
...Kehidupan ku kini terasa kosong tanpa keindahan cintamu. Karena hati, cinta dan rinduku adalah milik mu....
...Cinta takkan pernah bisa membebaskan ku, bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain? Sedangkan sayap-sayap ku telah patah karena mu. Cinta mu akan tetap tinggal bersamaku, sampai akhir hayat ku, dan setelah kematian, hingga tangan Tuhan menyatukan kita lagi....
...(Abdar Bariq)...
Keesokan harinya ....
Pagi hari yang begitu cerah, menyambut pribumi dengan cahaya mentari. Menenangkan jiwa dan menyejukkan hati serta memulai langkah dengan semangat berapi-api.
Seperti hari-hari yang lalu, Abdar datang ke rumah Rahimah guna menjemput Rahman sekaligus mengambil kesempatan ikut sarapan dan sambil memandang bidadari pemilik tempat tinggal berlantai dua, yang lebih tepatnya di sebut ruko.
Senyumnya mengembang dan semakin merekah ketika tiba di depan rumah ibu dari anaknya, tapi seketika lenyap saat kakinya yang jenjang menapak lantai atas.
Kedua sudut bibirnya turun, dengan kening yang berkerut dalam. Sungguh diluar dugaan, Abdar terkesiap melihat sosok Abizar kini juga ada di meja makan tempatnya biasa duduk.
"Selamat pagi mas, Abdar?"
Abizar yang kemarin sudah tahu jika Rahman setiap hari akan di jemput Abdar, berinisiatif mengunjungi Rahman sebelum berangkat.
"Selamat pagi pak Ustadz."
Bukan Abdar yang menyahut melainkan Intan sambil mengulurkan tangan kehadapan Abizar, ingin bersalaman. Dengan senyum mengembang di sambutnya tangan gadis kecil itu, dan mengusap pucuk kepala Intan ketika punggung tangannya dicium.
"Selamat pagi pak Ustadz." Sahut Abdar setelah keterkejutan nya menghilang sambil bersalaman.
"Pak Ustadz, tumben ada di sini?" tanya Intan polos.
Abizar tersentak kecil dengan pertanyaan Intan. "Kebetulan lewat, jadi sekalian mampir jenguk Rahman," jawabnya.
Emm ... persis ibunya. Bukan hanya mukanya, tapi sifatnya juga.
"Jenguk kak Rahman, emang kakak sakit?" menatap Abizar dan langsung menoleh sambil bertanya pada sang pemilik nama.
Orang yang di diberi pertanyaan menggeleng beberapa kali, guna membantah praduga dari adik sepupunya itu. "Nggak," kata Rahman menegaskan tindakannya.
"Nggak sakit pak Ustadz, kenapa di Jenguk?"
Abizar terperangah, karena Intan kukuh mencari jawaban dari kedatangannya, harusnya ia tadi tidak menjawab dengan kata menjenguk tapi berkunjung.
Benar-benar Maryam versi kecil ini.
Abdar menunduk menyembunyikan wajah yang tengah tersenyum geli.
Rahimah tetap dengan pekerjaannya, yaitu menyiapkan satu piring tambahan dan membuatkan teh untuk tahu dadakannya.
Rahman diam-diam melirik ayahnya yang tengah tersenyum sarkastik, dan menatap Abizar yang di cecar pertanyaan oleh Intan.
"Sudah Intan, nggak harus ada alasan untuk datang menjenguk kakak. Ayo sini duduk, kita sarapan." Faham situasi, Rahman langsung mengalihkan pembahasan.
"Iya deh." Mata Intan berbinar karena diajak makan, ia pun duduk dengan semangat hendak sarapan.
"Silakan," tawar Rahimah pendek.
Tanpa diperjelas Abdar sudah mengerti, tidak menunggu perintah dua kali ia sudah mendekat dan ikut duduk di kursi samping Abizar.
Menyimpan roti di piring kosong, dan menyerahkana nya pada orang-orang yang duduk mengelilingi meja makan. Barulah ia menyiapkan untuk diri sendiri.
Semua makan dengan diam, Abdar mencuri-curi pandang pada Abizar baru kepada Rahimah.
Setelah selesai dengan sarapan mereka, Rahimah bergegas membereskan meja dan membawa bekas alat makan ke tempat pencucian piring.
"Ma, Rahman berangkat sekarang," kata Rahman meminta izin usai pekerjaan Rahimah selesai.
"Iya, hati-hati di jalan. Biar mana antar ke depan." Tawarnya sambil merangkul bahu Rahman.
Tidak mungkin ia tinggal berdua dengan Abizar di lantai atas, mau tidak mau Ustadz itu pasti turun juga karena Rahimah pergi mengantar Rahman ke lantai bawah.
Dengan langkah gontai Abdar turun bersama Intan disusul Abizar. Kalau bisa ia ingin tetap tinggal, karena tidak rela melihat Rahimah ditemani guru ngaji nya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Rahimah dan Abizar melepas keberangkatan Rahman sampai mobil itu mengecil dan tidak terlihat lagi.
"Imah, ada yang ingin saya bicarakan," ujar Abizar serius.
Rahimah menoleh beberapa detik kemudian mengangguk. "Silakan mas Abi." Sama seperti kemarin, pintu ia biarkan terbuka dan duduk di kursi lantai bawah.
"Apa yang ingin, mas bicarakan?" tanya Rahimah yang sudah mempunyai firasat tentang apa yang akan dibahas sekarang.
"Tentang rencana pernikahan ulang kita."
'Benarkan!' gumam Rahimah di dalam hati.
"Sebelumnya saya meminta maaf kepada mas Abi, tapi dengan berat hati dikesempatan kali ini saya mengatakan ini ... jika saya tidak akan melanjutkan pernikahan kita. Dan tidak ada kata pernikah ulang, saya membatalkannya secara sadar." kata Rahimah the do points.
Abizar bergeming, diam dan tidak mengatakan apa pun untuk beberapa saat. Mimik wajahnya tidak bisa ditebak, menatap Rahimah lekat dengan tatapan sulit diartikan.
"Apa ini ada kaitannya dengan orang tuaku?"
"Saya orang yang tidak suka berbohong. Jika mas Abi sudah pernah berdebat dengan orang tua mas, tentang terkait pernikahan ini? Maka jawaban, ya," balas Rahimah jujur dan tegas.
"Saya tidak akan pernah tenang dalam menjalankan pernikahan yang tidak mendapat restu dari orang tua mas Abi, jadi saya memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini. Alangkah baiknya jika kita hanya berteman, tidak akan ada yang tersakiti atau menyakiti," sambungnya mengungkapkan isi hati.
Calon suami Rahimah diam lagi, atau bisa dikatakan sekarang adalah mantan calon suaminya.
"Apa ibuku mengatakan sesuatu, padamu Imah?"
"Terlepas dari apa yang dikatakan ibu mas Abi, Saya dengan kesadaran diri sendiri memang selalu gelisah dengan rencana pernikahan ini."
"Apa tidak ada rasa sedikit pun yang kamu rasakan untukku, Imah?" setelah terdiam.
"Jujur, saya menerima pernikahan ini hanya untuk Rahman," sahut Rahimah apa adanya.
Abizar mengangguk samar sembari menunduk. Sama seperti dirinya, ia yang minta dicarikan jodoh kepada Ustadzah Habibah menerima Rahimah karena menghargai beliau.
Tidak ada kemarahan yang dirasakan Abizar, hanya saja ia sedikit kecewa dengan ibunya. Ia sudah menaruh curiga ketika kemarin bicara pada Rahimah, pasti ada hubungannya dengan ibunya yang membuat (mantan) calon istrinya itu menghindari pertanyaannya yang tidak lagi berkunjung ke rumah sakit.
"Baiklah, kalau kamu ingin seperti ini Imah. Aku membebaskan mu dari rencana pernikahan ini. Tapi bisakah kita masih menjadi teman?"
"Seperti yang saya katakan tadi, kita sebaiknya memang hanya menjadi teman!"
"Kalau begitu, terimakasih untuk beberapa hari yang lalu," ucap Abizar tulus.
Kendati ia menerima Rahimah karena Ustadzah Habibah, tapi tidak bisa dipungkiri jika selama mengenalnya ada sedikit rasa yang muncul di sudut hatinya.
Tapi mendengar pernyataan Rahimah sekarang, ia akan menerima kenyataan ini sebelum perasaannya semakin dalam.
"Sama-sama mas, saya juga berterimakasih karena mas Abi mau mengerti saya. Dan saya akan mengembalikan cincin ini." Melepaskan cincin di jari manisnya, meletakkan di atas meja tepat di hadapan Abizar.
"Ya, tidak apa-apa." Tersenyum maklum sambil menyimpan cincin itu.
Rahimah ikut tersenyum, bebannya yang selama ini terasa berat kini mulai terangkat dan terlepas.
"Kalau begitu, saya pulang dulu. Insya Allah, senin nanti saya akan mengajar mas Abdar lagi."
"Iya mas."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," sahut Rahimah mengantar Abizar di depan rumah.
"Alhamdulillah." Gumamnya sambil menutup pintu.
.
"Woy ... melamun mulu kerjaannya."
"Brengg sekk." Sungut Abdar terkejut sambil mengusap-ngusap daun telinganya yang terasa berdengung karena teriakan Adit.
"Sialan lu," suaranya masih terdengar kesal. Abdar yang melamun tidak sadar dengan kedatangan Adit.
"Hehehe ... habisnya, lu melamun terus dari semenjak datang tadi," ujar Adit cengengesan.
Abdar tidak merespon, ia malah kembali melamun.
"Ada apa sih?" kali ini Adit bertanya serius.
"Apa ada masalah?" lanjutnya penasaran dengan sang atasan yang lebih banyak melamun dari pada bekerja.
Menghempaskan punggung tegap nya kesadaran kursi, Abdar menatap Adit dengan diam.
"Ada Apa?" desak Adit tidak sabar.
"Emmm ... apa salah Kalau gw berharap ...," kata Abdar ragu-ragu menggantung kalimatnya.
"Berharap Apaan?" kesal Adit mendengar kalimat yang tidak jelas maknanya.
"Kalau gw berharap ... pernikahan Rahimah dan Pak Ustadz itu batal aja sekalian?" ujarnya pelan sambil menunduk, sedang tangan kanannya memainkan pena.
"Elu serius, suka benaran sama Rahimah?"
"Pakai nanya lagi." Reflek tangan kanannya melempar pena ke arah Adit, yang dengan sigap ditangkap lawannya walau serangan dadakan.
"Ya kalee, lu cuman pengen anaknya, bukan ibunya. Apa lagi lu 'kan nggak terlalu kenal sama Rahimah, kenapa lu bisa suka hanya dalam waktu singkat?" pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa rasa bersalah.
"Sekarang gw tanya sama lu. Elu kenapa bisa suka sama Dinda?" tanya Abdar bersungut-Sungut.
Adit menggerak gerakkan bola matanya tanda berpikir. "Nggak tahu." Kedua bahunya terangkat.
"Awalnya, gw cuman iseng aja. Bilang mau bantuin lu buat cari info tentang Rahimah, ehh ... nggak taunya malah keterusan dan suka."
"Iya, bilangnya mau bantuin gw ... sampai sekarang aja nggak ada tuh laporan yang akurat. Dan gw harus bertindak sendiri," sindir Abdar.
"Hehehe."
"Gw juga nggak tau kenapa bisa suka sama Rahimah. Awalnya gw cuman kaget aja bisa ketemu lagi sama dia, dan jujur ... gw sebenarnya sudah lupa sama wajahnya kalau aja Tomi nggak ngasih foto yang dulu waktu kita cari dia."
"Tapi seiring berjalannya waktu dan kenyataan terungkap kalau dia memang ibu dari anak yang nggak pernah gw ketahui keberadaannya .... entah sejak kapan, sama seperti yang lu rasain. Kalau gw ketemu Rahimah, gw jadi gugup dan suka aja tiba-tiba mikirin dia." Tanpa sadar Abdar tersenyum ketika bercerita.
"Elu tau sendiri kan, semenjak kejadian gw sama dia sepuluh tahun yang lalu? Gw nggak pernah tertarik lagi sama yang namanya perempuan, dan ketika Rahimah hadir kembali ... rasa itu datang dengan sendirinya."
"Iya juga ya!"
Abdar melirik Adit kesal, ia yang tidak pernah bicara panjang lebar dan harus menjelaskannya kepada sang asisten, tapi malah hanya mendapat tanggapan yang pendek saja.
"Apa lagi waktu yang lu bilang, siapa tau akan ada calon pengantin pria yang baru. Kan gw jadi kepikiran." Abdar ingat dengan apa yang di ucapkan Adit kapan mana itu saat menuju rumah sakit.
"Masa sih? Kapan gw bilang kaya gitu? Kok gw nggak ingat ya?" Adit mendongakkan kepala sambil berpikir keras, kapan ia mengatakan kalimat itu.
"Awww." Pekik Adit meringis kesakitan karena Abdar melempar pena yang lain dan tepat mengenai kening sang sahabat.
"Lue ...." Tunjuk Adit kesal kepada Abdar, tapi langsung menciut ketika tatapan orang yang di tunjuknya begitu tajam bagai anak panah siap dilepas dari busur nya.
"Jadi salah nggak kalau gw berharap pernikahan mereka batal?" kata Abdar kembali pada pembahasan awal yang membuat ia mengeluarkan isi hatinya.
"Hmm, boleh aja kali ... kan Rahimah belum jadi istri orang? Nah, kalau sudah jadi istri orang trus lu berharap mereka berpisah ... itu yang nggak boleh," kata Adit sok bijak.
"Hmmm," gumam Abdar malas-malasan.
"Lu ngapain ke sini?" Abdar tersadar dengan kedatangan Adit yang masuk kedalam ruang kerjanya.
"Hah. Oh itu, ini soal nama lu. Kan karyawan kita, pada nggak ada yang tau soal pergantian nama lu! Rencananya gw, mau ngadain syukuran dan ngajak mereka makan bareng. Gimana menurut lu?"
Karena Abdar yang sempat menunda pemberitahuan namanya yang sudah diganti, hingga sampai sekarang belum juga terlaksana dan Adit berinisiatif melakukannya pada hari ini.
"Terserah lu deh, gw ngikut aja."
"Oke, kita adain makan siang di restoran pacar gw." Adit tersenyum malu saat mengatakannya.
"Kenapa mesti di tempat Dinda? Kenapa nggak di kantin kantor aja, atau cafe gw?" protes Abdar keberatan dengan ide Adit.
"Apa lagi, kalau semua orang pergi ke sana buat makan siang ... siapa yang nungguin kantor?"
Tidak mungkin bukan, jika semua karyawan harus pergi ke tempat yang lumayan jauh hanya untuk makan siang. Maka otomatis kantor akan kosong lama di jam kerja.
"Hehe, rencananya juga gw mau liburin mereka habis makan siang."
"Brengg sekkk, lu." Abdar langsung mengambil pas bunga kecil yang ada di mejanya dan hendak melempar kepada Adit.
Melihat pergerakan Abdar, Adit buru-buru berdiri dan keluar ruangan guna bersembunyi dari balik pintu.
"Sialan," kesal Abdar meletakan pas bunga itu.
"Gw udah kasih pengumuman sama para karyawan." Kata Adit dari balik pintu dan hanya bagian kepalanya yang menyembul.
"Bangg sattt." Kembali Abdar mengumpat geram sambil tangannya menggapai pas bunga lagi.
"Bruukkk." Suara decitan pintu yang ditutup kasar menghentikan pergerakan tangan Abdar.
"Dasar, asisten laoknadd. Maunya enak sendiri, awasss nanti lu. Bakal tanggung sendiri kerugian perusahaan ini," ujar Abdar bersungut-Sungut kesal, karena Adit yang bisa-bisanya mengambil keputusan sendiri tanpa seijin dari atasan.
Menatap langit-langit ruang kerjanya, kembali pikirannya melayang entah kemana dan ia pun kembali melamun.
Abdar tersentak kaget ketika pintu terbuka tanpa aba-aba dengan sedikit kasar.
"Elu tenang aja, gw bakalan minta Dinda buat nyuruh Rahimah datang juga." Lagi-lagi Adit datang dengan tidak sopannya berbicara pada sang bos hanya dengan kepala yang muncul.
Abdar mendengus jengkel kerana dibuat tak berkutik. Jika ada Rahimah, mau tidak mau ia pasti setuju.
"Pergi lu," usir Abdar malas.
Jelas saja Adit langsung pergi, karena pengusiran itulah yang ia tunggu.
"Bisakah, kita bersama Imah?" gumam Abdar membatin.
Akhirnya rencana Adit pun ia turuti dengan suka rela dan berharap pada masa depan.
BERSAMBUNG ....
Gays ... tadi malam saya kaget lo karena mendapat notifikasi dari aplikasi noveltoon. Yang berisi sebuah pemberitahuan, jika 'Rahman bin Rahimah' telah dipromosikan di akun resmi @noveltoon_ind. π€π€π€
Dan Alhamdulillah, pas saya masuk ke instagram ... ternyata beneran nongkrong itu cover Rahman. πππ
Uhh, pokoknya senang banget, bangettt ... bangettt ... dan bangettt .... Terimakasih kepada @noveltoon ππππ
Maaf jika dibilang terlalu lebay, karena saya hanya ingin berbagi cerita tentang Rahman ππ .
Salam sayang ....
Noormy_Aliansyah πππ