Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 84 Tidak direncanakan



Kendati sudah memberi tahu anak dan orang-orang terdekatnya, Rahimah tidak langsung memberi Abdar kabar tentang keputusannya.


Sudah seminggu sejak ungkapan perasaan Abdar, tapi Rahimah tidak pernah membahasnya bersama lelaki tersebut.


Ia merasa begitu malu untuk mengutarakan niatnya yang akan menerima lamaran Abdar, jadi Rahimah selalu memilih diam jika ayah dari anaknya datang.


Maryam yang tahu kabar dari Adit jika pernikahan Rahimah batal, begitu antusias melihat kedekatan kakak dan Ibu dari keponakannya itu.


Bahkan ketika datang untuk mengajari Intan, ia selalu mengajak Rahimah bercerita sembari menunggu Abdar selesai mengaji.


"Aku dengar dari kak Adit ... mbak Imah, nggak jadi nikah ya sama Ustadz Abizar?" tanya Maryam ragu-ragu.


Sekarang mereka sedang duduk di taman belakang usai mengaji, menemani Intan memberi makan peliharaan berbulu yang suka sekali melompat kecil dengan daun telinga yang panjang.


"Iya, mbak batal menikah dengan beliau." Jawab Rahimah jujur.


"Maaf ya mbak Iman, kalau aku jadi suka tanya-tanya," menatap sendu orang dihadapannya.


"Nggak apa-apa, kok Maryam." Balas Rahimah sambil tersenyum agar Maryam tidak perlu tak enak hati padanya.


"Pas aku tau soal itu, ternyata kak Abdar juga sudah tau lebih dulu katanya. Ish ... Aku langsung marah-marah sama kak Abdar gara-gara nggak cerita sama aku," ungkap Maryam berapi-api.


Rahimah mengulum senyum sambil menggeleng samar, baru saja Maryam seperti orang yang bersalah karena bertanya hal tadi, tapi sekarang berlaga tidak terjadi apa-apa.


"Harusnya 'kan kakak cerita sama Aku, untungnya kak Adit kemaren ke sini dan cerita ... kalau nggak sampai sekarang aku nggak tau." Sambungnya sambil cemberut.


"Memangnya kalau kamu tau, kenapa?" tanya Rahimah santai.


"Hehe ... ya biar aku nggak tanya-tanya lagi soal rencana pernikahan ulangnya." Jawabnya ambil nyengir.


Maryam jadi salah tingkah, ia tidak mau mengatakan kalau ia berniat menjodohkan kakaknya pada Rahimah. Karena Abdar yang tidak bercerita tentang kejadian paling besejarah dalam hidup Abdar.


Jangankan bercerita tentang kejadian itu, tentang pernikahan Rahimah yang batal saja, Maryam harus tahu dari Adit.


"Nggak apa-apa kok, kalau kamu nggak tau tiba-tiba bertanya tentang pernikahan. Itu juga karena mbak yang nggak cerita'kan?" senyuman tulus tersemat.


"Iya sih, Hehe."


Sambil mengobrol ringan mereka memperhatikan Intan yang tengah asyik mengejar kelinci.


"Kadang aku suka kepikiran sama Intan," ucap Maryam yang tiba-tiba berwajah sendu.


"Tentang apa?" tanya Rahimah yang menyadari perubahan mimik wajah Maryam.


Maryam menghela napas, pandangannya menerawang jauh. Terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bersuara.


"Diusia sekecil ini, Intan sudah harus merasakan kehilangan ayahnya. Entah apa yang dirasakan Intan ketika melihat teman-temannya sedang bersama ayahnya. Kadang aku merasa Intan seperti menyembunyikan sesuatu dari aku," tutur Maryam sedih.


"Tapi kalau dipikir pikir ... Rahman tidak jauh berbeda dengan Intan, Rahman mungkin lebih dulu dan lebih lama merasakan rasa sedih karena tidak ada seorang ayah. Tetapi tetap saja, aku merasa tidak sekuat mbak Imah."


Kembali Maryam menghela napas yang seakan begitu berat, tiba-tiba atmosfir disekitar mereka berubah. Rahimah diam ketika ia merasa masih ada yang akan Maryam ucapkan.


"Aku bangga sama Rahman dan mbak Imah, yang bisa menjalani kesulitan hanya berdua. Sementara aku, kalau saja nggak ada kak Abdar sama kak Adit mungkin sudah nggak ada lagi diantara kalian." Setetes cairan bening jatuh tanpa diminta ketika ia mengeluarkan unek uneknya.


"Jangan bicara seperti itu, walau tanpa kakak-kakakmu ... kamu pasti lebih hebat, mbak yakin itu. Mbak juga tidak sekuat yang kamu bayangkan," hibur Rahimah ikut sedih.


Ingatannya pun melayang, ketika masih ada Bapaknya yang selalu setia mendampinginya. Apa jadinya jika tidak ada Bapak di sampingnya.


"Bersyukurlah, karena Allah masih memberikan orang-orang disekitar yang menyayangi kita," kata Rahimah bijak.


Mendengar itu Maryam menghapus jejak air matanya di Pipi dan menoleh pada Rahimah.


"Makasih Mbak," ucap Maryam tulus bercampur lega.


"Sudah jangan sedih lagi. Masih banyak orang yang bernasib sama seperti kita, ambil hikmahnya dan kebahagian akan ikut serta."


Maryam mengangguk membenarkan, ia hanya satu diantara berjuta umat yang menjadi seorang janda diusia mudanya.


"Sedang apa?" Abdar datang sambil bertanya, berjalan beriringan bersama Abizar.


"Nyariin kami ya?" bukannya menjawab Maryam malah balik bertanya.


"Iya, tadi kakak ke depan nyariin kalian tapi nggak ada. Untungnya ada bibi yang ngasih tau," cerita Abdar.


"Ada apa? Kamu habis nangis," Abdar memicing melihat sisa air mata di bulu mata lentiknya.


"Ah, nggak apa-apa kok." Elak Maryam sembari menggeleng dan mengusap kedua matanya.


Abdar membiarkannya ia tahu, jika adiknya itu sedang berbohong. Sementara Abizar juga menatap lekat pada Maryam. Tidak jauh berbeda dengan Abdar, ia juga berpikir demikian.


"Intan ... sini sayang." Demi mengurangi kecanggungan, Maryam memilih memanggil putri semata wayangnya dengan panggilan lembut dan lambaian tangan.


"Iya, ma." Jawab Intan sambil berlari kecil.


"Kita kedepan, antar tante Imah sama pak Ustadz. Mereka mau pulang." Merangkul bahu Intan sayang.


"Ayo." Anggung intan sedikit menarik pinggang Maryam agar berjalan seirama.


Mereka pun berjalan menuju teras depan, selesai sudah pertemuan hari ini. Tapi sebelum berpisah Rahimah menyampaikan undangannya tentang acar tujuh puluh hari Pak Rahman yang akan dilaksanakan besok siang, ba'da Dzuhur.


...*****************...


.


"Emm, Imah, ...," panggil Abizar ketika mereka sudah sampai di depan rumah Rahimah.


"Ya, mas Abi?"


"Apa yang terjadi tadi? Mas liat, sepertinya tadi Maryam memang menangis?" tanya Abizar ragu.


Walau Abizar tahu tidak ada hubungan diantara mereka untuk mengharuskan ia mengetahui masalahnya, tapi entah kenapa ia sedikit terusir jika tidak mengetahui kebenarannya.


Rahimah tersenyum samar. Ini adalah kali pertama ia melihat sifat Abizar yang kepo pada masalah orang, apa lagi dia seorang wanita.


"Tidak apa-apa, mas. Tadi Maryam sedikit cerita tentang alm. suaminya, makanya jadi sedih."


"Hah, jadi Maryam itu janda?" Abizar tersentak kecil sembari bertanya.


"Loh, jadi mas Abi belum tau?" balasnya bertanya yang dijawab Abizar dengan gelengan kecil.


"Aku pikir suaminya kerja, makanya nggak pernah liat," aku Abizar jujur.


"Kalau nggak salah nggak beda jauh sama Bapakku, mas. Biasanya ia melakukan tahlilan di panti asuhan katanya. Soalnya kebanyakan warga di sekitarnya orang kristen 'kan?"


Hening setelah mendengar penjelasan Rahimah.


"Mas?" panggilan Rahimah membuyarkan lamunan singkat Abizar yang entah apa itu.


"Hah, oh ... aku balik dulu. Assalamualaikum."


Setelah Abizar pergi Rahimah bergegas masuk dan langsung menutup pintunya.


...*******************...


.


Semua tamu sudah memenuhi isi rumah Rahimah, yang kebanyakan dari mereka hanya ibu-ibu karena sebagian lelaki tidak datang. Mungkin sedang bekerja.


Kali ini Abizar pun hadir, yang berbeda adalah orang tua dari Ustadz muda itu yang tidak hadir.


Banyak dari ibu-ibu yang menanyainya tentang kapan acara pernikahan ulangnya, karena memang belum ada yang tahu kecuali orang terdekatnya.


Sulit untuk Rahimah menjelaskan yang sebenarnya, apalagi ia tidak punya alasan. Abizar pun dicerca pertanyaan dari bapak-bapak yang hadir.


Ia juga menduga, jika Rahimah pastilah mendapat hal yang sama.


Setelah acara selesai dan makan pun usai, Abizar meminta sedikit waktu semua orang yang hadir.


Dengan sedikit berbasa-basi ia kemudian membuka topik utama yang hendak disampaikannya.


"Saya hanya ingin mengkonfirmasi tentang apa yang bapak-bapak dan ibu-ibu tanyakan terkait masalah pernikahan saya dan Rahimah." Ucapnya sambil mengedarkan pandang keseluruh tamu yang hadir.


"Kami sudah sepakat, jika tidak ada acara pernikahan ulang ...," ucapnya menjeda.


Seketika ruangan menjadi gaduh oleh bisik-bisik orang yang mendengar pernyataan Abizar.


Rahimah pun menjadi gamang saat di beritahu jika Abizar di lantai bawah mengumumkan batalnya pernikahan Mereka, ia sama sekali tidak menduga.


"Bukan karena ada masalah, bukan. Hanya saja ternyata saya yang belum siap untuk menikah. Kemarin saat saya tertembak, membuat saya bisa berpikir ulang untuk menikah dan ternyata memang ada yang saya lewatkan dalam hidup saya," sengaja Abizar memburukkan diri tidak ingin Rahimah menjadi bahan gunjingan.


Abizar sudah memprediksi jika ia yang membatalkan pernikahan pasti akan timbul dugaan-dugaan buruk untuk Rahimah. Begitu juga sebaliknya.


"Saya lupa, jika saya pernah bernazar ... dan nazar saya adalah, sebelum menikah saya ingin umroh. Mungkin kemarin sedikit teguran dari Allah karena saya sudah melupakan hal itu," kata Abizar sedikit berdusta.


"Maaf pak Ustadz, bukankah anda bisa pergi saja dulu untuk umroh? Baru setelah datang melanjutkan acara nikahan Kemarin? Lalu kenapa tadi anda bilang, tidak akan ada acara ulang pernikahan?" rentetan pertanyaan dari salah satu warga mewakili isi pemikiran orang-orang yang mendengar perkataan Abizar tadi.


Abizar tersenyum, ia sudah mengira-ngira pasti akan ada yang tidak puas bila ia menjelaskan demikian.


"Masalahnya nazar saya itu tepat di bulan haji. Jika saya menunda terlalu lama, kasian Rahimah yang menunggu. Jadi di sini saya membatalkan pernikahan Kami, saya membebaskan Rahimah untuk menerima lamaran lain jika ia ingin menikah dalam waktu dekat ini."


Semua orang mengangguk sambil berbisik, tidak ada yang membantah atas yang dikatakan Abizar, karena berkaitan dengan nazar.


"Saya juga sudah meminta maaf kepada Ustadzah Habibah sebagai wakil dari keluarga Rahimah yang menerima lamaran Saya."


"Dan dikesempatan kali ini, saya juga ingin meminta maaf kepada kalian semua atas masalah yang saya perbuat secara tidak sengaja," sambung Abizar lagi.


"Iya, kami bisa memakluminya pak Ustadz," sahut salah satu pria.


Di lantai atas Rahimah meneteskan air mata tak kuasa membendung rasa bersalah nya atas apa yang dilakukan Abizar saat ini.


Ia merasa semua itu harusnya adalah tanggung jawabnya, tapi diambil alih oleh mantan calon suaminya.


"Pak Ustadz." Semua orang menoleh ke asal suara termasuk orang yang dipanggil oleh seseorang.


"Ada apa mas Abdar?" Orang itu tidak lain iyalah Abdar.


"Kalau begitu, apa saya juga boleh maju untuk melamar Rahimah?" pertanyaan lantang dari Abdar pun sampai kepada Rahimah.


Rahimah terpaku, tidak bisa berkata apa-apa. Genggaman tangan Maryam menyadarkannya. Tanpa aba-aba Maryam langsung memeluknya disaksikan trio wewek dan Ustadzah Habibah.


Walau belum tahu apa jawaban Rahimah tentang lamaran sang kakak, tapi Maryam sudah begitu bahagia saat mendengar jika Kakaknya berbuat demikian.


Kini semua mata tertuju pada Abdar, baru saja mereka mendengar batalnya pernikahan tapi disaat bersamaan sda yang datang mengutarakan niat untuk melamar.


"Jika mas Abdar serius ingin melamar Rahimah, maka saya pun memberi izin. Tapi untuk diterima atau tidaknya itu tetap meminta pendapat kepada orang yang bersangkutan," ujar Abizar bijak.


"Dan jangan lupakan Rahman." Tunjuk Abizar kepada anak kecil di samping Abdar.


Abizar jelas ingat apa yang Rahimah katakan tentang Abdar yang seminggu lalu melamarnya setelah tahu batalnya pernikahan mereka.


Sekarang yang awalnya diadakan kumpul bersama untuk acara tujuh puluh hari meninggalnya pak Ramlan berubah dengan acara lamar melamar.


Semua orang pun seketika bersemangat untuk mendengar jawaban dari Rahimah, dengan sengaja mengurungkan niat untuk pulang.


""Bagaimana Rahman, setuju tidak mamanya menikah dengan om ini. Anggap saja meneruskan pernikahan yang kemarin!"


Rahman lekas mengangguk dan tersenyum pada sang Ayah, yang lantas Merangkul nya sayang.


Kini giliran menuntun Rahimah agar segera memberi jawaban. Rahimah masih shok dengan lamaran yang tiba-tiba, ingin sekali ia memaki laki-laki yang membuat ulah.


Ditengah kegundahannya dan rasa tidak percaya ia malah disudutkan dengan pertanyaan 'diterima atau tidak?'


Melihat semua orang tengah menatapnya menunggu jawaban, ingin sekali rasanya ia lari dan bersembunyi di lubang semut terkecil.


Ustadzah Habibah dan trio wewek sudah mencoba menasehati mereka agar memberi waktu untuk berpikir, tapi sedikit orang melawan orang banyak yang hampir memenuhi rumah nya jelas saja tidak dapat berbuat apa-apa.


"Sudahlah, katakan saja pada orang-orang di bawah ... bahwa Rahimah tidak bisa memutuskan secepat itu," berulang kali kalimat itu terucap.


"Ayo-lah Imah, jawab sekarang saja! Kami kan jadi penasaran?" cetus salah satu tamu wanita tak mengidahkan Ustadzah Habibah.


Salah Abdar memang mengutarakan niatnya dihadapan para tamu, beginilah jadinya ... terlalu mengurusi masalah pribadi seseorang, hingga mereka tidak menyadari ketidak nyamanan orang tersebut.


Hukum alam memang, tidak sedikit orang yang juga seperti mereka. Semoga kita tidak termasuk diantaranya πŸ€²πŸ™ˆ.


Ingin mengatakan tidak menerima, tapi urung ketika mendapati wajah Maryam dengan penggarapannya.


Ingin mengatakan iya pun, Rahimah merasa terlalu gegabah walau ada sedikit rasa yang mulai bersemi tanpa diminta.


Dengan segala tekanan dan ingin segera mengakhiri perkumpulan yang tidak mau pulang ke rumah masing-masing. Rahimah pun menarik napas dalam, memastikan banwa pasokan udara di paru-parunya masih memenuhi rongga pernapasan.


"Iya, saya terima," jawabnya pasrah tapi terselip lega


Ustadzah Habibah dan trio wewek hanya bisa menarik napas pasrah, meyakini bahwa ini suatu keputusan yang memang sudah direncanakan Tuhan.


Abdar bersorak senang di dalam hati, tadi ia hanya iseng-iseng saja guna mengalihkan pertanyaan para tamu untuk tidak lagi mencecar Abizar.


Tidak disangka malah membuatnya untung besar.


Belum usai rasa mendadak ini, mereka kembali dibuat terkesiap dan sulit percaya atas pertanyaan seorang pria.


"Bagaimana kalau nikahan sekarang saja, pak Ustadz? Nanti batal lagi, seperti kemarin?"


"Pak Ustadz kan bisa menikahkan mereka? Tidak masalah kan itu pak Ustadz?" timpal yang lain.


Abdar dan Rahimah tiba-tiba dibuat terkesiap dan mendadak gugup. Tidak sama sekali direncanakan semua ini.


BERSAMBUNG ....