Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 18



Setelah di periksa oleh dokter umun Rahman di anjurkan untuk rawat inap sampai esok hari untuk bertemu dengan dokter spesialis kulit, karena dokter spesialis kulit hanya bertugas di hari senin. Jadi Rahman akan inap sampai besok siang, sebenarnya Rahimah ingin membawa pulang Rahman saja setelah pemeriksaan umum, tapi Khadizah memaksanya untuk mengikuti saran dari dokter umum.


Dan ternyata kamar pun sudah di bayar oleh Wahyu sampai Rahman bertemu dengan dokter spesialis kulit hari esok, mereka mengatakan ini semua karena kesalahan Hawa jadi mereka ingin bertanggung jawab. Rahimah pun pasrah, sayang pikirnya kalau kamar sudah di bayar tapi tidak di tempati lagi pula hanya satu malam.


Khadizah pun ingin ikut menginap juga, tapi Rahimah mengancam jika mereka tidak pulang juga maka Ia dan Rahman lah yang akan pulang. Rahimah tidak ingin merepotkan Khadizah terlalu banyak, Khadizah bisa datang lagi besok pagi bersama Hawa. Setelah perdebatan kecil Khadizah dan Rahimah, akhirnya Khadizah setuju untuk pulang.


Rahman segera di pindahkan ke kamar rawat inap anak, di kamar tersebut menyediakan dua buah ranjang yang di batasi gorden. Salah satu ranjang sudah di isi oleh anak perempuan, Rahman yang masuk rumah sakit hampir tengah malam jadi mereka belum bertegur sapa, karena yang di sebelahnya hening seperti sudah tidur.



Pagi datang menggantikan sang malam, tapi hari belumlah terang. Dinginnya ruang rawat inap membangunkan penghuninya yang masih terlelap, tapi bukan karena kedinginan melainkan karena sebuah suara yang mengeluh kesakitan.


Mengerkapkan mata menyesuaikan pencahyaan, Rahimah yang hampir terjaga semalaman membuat matanya agak berat. Rahimah tersadar saat Ia mendengar Rintihan kecil Rahman di sampingnya karena Ia yang ikut tidur di ranjang pasein.


Dengan tubuhnya yang kurus tentu menjadikan mereka muat untuk tidur berdua.


"Aduh.. sakit.." Lirih hampir tidak terdengar jika Rahimah tidak berdampingan.


"Masyaallah. Kepala masih pusing gak? Apa ingin muntah?" Tanya Rahimah berbisik tidak ingin mengganggu pasien di sebelahnya. Rahman setelah lama perjalan dari rumah menuju rumah sakit kepalanya selalu terasa pusing, setelah pusing Ia pun ingin muntah.


"Enggak kok Ma.. cuman ini bentol-bentol di tangan Rahman jadi sakit." Balas Rahman juga dengan sangan pelan. Rahimah segera memperhatikan tangan Rahman yang memerah.


"Ini tangannya karena Rahman terus di garuk, seharusnya coba di tahan biar gak perih." Perlahan Ia mengusap lembut tangan Rahman dengan salep. Mereka tetap berbicara pelan.


"Iya gak Rahman garuk lagi."


"Makanya nanti kalau mau makan harus lebih hati-hati, jangan sampai kejadian kaya gini lagi."


"Maafin Rahman ya Ma, Rahman jadi bikin Mama repot." Ucap Rahman sendu.


Menghela nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Rahman gak repotin Mama kok, cuman Mama jadi kasian sama Rahman yang harus sakit kaya gini." Tunjuknya ke bagian-bagian tubuh Rahman yang ruam dan bentol-bentol.


"Rahman janji gak sembarang makan lagi."


"Bukan begitu maksud Mama, lagian Rahman juga di kasih sama Mbak Hawa kan? Pasti Rahman gak tau kalau itu ada udangnya. Tapi lain kali kalau mau makan apa-apa sebaiknya tanya dulu apa aja yang ada di makanannya." Dengan cepat Rahman mengangguk.


"Iya Ma.. nanti Rahman pasti akan hati-hati."


"Heem anak pintar." Puji Rahimah mengusap kepala Rahman pelan.


Samar terdengar seruan Adzan dari Mushola rumah sakit, Rahimah pun melirik jam di Hp-nya yang memang menunjukkan waktu Sholat telah tiba.


"Mama mau Sholat dulu."


"Apa Rahman mau Sholat juga?" Tanya Rahimah yang di angguki Rahman.


"Tapi gak apa-apakan kalau Mama tinggal ke Mushola Rahman Sholat sendiri?"


"Iya gak apa-apa. Rahman bisa sendiri kok."


"Ya sudah, Mama pergi dulu ke Mushola. Rahman tayamum dan Sholat aja di sini. Tapi nanti Mama agak lama yah." Rahman pun mengiyakan.


Ia mengerjakan Sholat sambil duduk.


Rahimah pergi meninggalkan Rahman sendirian tak lupa Ia membawa tas dan Hp nya, nanti Ia sekalian ingin mehubungi Khadizah.


...****************...


Maryam yang mendengar suara orang berbisik-bisik di balik gorden samping ranjang yang Ia dan Intan tempati tapi tidak terlalu jelas, terbangun oleh karenanya.


Ia mendengar pintu yang terbuka lalu tertutup kembali. Kemudian Ia mendengar suara seseorang yang seperti membaca Do'a di balik pembatas itu, tidak lama Ia mendengar suara Adzan. Tidak nyaring tapi cukup terdengar dengan nada lembut.


Segera Ia bangun dari pembaringannya dan turun dari ranjang, Ia tergerak ingin tau siapakah gerangan yang mengumandangkan Adzan. Tangannya terulur menyingkap gorden sedikit sambil mengintip Ia tersenyum melihat anak kecil kisaran delapan tahun keatas di atas ranjang melantunkan Adzan.


Berjalan mendekati Cristian yang tidur.


"Kak Tian, Kak, Kakak.." Maryam menggoyang-goyangkan lengan Cristian yang sedang tidur di kursi dengan fosisi duduk.


"Heemm." Gumamnya terbangun dengan mata yang masih menyipit kerena cahaya lampu.


"Aawww, badan Kakak jadi terasa sakit." Cristian berujar sembari mengangkat kedua tangannya keatas menegapkan posisi duduknya. Merenggangkan otot tangan dan pinggangnya.


"Sutttt jangan berisik, Intan lagi tidur. Di sebelah juga ada yang Sholat." Kata Maryam meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Jelaslah badan Kakak jadi sakit, kan tidurnya sambil duduk." Sambungnya lagi.


Cristian mengenggerakkan badannya kekiri dan kanan seperempat putaran menimbulkan bunyi dari pinggangnya.


"Krek, krek." Maryam menggelang melihat Kakaknya yang sudah dari awal Ia menyuruh untuk pulang tapi tidak mau dan akhirnya kesakitan karena tidurnya.


"Ya sudah Aku mau Sholat dulu di Mushola, titip Intan ya." Maryam pun kelur kamar setelah mendapat jawaban iya dari Cristian.


Sebelum Cristian beranjak dari duduknya menuju kamar mandi yang ada di ujung samping tempat Ia duduk. Ia sempat melirik gorden di depannya. Kemudin berlalu masuk ke kamar mandi.


Lumayan lama Ia di kamar mandi hingga Ia keluar dalam keadaan segar. Kelur kamar mandi Cristian menajamkan telinga, saat ada yang membaca salah satu Surat.


Tidak jauh berbada dengan Maryam tadi Ia juga merasa penasaran dengan orang yang berada di balik gorden. Mengitari ranjang Intan perlahan Ia pun mengintip persis dengan Maryam sebelumnya.


Terlihat seorang anak kecil duduk di atas pembaringannya sambil menanaikan kedua tangannya dan membaca Do'a.


اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Hatinya bergetar melihat seorang anak kecil yang sedang sakit tapi tetap mengerjakan Sholat, infus di samping ranjang pun ikut bergerak-gerak seirama dengan gerakan tangannya saat melakukan takbir.


Cristian menatap lekat pada anak itu sampai Ia tersadar dengan suara di belakang punggungnya.


"Om Tian ngapain?" Seketika Ia tersentak kaget saat Intan memanggilnya, Ia bahkan reflek mengusap dadanya saking kagetnya.


"Astaga Intan, bisa gak kamu jangan bikin Om kaget." Ujarnya berbisik mendekati Intan.


"Emangnya Om Tian lagi ngapai di situ?" Tunjungnya ke arah gorden juga sambil berbisik.


"Enggak ngapain-ngapain." Elaknya menggeleng sambil berjalan kearah kursi tapi tidak berbisik lagi.


Intan juga menatap gorden yang mengeluarkan suara di baliknya. Ia tau kalau itu suara orang yang sedang Sholat.


"Mama Sholat ya Om?" Intan ikut tidak berbisik lagi dan yakin kalau Mamanya pasti juga Sholat.


"Hemm." Balas Cristian sambil duduk.


"Om Tian kenapa gak Sholat?"


"Hah." Cristian gelabakan mencari jawaban untuk pertanyaan Intan.


"Eemmm kan Om lagi jagain Intan? Jadi nanti gantian sama Mama nya Intan." Elaknya yang di terima keponakannya itu.


"Kenapa intan bangun?"


"Intan haus Om." Lekas Cristian membantu Intan untuk duduk dan menyodorkan gelas di depan mulutnya.


Meneguk air di dalam gelas sampai habis setengahnya, dan menarik diri.


"Mau apa lagi?" Dengan telaten Ia merawat sang keponakan.


"Mau pipis." Cristian terbelalak mendengar Intan ingin BAK.


"Ya sudah sini Om gendong, tapi Intan bisa cebok sendirikan?" Ujarnya memastikan.


"Iya bisa-bisa." Balasnya cepat.


"Angkat botol infusnya tinggi-tinggi, dan rendahkan tangan Intan yang terpasang selang infus ke bawah." Crisian menyerahkan botol infus sambil memberi arahan.


"Om akan tunggu di depan, kalau Intan sudah selesai segera panggil Om Tian."


"Iya Om." Cristian keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya tapi membiarkan tidak tertutup rapat memberi sedikit celah agar Ia mudah mendengar keponakannya jika memanggil dirinya.


...****************...


Di sisa-sisa terakhirnya Sholat Rahman mendengar percakapan dan Ia tetap fokus dengan bacaannya. Saat telah selesai dari Sholatnya kembali merebahkan diri, Ia mendengar suara laki-laki dewasa dan anak perempuan di balik dinding gorden sedang berbicara.


"Angkat botol infusnya tinggi-tinggi, dan rendahkan tangan Intan yang terpasang selang infus ke bawah." Suaranya sangat jelas karena kesunyian di dalam kamar itu membuat suara lebih timbul.


Hening.. tidak ada lagi suara yang Rahman dengar, tapi kembali Ia mendengar teriakan dari dalam kamar mandi.


"Om Tian.. Intan sudah selesai." Rahman reflek menoleh ke arah gorgen yang terbentang saat suara teriakan itu melingging.


"Asataga Intan, kenapa pakai acara teriak-teriak segala? Cukup panggil pelan saja Om juga bisa dengar." Protes lelaki dewasa tanpa sadar dia juga ikut teriak.


"Hehehe Intan pikir pintunya di kunci, kalau Intan panggil pelan nanti Om Tian gak dengar. Jadi intan teriak deh." Suaranya mendekat kesamping Rahman di balik dinding gorden.


"Sengaja tadi Om gak kunci dan sedikit renggang biar dengar kalau Intan panggil, tapi kamunya malah teriak-teriak."


"Kan Om gak bilang kalau pintunya gak di kunci, jadi mana Intan tau."


"Dasar.. pintar banget sih ngelaknya."


"Aww sakit tau Om Tian hidungnya Intan."


"Siapa suruh, kamu ngelak kalau Om lagi kasih tau."


"Loh.. tapi beneran kok. Tadikan Om gak bilang-bilang sama Intan."


Rahman menikmati suara perdebatan kecil itu, rasa bosan karena sendirian sedikit berkurang. Perdepantan itu pun terus berlangsung.


"Ya sudah.. Om ngalah."


"Ihh, ngalah apanya. Orang Intan ngomong apa adanya kok. Tadi itu Om gak bilang kalau pintu gak di kunci."


"Iya kalau gitu Om yang ngaku, Om Tian yang salah karena lupa ngasih tau pintunya gak di kunci."


"Nah gitu dong.. kan emang Om Tian yang salah."


"Kamu ini yah, kenapa bisa mirip Mama sih cerewetnya?"


"Ya iyalah Intan mirip Mama kan Intan anaknya."


"Udah bisa cerewet berarti udah sehat ini. Hebat juga ya Intan, sakitnya cuman sehari pas di infus langsung sembuh."


"Gak mau lama-lama disini ah, bau obat.."


"Emang Intan mau langsung pulang?"


"Iya dong, Intan udah enakan kok badannya."


"Ya nanti tanya dokternya dulu, boleh pulang apa engga."


"Iya deh."


"Ceklek." Suara pintu yang terbuka menghentikan suara itu.


Rahman turun menunggu siapa kira-kira yang datang.


"Intan sudah bangun yah?"


"Iya Ma, tadi kebangun gegara haus." Ternyata yang datang adalah Mama anak kecil itu.


"Ayo Om Tian Sholat dulu gih, tadi billangnya gantiankan sama Mama."


"Hah.. i, iya-iya. Kalau gitu Om pergi dulu."


"Selamat Sholat Kakak..." Rahman menangkap ada nada ejekan di dalam suara perempuan dewasa itu.


"Awass kamu." Suara itu pun menghilang dan berganti pintu yang terbuka lalu tertutup.


"Ohokk.. ohokk.." Tiba-tiba Rahman terbatuk membuat gorden itu tersingkap dengan cepat.


"Kakak kenapa?" Rahman menoleh kearah suara, Ia melihat gadis kecil yang juga menatapnya kemudian kembali menapakkan seorang wanita dewasa yang berhijab seperti Mama nya. Karena wanita itu juga ikut menyibak gordennya.


"Kenapa nak?" Ia tersadar dengan teguran wanita dewasa itu.


"Ohokk.. ohokk.." Rahman tidak bisa menjawab karena batuk kembali, Ia pun hendak mengambil gekas di nakas sampir ranjangnya tapi wanita dewasa itu segera menghampiri dan membantunya.


"Sini biar tante bantu." Rahman duduk di bantu wanita itu, Ia juga di ambilkan gelas minumnya.


"Makasih tante." Ucap Rahman usai minum, kembali wanita itu membantu meletakkan kelas ke atas nakas.


"Iya sama-sama." Wanita itu kembali duduk di ranjang anaknya.


"Kakak sakit apa?" Kembali Rahman menoleh, diam sejenak sebelum menjawab.


"Alergi." Sahutnya pendek.


"Ehh, Mama.. Mama.. lihat deh Kakak itu kaya mirim Om Tian yah." Kini Rahman menjadi perhatian penuh dari kedua wanita yang berbeda usia itu.


"Iya ya, tapi lebih mirip kalau dari samping." Rahman merasa tidak nyaman karena Ia yang di perhatikan tekat-tekat.


"He'eh.. lebih mirip dari samping tapi tetap keliatan mirip kok kalau di tialin lama-lama." Rahman jadi semakin salah tingkah.


"Iya juga sih." Rahman menggaruk tengguknya meski tidak gatal, Ia pun kembali merebahkan diri memunggungi Ibu dan Anak itu.


"Loh Kakak mau tidur lagi yah?" Rahman tetap diam.


"Sudah.. jangan ganggu Kakak nya, dia kan lagi sakit jadi harus banyak istrahat. Intan juga harus istrahat biar lekas sembuh." Rahman sedikit menoleh untuk mengintip dan gorden tertutup kembali tapi ocehan anak kecil itu masih terdengar.


"Iya Intan pengen lekas sembuh biar cepat keluar dari rumah sakit ini." Rahman memindah posisi miringnya ke arah gorden Ia memperhatikan gorgen itu dengan diam.


Rahman tersenyum kecil mendengar ocehan anak kecil yang dari tadi tidak henti-hentinya. Matanya semakin segar oleh karenanya.


"Ma.. nanti bilang sama dokter kalau Intan sudah sehat yah." Kembali gadis kecil itu bersuara.


"Iya nanti Mama bilangin."


"Minta juga sama dokternya kasih izin Intan buat pulang."


"Iya sayangnya Mama, masih sakit tapi tetap aja cerewet."


"Tadi Om Tian juga bilang gitu."


"Ayo sudah, jangan berisik.. nanti Kakak di samping gak bisa istrahat loh."


"Hehehe ok deh."


BERSAMBUNG...


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏


Tinggalkan jejek, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊


Salam sayang ....


Noormy Aliansyah 😘😘