... kalau punya poin lebih kirimin bunga dan kopi juga. Semisal ada vote sekalian aja dibungkus buat Rahman, jangan lupa rate bintang 5 dan masukkan dalam rak favorit ya? πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Salam sayang ....


Noormy_Aliansyah 😘😘