
PoV Rahimah.
Tak serasa hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sejak menikah dengan Mas Abdar, setiap harinya aku merasa begitu beruntung. Kebahagian itu terus saja berdatangan menghampiri dan menyapaku. Seolah telah mengganti semua penderitaan yang selama ini pernah ku alami.
Tidak pernah terpikir jika aku akan merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat seperti ini sebelumnya. Dulu, ketika aku kehilangan ibu saat mengandung adikku. Kehidupanku seolah hancur tak bersisa dan meninggalkan luka yang teramat dalam. Ketakutan tidak ada ibu yang menemani hari-hariku membuat aku depresi.
Namun, aku lupa, bahwa akan selalu ada bapak yang menemaniku di masa-masa sulit bahkan terburuk sekali pun. Perlahan aku mulai sembuh dari tekanan mental yang selama ini membelenggu. Tentu semua itu tidak lepas dari orang-orang di sekitarku.
Akan tetapi, rupanya tidak cukup sampai di situ penderitaanku. Saat aku mulai masuk sekolah kembali, hampir semua orang merundungiku. Bakhan yang lebih parah, mengunciku di dalam gudang. Untung saja aku mempunya beberapa teman yang selalu siap memasang badan jika aku dalam kesulitan.
Lagi, untuk kesekian kalinya. Ketika aku mulai beranjak dewasa dan perpikir semua masalah ini sudah berakhir dari penderitaan yang datang bertubi-tubi. Aku kembali dihadapkan dalam keterpuruk asaan yang semakin dalam saat bertemu seseorang. Menorehkan luka yang membekas, menghancurkan masa depan, dan meninggalkan seseuatu yang sempat terbesit untuk aku hilangkan.
Namun, bapak kembali membangunkan harapan dan membuatku berlapang dada, untuk selalu menyayangi, melindungi dan memberi kasih sayang.
Kepergian bapak juga sangat menyakitkan. Separuh jiwaku kurasa hampir melayang saat terkenang kebersamaanku dengan bapak, tapi jasad tak bernyawa yang kudapat. Ada begitu banyak kenangan di setiap langkahku bersama beliau, terutama saat-saat bapak membantuku mendidik Rahman. Akan tetapi, kali ini aku bisa berpikir lebih tenang, ada putraku yang harus kupikirkan.
Bagaimana anakku besar nanti jika aku tidak bisa mengontrol kesedihan? Bagaimana dengan perasaan putraku itu jika tahu ibunya demikian? Terlalu sayang untuk melepas kebahagian ini untuk sebuah kesedihan yang tak berujung.
Aku putuskan untuk lebih kuat dan tegar walau sakit, karena aku tahu ... bukan aku saja yang kehilangan. Pasti putraku juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
Pertemuanku dengan Mas Abdar dulu sempat membuatku terkejut dan takut, namun juga ragu jika dia adalah ayah dari putraku. Jujur saja, aku hampir lupa bagaimana rupanya pria itu. Bayangkan saja, pertemuanku dengannya adalah sepuluh tahun yang lalu, ditampah lagi aku baru sekali bertemu dengannya. Akan tetapi, wajahnya sedikit mirip dengan putraku. Aku juga tidak tahu, apakah pria di masa laluku itu mengingatku atau tidak.
Dan semuanya seketika samakin jelas saat Mas Abdar mendatangiku. Tanpa ragu dia meminta maaf secara langsung tentang kejadian sepuluh tahun lalu. Tidak dipungkiri memang, aku sempat kecewa dan takut padanya.
Namun, aku memcoba membung perasaan itu jauh-jauh dengan memaafkannya. Entah karena memang sudah ditakdirkan dengannya? Setiap hari aku selalu berada di sekitar dia, hingga kejadian yang sangat kutakutkan menimpa Rahman juga Intan, keponakan Mas Abdar. Dan itu semakin mempererat hubungan kami tanpa sadar. Walau pun hampir saja aku menikah dengan lelaki lain dan ada sedikit drama waktu pernikahan, tapi rupanya Tuhan memang tidak mengijinkan aku menikah dengan pria lain.
Terbukti di hari aku akan menikah dengan seseorang, musibah malah datang menghentikan acara itu. Ditambah lagi, ternyata calon ibu mertuaku tidak menyukaiku saat aku berkata jujur tentang masa laluku.
Setelah hubukan kami bisa saling memaafkan dan Rahman juga sudah tahu kalau Mas Abdar ayahnya, tiba-tiba dia menantang untuk menikahiku. Masih terekam jelas ketika calon suamiku membebaskanku, karena sebuah nazar. Dan di waktu itulah Mas Abdar menyampaikan niatnya untuk menikahiku.
Dan sekarang semua itu sudah menjadi kenyataan, Mas Abdar benar-benar menikah denganku dan menjadi ayah dari putraku. Sekarang aku begitu bahagia, apa lagi tahu kalau ternyata Mas Abdar itu pencemburi. Yang artinya, dia sangan mencintaiku.
"Mas, emm ... coba lihat ini!" Aku menyerahkan benda kecil berbentuk panjang dan tipis pada Mas Abdar, ketika dia baru kembali dari masjib usai solat subuh berjamaah.
"Apa?" tanya Mas Abdar, tak urung tangannya mengambil alih benda kecil itu. Benda yang biasanya digunakan oleh para wanita untuk memastikan, apakah ada nyawa di dalam perutnya.
Ya, aku menyerahkan alat tes peck itu setelah sebelumnya aku gunakan di kamar mandi ketika Mas Abdar pergi. Awalnya aku tidak terpikir untuk menggunakan alat itu. Namun, nasehat teman-temanku ketika kami perkumpul untuk membelinya, membuat tekatku yakin.
"Sayang," kudengar pekikan terkejut saat Mas Abdar menelitinya beberapa detik.
Kini matanya menatapku tak percaya, yang mebuat kepalaku tanpa ragu menggung membenarkan. Senyum kebahagian serta mata yang berbinar seketika muncul di permukaan dari wajah tampan suamiku, dan tentu saja itu langsung menular kepadaku.
Tanpa aba-aba, Mas Abdar menghambur memelukku dan diselangi kecepan lama di keningku. "Terimakasih, sayang," kusambut pelukannya penuh suka cita dan kubalas kalimatnya penuh kasih. "Sama-sama, Mas. Terimakasih juga untukmu."
"Aku akan selalu ada untukmu, dan selalu siap jika kamu memerlukan sesuatu! Aku akan memperhalikanmu lagi dan membayar semua waktuku yang pernah hilang disaat kamu mengandung Rahman. Aku akan pastikan, kalau aku selalu terlibat dalam perkembangannya," pelukan Mas Abdar semakin erat, namun terasa nyaman.
"Ayo, kita beritahu Rahman!" Mas Abdar merangkulku dan sedikit menarik agar ikut berjalan beriringan.
"Apa Rahman, tidak akan marah, Mas?" tanyaku takut sambil menutup pintu.
"Tidak akan, Rahman pasti senang," ucap Mas Abdar kembali berjalan dengan aku yang otomatis mengikutinya.
Aku berdiri raju di depan kamar Rahman, ketika Mas Abdar mengetuk pintunya.
"Iya Ma, Ayah, ada apa?" tanya putraku, melirik kami berdua bergantian.
"Nggak disuruh masuk dulu?" balas Mas Abdar bertanya, dan tentu Rahman segera menepi dengan pintu yang semakin dibuka lebar.
"Rahman, kami punya kabar gembira buat kamu," ucap Mas Abdar sambil membawaku duduk di tepi ranjang.
Rahman diam sejenak sebelum akhirnya bertanya sambil menatapku. "Apa itu, Ya?"
Aku dan Mas Abdar saling pandang, kemudian kembali menatap Rahman yang menanti pernyataan yang akan kami sampaikan.
"Sebentar lagi kamu akan punya adik!" jawab Mas Abdar, dan aku fokus memperhatikan reaksi Rahman.
Tidak ada tanggapan dari Rahman hingga beberapa detik, dan itu membuat aku takut. Tanpa sadar aku menggenggam tangan Mas Abdar erat, yang memang sudah sedari tadi kugenggam.
"Rahman," panggilku ragu.
"Jadi, Mama akan punya anak lagi?" pangkas Rahman.
Aku tidak bisa menjawab, Mas Abdar yang mewakiliku dengan aku yang mengangguk pelan.
"Iya Rahman, kamu akan punya adik."
Masih kuperhatikan bagaimana wajah putraku itu. Namun, tidak ada perubahan, Rahman tetap tenang ketika kembali bertanya.
"Apa perut Mama akan besar seperi tante Aya?"
"Iya, perut Mamamu akan brsar seperti tante Aya."
Jadi, Rahman akan benar-benar punya adik?"
"Iya, tentu saja. Kamu akan punya adik," kulihat perlahan Rahman tersenyum lebar mendengar jawaban Mas Abdar.
Rahman lantas memelukku. "Adik nanti laki-laki atau perempuan, Ma?" tanya Rahman masih memelukku..
Aku tersenyum mendengar pertanyaan riang Rahman, kubalas pelukaannya sembari berkata, "Belum tau, sayang. Nanti, kalau sudah besar seperti tante Aya ... baru bisa diperiksa sama dokter," balasku tersenyum sambil menatap suamiku.
Kini Mas Abdar ikut memeluk kami sambil berbisik. "Sudah kukatakan, Rahman pasti senang."
Senyumku semakin lebar dan mengeratkan pelukan pada putra kesayanganku. Ah, sungguh bahagianya. Seperti yang kukatakan tadi. Semenjak menikah dengan Mas Abdar, kebahagianku berkali-kali lipat. Bahkan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
...πΉπΉπΉπΉπΉ...
Pov. Abdar.
Aku baru saja pulang dari kantor, ketika istri tercintaku yang cantik jelita meminta dibelikan kue bulu coklat yang ada di sekiar kantorku. Tahu apa yang ada dalam benakku? Ya, benar. Otakku bertanya-tanya, kenapa dia tidak menelepon saja sedari aku belum pergi dari kantor itu?
Tapi tentu saja hanya ada dalam benakku. Bukannya aku takut padanya, bukan. Aku hanya tidak ingin merusak moodnya. Semenjak kami mengetahui kehamilannya, istriku itu begitu sensitif.
Pernah suatu hari ketika aku lupa hanya sekedar menyapanya di jam makan siang, dan kalian tahu apa yang aku dapat sepulang dari kantor?
Wajah yang biasanya selalu ceria dan memerah saat kucium, atau ketika aku memujinya, atau saat kami hanya saling tatap saja. Tapi waktu itu, semuanya mengling entah kemana? Dan yang kulihat adalah wajah yang judes dan datar.
Aku bahkan seperti tidak terlihat olehnya, walau berdiri di depannya sekali pun. Dia juga mendiamkanku walau aku mengajaknya bicara. Matanya enggan menatap mataku, setiap aku mencari celah agar dia melihatku. Memangnya aku ini makhaluk akstral yang kasat mata.
Dan itu adalah perjuangan terberatku untuk mengembakikan kecerian serta semburan merah di pipinya. Di setiap menit, akan aku menyempatkan diri mengiriminya pesan dengan ungkapan perasaan cinta, walau tidak mendapat balasan. Tapi aku tahu, setiap dia membaca pesanku ... dia pasti akan tersenyum. Entah sudah berapa hari dia mendiamkanku, tapi perlahan kecerian itu muncul. Dan jangan lupakan pipi merah jambunya. Aaaahh manisnya.
"Minta Pak Tomo aja ya, yang beliin," usulku lemah.
Pak Tomo adalah supir yang kupekerjakan beberapa hari lalu untuk mengantikanku membelikan apa yang diperlukan istriku disaat aku masih di kantor. Aku juga mempekerjakan istrinya supaya meringankan pekerjaan rumah, Imah.
Segera kujawab iya, ketika wajahnya hampir cemberut. Ternyata strategiku salah, kupikir dengan meminta tolong Pak Tomo tidak akan merubah moodnya, tapi ternyata ... sama saja.
Akhirnya dengan langkah gontai aku kembali keluar rumah setelah meletakkan tas kerjaku di atas meja. Untung saja toko kue bolu itu buka hingga jam sepuluh malam, jadi ketika aku baru sampai saat mendekati jam sembilan malam, toko itu masih buka.
Kuusap dadaku merasa lega saat kue bolu yang diminta Imah sudah dalam genggamanku.
"Makasi ya, Mas," bagaimana aku tidak rela berkorban demi melihat wajah ceria istriku saat ini.
"Sama-sama, Mas mau solat dulu." ada untung juga, aku selalu mandi terlebih dahulu di kantor sebelum pulang ke rumah. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin membawa kuman-kuman di kantor ke rumahku. Dan ternyata itu juga menguntukkanku.
...πΉπΉπΉπΉπΉ...
Hari menyapa minggu, menggu menyapa bulan dan bulan menyapa waktu yang sudah ditentukan.
Aku baru saja bermimpi indah, ketika samar-samar terdengar suara merdu yang menyapu bersih mimpiku.
"Mas, bangun," kurasakan ada tangan yang menggoyang-goyangkan lengan atasku.
"Hhmmm," balasku malas.
"Mas, ayo dong bangun!"
"Kenapa? Pinggangnya mau diusap lagi? Sini!" tanyaku sambil dengan mata tetap terpejam dan meraba punggungnya.
Sudah beberapa hari ini dia mengeluh sakit pinggang di tengah malam dan membangunkanku agar membatu mengusap pinggangnya.
"Ayo baring!" kurasakan ternyata dia dalam posisi duduk.
"Iih, bukan itu, Mas. Kayanya aku mau melahirkan."
"Ooh, ya sudah. Lahirkan saja!" kataku tidak sadar, detik berikutnya aku langsung duduk dengan mata membelalak.
"Hah, maksud kamu, dia mau keluar?" tanyaku kaget bercampur khawatir.
"Udah deh Mas, nggak usah di perjelas. Mending buruan, minta Pak Tomo siapin mobil."
Dengan langkah seribu, aku pergi ke kamar Pak Tomo.
"Pak, siapin mobil! Imah mau melahirkan. Jangan lupa, bilang sama Bik Acil. Nanti sampaikan sama Rahman, kalau kita ke rumah sakit," seruku cepat saat pintu dibuka oleh Pak Tomo.
Aku langsung kembali ke kamar tanpa menghiraukan jawaban Pak Tomo.
"Sayang," aku segera membantu Imah, yang wajahnya tampak pucat dengan peluh membingkai keningnya.
"Tasnya, Mas," Imah mengingatkanku sebelum keluar kamar pada sebuah tas perlenglapan bersalin, yang memang sudah disiapkannya jauh-jauh hari.
"Pelan-pelan," aku memeluknya erat sambil menuju pintu utama.
Kulihat Pak Tomo sudah duduk dibalik kemudi, Bik Acil juga mengantarkan kami sampai mobil. "Bik, hubungi Maryam ya," pesanku sebelum akhirnya kututup pintu mobil.
Di dalam mobil, Imah tetap tenang. Tidak sepertiku yang sangat jelas sangat khawatir. Mungkin karena ini kelahiran anak kedua, jadi dia bisa setenang itu. Sekekali dia hanya meringis seperti menahan sakit, sambil meremas kuat tanganku. Bahkan aku sampai merasa tanganku kebas karena selalu diremasnya kuat setiap wajahnya berubah kesakitan.
"Apa sangat sakit?" tanyaku benar-benar khawatir.
Kulihat Imah hanya mengangkuk samar, aku pun tidak ingin membuatnya tambah tidak nyaman. Jadi, dengan tangan satunya, aku membantu mengusap punggungnya yang sakit beberapa hari ini.
Sesampai di rumah sakit, Imah segera di bawa ke ruang tindakan. Tentu dengan aku yang selalu setia di sampingnya.
Aku tetap setia berdiri di tepi ranjang pasien dengan tangan kami yang saling bertautan, ketika seorang perawan melakukan memeriksan.
"Katanya sudah pembukaan sepuluh ya, Bu. Berarti Ibu Imah sudah lama merasakan sakitnya ya? Ditambah lagi, ini adalah kelahiran kedua. Yang memang proses pembukaannya lebih cepat dari anak pertama."
Aku hanya diam mendengarkan penjelasan dokter wanita itu yang tengah memasang sarung tangannya usai mendapat laporan dari perawat yang tadi memeriksa Imah.
"Baik, kita mulai ya, Bu. Bapak jangan tegang ya, kasih semangat istrinya."
Aku menelan ludah, bagaimana mungkin aku tidak tegang. Saat kulihat dokter itu mengambil sebuah gunting. Kutatap wajah Imah yang pucat diiringi wajah kesakitan, yang sedari tadi tidak mengeluh sama sekali.
Aku pikir akan ada drama saat dia melahirkan. Seperti berteriak dan menjerit kesakitan, atau menjambak rambut, dan mencakar tanganku. Tapi ternyata, itu semua tidak ada. Dia hanya diam sambil menggengam tanganku semakin kencang dari sebelumnya. Sekekali kudengar dia beristigfar.
Aku pun berusaha tidak tegang, mengalihkan perhatianku dari dokter yang membantu kelahiran anakku. Aku membisikkan kata cinta dan semangat pada istri hebatku.
"Kamu pasti bisa, aku mencintaimu sayang," bisikku.
Dan semuanya berjalan begitu saja, hingga akhirnya terdengar suara bayi menangis. Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa sakit hingga menguap menjadi bulir air mata yang siap meluncur.
"Terimakasih, istriku. Kamu hebat dan kuat, aku mencintaimu," Kukecup keningnya bersamaan air mataku yang jatuh.
"Wah, selamat Pak, anaknya perembuan. Mari, kita letakkan dulu di atas Ibunya." Dokter itu meletakkan putri kecil kami di atas Imah dalam posisi tengkurap.
"Dokter, boleh pinjam ponselnya? Aku lupa membawa ponselku," tentu sayang jika momen ini tidak diabadikan.
"Sebentar!" Dokter tadi mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya padaku.
Aku pun memoto Imah dan bayiku, aku juga ikut berfoto bersama mereka. Setelah berfoto, putri kami dibersihkan oleh perawat.
Aku kembali menatap wajah letih Imah, dia tersenyum padaku yang langsung kubalas dengan senyum bahagia.
"Capek?" bisikku.
"Iya Mas," jawabnya lemah, dan aku tidak tahan untuk tidak menghujaninya dengan kecupan.
"Ini Pak." Perawat datang menyerahkan bayi cantik dan lembut.
Kusambut penuh haru dan suka cita, "Lihat Sayang! Dia cantik sepertimu." Ku dekatkan putriku pada Imah, agar dia bisa mencimnya.
"Siapa namanya, Mas?"
"Almeera Shirly Alnaira"
..."TAMAT."...
Terimakasih pada teman-teman semua yang masih setia menunggu bab ini. Maaf jika sempat menggantung, karena kesibukan di dunia nyata. Dan hari ini saya sudah mengelesaikannya. Saya meminta maaf sekali lagi, jika tulisan saya masih acak-acakan dan tidak enak dibaca. ππ
Semoga dicerita berikutnya tulisan saya lebih baik lagi. Kalau ada sumur di ladang. Bolehkah kita menumpang mandi. Kalau ada umur panjang. Bolehkah kita berjumpa lagi. ππ
Jangan lupa mampir ya, di cerita Dinda!