Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 65 Perdebatan Ibu dan Anak



"Kenapa kamu bicara seperti itu, Rahman?" keheningan yang tadi sempat memenuhi isi kamar itu pecah seketika dengan pertanyaan yang terdengar bingung oleh Rahimah.


"Apakah kamu berharap, dia akan datang?" tanya Rahimah ambigu.


"Rahman hanya bertanya, karena selama ini kita tidak pernah membahasnya. Mungkin dikesempatan kali ini, ada baiknya Rahman bertanya," jawab Rahman lirih.


Entah karena terngiang-ngilang dengan perkataan Abdar kemarin siang, atau karena pertanyaan Rahimah yang ingin anaknya mengeluarkan pendapat tentang niatnya yang ingin menikah sehingga membuat keberanian Rahman keluar untuk mempertanyakan hal yang tabu.


"Kenapa kamu jadi tiba-tiba membahas dia?" suara Rahimah terdengar tidak suka dengan apa yang mereka bahas sekarang.


Rahimah bahkan beranjak dari duduknya dan berdiri menghadap Rahman.


"Kenapa mama selalu panggil ayah dengan sebutan dia?" balas Rahman bingung sekaligus bertanya.


"Rahman hanya ingin mendengar cerita ayah yang selama ini tidak pernah Rahman dengar sama sekali," Rahman mengeluarkan unek uneknya membuat kepala Rahimah berdenyut.


"TIDAK ADA CERITA YANG PERLU KAMU DENGAR, RAHMAN," ujar Rahimah dengan penuh penekanan menahan emosi, ia kembali duduk sambil memengang sebelah kepalanya.


"Kenapa tidak ada? Sedangkan teman-teman Rahman selalu bercerita tentang ayah mereka? Bahkan Hasan ... yang mempunyai ayah tiri, dia bahkan tetap punya cerita tentang ayah kandungnya!" cecar Rahman terbawa emosi.


"Karena kamu berbeda, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah sama dengan mereka, kamu itu berbeda, Rahman," sergah Rahimah sambil menatap Rahman.


Rahman terkesiap, ia tidak pernah mendapat bentakan dari mamanya. Ditambah lagi dengan pernyataan mama-nya barusan membuat ia bertanya-tanya ... dimana perbedaan dirinya dan teman-temannya.


"Kenapa Rahman berbeda?" tanya Rahman dingin penuh keingintahuan.


Sekarang kepala Rahimah tambah berdenyut, ia merasa terpojok oleh jawabannya sendiri yang spontan.


"Sudah cukup, mama gak bisa menjelaskannya," elaknya.


Selama ini mereka tidak pernah berbicara hal yang bersifat serius, dan sekarang tiba-tiba saja mengalir seperti air membuka luka lama yang sama-sama mereka rasakan, menjadikan ego mereka keluar tanpa terkontrol.


"Apa begitu sulitnya, sehingga mama tidak bisa menjelaskannya?" tuntut Rahman mencari jawaban atas pertanyaannya.


"Tidak ada jawaban untuk pertanyaan mu, Rahman."


"Sudah ... sebaiknya kamu tidur sekarang. Besok lagi kita bicarakan tentang pak Ustadz," ucapnya mengakhiri pembicaraan sepihak.


Berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu hendak ke luar kamar, tapi belum jauh ia melangkah Rahman kembali bersuara.


"Apa ini ada hubungannya, dengan kepergian mama dan kakek dari kota ini?" seketika Rahimah menghentikan kakinya untuk beranjak dari tempatnya berpijak.


Berbalik badan denga cepat sambil menatap Rahman nanar yang kini sudah berdiri di samping ranjang. Rahimah geram diingatkan kembali dengan kejadian buruknya di masa lalu.


"SUDAH CUKUP RAHMAN, JANGAN UNGKIT MASA LALU MAMA LAGI," ujar Rahimah tegas tak terbantahkan.


"Kalau mama tidak mau Rahman mengungkitnya, maka berikan jawaban yang Rahman minta," kukuh Rahman.


Rahimah melotot, selama ini Rahman tidak pernah bersikap membangkang kepada siapapun dan sekarang ia melihat Rahman dengan sisi yang berbeda.


"Sudah mama katakan, Rahman. Sekeras apapun dan sekuat apapun kamu meminta jawaban itu ... mama tetap tidak mempunyai jawabannya," bentak Rahimah. Dengan langkah cepat ia berjalan mendekati Rahman.


Untungnya mereka hanya berdua di rumah itu, jika tidak ... bisa dipastikan suara Rahimah menggema dan terdengar sampai ke seluruh ruangan.


Ini adalah perdebatan pertama yang terjadi diantara ibu dan anak.


"Apa ini ada kaitannya, dengan apa yang dikatakan tante Maya waktu itu?" Rahimah menggeleng mendengar penuturan Rahman, ia tidak ingin mendengarnya lagi.


"Apa karena Rahman anak har*m, sehingga mama menyebut Rahman berbeda?"


Jedaaar ....


Seketika Rahimah terkulai pendengar pertanyaan menohok dari putra-nya sendiri, ini bahkan lebih menyakitkan daripada waktu dulu orang yang mengatakannya.


"Sudah cukup Rahman," kata Rahimah lirih bergetar menahan sesak yang mengganjal didada.


Matanya tiba-tiba memanas dan mengabur, sekuat tenaga menahan air mata yang menumpuk berdesakan hendak keluar melewati pelupuk mata.


"Apa hanya Rahman yang anak har*m?"


Tidak tahan mendengarnya tanpa sadar tangan kanannya terangkat dan mengayuh lantas mendarat keras di pipi kiri sang putra membuat Rahman menoleh ke sebelah kanan.


Air mata Rahimah runtuh seketika tepat ketika tangannya menampar anak satu-satunya. Keadaan yang semula gaduh oleh berdebatan keduanya mendadak hening.


Mereka bahkan tetap berada dalam posisi masing-masing, Rahimah yang menatap Rahman nanar sambil air matanya berguguran dalam diam, dan Rahman yang masih betah menoleh ke samping tanpa berani melirik sang mama.


Rahimah berbalik badan, melanjutkan niatnya untuk pergi dari kamar Rahman dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Membanting pintu dengan keras dan buru-buru menguncinya. Mendekati ranjang ia langsung menghempaskan tubuhnya tengkurap, menenggelamkan wajah basah diantara bantal dan lengannya.


"Bapak ... Ibu ...." sangat lirih dalam isaknya.


Menekan wajah semakin dalam kebagian bantal agar meredam suara ketika tangisnya bertamba. Sakit hati, itulah kalimat yang menggambarkan perasaannya saat ini, terlebih lagi anaknya sendiri yang membuka luka lamanya.


Sementara itu ....


Rahman terpaku, mata pun berair. Meraba pipi yang ditampar oleh mama-nya. Bersandar di tepi ranjang, iapun beringsut duduk di lantai. Sambil merenung Rahman tak kuasa menahan air matanya yang jatuh tanpa aba-aba dengan cukup derasnya.


Melirik meja belajar di sudut ruangan Rahman bergegas bangkit, mengusap jejak air mata di pipi dengan kasar sembari berjalan ke arah meja guna mengambil sesuatu.


Membuka dan menghidupkan benda bersegi yang ukurannya 15 inci dengan kecanggihan teknologi yang tidak diragukan lagi dan manfaatnya.


Seketika layar elsidi menyala, membiarkannya sejenak hingga beberapa detik dan kemudian siap digunakan.


Mengulir kesalah satu situs resmi yang menyediakan segala informasi dari berbagai negara.


Jari Rahman mengetik beberapa huruf dipapan keyboard dan menekan GO. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu hasilnya, informasi yang diinginkannya langsung muncul dari semua artikel.


Memilih satu diantaranya dan membacanya didalam hati, tiba-tiba dadanya sesak walau belum mengerti sepenuhnya.


Kembali membuka artikel yang berbeda hingga berulang-ulang, dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan yang pertaman. Ia bahkan tidak terlalu mengerti dari sebagian penjelasan itu dan hanya sadikin yang bisa ia pahami.


Akibat dari membaca artikel itu berbagai spekulasi bermunculan dibenaknya. Yang ia tangkap benang merahnya adalah, mama-nya terlihat hina dan rendah.


Matanya nanar, di dalam hati menolak semua pernyataan yang menyalahkan seorang wanita walaupun itu kenyataannya. Dadanya bergejolak hebat, akibat perang batin yang tengah mengambil alih sebagian dari kesadarannya.


Menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, kembali melakukannya sampai beberapa kali hingga akhirnya ia tenang.


Membayangkan kesedihan mama-nya yang hidup dan berjuang sendirian, ia yakin jika mama-nya tidaklah salah dalam hal ini, selama ini yang ia terima dari mama-nya adalah pelajaran yang mengarah pada kebaikan . Jadi .... orang yang meninggalkan mereka yang harusnya di salahkan.


Setelah cukup lama merenung akhirnya Rahman berjalan gontai keluar kamar, berdiri tepat di depan pintu kamar Rahimah.


Tangannya terangkat perlahan dan mengetuk beberapa kali.


"Mama ...." panggil Rahman lembut.


"Rahman minta maaf .., Rahman janji enggak akan nanya kaya gini lagi. Asalkan mama maafin Rahman." bujuk Rahman sambil berjanji.


Mengulangi ketukan sembari memanggil mama nya berulang kali, tapi tidak menerima balasan. Rahman menyerah dan kembali ke dalam kamarnya.


Berbaring di atas ranjang, perlahan bulir air mata pun berjatuhan. Berharap esok bangun dari mimpi buruk ini.


.


...****************...


.


.


Rahimah tersentak dari tidur singkatnya, sayup-sayup ia mendengar suara orang mengaji dari toa masjid di sekitar rumahnya.


Matanya terasa berat untuk dibuka walau sudah ia paksakan. Perlahan tapi pasti kini mata itu terbuka sempurna, kalimat yang tepat menggambarkan matanya saat ini ialah ... bengkak, akibat karena menangis selama berjam-jam.


Ingatannya mengulang kejadian yang membuatnya hampir terjaga semalaman, mengangkat tangan dan menatap lekat telapak tangan yang telah menampar anaknya.


Bagaimana pun rasa sakit hatinya, tetapi di lubuk hatinya terbesit sesal karena telah main tangan kepada Rahman.


Ia bahkan tidak mampu untuk menyahut panggilan Rahman tadi malam dari balik pintu kamar nya.


Turun dari ranjang, tujuannya sekarang ialah kamar mandi guna menyegarkan penglihatannya.


Berkutat dengan peralatan dapur, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara bising dari awal hingga selesai.


Mengambil wudhu ia langsung kembali ke dalam kamar guna menghindari pertemuan dengan Rahman, ia masih belum sanggup jika harus bertatap muka.


Benar saja, tepat ketika daun pintunya tertutup sempurna ... Rahman ke luar dari kamarnya.


Memandang sedih pintu kamar sang mama, Rahman segera ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi ke masjid.


Ketika usai shalat Rahimah kembali ke dapur untuk menyiapkan bekal dan sarapan Rahman, semarah apapun ia ... tapi tetap ingin anaknya itu mendapatkan yang terbaik terlepas dari kejadian buruk tadi malam.


Memang Rahimah sudah tahu kebiasaan anaknya itu, kapan Rahman pergi dan datang, ia sudah sangat hafal. Sehingga ketika Rahman akan pulang dari masjid, Rahimah sudah masuk lagi ke kamarnya.


Rahman menghampiri meja makan dengan sedih, melihat sarapan yang sudah tersaji dengan begitu sempurna.


"Mama ...." panggil Rahman kembali mengetuk pintu kamar mama-nya.


"Bisa'kah mama .., memaafkan Rahman, ma?" ujarnya bergetar.


Rahman lebih suka dibentak dari pada didiamkan, sungguh ia begitu menyesal telah melewati balas kesopanan terhadap mamanya dengan tuntutan pertanyaan.


"Mama ... Rahman minta maaf ma?" Rahman beringsut bersandar dipintu kamar Rahimah.


"Ma ... Mama ...." siapapun yang mendengarnya, pasti tahu jika suara itu tengah bercampur dengan tangisan penyesalan.


Rahman terisak dan semakin terisak karena didiamkan. Sadar dengan hari yang semakin meninggi, Rahman bangkit guna menunaikan kewajibannya sebagai seorang murid.


Kali ini Rahman berangkat sekolah tanpa mencium punggung tangan mama-nya, Rahman hanya mengucap salam dari balik pintu kamar Rahimah. Walau tidak terdengar sahutan dari dalam, tapi ia tahu kalau mama-nya itu sudah menyahut.


Ia pun berangkat dengan langkah gontai dan berat.


Sesuai rencana, hari ini Rahimah akan pergi ke pasar untuk membeli celana sekolah Rahman. Sebelum berangkat ia mandi sebentar dan mengompres matanya agar mengurangi bengkaknya.


Siap dengan pakaian Rahimah segera mengunci pintu dan menunggangi metiknya. Ia pun membelah jalan raya yang terkenal dengan kemacetan nya di pagi hari yang sibuk ini.


Membeli apa saja keperluan rumah dan setelah beres ia langsung pulang.


.


...****************...


.


.


"Kakak mau, kemana?" tanya Maryam yang melihat Abdar dengan pakaian rapinya, walau tangannya sudah tidak digendongan tapi Maryam tahu kalau tangan itu belumlah sembuh dengan sempurna.


"Ikut kamulah!" jawabnya mendekati Maryam yang sudah siap dengan kunci mobil dalam genggamaannya.


"Loh, kok ikut aku? Aku'kan mau jemput Intan, trus sekalian ke rumah mbak Imah," balasnya bingung.


"Iya tau, kakak 'kan juga pengen dibuatkan baju yang seragam sama kalian."


Abdar yang mendengar jelas percakapan Maryam dan Rahimah kemari langsung berinisiatif untuk ikut dengan alasan ingin minta dibuatkan juga baju dari Rahimah.


"Iih, ngapain seragaman sama aku dan Intan? Aku cuman pengen buat baju untuk kami berdua," tolak Maryam to the points.


"Akan lebih bagus, kalau kita semua baju seragam," ujar Abdar yakin.


"Idihh, oggahhh. Males aku mah, samaan bajunya sama kakak. Yang ada entar kakak dikira udah punya bini, kalau bajunya sama kaya aku. 'Kan yang ada kakak jadi gak laku-laku," kukuh Maryam menolak keinginan Abdar.


"Udah buruan, yang ada entar Intan di jemput sama penculik lagi," sahutnya berjalan melewati Maryam ke arah luar rumah.


"Ehh, amat-amit." pekik Maryam sambil berlari menyusul Abdar.


Mau tidak mau akhirnya Maryam membiarkan kakaknya untuk ikut ke rumah Rahimah. Maryam duduk di belakang kemudi dan Abdar duduk di sampingnya.


Mereka berdua terlibat pembicaraan ringan guna menghilangkan kesunyian di dalam mobil. Bosan dengan apa yang mereka bicarakan, Maryam pun memilih menghidupkan musik kesukaannya dan alm. suami.


...🎢🎢🎢...


Betapa aku mencintaimu


Dengan sepenuh hatiku


Betapa aku menyayangimu


Lebih dari yang kau tahu


Uh-uh-hu-uh


Oh-ho-oh-oh-ho-oh


Ingin ku'bahagiakan dirimu


Setiap saat bersamaku


Seperti janjiku kepadamu


Takkan pernah kuingkari, wo


Aku 'kan s'lalu ada di dekatmu


Aku 'kan s'lalu menemani harimu


Kau harus tahu


Betapa aku mencintaimu, wo-ho-oh


Aku 'kan s'lalu ada di dekatmu


Aku 'kan s'lalu menemani harimu


Kau harus tahu


Betapa aku mencintaimu, ho-oh.


...~Betapa Aku Mencintaimu/Vagetoz~...


...β™‘β™‘β™‘β™‘β™‘...


"Yang kaya gini nih, kakak gak suka kalau kamu muter musik ini. Lagunya belum kelar, eh kamunya malah nangis," tegur Abdar ketika melihat Maryam mengusap sudut matanya.


"Mana ada aku, nangis. Orang aku lagi bersihin mata aku, dari eliner kok," elak Maryam.


"Gak usah bohong, kakak tau kalau kamu lagi rindu sama Zaki."


"Hehe, keliatan banget ya, kak?" guraunya agar menghilangkan rasa sedihnya.


"Kakak, kenal kamu sedari kecil, jadi sudah pasti kakak bisa tau apa yang sedang kamu rasakan sekarang." Ucap Abdar sambil melihat Maryam yang masih menyetir.


Maryam terharu mendengar apa yang dikatakan Kakak, walau kadang kala mereka sering bertengkar, tapi tidak mengurangi rasa sayang mereka satu sama lain.


"Terimakasih, karena selalu ada disaat aku sedang sedih dan rapuh. Aku do'akan, semoga kakak bisa bersama dengan orang yang kakak cintai dan sayangi ... tentunya selain aku sama Intan." liriknya kepada sang Kakak.


"Haha, mana ada dek," elak Abdar.


"Iih, kakak ... kalau ada orang yang do'akan itu, bilangnya amin, bukan jawab, mana ada ...," protes Maryam.


"Hehe, iya ... iya ... amin."


"Rahimah dan Rahman." do'anya dalam hati.


BERSAMBUNG ....


Hai gays, maaf telat up πŸ™. Tadi niatnya up siang hari, tapi gegera banyak banget pekerjaan yang harus diselesaikan ... jadilah molor lagiπŸ˜…. Hehe, maaf sekali lagi ya, harap dimaklumi.


Saya juga minta dukungannya ya dari teman-teman semua, mau itu hanya sebuah like, komentar, gift, atau kopi dan vote, saya ucapkan banyak-banyak terimakasih jika sudi kiranya kalian memberi dengan ikhlas. Karena itu sangat berharga bagi seorang Author πŸ™πŸ€—. Salam sayang ...


Noormy_Aliansyah 😘😘