Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 79 Abizar vs Abdar



Tiga hari sudah berlalu sejak terakhir kali Rahimah datang berkunjung ke rumah sakit. Setelah perkataan ibu Ismawati waktu Itu, membuat Rahimah enggan untuk datang lagi.


Kendati Abizar selalu mengirimnya pesan, mempertanyakan kapan ia bisa datang, tapi Rahimah selalu berkata ada saja kerjaan yang ia lakukan sehingga tidak bisa menjenguk.


Hari ini tanpa diduga tiba-tiba Abizar datang seorang diri dengan menggunakan taksi karena masih tidak mampu membawa kendaraan sendiri. Rahimah tersentak kaget, ia khawatir dengan keadaan Abizar yang belum pulih betul.


"Silakan masuk mas," ucapnya setelah menjawab salam.


"Kenapa mas Abi, repot-repot datang ke sini? Seharusnya mas Abi istrahat saja di rumah, jangan memaksakan diri!" tutur Rahimah sembari membawa tamunya masuk.


Abizar tidak menjawab, ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Memperhatikan rumah yang sudah tidak dihias lagi dengan bunga atau hiasan dinding dan lainnya.


"Mas Abi," panggilan lembut dari suara wanita yang ia harapkan menjadi pendamping hidupnya, menyadarkan Abizar dari lamunan singkatnya.


"Silakan duduk."


Mengangguk dan berjalan ke arah kursi yang tidak jauh dari tangga. Rahimah kembali berucap setelah Abizar duduk.


"Tunggu sebentar Ya, mas. Saya buatkan minum dulu." Mengangguk untuk yang kesekian kalinya sambil menatap lekat kepergian Rahimah.


Di tinggal Rahimah sendiri di lantai bawah, lantas Abizar berdiri dari tempat duduknya guna melihat mesin jahit yang masih ada kainnya, dan sepertinya Rahimah baru saja menjahitnya.


Tidak lama kemudian Rahimah datang dengan membawa napan berisi minuman dan kudapan.


"Mas Abi, silakan!" Meletakan gelas dan piring kecil yang berisi kue bolu pisang ke atas meja.


"Terimakasih." Mendekat dan kembali duduk di tempatnya tadi.


"Kenapa mas Abi, kemari?" tanya Rahimah yang tadi belum sempat di jawab. Ia bertanya setelah Abizar meminum sedikit minumannya.


"Kenapa kamu tidak datang ke rumah sakit, menjengukku Imah?" Abizar menjawab dengan pertanyaan.


Rahimah menghela nafas pelan, lantas ikut duduk di kursi yang berbeda. Sejujurnya ia kesal jika teringat tentang apa alasannya tidak berkunjung ke rumah sakit.


"Nggak apa-apa Mas, kebetulan jahitan aku banyak ... jadi nggak sempat jenguk," kilahnya memberi alasan.


"Kok gitu?" tanya Abizar dengan kening berkerut. "Aku ini calon suamimu Imah, kalau saja tidak ada insiden kemarin ... sekarang kamu sudah jadi istriku, tapi kenapa kamu tidak bisa meluangkan waktu untuk menjengukku?" Abizar memberi pertanyaan beruntun, karena merasa tidak puas dengan jawaban Rahimah yang seharusnya bisa di tinggalkan demi calon pendamping hidupnya.


Rahimah tersudut, ia jadi serba salah ingin memberi alasan yang tepat. "Emmm ... Bagaimana keadaan Mas sekarang," merubah topik agar Abizar tidak lagi menanyainya yang membuatnya susah untuk berbohong.


Menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Rahimah, Abizar pun mengikuti alur pembicaraan ini.


"Sudah lebih, baik."


"Syukurlah, tapi seharusnya mas jangan pergi-pergi dulu ... takut terjadi sesuatu sama mas Abi," Rahimah mewanti-wanti dengan mimik wajah khawatir.


Abizar tersenyum senang. "Habisnya mas kangen sama kamu, jadi mas nekat ke sini. Soalnya kamu nggak datang kan ke rumah sakit?" Rahimah hanya bisa menghela napas, ketika ujung kalimatnya kembali membahas hal yang itu lagi.


"Lain kali pikirkan kesehatan sendiri mas," ujarnya menasehati.


"Diminum dulu Mas."


Rahimah adalah orang yang tidak pandai dalam menutupi kebohongan dan berbelit-belit, jadi ia selalu mengalihkan perhatian ke lain hal.


Orang yang di persilakan minum, mengangguk dan mengangkat gelasnya. Meletakan tepian gelas pada bibir tebalnya, sebelum meneguk sekilas Abizar melirik Rahimah yang memperhatikan bahunya.


Di dalam hati, Abizar bersorak gembira tahu bahwa wanita di hadapannya pasti sangat mengkhawatirkan nya.


"Rahman berangkat, nggak pakai sepeda?" Menunjuk sepeda yang berada di sudut ruangan.


"Kalau pagi, Rahman ...," Rahimah menjeda kalimatnya sambil menatap penuh pada tamu sekaligus calon suaminya (jika masih).


"Di jemput Mas Abdar," sambungnya.


Hening, mendadak sunyi ....


"Tadi Mas liat, kamu habis jahit baju? Buat siapa?"ucapnya setelah beberapa detik.


Ragu ingin menjawab, tapi Rahimah tidak bisa berbohong. "Baju pesanan Maryam dan mas Abdar," kata Rahimah jujur.


Walau dari awal sudah di beri tahu jika Abdar akan selalu ada di tengah-tengah mereka, karena ada Rahman yang mengikat menggunakan benang merah tak kasat mata, tapi tetap saja Abizar merasa ada yang mengganjal dan enggan jika membicarakannya.


Datang dengan luka yang belum sembuh sempurna dengan niat hanya untuk membahas tentang dirinya dan Rahimah saja, dan lagi-lagi nama Abdar menyusup tanpa di minta.


"Ohh," sahutnya bergumam pelan, tapi masih terdengar dan dapat ditangkap Rahimah dari gerakan bibirnya.


Kesal dengan nama seseorang, Abizar pun memakan kue di atas meja dengan cepat, hanya hitungan detik saja piring itu bersih licin tak tersisa.


Ibu dari satu orang anak yang melihatnya, terpaku dan sedikit heran. Karena tidak biasa mendapati Abizar yang seperti sekarang.


Memang banyak yang belum Rahimah tahu dari diri Abizar, pun begitu juga sebaliknya. Ada sisi yang berbeda, dan sekarang ia sudah mulai mengerti tabiat dari Ustadz muda ini. Bahwa jika suasana hatinya tidak senang, ia akan makan dengan cepat dan diam.


"Apa kamu tidak sibuk?" pertanyaan bo doh, keluar begitu saja dari mulut Abizar.


"Ya, sedikit. Kalau begitu saya menyelesaikannya sebentar." Pinta Rahimah sembari berdiri dan berjalan ke tempat mesin jahit.


Abizar merutuki kebodohannya akan pertanyaan yang membuat jarak di antara mereka.


"Apa setelah kamu selesai, kita bisa jalan sebentar?" Dengan suara sedikit di kencangkan Abizar bertanya penuh harap.


"Memangnya kemana Mas?" Rahimah enggan pergi bersama Abizar, mengingat permintaan ibu Ismawati yang ingin pernikahan itu batal membuatnya harus memberi batasan mulai dari sekarang.


Di pertanyakan ajakannya, ia pun menggerakkan mata tanda berpikir. Karena pertanyaan itu asal saja ia ucapkan.


"Temani saya ke mall," hanya itu yang muncul di benaknya.


"Mau beli apa?" tidak bisa langsung menolak, Rahimah pun memastikan tujuan Abizar.


"Beli baju dan celana."


"Bukannya, sebelum acara yang kemaren ... Mas sudah belanja baju dan celana, ya?" untung saja Rahimah ingat jika Abizar sempat cerita, tiga hati sebelum acara berlangsung calon suaminya yang hampir jadi imamnya itu sudah membeli beberapa setel pakaian.


"Emmm kalau beli lagi, nggak apa-apa 'kan?"


"Memang tidak apa-apa. Hanya saja, sayang jika baju yang di beli tapi belum di pakai sama sekali," sekak 'mat, Abizar kehabisan kata-kata.


"Berarti kamu nggak mau, jalan-jalan sama Mas, Imah?" nada sendu tersemat kala Abizar bertanya.


Sulit bagi Rahimah, membuat alasan yang tepat untuk pertanyaan ini. Apa lagi untuk memutuskan pernikahan jika saja Abizar memintanya untuk melanjutkan acara yang sempat tertunda.


Belum menjawab, tiba-tiba salam dari arah pintu yang memang sengaja dibuka dari awal Abizar datang terdengar. Keduanya reflek menoleh dan menjawab.


Seorang wanita cantik berhijab simpel dengan tas belanja merek terkenal berukuran sedang menggantung di tangan kanannya.


"Mbak Imah." Ujarnya sembari masuk tanpa di minta, di susul seorang pria di belakangnya yang tersentak kecil ketika melihat ada Abizar tapi segera bersikap biasa-biasa saja.


"Maryam." Rahimah berdiri menyambut kedatangan kakak beradik itu, begitu juga Abizar.


"Lo, ada pak Ustadz juga?" kata Maryam yang baru menyadari.


"Bagaimana keadaannya, pak Ustadz?" lanjutnya.


"Alhamdulillah, sudah membaik." Ujar Abizar sambil bersalaman kepada Abdar.


"Syukurlah."


"Silakan duduk," tuan rumah mempersilakannya.


"Kemarin kami berkunjung ke rumah sakit Lo, pak Ustadz. Tapi ternyata anda sudah keburu pulang," kata Maryam saat sudah duduk.


"Begitukah? Maaf saya tidak tahu."


"Bukan salah pak, Ustadz. Itu salah kami karena tidak menghubungi anda dulu," sahut Abdar.


"Tunggu sebentar ya, mbak buatkan minuman sebentar." Rahimah menyela sambil berdiri membawa napan yang tadi ia letakkan di atas meja.


Ketiganya menatap kepergian Rahimah beberapa saat.


"Apa benar tidak apa-apa?" Kembali Maryam menanyakan keadaan Abizar.


Maryam jelas pernah melihat luka kakaknya ketika mengganti perban, yang di dapat Abdar saat di Negara tetangga. Ia dapat merasakan sakitnya dari luka oleh peluru tanpa kakaknya mengatakannya.


Sekarang Abizar pun terluka karena peluru, Maryam langsung teringat luka seperti Abdar.


"Ya, tidak apa-apa, tenang saja," ujarnya menyakinkan.


Abdar hanya memperhatikan, ia tahu jika luka itu belum sembuh betul dan sekarang baru lima hari dari waktu Abizar mendapatkannya, pasti masih ada rasa nyeri yang dirasakannya. Pikir kakak Maryam itu.


"Semoga lekas sehat pak, Ustadz," doa Abdar.


"Amin, terimakasih mas Abdar."


"Silahkan diminum dan dimakan kuenya."


"Terimakasih, Mbak."


Sebagai tuan rumah, Rahimah membiarkan tamunya mencicipi hidangan terlebih dulu.


"Ngomong-ngomong, ada apa Maryam ke sini?" tanya Rahimah sopan setelah keduanya minum.


"Ohh ini Mbak." Maryam menyerahkan tas belanja nya.


"Aku minta tolong, bisa nggak mbak Imah jahitan baju Intan. Ada sedikit robek di bagian ketiak dan ini Mbak, rencananya mau aku sumbangin karena masih bagus." Maryam langsung mengeluarkan isi tas yang ia bawa dan memperlihatkan kondisi bajunya.


Memang ada beberapa baju yang robek, tapi hanya sedikit dan masih layak pakai.


"Apa perlu cepat?"


"Kalau bisa, hari ini Mbak. Soalnya aku udah bawa baju yang lain di dalam mobil, buat di sumbangkan."


"Karena robekan nya kecil-kecil, mungkin cepat selesainya. Kalau gitu, mbak jahitkan."


"Iya Mbak, makasih Ya."


Rahimah mengangguk mengiyakan.


Sementara itu, Abizar meresa kesempatannya untuk bicara berdua dengan Rahimah terganggu oleh kedatangan muridnya yang beberapa hari ini tidak diajarinya. Ia hanya bisa memperhatikan Rahimah yang mulai berkecimbaku dengan potongan kain itu.


"Pak Ustadz."


Abizar tersentak dan langsung menoleh kepada Maryam.


"Aku kaget lo, waktu tahu pak Ustadz tertembak. Pas banget lagi di hari nikahan nya."


Bukan hanya kamu, saya juga kaget. Batin Abizar merasa lucu.


"Batal dong ya, malam pengantin?" ujarnya pelan menggoda Abizar.


Abdar melotot mendapati adiknya yang berani-beraninya menggoda seorang Ustadz. Abizar hanya bisa menggaruk pelepisnya yang seketika menjadi gatal.


"Awww," pekik Maryam sambil mengusap-usap kening dan mendelik tajam kepada sang Kakak.


Dari tempatnya duduk, Rahimah hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada baju di tangannya.


"Jahat banget sih kamu, kak." Ucapnya masih mengusap kening dengan mulut yang cemberut.


"Itu mulut harus dikondisikan, kenapa bertanya seperti itu?" kesal Abdar.


"Loh, emang kenyataan'kan? Apa yang dikondisikan?" debatnya tidak terima.


"Iya, nggak pak Ustadz?" Abizar meringis karena harus terlibat pada perdebatan adik kakak tersebut.


"Awww," untuk kedua kalinya Abdar menjitak dahi Maryam.


"Kakak ihh." Balasnya memukul lengan kiri atas Abdar.


"Awww." Kini giliran Abdar yang meringis kesakitan karena pukulan Maryam mengenai lukanya.


"Maaf-maaf." Maryam tersadar akan tindakannya dan segera mengusap sayang luka kakaknya.


Abizar terkesiap melihat tinggal laku keduanya, ia tidak pernah tahu bagaimana interaksi kakak beradik itu dan sekarang kali pertama menyaksikannya ada rasa lucu di matanya.


Abizar yang tidak tahu jika Abdar juga sempat terluka karena tembakan kemarin mengira keduanya sedang saling bercanda.


Lagi-lagi Rahimah hanya dapat mencuri pandang pada keduanya, ia tersenyum samar juga merasa terhibur sama seperti pandangan Abizar.


"Jangan diulangi," kata Abdar pelan merasa aneh di perhatikan rivalnya.


"Apanya yang jangan diulangi?" tanya Maryam konyol.


Abizar mengulum senyum karena mimik wajah Maryam yang polos.


Abdar berdecak kesal dengan adiknya. "Keduanya, pertanyaan kamu yang tidak pantas pada pak Ustadz. Dan kebiasaan memukul kakak," kata Abdar ketus.


"Hehehe," Maryam hanya cengengesan mendapat peringatan dari Abdar.


"Ayo makan dulu kuenya." Maryam menyodorkan sendok berisi kue ke depan bibir Abdar yang tidak luput dari perhatian kedua pasang mata.


"Ayo, buka mulutnya." Desak Maryam karena Abdar membuang muka.


"Kakak bisa sendiri," tolak Abdar mendorong pelan tangan Maryam.


Akan sangat memalukan bagi Abdar jika di suapin Maryam di hadapan orang lain, terlebih lagi yang melihat adalah saingannya dan ibu dari anaknya.


"Ya sudah makan sendiri."


"Pak Ustadz," seketika ketiganya melihat Maryam siaga. Rahimah yang tidak terlalu jelas mendengar tapi ikut melirik.


"Iya, ada apa?" tanya Abizar ragu.


"Sudah lama ya di sini?" Abdar sedikit lega karena bukan pertanyaan koyol lagi yang keluar dari mulut adiknya.


Tapi ia juga penasaran dengan jawaban Abizar. Sambil memakan kue dengan pelan, Abdar menajamkan pendengarannya walau sebenarnya tidak perlu karena duduk mereka yang hanya berjarak setengah meter.


"Tidak juga, baru sebentar."


"Tapi kok, kuenya sudah habis." Tunjuk Maryam pada pikir kosong.


"Emm itu, soalnya enak jadi cepat habis," balas Abizar.


"Ohh." Maryam membulatkan mulutnya, kemudian memakan kuenya.


"Ini Maryam, sudah selesai." Rahimah datang menyerahkan tas belanja kepada mama nya Intan.


"Berapa Mbak?"


"Tidak usah."


"Eh, jangan gitu. Bilang aja, berapa Mbak?"


"Untuk di sumbangkan 'kan?" Maryam mengangguk pasti.


"Biar saja, mbak sedekah'kan upahnya."


"Makasih ya mbak."


"Sama-sama."


"Kalau gitu, kita pulang dulu!"


"Pak Ustadz, nggak pulang? Kan lebih lama dari kita," ingin sekali rasanya Abdar kembali melayangkan jitakan jika Maryam tidak berdiri disebelah Rahimah.


"Hah, saya juga mau pulang," jawaban yang berlawanan dengan kata hati terpaksa ia ucapkan karena merasa tidak enak.


"Ya sudah, ayo bareng ke depan. Ayo mbak Imah." Maryam menggandeng tangan Rahimah dan menariknya ke luar rumah, di ikuti kedua pria itu.


Diam-diam Rahimah tersenyum dan bersyukur di dalam hati, karena secara tidak langsung Maryam membantunya mengusir Abizar.


"Pak Ustadz pakai apa tadi?" Maryam mengedarkan pandangan mencari kendaraan Abizar.


"Taksi," jawab Abizar pendek.


"Kalau gitu ikut kita aja," tawar Maryam dan sang Kakak meliriknya kesal.


"Tidak perlu, saya pakai taksi saja."


"Ya sudah kalau tidak mau, mbak Imah kita pulang dulu ya. Assalamualaikum." Masuk kedalam mobil setelah mendapat balasan salam.


Abizar terperangah dengan sifat Maryam yang tanpa basa-basi, ia pikir wanita ini akan sedikit memaksanya untuk ikut menumpang.


Selagi Abizar mengagumi sifat adiknya, Abdar menyempatkan diri curi-curi pandang pada Rahimah yang masih belum menjadi istri orang.


Nggak salahkan, kalau aku berharap akulah yang menjadi imam mu?" batin Abdar bertanya.


Setelah kepergian Abdar dan Maryam, Abizar pun pamit pulang usai menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.


Rahimah menatap nanar masa lalu dan masa depannya.


Inikah jalan hidupku? Dihadapkan pada pilihan yang sulit! Kenangnya teringan permintaan ibu Ismawati.


BERSAMBUNG ....