Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
(Extra part)



"Kenapa sih Mas, dari tadi kok diam mulu?" keluh Rahimah ketika mereka sudah tiba di rumah.


Dia tidak mengerti dengan perubahan sikap Abdar yang tiba-tiba datar, suaminya itu tidak pernah mendiamkannya demikian selama mereka menikah.


"Nggak apa-apa," jawab Abdar cuek, melenggang pergi ke lantai atas menuju kamar tidur mereka.


Rahimah melongos melihatnya, kesal karena terabaikan. Adit yang tadi mengantar mereka sudah kembali ke kantor dan tidak tahu dengan sikap Abdar tersebut.


"Mas ..." panggil Rahimah menyusul.


"Hmmm," gumam Abdar menyahut, dia malah dengan sengaja memejamkan mata sambil rebahan tanpa menghiraukan Rahimah.


"Apa Mas Abdar, ada masalah?" tanya Rahimah pelan, tetapi masih terdengar.


"Nggak ada, cuman kepalaku yang terasa pusing," aku Abdar.


"Sini, biar aku pijit," tawarnya sambil duduk di tepi ranjang dekat kepala Abdar.


"Nggak perlu, aku hanya perlu tidur," jawab Abdar datar dan dingin.


Kalimat yang Abdar lontarkan begitu menyayat perasaannya. Hati Rahimah bagaikan ditusuk ribuan belati, sakit, perih dan terluka tapi tidak berdarah. Dadanya kian sesak hingga meluap menjadi air mata.


Penolakan Abdar seolah sengaja membuat benteng antara dirinya, perlahan Rahimah berdiri dan berjalan mundur dan langsung berbalik badan tepat saat bulir air mata jatuh di pipinya.


Gegas keluar kamar tanpa mengatakan apa pun pada sang suami. Lari ke kamar di seberang kamar mereka yang masih belum dihuni.


Menutup pintu rapat dan menguncinya, kembali kristal bening menumpuk lebih banyak dan berdesakan hendak keluar.


Tidak tahan menahannya Rahimah memilih menengkulupkan tubuhnya di atas ranjang berukuran sedang.


Di dalam hati, Rahimah bertanya-tanya akan sikap Abdar. Cukup lama bagi keduanya saling menyendiri dan sibuk dengan pikiran masing-masing, tanpa memikirkan perasaan satu sama lainnya.


Lama kelamaan keduanya tertidur. Mereka baru bangun ketika Rahman membangunkan menjelang Ashar dan melewatkan Dzuhur.


Kali ini bukan hanya Abdar yang bersikap datar dan dingin, Rahimah juga demikian. Rahimah pikir jika Abdar bisa seperti itu, maka dia juga bisa.


Usai sholat berjamaah, Rahimah menyalami suami dan putranya dan langsung pergi ke dapur tanpa menyapa Abdar.


Tentu Abdar merasa heran, tapi entah mengapa dia membiarkannya dan sama-sama saling diam.


Sampai menjelang buka, Rahimah hanya berbicara dengan Rahman. Abdar yang sudah mulai kesal, semakin kesal dibuatnya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Abdar pada akhirnya lebih dulu, dia yang hendak berangkat ke masjid terusik karena tidak saling tegur selama berjam-jam.


"Tidak ada," ucap Rahimah mengambil peralatan sholat nya.


"Dari tadi sikap kamu berubah, dan sekarang kamu bilang tidak ada?!" bentak Abdar sambil bertanya.


"Sikap aku yang mana, Mas? Seharusnya, Mas yang sadar ... sikap Mas yang lebih dulu berubah!" balas Rahimah tegas.


"Aku tidak akan bersikap seperti itu, kalau kamu yang tidak memulainya lebih dulu!" sahut Abdar sengit.


"Aku memulainya! Memulai apa, Mas?" tanya Rahimah keheranan.


"Apa kamu tidak sadar, temanmu yang seorang dokter itu ... sepertinya Dia menyukaimu dan begitu juga denganmu," teriak Abdar geram.


Rahimah terkesiap, benar-benar tidak menyangka atas tuduhan dari Suaminya sendiri.


"Bagaimana mungkin, Mas bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Rahimah lirih menatap Abdar berkaca-kaca.


"Semua orang yang melihatnya, juga bisa menyimpulkan," sahut Abdar cepat dan pergi meninggalkan Rahimah sendiri.


Rahimah mematung, melihat pintu yang setengah tertutup dengan pandangan nanar. Mendadak tubuh nya jatuh di tempat di mana dia berdiri dengan begitu kerasnya.


"Awww," rintih Rahimah kesakitan dengan suara bergetar sambil memegang perutnya.


Air mata runtuh di antara rasa sakit karena jatuh dan dituduh. Terisak, hingga sulit baginya menenangkan diri.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Dasar, pura-pura tidak sadar," gerutu Abdar sambil menuruni anak tangga.


Sampai di depan ruang tamu, Rahman sudah menunggunya. "Mama mana, Yah?" tanya Rahman melirik lantai atas.


"Masih di atas," sahut Abdar malas dan ikut duduk di samping Rahman.


"Sebentar lagi, tarawih nya akan dimulai. Kenapa Mama belum turun?" kembali Rahman bertanya sambil mengerutkan kening.


Rahman yang tahu dengan sipat Mamanya, yang selalu tepat waktu merasa heran. Itu bukanlah kebiasan sang Mama.


"Mungkin Mama mu, tidak ikut tarawih malam ini," ujar Abdar memberi alasan.


Menghela napas, Abdar jadi merasa bersalah dengan apa yang tadi mereka debat 'kan. Sebenarnya Abdar juga penasaran kenapa Rahimah tidak kunjung datang menyusulnya.


"Tidak mungkin, Yah! Tadi Mama sudah bilang, kalau Mama ingin beli sate habis pulang tarawih," sanggah Rahman.


"Ya sudah, biar Ayah lihat lagi," ujar Abdar bangkit dari kursi.


"Nggak usah Yah, biar Rahman saja," cegah Rahman langsung berdiri dan berjalan cepat.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Tanpa diminta, Rahman segera meraih tubuh Rahimah dan membantunya berdiri. Mendudukkan sang Mama di atas ranjang.


"Biar Rahman, panggil Ayah dulu," kata Rahman hendak pergi, tapi pegangan tangan sang Mama menahannya.


"Tidak perlu. Jangan beri tahukan ini sama Ayahmu, katakan saja kalau Mama sakit perut dan tidak bisa ikut ke Masjid," ujarnya lirih.


"Dan jangan katakan Mama, menangis," pinta Rahimah serius


Rahman tidak mengerti, tapi kepalanya mengangguk patuh, "Baik ma."


"Tapi, Mama nggak kenapa-napa, kan?" kawatir Rahman.


"Hmmm, Mama hanya sakit perut ... nanti juga akan segera sembuh. Kamu cepat berangkat, nanti telat."


"Mama jadi, kan ... pengen beli sate? Nanti Rahman belikan," tawar Rahman.


Rahimah tersenyum di sela sakit hatinya. "Boleh, pakai nasinya ya," pesan Rahimah.


"Iya, Ma. Rahman berangkat sekarang, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Abdar langsung menoleh ketika Rahman baru saja sampai di lantai dasar. "Mama sakit perut, jadi nggak bisa ikut," kata Rahman sebelum Abdar bertanya.


Mengangguk mengerti, tapi perasaanya mendadak gelisah.


"Ayo Ayah, kita berangkat." Rahman berjalan lebih dulu ke teras.


Sebelum kaki panjangnya melangkah, Abdar sempat menatap lantai atas dengan perasaan tidak menentu.


"Ayah," panggil Rahman menyadarkannya.


"Iya, Ayah datang." Abdar langsung menyusul sang putra.


Selesai dengan shalat tarawih yang tidak jauh dari rumahnya, Rahman mampir membeli pesanan Mamanya. Selama bulan Ramadhan, hampir semua orang menjual dagangannya di pinggir jalan dan tidak sulit menemukan yang diinginkan.


"Ayah mau juga?" tawar Rahman hendak memesan sate yang diberi kuah kacang.


"Boleh, pesankan saja," kata Abdar asal, pikirannya melayang mengingat Rahimah yang tadi tidak berpamitan.


Lima belas menit menunggu, pesanan mereka pun siap. Tiga bungkus sate lengkap dengan nasinya kini sudah dalam genggaman Rahman.


"Makasih, Mang."


"Eh, kembalian Den."


"Buat Mamang, saja."


"Terimakasih," den."


Berjalan beriringan, hingga tak terasa mereka sampai di rumah. "Assalamualaikum," ucap keduanya di depan kamar Rahimah.


"Wa'alaikumussalam," sahut Rahimah lemah.


"Ini, Ma. Sate pesanan Mama," kata Rahman meletakkan sate di atas nakas.


"Makasih, Nak."


"Biar Rahman, ambilkan piring dan air minumnya."


Abdar melirik Rahimah, ragu-ragu ingin bersuara.


"Apa masih sakit perut?"


Diam Rahimah tidak menyahut.


"Ini Ma," Rahman datang dengan napan berisi piring dan gelas yang ada airnya.


"Biar Ayah saja, ini punya mu." Abdar mengambil alih napan dan menyerahkan sate milik Rahman.


Paham maksud Ayahnya, Rahman langsung keluar. Membawa bungkus sate miliknya.


Abdar mengambil bungkus sate, meletakkannya dalam piring dan hendak memberikannya pada Rahimah.


Belum sempat Abdar menawarkan piring yang dia pegang, Rahimah sudah mengambil bungkus sate yang baru dan membukanya sendiri.


Abdar terkesiap. "Apa kamu marah, padaku?" tanya Abdar pelan.


"Tidak, aku hanya tidak ingin berdebat."


✌😁