
Siang itu menjelang sore di kediaman Ustadzah Habibah, kegaduhan tak terelakkan memenuhi ruang tamu yang sedang berkumpul para orang tua dan anak-anak.
Bukan karena perdebatan yang serius oleh percakapan orang tua, tapi lebih tepatnya karena Rayan yang iseng mengganggu dan mengejar Nuri.
Rayan yang mengaku tidak menyukai anak kecil, nyatanya selalu saja mencari kesempatan membuat Nuri berteriak. Kadang tertawa ... kadang menjerit ketakutan, dan kadang menangis hingga yang lain pusing melihatnya.
Nuri akan tertawa jika Rayan mengejarnya dengan berlari kecil, tapi akan menjerit ketika kesepuluh jari-jari Rayan di gerakan kedepan dan seketika langsung menangis saat Rayan merangkangkak.
Dengan mencari bantuan pada Rahman dan Hawa sebagai temeng, anak kecil yang baru berusia 2 tahun itu bersembunyi mengitari keduanya. Tapi karena ia yang masih lambat dalam pergerakan guna berlari, ia pun terus saja mudah di gapai.
"Huuaaaaa," tangis Nuri nyaring.
"Rayan, udah dong ... jangan ganggu ade Nuri," tegur Nurul untuk kesekian kalinya.
Nurul tadi sedang asik mengobrol dengan Soraya dan Dinda, mereka tengah membahas tentang Resto Dinda dan Hotel Soraya yang semakin maju juga jaya.
Rahimah, Khadizah dan Ustadzah Habibah membahas yang lain untuk acara lusa.
Sementara para kaum lelaki di tempat yang sama di klompok berbeda sibuk membahas mengenai kejadian perkelahian dan penembakan yang di alami Abdar, tentu Candra-lah sebagai nara sumber. Sedang Ustadz Abizar hanya menyimak dan bertanya sekekali.
"Seru tahu, tante. Kapan lagi coba ketemu sama Nuri dan bikin dia nangis kejer," tanpa rasa bersalah, Rayan menyampaikan maksudnya ketika berkumpul.
"Enak aja, kamu. Itu tu, kalau adik kamu sudah lahir ... kamu bisa bikin dia nangis kejer." ujar Nurul bersungut-sungut sambil menunjuk perut Soraya tapi tidak juga bergerak dari duduknya untuk mendiamkan Nuri.
Rahman dan Hawa-lah yang menenangkannya ketika Rayan menjeda pengejaran dan setelah Nuri tenang kembali aksi kejar terulang.
Nurul sudah lelah menegur Rayan, dan bukan hanya Nurul yang menegurnya ... karena yang lain juga turut menegur. Tapi ketika melihat Nuri tertawa lagi mereka pun kembali membiarkannya bermain hingga berulang-ulang.
"Tapi 'kan itu masih lama tente, mending yang sudah ada," ucap Rayan kembali merangkak dan terdengar lagi suara tangis Nuri.
"Huuuaaaa," semua tergelak mendengarnya.
Nurul beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Nuri sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengah kematanya lalu ke mata Rayan dengan mimik wajah serius.
'Awas kamu.' Begitu kira-kira arti dari tatapan Nurul.
Rayan menjulurkan lidah mengejek tanpa takut.
"Ayo sayang, kita ke belakang liat anak ayam." bujuknya agar Nuri diam lalu menggendong Nuri ke halaman belakang.
Melihat Nuri pergi Hawa ikut menusul, dan Rahman pun berlalu ke halaman depan bersama Rayan yang ternyata tanpa disadari yang lain Ustadz Abizar ikut keluar.
Di halaman depan Rahman dan Rayan berlatih taekwondo atau tepatnya mereka sedang mempraktekkan insiden perkelahian melawan para penculik.
Abizar duduk di kursi kayu panjang di bawah pohon dekat dengan Rahman yang melawan Rayan.
Ia tersenyum melihat Rayan yang selalu kalah setiap jurus mengenainya. Sudah pasti Rayan akan kalah dari pada Rahman, bukan karena dia tidak bisa tapi karena ia yang baru saja mengenakan sabuk putih jadi ia baru tahu jurus-jurus dasar.
Saling menangkis walau sebenarnya tidak terlalu kencang, akhirnya mereka memilih berhenti dan duduk bersama Abizar.
"Wah, kalian hebat sekali?" puji Abizar tidak membandingkan.
"Terimakasih, pak Ustadz," sahut Rahman sopan.
"Rahman lebih hebat dari saya, pak Ustadz," tidak setuju dengan pujian Abizar.
"Kamu juga hebat, Yan. Nanti kalau kamu sudah lama belajarnya, pasti kamu akan sehebat master Candra." Rahman menyemangati Rayan.
"Iya, itu benar. Rayan juga hebat dan pasti akan lebih hebat nantinya jika belajar terus." Tepukan ringan mendarat di bahu Rayan karena posisi duduknya di samping Abizar.
"Hehe, iya pak Ustadz. Saya akan terus belajar, semangat ...." Kedua tangannya mengepal terangkat disisi kiri dan kanan sejajar dengan kepala.
"Semangat," tiru Rahman dan Abizar bersama, tidak cuman kalimat tapi gerakan tangannya juga.
Sontak mereka jadi tertawa. "Hahahaha."
"Aduh ... perutku mules. Aku mau ke toilet bentar." Rayan berlari cepat tanpa menunggu jawaban.
Sunyi .... karena keduanya diam.
Abizar melirik Rahman, ia pun bersuara. "Rahman." Sang empuh langsung menoleh.
"Iya, pak Ustadz?"
Ragu untuk bertanya, tapi sudah kepalang basah. Ini juga kesempatan yang langka ia bersama dengan Rahman hanya berdua, jika melewatkan nya begitu saja maka belum tentu akan datang lagi kesempatan lainnya.
"Eemm, saya ... boleh bertanya sesuatu?"
"Silahkan, pak Ustadz," Rahman menunggu.
"Sebelumnya saya minta maaf, jika pertanyaan saya menyinggung perasaanmu."
Abizar menatap lekat bola mata Rahman yang kecoklatan. Membiarkan keadaan hening sejenak.
"Ini tentang ... mama mu," Rahman mengerutkan kening. Menebak-nebak kemana arah pembicaraan yang terkesan mulai serius.
"Ada apa dengan mama saya, pak Ustadz?" sahutnya.
"Apa kamu keberatan, jika mama kamu menikah?"
Jelas saja Rahman terkejut mendengarnya, Ia bahkan juga merasa bingung dan tidak punya jawaban atas pertanyaan tersebut.
"Apa kamu ingin punya seorang ayah?" pertanyaan lain meluncur begitu saja.
Kedua bola mata Rahman bergerak-gerak karena bingung. Dulu ia memang pernah menginginkan seorang ayah, dan ketika bertanya pada mama-nya tentang sang ayah yang tidak diketahui keberadaannya, mama-nya itu tidak pernah memberi jawaban dari pertanyaannya malah mendiamkannya.
Saat ingin mengulang pertanyaan yang sama kakek-nya langsung melarang dengan jari yang menempel di bibir, sebenarnya Rahman heran kenapa sang kakek tidak membiarkannya untuk bertanya dan juga tak mau membantu menjawabnya.
Di malam hari ia baru menyadarinya bahwa pertanyaannya membuat sang mama bersedih, ketika ia terbangun di tengah malam mama-nya menangis dengan memunggungi dirinya.
Sejak kejadian itu Rahman tidak pernah bertanya lagi dan memilih tidur bersama kakek Ramlan karena rasa bersalah.
"Apa kamu ingin punya seorang ayah?" Abizar yang tidak mendengar jawaban kembali mengulangnya.
"Memang kenapa, jika saya ingin punya seorang ayah?" Rahman balas bertanya.
"Ehem," Abizar berdehem agar rasa gugup yang tiba-tiba datang segera menghilang. Bukan karena ia takut dengan Rahman, tapi lebih cenderung takut tidak bisa menyakinkan.
"Apa kamu tidak keberatan jika saya menikah dengan mama-mu?" Rahman kini mengerti, apa maksudnya.
"Apa pak Ustadz, sudah bertanya pada mama saya?" sahut Rahman cepat.
Abizar menggeleng. "Belum, saya ingin bertanya lebih dulu sama kamu. Apakah kamu akan memberi izin jika mama-mu menikah dengan saya atau tidak?" tentu saja Abizar tidak bertanya kepada Rahimah karena sudah ada Ustadzah Habibah yang membantunya bertanya.
"Apa pak Ustadz bisa menjamin kebahagian mama saya?"
"Iya, saya akan menjamin itu," janjinya pasti.
"Jika mama saya setuju ... saya juga akan setuju," kedua sudut bibir Abizar terangkat begitu saja.
"Asalkan, pak Ustadz bisa menepati janji yang tadi bapak ucapkan, maka saya akan mengizinkan. Tapi jika tidak ... sampai kapan pun saya tidak akan setuju," tegas Rahman.
"Insya Allah, saya akan selalu membuat mama-mu bahagia. Dan tidak hanya mama-mu ... tapi juga kamu," janji Abizar sunguh-sungguh.
"Jangan terlalu percaya diri dulu pak, karena mama saya belum tentu setuju."
Abizar mengangguk mengerti, ia terlalu percaya diri. Bukan tanpa alasan Rahman mengatakan itu. Waktu kakek-nya masih hidup ia pernah mencuri dengar ... jika ada yang ingin menjadikan mama-nya seorang istri, tapi langsung di tolak Rahimah mentah-mentah.
"Ya, kamu benar. Saya akan mendengar lebih dulu jawaban dari mama-mu, baru bisa berbangga diri," guraunya.
"Iya, itu lebih baik."
Tiba-tiba saja Rayan datang bergabung dan langsung mengeluh. "Dasar tante Nurul, bisanya cuman nyumpahin orang," gerutuya.
"Kenapa?" pertanyaan dari Rahman dan Abizar berbarengan.
"Masa tadi tante Nurul bilang, aku mules gegara kualat sama dia, dan itu terbukti karena sumpahnya terkabul waktu aku sakit perut," seketika Rahman dan Abizar tergelak.
"Ish, malah diketawain lagi," protes Rayan.
"Hahaha," keduanya malah semakin tertawa.
Tidak terasa hari sudah sore, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing tidak terkecuali Dinda. Hanya Rahimah dan Rahman yang tetap tinggal dan akan berkumpul lagi di hari lusa.
.
.
.
"Sepertinya saya pernah melihat wajah anda," kata Tamara kepada Abdar.
Saat ini ketiganya sedang berada di dalam mobil menuju hotel dimana Tamara menginap. Abdar dan Adit juga memutuskan akan menginap di hotel itu, karena pagi tadi Adit sudah check-out dari hotel dekat rumah sakit.
Sebelumnya mereka mampir dulu di Resto yang mereka lewati karena Abdar harus makan agar ia bisa meminum obat dari rumah sakit yang ia simpan dikantung baju Adit.
"Mungkin saja, dilihat dari data diri anda ... kita memang sering bekerja sama," jawab Abdar.
"Tidak. Seingat saya, kita memang tidak pernah bertemu. Karena semua urusan kantor di Jakarta saya serahkan pada asisten saya," elak Tamara.
Ya, ternyata perusahaan Tamara sering bekerja sama dengan perusahaan Abdar, hanya saja Tamara biasanya diwakili asistennya sehingga mereka tidak pernah bertemu secara langsung.
"Tapi ... wajah anda mengingatkan saya pada seseorang," ujarnya lagi.
"Benarkah?"
"Ah, lupakan ... saya juga tidak ingat. Jadi, kalian akan pulang besok ke Jakarta?" tanya Tamara basa-basi.
"Iya, karena semua masalah sudah selesai. ... jadi besok kami akan pulang dengan bantuan polisi Malaysia. Untuk Shandy, mungkin lusa dia akan di pindahkan ke Jakarta dan mereka juga masih mencari persembunyian Jack," papar Abdar menjelaskan.
"Lagi pula, Abdar juga harus banyak istrahat karena bekas luka tembaknya," sahut Adit.
"Ya sepertinya itu memang harus," ucap Abdar sambil tersenyum misterius melirik Adit.
"Sialan lu," Adit mengumpat saat menoleh dan melihat senyum Abdar.
Jelas saja ia menjadi kesal, karena jika Abdar istrahat maka berarti ia akan dijamin lembur bekerja.
"Kenapa? Elu udah bosan kerja sama gw, hah?" pancing Abdar.
"Kalau Iya, Kenapa? Ada masalah sama lu?" kesal Adit.
"Oke ... kalau lu udah bosan, nanti setelah kita di Jakarta lu bisa urus surat pengunduran diri lu."
Mendengar itu Adit tersulut emosi, ia menganggap serius perdebatan mereka. Sedang Tamara hanya terpaku memandang kedua pria dihadapannya.
"Gak usah nunggu di Jakarta, mulai hari ini ... disini .... detik ini juga ... gw berhenti kerja sama lu."
"Ciitttt," mobil berhenti tepat di depan hotel.
"Bruuukk," pintu dibanting Adit dengan kencang lalu meninggalkan keduanya.
Abdar menghela nafas dalam. "Maaf untuk yang tadi, anda jadi mendengar perdebatan kami." Abdar menoleh kebelakang merasa sungkan pada Tamara.
"Tidak apa-apa, saya bisa memakluminya. Sepertinya kalian sangat dekat, kalian terlihat bagaikan sahabat ... bukan seperti bos dan bawahan." Kata Tamara sambil turun bersamaan Abdar.
"Ya, bisa dibilang kami adalah sahabat dekat," Abdar tidak menampik itu.
"Saran saya, cepatlah kalian berbaikan. Jangan sampai persahabatan yang sudah lama terjalin harus hancur hanya karena sama-sama egois," nasehatnya.
"Iya, akan saya coba. Kalau dia mau bicara dengan saya?"
Abdar memperhatikan Adit yang sedang check-in, ia dan Tamara masih berdiri didepan hotel setelah menyerahkan kunci pada pelayan hotel.
"Baiklah, semoga berhasil. Dan saya harap kita bisa bertemu lagi di Jakarta," ujarnya sambil mengulurkan tangan hendak bersalaman.
Abdar menatap tangan itu, kemudian menatap Tamara. "Maaf, nyonya. Tangan saya ...."
"Ah, maaf. Saya lupa." Segera menarik tangan sambil melihat tangan Abdar dalam gendongan.
"Tidak masalah."
"Baik, kalau begitu saya permisi. Saya do'akan, hubungan kalian segera membaik."
Abdar menggeleng melihat punggung Tamara yang berlalu masuk ke dalam hotel.
"Sudah seperti pasangan saja," gumam Abdar juga beranjak dari tempatnya berdiri menuju resepsionis.
Setelah mendapatkan kunci kamar, Abdar meninggal pesan pada resepsionis untuk memesan'kan beberapa baju ganti pada salah satu toko baju yang terkenal di kotanya.
Ia pun segera masuk lift. Tapi sebelumnya ia bertanya dulu pada resepsionis tadi, mengenai nomer kamar Adit.
Tentu saja resepsionis itu memberi tahukannya dengan sukarela, karena yang mereka tahu Abdar dan Adit adalah teman ketika meminta nomer kamar Tamara sebelumnya.
Memasukkan anak kunci Abdar melirik sekilas pada kamar di sebelahnya, ternyata ia mendapatkan kamar di sebelah Adit.
Usut punya usut resepsionis tadi memberinya bocoran, bahwa memang Adit yang meminta mereka menempatkan kamar berdampingan.
"Lelahnya."
Dengan perlahan Abdar merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Setelah makan dan minum obat kini perlahan kantuk itu datang.
Dalam hitungan detik ia pun tertidur tanpa mengingat perdebatan nya dengan Adit tadi.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba Abdar tersentak kaget akibat dari ketukan pintu yang terus menerus diketuk.
"Ya, sebentar," susah payah Abdar mengumpulkan kesadarannya.
Kepala terasa pusing, matanya tak kalah berat untuk dibuka, dan tubuhnya pun melayang saat berjalan.
"Ish," Abdar meringis kesakitan karena tangannya yang terjepit diantara pintu dan dadanya ketika ia menjatuhkan tubuhnya kedepan.
Akibatnya kesadaran yang tadinya hanya setengah mendadak penuh.
"Adit," Abdar tersentak kecil mendapati Adit di depan kamarnya.
"Ni baju lu, udah empat kali tu pelayan datang kesini ngantar baju ... tapi lu kacangain."
"Awww," bagaimana Abdar tidak menjerit kesakitan, kalau tas yang berisi baju itu di dorong Adit ketangan Abdar yang menggantung.
"Sorry ... gw lupa." Sahutnya santai. Adit memungut kembali tas yang jatuh di lantai.
Abdar segera menggeser tubuhnya ke samping saat Adit hendak masuk dan melewatinya.
"Adit, gw minta maaf," ujarnya cepat ketika Adit sudah di ambang pintu.
Refleks Adit menghentikan langkah kakinya mendengar permintaan maaf itu, lantas ia pun berbalik badan menghadap Abdar.
"Gw minta Maaf, soal yang tadi," ulang Abdar.
"Tadi gw cuman bercanda," akunya.
"Iya, gw tahu. Gw gak anggap serius kok, gw juga minta maaf ... disaat kaya gini kita masih aja suka berdebat," bohong Adit (padahal tadi dia anggap serius π ).
"Cuman sama lu doang gw bisa berdebat, selain Intan dan Maryam tentunya."
"Elu adalah sahabat terbaik gw," ucap Abdar tulus.
"Oh, gw terharu ... sini gw peluk."
"Awww, tangan gw banggg saatttt."
"Hahaha, sorry, sorry ... gw emang sengaja."
"Sialan lu."
Adit langsung menghindar saat kaki Abdar mengayuh maju hendak menendangnya.
"Hahaha gak kena."
"Hahaha," mereka tertawa bersama.
BERSAMBUNG ....
Hai teman-teman, semoga tidak pernah bosan ya sama cerita receh saya!! Saya juga selalu mengingatkan kepada kalian semua untuk tidak lupa memberi dukungan berupa komentar, π,πΉ atau β sekalian. Dan yang dengan sukarela memberi Vote ... saya sangat berterimakasih. Tanpa kalian saya bukanlah siapa-siapa. Semoga kita selalu disehatkan badan, dipermudah segala urusan, dan diluaskan pintu rizkinya, amin ... amin ... amin ... ya rabbalallamin. Salam sayang πππ
Noormy Aliansyah