Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 44



Setelah berpamitan kepada Ustadz Abizar dan Mama-nya, Rahman segera memasang helm dan menaiki sepedanya. Ia lekas mengayuhkan kaki menuju dojang.


Seperti biasa dari Kejahuan Rahman sudah melihat rombongan kawan-kawan tempatnya berlatih tengah mengayuh sepeda di depan sana, tapi hari ini ada yang berbeda dari biasanya.


Di sana, di bawah pohon yang rindang di tepi jalan ... ada beberapa teman-temannya yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi dengan sepeda yang terparkir rapi berjejer berdampingan. Sekekali mereka terlihat sedang bercanda gurau.


Memelankan laju sepeda saat sudah dekat, Ia mengabsen semua teman yang menyambutnya dengan senyum mengembang melalui ekor matanya.


Melirik seorang teman yang biasanya selalu di antar oleh supir Mamanya dan terlihat begitu mencolok dari yang lain karana pakaian yang terkesan berkelas, tapi sekarang dia juga memakai helm sepeda sama seperti Rahman dan teman-temannya. Itu yang malah menjadi tanda tanya besar bagi Rahman.


"Rayan, kamu pakai sepeda? Bukannya biasa di antar pakai mobil ya?" tanya Rahman masih di atas sepedanya.


Ya, dia adalah Rayan anak dari Soraya dan Zidan sahabat Rahimah Mamanya Rahman. Beberapa hari yang lalu Rayan dan teman-temannya memutuskan untuk ikut masuk dalam ajang beladiri taekwondo saat tahu kalau siang harinya Rahman harus pergi latihan taekwondo karena tidak bisa di ajak bermain bersama dan hari ini mereka berkumpul untuk berangkat bareng.


Jelas Soraya memberikan anaknya izin mengingat Rahman ada di pelatihan itu, juga yang membuat Rayan ingin ikut dalam ajang itu karena ada Rahman.


Rahimah juga sudah tahu bahwa Rayan dan teman-temannya yang bergabung di taekwondo Rahman, karena Soraya sempat membahasnya di WAG-nya.


"Dia memang di antar pakai mobil, tuh mobilnya." Tunjuk Hasan teman sebangku Rahman pada sebuah sedan berwarna hitam mengkilat yang tidak jauh terparkir dari tempat mereka berada.


Rahman kembali melirik pada teman-temannya yang sangat jelas terlihat sedang mentertawakan Rayan dalam mulut yang tertutup rapat.


"Awas ya kalian," ancam Rayan yang sama sekali tidak membuat mereka takut tapi malah semakin nyata mentertawakannya.


Sebenarnya tidak ada yang lucu walau Rayan tadi di antar dengan mobil, setelah sampai dengan tempat janjian Rayan di turunkan dari mobil beserta sepedanya hanya saja yang membuat mereka tertawa ternyata mobil itu tidak langsung pulang tapi nanti akan mengikuti mereka dari belakang menuju dojang. Mungkin itulah yang membuat mereka merasa lucu.


"Hahaha, lagian kamu sih Yan. Udah enak di antar pakai mobil malah ikut pakai sepeda," ujar Yasir teman sebangkun Rayan masih dengan tawanya.


"Iya ... trus mobil itu bakalan ngikutin kita dari belakang, ehh kenapa gak kita aja yang sekalian ikut mobil itu?" tanya Kandar teman sekelas Rayan setelah sempat berpikir.


"Tapi sebelum kamu ikut dengan mobil itu, ada baiknya kita jual dulu sepeda-mu biar gak akan ngerepotin orang kalau sepedanya hilang di sini." jawab Rudi memikirkan akibatnya yang di setujui Iwan kakak kelas Rayan, Yasir dan Kandar sekaligus teman sekelas Rahman juga Hasan.


Jika hanya mengangkut mereka tentu mobil itu sangat muat tapi bagaimana dengan sepeda mereka jika di tinggal di pinggir jalan dengan waktu yang lumayan lama? Jawabannya bisa hilang dong.


"Enak aja ... gak jadi, gak jadi." Balas Kandar sambil melambaikan tangannya.


"Ayo, kita brangkat." Ujar Rahman sambil tersenyum tipis.


Mereka yang dari tadi asyik mentertawakan Rayan bergegas berhamburan menunggangi sepeda masing-masing karena Rahman yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka setelah berkata demikian.


Sedan hitam yang tadi di tunjuk oleh Hasan juga bergerak dan mengikuti mereka dari jarak sepuluh meter.


Teman-teman Rahman saling lomba mengayuh sepedanya guna menyusul Rahman yang lumayan jauh meninggalkan mereka dan akhirnya dapat mereka susul.


Mereka yang belum pernah ke gedung dojang saat tiba di parkiran mereka saling dorong untuk lebih dulu berjalan di depan dan baru berhenti setelah melihat Rahman yang memimpin jalan.


Belum lagi masuk ke dalam gedung samar-samar sudah terdengar suara dari latihan, trus berjalan Rahman mendorong daun pintu besar masuk ke dalam suara semakin jelas dan nyaring.


Terlihat sudah teman-teman Rahman yang berlatih, Rahman maju mendekati Master Yudi dan otomatis di ikuti teman-temannya.


"Siang Master Yudi." Rahman memberi hormat dengan satu telapak tangan yang terbuka dan satu kepalan tangan yang di satukan di depan dada.


"Siang, apa mereka teman-teman yang kamu maksud Rahman?" tanya Master Yudi memindai satu persatu teman-teman Rahman.


"Iya, Master Yudi."


"Master Jojo." Teriak Master Yudi pada rekannya yang melatih anak-anak bersabuk putih di ujung sudut ruangan.


"Ya, Master Yudi." kata Master Jojo saat sudah dekat.


"Berikan mereka seragam dan latih mereka." balas Master Yudi.


"Jonbi." sahutnya.


"Ayo, kalian ikut dengan saya." Teman-teman Rahman di ajak oleh Master Jojo ke sebuah ruangan guna mengganti baju lalu kembali lagi ke tempat di mana Master Jojo melatih tadi.


Rahman sudah memakai seragam di balik jaketnya jadi ia hanya melepas jaket berwarna biru malam dan memasukkannya ke dalam tas punggung.


"Rahman, Master Candra menunggumu di ruangan saya." Rahman yang sudah siap bergabung setelah menyimpan jaket dan tasnya seketika berhenti berjalan dan berbalik badan menghadap Master Yudi.


"Temui dulu." Belum Rahman meminta izin Master Yudi sudah memerintahkannya. "Jonbi Master Yudi." balas Rahman memberi hormat dan sedikit membungkuk.


Buru-buru Rahman berjalan ke ruangan Master Yudi, tiba di situ Rahman segera mengetuk sembari memberi salam.


Rahman masuk ke dalam ruangan itu usai mendapat balasan salam dari dalam dan di perintahkan untuk masuk.


"Master Candra, saya pikir anda sudah kembali ke Bandung?" Tanya Rahman sembari ikut duduk di sofa samping masternya.


"Ya, saya sudah kembali lebih cepat dan tadi pagi langsung kemari karena ada urusan lagi sekalian bertemu denganmu."


"Saya punya berita penting buat kamu, Rahman." Mengerutkan kening Rahman berpikir apa kira-kira berita penting itu.


"Kabar penting apa Master?"


"Saya sudah di pindahkan oleh pemilik dojang ini untuk melatih di sini." Aku Master Candra tersenyum.


Karena pemilik dojang di Jakarta dan Bandung adalah orang yang sama jadi mudah bagi master Candra di tambah lagi pemilik dojang itu adalah ayah dari mester Candra, sebenarnya baru-baru ini master Candra ingin minta di pindahkan ke Jakarta mengingat klien yang meminta jasanya berdatangan dari Jakarta itu sangat banyak dan ia memutuskan untuk pindah. Tentu sang pemilik dojang tidak tahu dengan kerja sampingan Master Candra.


"Wah, selamat Master anda akan kembali menjadi pelatih saya dan siapa yang menggantikan master di sana?" Ujar Rahman tersenyum tulus.


"Master Diman."


"Sebenarnya bukan itu saja yang penting. Jadi begini Rahman, saya ingin mengajak kamu untuk ikut berinvestasi dengan sebuah perusahaan properti yang akan membangun apartemant di dekat kampus yang ternama di kota ini."


Perusahaan yang pernah di tangani oleh master Candra beberapa waktu lalu telah memberi kabar padanya bahwa akan segera membangun apartement dan mencari Investor juga menawarinya untuk bergabung, Candra yang mengingat Rahman langsung berinisiatif mengajaknya tentu dengan pertimbangan yang sangat matang.


"Mereka menjanjikan keuntungan 25 persen dari setiap penjualan satu unit apartement, dan kamu juga bisa memiliki satu unit apartement."


"Tempat yang strategis, keuntungan yang menjanjikan, dan perusahaan yang sudah di jamin terpercaya ... itu yang membuat saya berani mengajak kamu untuk ikut andil dalam bagian ini." Jesal Master Candra panjang lebar.


Tidak hanya mengajak Rahman tentu Master Candra juga turut andil dalam proyek ini, mengingat orang perusahaan itu hanya tahu tentang dirinya tidak dengan Rahman selain itu Rahman masih tidak tahu cara kerjanya jadi master Candra akan membantu mengontrol untuk Rahman jika Rahman tertarik untuk bergabung.


Rahman yang sejatinya masih anak-anak jelas ia tidak terlalu mengerti dengan apa yang di katakan Master Candra, tapi mendengar kata keuntungan sudah bisa Rahman banyangkan jika ia menjual sesuatu maka ia akan dapat untung sama seperti mama-nya yang biasa menjual baju.


"Apa menurut Master, itu perlu saya lakukan?" tanya Rahman polos.


Tersenyum menyadari wawasan Rahman yang belum begitu luas karena ia juga terbilang masih anak-anak, master Candra pun memberikan pengertian secara sederhana.


"Investasi itu adalah salah satu cara untuk melipat gandakan harta yang kamu miliki tanpa perlu melakukan usaha yang lebih. Maksudnya adalah dengan investasi kamu hanya perlu menanamkan modal dan menunggu dana kamu berkembang biak."


"Berarti saat melakukan penarikan, uang kamu akan bertambah sebesar Rp 3 juta dari hasil keuntungan yang diperoleh."


"Kebayang kan berapa pundi-pundi kekayaan yang mengalir ke rekening kamu kalau kamu mengalihkan uang dalam jumlah besar?"


"Investor tetap menghasilkan uang meskipun ia tertidur. Itulah salah satu karakter investasi."


"Ya tentu ada resiko di balik ini... ada beberapa instrumen investasi yang dikenal dengan high risk high return artinya keuntungan dan kerugian sama-sama tinggi."


"Maksudnya yaitu jika mengalami keuntungan investor bisa kaya mendadak begitu juga sebaliknya apabila investor mengalami kerugian akan bangkrut seketika." Ujarnya melipat satu kaki dan meletakkannya di atas lutut satunya sambil menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran sofa.


Master Candra menatap lekat pada Rahman setelah penjelasan panjar lebar yang ia jabarkan.


"Apa kamu berani mengambil tantangan ini?" master Candra hanya menawarkan keputusan tetap ada pada Rahman dan ia tidak memaksakan.


Rahman sudah mulai sedikit mengerti dengan cara pembahasan yang di katakan Master Candra.


"Jika saya ikut menanam modal, apa saya masih bisa membuatkan mama saya butik?" tanya Rahman.


Teringat mama-nya yang mengatakan jika tidak sedikit biaya untuk membuat butik apa lagi menyediakan berserta isinya. Jelas prioritas utama Rahman saat ini adalah mewujutkan impian mama-nya.


"Tentu masih bisa, apa kamu lupa? Kalau kamu bekerja membantu saya sudah hampir dua tahun, dan tabunganmu terus bertambah. Jika kita masih menerima klien yang memerlukan jasa kita ... jelas kamu masih bisa membuatkan butik itu."


Rahman yang dua tahun lalu baru saja bergabung di dojang tempat mester Candra melatih, suatu ketika saat Rahman lewat di halaman degung dojang usai latihan tidak sengaja melihat Master Candra memainkan leptop duduk di kursi bawah pohon.


Rahman menghampiri dan bertanya apa yang di lalukan masternya itu, entah kenapa waktu itu master Candra iseng-iseng malah menunjukkan dan mengajarinya. Rahman yang tidak tahu dan mengira master Candra sedang bermain game dengan semangat bermain di papan keyboard itu.


Rahman yang aslinya memang cerdas jadi lekas faham, hingga membuat master Candra kagum dan beberapa hari kedepan kembali mengajarinya hingga kurang lebih satu seminggu Rahman benar-benar bisa mengendalikan malwere.


Itulah awal mula Rahman menjadi hacker, hingga setiap ada klien yang memerlukan jasa master Candra lebih dari satu perusahaan di waktu yang sama maka Rahman akan menjadi patnernya.


"Kalau itu yang terbaik, saya mau master." balas Rahman pasti karena memang benar tabungan Rahman sangat banyak yang di pegang oleh master Candra jadi ia tidak takut dengan tantangan ini.


"Bagus. Proses pembangunannya mungkin membutuhkan waktu kurang lebih dua sampai tiga tahun dan saya yang akan mengurus semuanya, nanti jika saya sudah melakukan rapat ... kamu akan saya ajak ke lokasi untuk melihat-lihat kondisi lahan sebelum pembangunan tiga bulan kedepan."


"Jonbi, master."


"Ayo kita kembali bergabung dengan master Yudi." mekera keluar ruangan dan ikut bergabung dengan kelompok sabuk mereh stip hitam.


Dari tempatnya berlatih Rahman bisa melihat teman-temannya yang di bimbing oleh master Jojo, ada beberapa kesalahan yang mereka lakukan. Dengan perlahan dan sabar mester Jojo membetulkannya.


Cukup lama mereka melakukan latihan itu sempat istrahat sejenak dan kembali berlatih, kurang lebih mereka melakukan latihan hampir dua jam.


Master Yudi memberi mereka pilihan untuk memilih jadwal latihan yang akan mereka ambil.


Rahman yang biasa lima kali seminggu jika di Bandung di karenakan ia yang melakukan pekerjaan sampingan bersama master Candra, kali ini ia kembali memilih lima kali seminggu karena Rahman yakin kemungkinan ia kembali melakukan peretasan di tempat ini bersama master Candra. Walau awalnya ia sempat hendak memilih tiga kali seminggu tapi segera ia rubah lagi.


Rahman tidak memaksa temannya untuk melakukan latihan yang sama seperti dirinya, karena semua mempunyai batas kemampuan masing-masing. Sebenarnya jika bersama mester Candra latihannya bisa di hitung hanya tiga kali seminggu yang aktif karena ia lebih banyak duduk di ruangan master Candra untuk melakukan pekerjaannya.


Ternyata teman-temannya memilih tiga kali seminggu, Rahman beruntung dengan pilihan teman-temannya jika tidak mereka akan tahu dengan apa yang ia lakukan dengan master candra.


Usai dengan latihan mereka berpamitan dan segera berganti baju dan langsung pulang.


Di perjalanan mereka sangat antusias menceritakan gerakan-gerakan yang baru mereka pelajari, mereka bahkan tidak sabar untuk berlatih kembali di hari sabtu karena besok hari jum'at dan latihan di liburkan.


Seperti keberangkatan mereka tadi, mereka pun kembali berpisah di tempat yang sama dan Rayan memasukkan sepedanya ke dalam mobil.


Setelah mobil Sedan itu pergi membawa Rayan barulah Rahman kembali mengayuhkan sepedanya.


Entah datang dari mana seseorang tiba-tiba melintas di depannya sambil berlari dan mengakibatkan Rahman hilang kesimbangan lalu terjatuh.


"Bruukk, aww." Rahman meringis kaget.


"Kau tidak apa-apa? Maaf om tadi tidak sengaja?" pria itu bertanya sambil membantu Rahman berdiri.


"Tidak apa-apa, om." Rahman mengerutkan kening seperti pernah melihat orang tersebut.


"Ayo menepi dulu, lihat kalau kakimu ada yang terluka." kembali orang itu membantu Rahman mendorong sepedanya.


"Ini, minum dulu," pria itu menyerahkan botol air mineral yang berukuran kecil pada Rahman.


Rahman enggan menerimanya. "Tidak usah Om, saya baik-baik saja. Saya harus segera pulang," tolak Rahman halus tidak ingin di periksa.


"Kamu tidak perlu takut, nak. Dan minuman ini masih tersegel." Bisa orang itu lihat jika Rahman ragu untuk menerima botol air yang ia berikan.


Rahman meliriknya, memang benar masih tersegel ia pun menerima niat baik orang itu. "Terima kasih, om." Rahman memilih duduk di atas sepedanya di pinggir jalan.


"Bismilah ...."


Rahman meresa lebih enakan setelah sempat kaget akibat jatuh tadi, ia pun kembali hendak menaiki sepedanya tapi di tahan oleh pria itu.


"Tunggu." Ucapnya menahan tangan Rahman.


"Ada sesuatu di rambutmu," ujarnya sambil menunjuk ke arah rambut belakang yang terlihat di bawah helm-nya.


"Ada apa, om? Aww ...." Rahman meringis merasakan beberapa helai Rambutnya yang seperti di tarik paksa.


"Ohh, maaf ... om hanya membersihkan rambutmu, tidak sengaja menariknya." Kilahnya.


"Tidak, apa-apa om. Kalau begitu terima kasih juga minumannya. Saya permisi, assalamu'alaikum." Pria itu mengangguk.


"Wa'alaikumussalam." Melihat Rahman yang sudah menjauh pria itu lekas mengambil plastik kecil bening dalam kantung jaket kulitnya dan mengambil HP lalu menghubungi seseorang.


"Hallo, tuan. Misi pertama selesai." Ucapnya setelah sambungan telepon terhubung pada orang di sembang sana.


BERSAMBUNG ....


Hai gaess.... Maaf baru bisa up, karena kesibukan di dunia nyata juga perlu perhatian lebih jadi harap di maklumi ya.🤗


Untuk mengurangi rasa bosan karena menunggu cerita Rahman selanjutnya, aku rekomendasi 'kan karya author yang juga enggak kalah serunya.


Langsung aja ke TKP ya gaess.



Salam dari Urang Banua😘


Noormy Aliansyah