Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 82 Pengakuan dan Lamaran



Kejadian tempo hari di restoran membekas di ingatan Abdar, ada kekhawatir yang Abdar rasakan pada Rahimah yang mungkin saja akan marah padanya. Mengingat ia yang diam tanpa bantahan saat Adit meminta do'a dari karyawannya.


Dikesempatan pagi ini ia menyempatkan diri untuk kembali meminta maaf. Kalau perlu Abdar juga akan berjanji membantu menjelaskan kepada Abizar jika saja sampai ketelinga Ustadz itu hingga berakibat salah faham.


"Emm, Rahman," panggil Abdar ketika mereka sudah selesai sarapan.


"Iya, om?" balas Rahman tenang.


"Apa boleh om biicara sebentar dengan mama kamu?" tanya Abdar pelan dan serius.


Hanya mereka berdua yang berada di ruang tamu, Rahimah masih mencuci piring, sedang Intan turut memaksa ingin membantu walau tidak banyak yang dikerjakan.


"Maksudnya, hanya berdua?"


Ayahnya mengangguk pelan. Walau Rahman tidak tahu apa yang akan dibicarakan sang ayah kepada mamanya, tapi ia mengizinkannya.


"Nanti Intan, kamu ajak main sebenar," kata Abdar.


"Iya, om."


Rasa marah dan sedih yang dirasakan Rahman ketika ia tahu bahwa tentang kenyataan dirinya pada sang Ayah, kini berangsur sirna. Tapi tidak serta merta menghilangkan rasa kecewanya karena tidak pernah tahu sosok ayah sedari kecil.


Disudut hatinya, Rahman begitu kecewa karena ketidak berdayaan dirinya untuk memanggil Abdar sebagai ayahnya.


Entah kenapa Rahman bisa berpikir sejauh Itu, bisa menyimpulkan boleh tidak bolehnya dengan panggilan ayah.


Usut punya usut, ternyata semenjak kejadian ia yang ditampar mama-nya ... Rahman dengan gencarnya mengorek informasi tentang hukum anak di luar pernikahan melalu alat elektronik, tentu saja yang dimilikinya. Hanya bermodalkan kata yang pernah ia dengar dari Maya, yaitu 'anak har@m'.


Dengan kecerdasan yang ia miliki, dari situ ia mengerti sedikit tentang hal-hal seorang anak yang tidak memiliki nasab ayahnya.


Tentang tidak adanya pernikahan diantara kedua orang tuanya, tapi memiliki anak hingga bisa dikatakan sebuah aib. Tentu Rahman juga mengerti apa makna dari kata itu, dan tidak berhaknya ia atas harta ayahnya.


Rahman enggan bertanya pada orang, terlebih lagi pada Ustadzah Habibah atau Ustadz Abizar, walau tahu orang dewasa lebih bisa memberi penjelasan. Ia meresa itu pertanyaan yang tidak pantas dipertanyakan oleh anak sekecil dia, jadi cara lain hanyalah leptopnya.


"Rahman," panggilan dari Abdar membuyarkan lamunannya.


"Hemmm?" gumamnya tersentak kecil.


"Ayo," mengingatkan tentang rencananya tadi jika Rahman mengajak Intan bermain sebentar.


Tanpa menjawab lagi, Rahman berdiri dan beranjak menuju dapur.


"Intan, bantu kakak sebentar ya cariin buku yang kemarin kakak kasih lihat ke Kamu," ajak Rahman mendekati adik sepupunya.


"Buku yang mana kak?" Mata Intan bergerak-gerak, seolah mengingat-ngingat buku yang disebut Rahman.


"Yang Kemarin, ingat yang sampulnya warna merah?" Berbalik ke arah kamarnya.


"Ohh yang merah, kalau nggak salah Intan taruh di tas bagian belakang kak." Ingatnya mendekati Rahman ke dalam kamar.


Abdar yang memperhatikan dan melihat mereka sudah menjauh dari Rahimah pun lekas mendekati Ibu dari anaknya yang masih membereskan piring bersih.


"Emm Rahimah," panggil Abdar mengagetkan Rahimah.


"Ada apa, mas?" ujarnya bertanya sambil menghentikan pekerjaannya.


"Boleh aku bicara sebentar? Ini soal yang Kemarin!"


Rahimah tidak langsung menjawab, ia nampak berpikir sejenak baru mengangguk. "Boleh." Mendekati meja makan lantas duduk di kursi, begitu juga Abdar yang duduk di seberangnya.


"Aku mau minta maaf, soal kejadian kemarin. Jika Ustadz Abizar sampai tahu dan salah faham ... aku akan membantu menjelaskannya," ujar Abdar menatap lekat Rahimah.


Rahimah menggeleng. "Tidak apa-apa mas. Saya tahu, ini bukan disengaja. Jadi saya memakluminya," tanggap Rahimah.


"Terimakasih. Tapi jika kamu perlu bantuan ku, jangan sungkan-sungkan untuk mengatakannya?" ucap Abdar tulus.


"Sama-sama mas." Angguknya.


"Mmm ... kapan acara pernikahan ulangnya?" tanya Abdar ragu.


Ia begitu penasaran, di sudut hatinya berdo'a. 'Coba aja nggak Jadi.'


"Soal itu ...," Rahimah menjeda kalimatnya.


Jika tidak dikatakannya, maka pertanyaan seperti ini akan selalu ada. Tadi malam ia juga sudah memberi tahu keputusannya, kepada trio wewek dan Ustadzah Habibah. Jadi ada baiknya ia juga mengatakannya pada Abdar. Pikirnya.


"Saya membatalkan pernikahan kami mas." Ucapnya kemudian menunduk.


Abdar terkesiap dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Tiba-tiba hatinya langsung bersorak gembira. Tapi akal sehatnya mencoba untuk berpikir, bahwa jangan sampai terlihat senang.


"Apa ... ini gara-gara Kemarin? Apa Ustadz Abizar marah? Cepat sekali sampai ke telinganya?" cecarnya mengira karena kejadian di restoran yang mengaku-ngaku sedang dekat dengan Rahimah.


"Bukan mas, memang saya sudah membatalkannya sebelum pergi ke restoran," Ujarnya menatap Abdar.


Mendengar itu, Abdar semakin bersorak gembira.


'Apa ini kesempatan ku?' gumamnya membatin.


"Jadi kalian tidak jadi menikah?" ulangnya memastikan.


"Iya mas," kata Rahimah lirih.


"Imah ...," panggil Abdar pelan setelah sama-sama terdiam sejenak.


Mata mereka bertemu dan terkunci, saling menyelami perasaan yang entah apa namanya.


"Apa saya bisa maju, untuk melamar kamu?"


Deg


Deg


Deg


Rahimah terperangah mendengarnya, tidak pernah terpikir kalau Abdar akan mengatakan kata-kata itu.


"Apa maksud mas Abdar?" pertanyaan koyol itu keluar begitu saja akibat ia yang tiba-tiba menjadi gugup. Bukankah sudah jelas dari kata-katanya.


Abdar menghela nafas, ia juga menahan gugup akibat dari pertanyaan spontan nya. Degup jantung keduanya berdetak tak seirama.


"Maksudku, aku ingin melamar mu. Ingin menebus segala kesalahan yang pernah aku buat dulu, tapi dengan kesadaran diri ... bukan itu yang menjadi penyebab utamanya." Sambil menahan gugup Abdar mengutarakan isi hatinya.


Ini adalah pengalaman pertama Abdar melamar seorang wanita, dan bahkan tanpa persiapan sama sekali. Jelas ia begitu gugup, apa lagi wanita yang ia lamar adalah korban darinya, ia takut disalah artikan tujuannya ingin meminangnya.


"Entah sejak kapan perasaan ini mulai tumbuh. Dari kita yang selalu bertemu dan hari-hari berikutnya, perasaan ini semakin tumbuh dan tumbuh begitu saja. Jujur ... bahkan aku sempat tidak rela jika kau akan menikah dengan Ustadz Abizar. Dan inilah alasan utamanya kenapa aku ingin melamar mu."


Deg


Deg


Deg


Detak jantung mereka semakin cepat berdetak dari sebelumnya.


Lagi kedua pasang mata mereka saling beradu.


"Imah, aku mencintaimu karena Allah." Ucap Abdar pelan dan yakin.


Mendengar nama Allah terselip diantara pengakuan Abdar, tiba-tiba matanya mengembun dan pandangannya mengabur.


"Hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati manusia. Dulu ... Aku bahkan sempat tidak peduli pada seorang wanita yang sudah ku nodai tanpa sadar. Tapi setelah kita dipertemukan kembali, hatiku bergetar dan ingin menggapainya."


"Bisakah kau memberi ku kesempatan untuk membantu ku menghapus dosa-dosaku? Ajari aku untuk menjadi manusia yang bisa bertanggung jawab, walau sebenarnya itu sudah terlambat."


"Tapi bukankah Allah itu maha pengampun, walau hambanya begitu jauh dari kata terlambat?" tuturnya panjang lebar karena Rahimah yang kembali menunduk tidak ingin menyela ucapannya.


Kedua tangan Rahimah bertautan dan saling meremas di bawah meja. Gugup dan terharu akan perkataan Abdar yang terlontar dan terdengar tulus.


Tiba-tiba Abdar berdiri dan berjalan kehadapan Rahimah. Jelas tindakan tersebut membuat wanita itu terkesiap, dan tambah tidak menyangka lagi ketika Abdar berlutut.


Rahimah semakin gugup mendapati tindakan Abdar yang tergolong nekat mengambil kedua tangannya. Lekas hendak ditariknya tapi seketika itu juga ditahan Abdar.


"Maukah kau menikah denganku?"


Ingin rasanya Rahimah bersembunyi dari keadaan seperti ini, lidahnya terasa kalu dengan segala yang terjadi. Dari tindakan dan ucapan Abdar membuatnya kehilangan kata-kata untuk sekedar menolaknya.


"Maukah kau menikah denganku?" ulang Abdar.


"Demi Rahman, demi anak kita. Dan demi cintaku karena Allah yang menumbuhkannya kepadamu." Gugur air mata Rahimah dengan segala pengakuan Abdar, terlebih ada dua kata yang membuatnya goyah. Anak kita dan Allah.


Perlahan kegugupan keduanya menghilang, berganti dengan rasa haru yang tak terbendung.


Kristal bening dari mata Rahimah terus berjatuhan hingga membuatnya terisak pelan. Abdar bergegas berdiri dan mengusap kedua pipi Rahimah.


Abdar yang mencoba menenangakan Rahimah, dan Rahimah yang begitu terharu. Dengan keadaan yang mengharu biru, keduanya tidak sadar akan tindakan itu.


Lagi dan lagi, Abdar bertindak tanpa berpikir dan ia hanya bertindak menggunakan perasaan.


Di tariknya Rahimah ke dalam dekapan hangat, hingga kepala yang terbungkus jilbab itu menempel pada dada bidangnya sambil menangis.


Rahman yang hendak keluar, terkejut melihat pemandangan itu. Gegas ia berbalik badan dan kembali menutup pintu dengan pelan dan membuat Intan juga terkurung di dalam kamar itu.


Cukup lama keduanya menikmati keadaan tanpa batas. Hingga akhirnya Rahimah tenang dan langsung tersadar. Menarik diri mengurai pelukan Rahimah menunduk malu sambil menghapus jejak air matanya.


"Maaf," ucap keduanya berbarengan.


"Tidak, aku yang harusnya meminta maaf."


"Tidak, saya yang harusnya meminta maaf ." kembali mereka mengucapkan kata yang sama.


Rahimah diam dan menghela nafasnya beberapa kali, guna mengontrol emosinya.


Pipi Rahimah memerah kala mengingat kejadian barusan, ia merutuki kebodohannya. Di dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa perasaannya jauh berbeda dari ketika dilamar Abizar.


Jika waktu dilamar Abizar ia hanya merasa malu, tapi sekarang ia begitu emosional. Rasa haru, tersentuh dan diiringi malu kemudian menjadi satu.


Abdar yang menanggap semuran merah di Pipi Rahimah tersenyum ditahan. Ia tahu kalau sekarang wanita itu tengah malu dan ingin menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk.


"Mas Abdar," ujar Rahimah tersentak kaget karena Abdar kembali berlutut.


Abdar tidak peduli, ia hanya fokus pada bulu mata yang masih ada sisa-sisa kristal bening.


"Maukah kau menikah denganku?" untuk yang kesekian kalinya Abdar bertanya sambil menatap lembut.


Rahimah terenyuh, hatinya basah. "Maaf mas, saya tidak bisa menerimanya," malah kata-kata itu yang ia lontarkan.


Seketika rasa percaya diri Abdar yang tadi membuncah karena melihat semuran merah di Pipi Rahimah runtuh tak tersisa.


Ia pikir Rahimah akan menerimanya, tapi ternyata tidak.


"Apa tidak sedikit pun dari pengakuan ku yang membuat hatimu berdegup kencang, Imah? Apa tidak bisa menggetarkan hati mu itu, Imah?" tuntun Abdar mencari jawaban.


Rahimah menggeleng samar, yang diperkirakan Abdar sebagai jawaban tidak.


"Bukan seperti itu," ucap Rahimah lirih sekali.


Abdar mengerutkan kening dalam. "Lalu?" tanyanya penasaran tinggi.


"Saya baru saja memutuskan pernikahan dengan mas Abi, apa pendapat orang-orang jika saya tiba-tiba menerima lamaran mas Abdar?"


Kini Abdar paham maksud dari Rahimah, itu akan membuat keadaan semakin rumit.


"Ya, aku mengerti. Aku tidak akan langsung menikahi mu jika kau menerima lamaran ku, Imah. Cukup kau bilang, iya. Maka aku akan menunggu sampai hari itu tiba."


"Jadi apa kau bersedia menikah denganku Imah? Cukup jawab iya atau tidak, agar aku bisa mengambil keputusan untuk menunggu mu," kata Abdar menawar.


"Saya belum bertanya dengan Rahman mas," elaknya mencari alasan.


"Kita akan cari waktu, untuk membicarakan ini kepada Rahman. Kamu cukup jawab saja yang tadi," kata Abdar tidak sabar.


Entah kenapa dengan ringannya kepala Rahimah malah mengangguk dua kali yang membuat kedua sudut Abdar terangkat sempurna hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Sedang Rahimah seketika menunduk malu dan membuang muka kesamping lain. Abdar membiarkannya, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak melewati batasan seperti tadi.


Berdiri dari tempatnya bersimpuh tanpa menghilangkan senyum bahagianya, lantas Abdar berujar. "Aku antar anak-anak sekolah dulu, nanti kita atur waktu untuk berbicara sama Rahman." Rahimah tidak berani melihat Abdar, ia hanya mengangguk dalam tunduknya.


Masih tersemat senyum di bibirnya, ia pun memberanikan diri mengucap pucuk kepala wanita dihadapan tersebut dan sukses membuat Rahimah mendongakkan kepalanya menatap Abdar.


Deg


Deg


Deg


Kini Rahimah kembali gugup.


"Aku pergi dulu," ucap Abdar lembut sambil tersenyum dan di balas anggukan Rahimah.


"Anak-anak, ayo berangkat!" panggil Abdar sedikit nyaring guna agar Rahman dan Intan mendengar.


Detik berikutnya kedua bocah itu muncul. "Ma, Rahman berangkat dulu." Menyodorkan tangan guna bersalaman yang di ikuti Intan.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Aku berangkat dulu, dan aku mencintaimu, Assalamualaikum.," bisik Abdar sambil lalu.


'"Wa'alaikumussalam." Balas Rahimah pelan.


Kedua tangan Rahimah terangkat guna menangkup pipinya. Bisa ia rasakan jika pipi itu memanas. Ia pun tidak berani turun mengantar kepergian Rahman.


'Astaga ada apa dengan diriku.' batin Rahimah.


Di perjalanan tidak henti-hentinya Abdar tersenyum, hingga membuat Rahman begitu penasaran dengan apa yang ia lihat tadi. Yang jelas, Rahman yakin jika itu sesuatu yang membahagiakan Abdar hingga terus-terusan tersenyum sendiri.


"Kenapa sih, om? Kok senyum-senyum mulu?" celetuk Intan yang juga melihat kakak dari mamanya tersenyum tanpa jeda.


"Hah, kenapa?" Jawab Abdar dengan pertanyaan.


"Yeee malah balik nanya! Itu om, kenapa senyum mulu dari tadi?" ulang Intan yang juga sedang dipikirkan Rahman.


"Ohh senyum, bukannya senyum itu ibadah ya?" Jawab Abdar ambigu.


"Iya kalau senyum sebentar, lah ini dari kita berangkat tadi om senyum terus, apa jangan-jangan om sudah gil@ kali ya?" kata Intan polos


"Apa-apaan kamu ngatain om gil@? Kalau om sudah nggak waras, yang ada kamu om lempar dari dalam mobil ini! Mau kamu om lempar?" gertak Abdar kesal.


"Nggak-nggak." Sambil menggerakkan kedua tangan di hadapannya.


"Jangan dibiasakan ngatain orang dengan sebutan gil@!" peringat Abdar tegas.


"Bagaimana jika kamu yang dikatain sama orang seperti itu?"


"Iya om, Maaf," sesal Intan.


"Bagus, lain kali dipikirkan dulu sebelum bicara!"


"Iya om."


Rahman tersenyum mendengar ayahnya yang ternyata sangat tegas jika menegur.


'Ayah," gumam Rahman dalam hati.


BERSAMBUNG ....