
Usai menyimpai ikan, gegas Rahimah mengambil pakaian ganti ketika mendengar gemericik air dalam kamar mandi. Rupanya bau amis dari ikan yang sempat menempel padanya membuat Abdar tidak nyaman dan memutuskan untuk mandi.
"Mas, ini baju gantinya." Kata Rahimah didepan pintu sambil mengetuk.
Terdengar bunyi kunci diputar dan disusul pintu yang terbuka. "Mas." Pekik Rahimah memalingkan wajahnya karena melihat keadaan Abdar yang masih .... Ah sudahlah, tidak usah dijelaskan.
Abdar tersenyum. "Ah, jadi tambah sayang ... belum juga diminta tolong, tapi udah ngerti aja."
"Udah ambil buruan, ini." Menyerahkan handuk dan baju sambil menoleh ke samping.
Bagi Rahimah ini adalah pengalaman pertamanya untuk melihat secara nyata dan langsung, ia pun jadi salah tingkah karena tak biasa.
"Makasih sayang."
"Sama-sama." Langsung berbalik, samar Rahimah mendengar Abdar yang terkekeh sambil menutup pintu
"Ting tong ...." Bunyi bel membawa Rahimah turun dari lantai atas dan melihat siapa tamunya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Kalian rupanya?" Rahimah tersentak kecil ketika tahu siapa tamunya.
"Iya kami, memangnya kamu mengharapkan siapa?" Tanya Nurul sambil menggandeng Nuri
"Emang siapa yang aku harapin, ayo masuk." Ajak Rahimah membuka pintu lebar lebar.
Tanpa disuruh dua kali, trio wewek langsung masuk. "Kalian kok nggak ngasih kabar mau ke sini, pas kita ngobrol tadi?" protes Rahimah sambil membimbing jalan menuju lantai atas.
"Sengaja, nggak bilang-bilang biar kita tau .., apa aja yang dikerjain pengantin baru." Balas Dinda mendapat lirikan malas dari Rahimah.
"Biasa aja kali," sahut Rahimah cuek.
Seperti biasa mereka langsung menuju meja makan untuk meletakkan bawaan, biasanya Soraya dan Dinda selalu membawa kudapan untuk menemani mereka mengobrol.
"Ceklekk." Atensi mereka seketika menoleh ke arah kamar mandi ketika pintunya terbuka.
Abdar tersentak kecil melihat keberadaan teman-teman Rahimah, begitu juga trio wewek yang melihat Abdat dalam keadaan habis mandi. Dengan canggung Abdar keluar kamar mandi sembari menggosok-gosok rambut setengah basahnya.
"Ehemm," Soraya berdehem.
"Dapet berapa ronde tadi malam bang? Jadi baru mandi?" godanya menghentikan langkah Abdar.
"Aya," tegur Rahimah tersipu.
"Ahahaha, nggak nyangka aku ... kalau pengantin baru menghabiskan malah panas sampai siang hari." Gelak tawa Nurul memenuhi isi ruangan, Nuri bahkan ikut tertawa tanpa mengerti maksud dari tawanya.
Rahimah melotot mendengar ucapan Nurul yang tidak benar sama sekali. "Apaan sih, kamu Nurul?" Pukul Rahimah tidak terima dikatai baru menghabiskan malam pengantin sampai siang.
"Lah itu buktinya." Tunjuk Nurul sambil tertawa diikuti Dinda dan Soraya tak kalah nyaring nya.
Abdar yang sadar sedang digoda mereka langsung menengkulupkan handuk ke atas kepala hingga menutupi semua permukaan wajahnya dan berjalan cepat masuk kamar tanpa menghiraukan pertanyaan unfaedah tersebut.
Ketika menutup pintu kamar, Abdar masih sangat jelas mendengar tawa dari trio wewek yang bertambah kencang saat ia menutup daun pintu.
Ia mengumpat, kenapa mereka harus datang di saat seperti ini. Ia bahkan masih ingin bermanja-manja dengan sang istri, dan sekarang harus gagal sebab kehadiran trio wewek.
"Kalian ini, apa-apaan sih? Jangan mikir yang macam-macam, itu tidak seperti yang kalian bayangkan." Kata Rahimah sambil meletakkan minuman di atas meja.
"Hmm, nggak seperi yang kami bayangkan? Tapi buktinya udah di depan mata tadi." Ujar Nurul cekikikan.
"Tapi emang nggak seperti yang ada dalam bayangan kalian!" upaya Rahimah menjelaskan agar tidak ada kesalah pahaman.
"Udah deh, ngaku aja kali ... kita sebagai senior juga ngerti kok, pengalaman sebagai pengantin baru sudah kami lalui," seru Soraya tersenyum menggoda.
"Kalau kita nggak datang, Imah pasti nggak mau ngaku. Lah ini, buktinya sudah ada aja dia masih ngelak," Dinda ikut menimpali.
Rahimah menggelengkan kepala karena cara berpikir teman-temannya yang sangat pendek sampai-sampai tidak mempercai dirinya. Sekarang ia jadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan gunjingan dari sahabat laucnadnya.
"Emang mas Abdar nggak ke kantor?" tanya Nurul.
"Pengantin baru Rul, jadi mereka masih kecapekan. Bos mah bebas liburnya," sahut Soraya.
Mereka kini tengah menikmati teh hangat dan kudapan yang tadi mereka bawa. Guna mematahkan praduga trio wewek, Rahimah tetap memilih menemani mereka dan membiarkan Abdar sendirian di kamarnya.
"Mas Abdar baru pulang dari kantor, habis datang langsung mandi gara-gara tadi kena ikan yang aku beli di pasar," jelas Rahimah ketika ada kesempatan.
"Serius baru datang dari kantor?" tanya Dinda.
"Iya, pagi-pagi banget tadi mas Abdar ke kantor barengan Rahman pergi sekolah, terus tadi itu baru dateng dan kena ikan waktu nyusul aku ke dapu, makanya dia mandi," tutur Rahimah panjang lebar.
"Oohh," reflek semua membulatkan mulut dan berseru.
"Hehehe. Aku pikir tadi habis nyambung ronde tadi malam," komentar Nurul sok tahu.
"Nggak ada ronde ronde'an, tamu bulanan datang kemaren sore," ungkap Rahimah jujur.
"Serius," seru trio wewek berbarengan.
"Iya." Seketika mereka tertawa terpingkal pingkal.
"Kenapa lagi sih?" kesal Rahimah.
"Bisa aku bayangin, gimana susahnya mas Abdar tidur," ujar Soraya terkekeh geli.
"Kok tau?" tanya Rahimah polos.
Tambah tertawa lagilah mereka mendengar pengakuan Rahimah secara tidak langsung.
"Kalian iihh," sungut Rahimah kesal.
"Dengar ya Imah ... lelaki itu, kalau benda kris pusaka nya sudah berdiri tegak tapi nggak bisa dimasukkan ke dalam cangkang nya! Sudah dipastikan ... pemilik benda keramatnya susah mengendalikan diri karena kerasukan dan akibatnya tidak dapat tidur cepat," kata Nurul memberi umpama.
Rahimah termengu mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Nurul, sementara itu mereka tertawa tertahan guna tidak mengganggu konsentrasi pengantin baru amatir walau sudah memiliki anak.
Setelah beberapa detik ....
"Emang gitu ya?" Anggukan serempak menjadi jawaban yang Rahimah tangkap.
"Terus?" tanyanya polos.
"Jangan berani-beraninya memancing kris mas Abdar sampai berdiri tegak, tapi kemungkinan itu sangat kecil sih ... karena kalian yang tidur satu tempat tidur."
"Ditambah lagi, kaliankan pengantin baru! Lagian kenapa itu tamu bulanan pas banget datangnya sih?" Seru Dinda diiringi tawa diakhir kalimat.
Rahimah melirik sinis, bukannya memberi solusi ia malah dapat ejekan karena tamunya.
"Yah mungkin, kalau benda pusakanya mas Abdar berdiri tegak ... yang harus kamu lakukan adalah membantunya agar anu nya itu tidur lagi," saran Soraya.
"Caranya?" Rahimah heran mendengar nasehat itu.
"Begini ... kamu bisa membantunya mengeluarkan cairannya, dengan cara seperti ini." Soraya memberi praktek langsung dengan botol kecap yang ada di atas meja.
Rahimah bergidik ngeri membayangkan ia yang begitu berani melakukan hal itu dimalam kedua pernikahannya.
"Nggak ada cara lain apa? Nggak mau aku," tolak Rahimah mentah-mentah.
"Untuk seorang pemula ...? Nggak ada! Cuman itu aja jalan yang aman."
Rahimah menolak keras dalam hati saran yang begitu memalukan.
Dari balik pintu, Abdar tertawa senang tanpa suara sambil mengintip.
BERSAMBUNG ....