Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 66 Perdebatan Kakak dan Adik



"Gimana sama perkembangan Shandy?" tanya Maryam. Mereka sedang di perjalanan menuju sekolah Intan.


"Aku dengar, tadi malam kakak dapat telepon dari kantor polisi?"


"Mereka mengabarkan, jika Shandy tidak jadi di pulangkan ke Indonesia. Karena dia mengajukan diri untuk membantu menangkap Jack, dan kepolisian WNI bekerja sama dengan kepolisian Malaysia."


"Jika dalam seminggu ini, Jack belum ditanggap ... maka Shandy akan langsung dikembalikan ke tanah air."


"Jack akan dikenakan pasal berlapis, tentang penyalah gunakan nark**a pasal 127 ayat 3, pengedar nark**a pasal 111 sampai 126 UU Nark***ka, pasal KUHP 336 tentang pembunuhan, pasal KUHP 354 tentang penganiayaan berat, dan pasal 59 ayat (2) huruf h Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak (penculikan)."


"Berbeda dengan Shandy yang hanya dikenakan pasal 111 sampai 126 UU Nark***ka dan penculikan," papar Abdar panjang lebar.


Sebelumnya Maryam sudah diberi tahu, jika yang menculik Intan dan Rahman adalah Shandy. Jelas saja awalnya Maryam sangat terkejut, karena ia juga mengenal baik siapa Shandy.


"Semoga saja cepat tertangkap," do'a Maryam.


"Aamiin," balas Abdar.


Tidak lama mobil pun sampai di parkiran sekolah, Maryam turun dari mobil di susul oleh Abdar.


Mereka berdua jalan beriringan menghampiri gerbang sekolah. Sepuluh menit menunggu akhirnya Intan muncul dari balik pagar besi itu.


Abdar sekilas melihat Rahman yang berjalan di depan kelas, ingin sebenarnya ia berbicara dengan anak itu.


"Ayo, om," seru Intan.


"Hah. Ayo," sempat tersentak kecil ketika fokusnya masih kepada Rahman.


Usai menjemput Intan, Maryam dan Abdar langsung menuju rumah Rahimah.


Ditenga-tengah perjalanan mereka kembali saling berbicara.


"Kamu masih ingat rumahnya?" tanya Abdar memastikan.


"Biarpun aku cuman sekali ke rumah mbak Imah, kakak pikir aku pikun apa? Orang aku sering kerumah Ustadzah Habibah dan melewati rumah mbak Imah, ya jelaslah aku masih ingat!" padahal pertanyaannya cukup singkat tapi malah dijawab panjang lebar oleh Maryam.


Ya, Maryam pernah ke rumah Rahimah sewaktu Intan dan Rahman di culik.


"Siapa tahu kamu udah pikun, kakak hanya memastikannya saja," jawab Abdar menanggapi.


"Enak aja, ngatain aku pikun. Kakak tuh, yang udah tua ... jadinya pikun." ucap Maryam sambil cemberut.


"Sorry ya, kakak gak tua. Kakak ini masih muda, baybay pikun," tidak terima dengan apa yang dikatakan Maryam.


"Idihh .... Siapa bilang kakak masih muda, harusnya kakak itu nyadar ... kalau kakak udah nikah, pasti anaknya udah dua ... jadi udah gak muda lagi," balas Maryam dengan pasti.


"Kakak-lah barusan bilang," jawabnya santai.


"Kepedean, inget umur ... udah kepala tiga lebih. Ma---,"


"Bisa gak mama sama om gak usah berantem? Pusing aku dengarnya," celetuk Intan menengahi perdebatan kakak beradik itu.


Maryam melirik kaca yang menggantung di atas kepalanya guna melihat Intan yang duduk di kursi belakang.


"Iya-iya, Om kamu tu yang mulai duluan," menyalahkan Abdar.


" Loh, kenapa kakak yang di salahkan? Kakak 'kan tadi cuman tanya ... kamu masih ingat gak rumah nya?" tidak mau disalahkan.


"Yany itu pake ditanyain segala, jelaslah aku masih ingat."


"... ' kan lebih bagus ditanyakan dulu, daripada, malu bertanya seset di jalan."


"Emang aku pendatang, aku asli pribumi kale ...."


"Kan kakak cu---."


"Tu'kan, ribut lagi?"


Seketika keduanya terdiam dengan kalimat yang menggantung.


(Haha, jadi inget sama abang ... kami sering banget berantem, terus dalam hitungan jam ... baikan lagi deh 😅. Masa kecil penuh kenangan perkelahian🤣🤣. Adakah yang sama seperti saya?)


"Mama putar lagu aja ya?" tawar Maryam ketika hening beberapa detik. Tangan segera menghidupkan musik.


...🎶🎶🎶...


Beranilah kita semua bermimpi


Sekarang saatnya kau menjalani


Kejar, kejar semua


Tanpa berhenti


Percayalah selalu pada diri sendiri


Gagal hal yang biasa


Jangan berhenti


Kau akan tahu kemana bahagia membawamu


Kita bisa menari di atas pelangi


Kita bisa mendaki gunung yang tertinggi


Satu yang pasti


Beranilah bermimpi


Dan kamu akan tahu nanti


Saat cita-cita kau genggam pasti


Tak usah dengar mereka yang berkata


Meragukan semua yang kamu bisa


...~Berani Bermimpi/Naura~...


Diiringi musik tanpa sadar mereka sudah dekat dengan rumah Rahimah. "Itu rumahnya," tunjuk Abdar.


Mengurangi kecepatan laju mobilnya, Maryam pun menarik tuas rem dengan perlahan hingga mobil berhenti tepat di depan rumah Rahimah.


"Tinn, tin ...," Maryam membunyikan klakson mobil.


Mereka menutup pintu mobil bertepatan dengan pintu rumah Rahimah yang terbuka.


"Assalamualaikum, mbak," sapa Maryam lebih dulu saat sudah berhadapan.


.


...****************...


.


Selepas dari pasar Rahimah menyimpan belanjaannya di dapur, tidak lupa juga ia memisahkan celana untuk Rahman dan meletakkannya dalam kamar sang putra.


Rahimah mulai mengerjakan pekerjaan rumah guna mengisi waktu, ia menyapu lantai dan mengepel. Ia juga melipat baju yang sudah kering, kemudian memilih beristirahat sebentar sebelum Maryam datang siang ini.


Baru beberapa menit ia beristirahat, bunyi dari klakson mobil membuat ia tersadar dari rasa kantuknya akibat kelelahan.


Bergegas turut utuk menyambut tamu yang sudah ia tebak siapa orangnya. Ketika pintu dibuka, Rahimah nampak kaget karena tidak menyangka jika Abdar ikut bersama dengan Maryam dan Intan.


"Wa-Wa'alaikumussalam," sahut Rahimah gugup.


"Mari silahkan, masuk," ucapnya mempersilahkan Maryam.


"Kita keatas aja ya?" ajaknya yang diangguki Maryam dan Intan.


Memimpin jalan di depan, Abdar memperhatikannya dari belakang Maryam. Perlahan menapak satu persatu anak tangga berkeramik putih hingga sampai pada puncaknya. "Silahkan duduk. Mbak buatkan minum dulu," ujar Rahimah berbalik.


"Gak usah repot-repot, mbak," tolak Maryam halus.


"Gak repot, kok. Mbak malah senang, bentar ya," sedikit berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.


Abdar tetap memperhatikan punggung Rahimah yang terus menjauh dan meninggalkan mereka diruang tamu.


Ada sesuatu yang di pikirkan Abdar saat ini, ia sedang perang batin.


Melihat dan memperhatikan keadaan rumah Intan sangat bersemangat. "Wah, ada piala sama piagam taekwondo ... pantes kak Rahman waktu di sekap sama penculik bisa menghajar mereka, terus kita bisa kabur deh," Intan mengingat kejadian saat ia diculik sambil menatap kagum piala.


"Iya ya, mama baru liat." Berjalan mendekati lemari dinding.


Atensi Abdar mengikuti arah pandang Intan dan Maryam. Ia pernah kerumah ini dua kali, tapi sama seperti Maryam ia juga baru menyadarinya.


Pertama saat ia terluka di telapak tangan, tapi ia langsung dibawa ke kamar mandi dan duduk di meja makan. Kedua ketika mereka membahas tentang penculikan Rahman, tapi fokusnya kepada Abizar.


Dapat mereka lihat berjejer rapi piala dan piagam dari berbagai kejuaraan taekwondo dan cerdas cermat.


Sibuk mengagumi isi dari lemari dinding itu sampai-sampai mereka tidak menyadari Rahimah yang datang dengan napan ditangan nya.


"Silahkan minum." Meletakkan tiga gelas berisi sirup berserta kudapannya.


"Wah, kami jadi merepotkan mbak, Imah." Ucap Maryam sungkan.


"Jangan sungkan-sungkan, silahkan diminum. Mbak tinggal sebentar ya? Mau ambil alat ukur dulu." Yang langsung diiyakan Maryam.


Rahimah sama sekali tidak melirik Abdar, dari tadi ia hanya melihat Maryam dan Intan. Mereka pun meminum minuman yang sudah disediakan, hingga tidak lama kemudian Rahimah datang kembali. Kali ini ia membawa buku, pena dan meteran yang terbuat dari plastik untuk mengukur badan.


"Kamu mau kain apa, buat bajunya?" tanya Rahimah to the points saat duduk di samping Maryam.


"Pakai celana, asyik kayanya."


"Yang bagus kain apa, mbak?"


"Kain Rayon viscose, Katun, katun Jepang, cotton combed, linen, dan Cahsmere. Itu juga cocok," menyebutkan nama-nama kain.


"Apa bedanya?" Maryam sedikit bingung. Selama ini ia hanya asal beli, jika ia merasa nyaman, maka akan langsung dibeli tanpa tahu apa saja keuntungan kain itu.


"Kain Rayon viscose, dikenal sebagai sutra buatan dalam industri tekstil. Karakter kainnya yang sangat halus dan gak mudah kusut."


"Kalau kain Katun, itu termasuk jenis kain yang paling tinggi peminatnya. Kain yang terbuat dari serat kapas ringan yang kuat, daya serapnya sangat bagus dan nyaman di kulit. Kain ini cocok dijadikan atasan, dress panjang, hingga celana formal."


"Kain katun jepang juga cocok untuk bahan gamis dan blus. Bahan bakunya adalah seratus persen serat kapas halus, sehingga kualitasnya lebih baik dibanding katun biasa dan jenis katun lainnya, daya serap katun jepang lebih baik dan tekstur lembutnya sangat nyaman di kulit."


"Kain cotton combed sangat nyaman dan lembut saat dipakai. Daya serapnya juga sangat baik, nyaman untuk segala kondisi cuaca meski dipakai cukup lama."


"Kain cotton combed pada dasarnya dibuat seperti katun biasa. Namun pada tahap akhir dilakukan penyisiran (combed) pada serat kainnya, sehingga lebih halus dan gak nampak berbulu."


"Kain linen, teksturnya lembut dan halus, serta memberi rasa sejuk saat menyentuh kulit. Daya serapnya pun terbilang baik, gak mudah kotor kecuali terkena noda berat."


"Kain linen memiliki serat halus yang nampak jelas jika dilihat dari jarak dekat. Kain ini identik dengan warna-warna pucat, tinggal dipadupadan dengan outfit lain berwarna bold hanya saja mudah kusut."


"Daya serap kain cashmere sangat baik. Tekstur halus dan lembutnya pun nyaman di kulit. Cahsmere biasanya digunakan sebagai bahan rok, gamis, blus dan pasmina."


Dengan kesabaran Rahimah menjelaskan. Setelah mendengar semua itu Maryam pun memilih. "Katun jepang aja deh."


Rahimah segera menulisnya di note. "Oke. Warnanya?"


"Warnanya?" beo Maryam, satu tangannya terangkat memegang dagu dan tangan yang lain bersedekap guna menyangga siku tangannya sembari matanya bergerak-gerak seolah berpikir.


"Warna apa, ya?" ujarnya bermonolog.


"Ping aja ma," celetuk Intan memberi pendapat.


"Jangan ...," protes sang mama.


"Biru malam, coklat atau hijau lumut, juga bagus," saran Rahimah karena melihat Maryam yang sepertinya bingung untuk menentukannya.


"Kalau mbak, sukanya warna apa?" Tanya Maryam kembali.


"Eh, kok tanya mbak?"


"Soalnya aku bingung mbak."


"Yakin tanya mbak warnanya?"


"Iya ... yakin, gak apa-apa kok mbak."


"Hijau lumut," pilih Rahimah.


"Ya udah, hijau lumut aja mbak."


"Untuk tangannya, mau berkerah atau biasa aja?" kembali mengajukan pertanyaan.


"Berkerah," jawab Maryam cepat.


Rahimah pun menulis.


"Kita ukur dulu ya."


Maryam berdiri untuk di ukur tubuhnya. Mulai dari bagian atas hingga bagian bawah, depan dan belakang. Intan pun demikian, hingga tiba giliran Abdar.


"Mari pak, saya ukur," Abdar mengerutkan kening mendengar ia dipanggil pak.


"Jangan panggil Pak, panggil mas aja mbak," bukan Abdar yang bersuara, Maryam-lah yang menegurnya.


"Emm, mari mas," ulang Rahimah ragu yang dibalas Abdar dengan senyum tipis.


Berjalan mendekat, Abdar yang tadi melihat Rahimah mengurur Maryam dan Intan begitu dekat, iapun sudah tidak sabar guna memperhatikan wajah Rahimah secara langsung dihadapannya.


"Permisi," izin Rahimah mulai mengukur.


Rahimah berdiri di belakang Abdar, ia memilih mengukur bahu belakangnya terlebih dahulu. Setelah bahu, Rahimah mengukur tangan dengan tetap posisi di belakang.


Kemudian kedua tangan Rahimah terulur diantara lengan bawah dan pinggang Abdar guna melinggarkan meteran di pinggangnya.


Abdar sedikit kecewa karena tidak seperti Maryam dan dan Intan yang berhadapan.


Rahimah yang mengukurnya dari belakang dan mengaitkan meteran di tubuh Abdar, bisa merasakan kalau indra penciumannya dipenuhi oleh parfum Abdar.


"Sudah, selesai," ucap Rahimah mengakhiri pengukuran.


Abdar kembali duduk dengan perasaan dongkol.


"Kalau gitu kita pulang dulu mbak, Imah." Setelah minumannya habis Maryam pamit pergi


Dengan di antar Rahimah sampai depan rumah, mereka saling memberi salam. Abdar menoleh sekali lagi pada Rahimah sebelum akhirnya masuk kedalam pintu.


Mobil pun pergi meninggalkan halaman rumah Rahimah. Berbalik badan menutup pintu dan menguncinya, ia kembali naik ke lantai atas.


Baru saja kakinya menginjak lantai atas, bunyi bel terdengar. Rahimah mengerutkan kening, jika itu Rahman maka dia akan segera masuk karena ia juga punya anak kunci.


Dengan ragu Rahimah turut, ia sebenarnya masih marah terhadap putranya itu. "Ceklek," pintu di buka.


Rahimah terkesiap, ia terpaku di depan pintu, memandang seorang pria di depannya dengan perasaan tidak menentu.


Rahimah menengok ke belakang tamunya, ternyata tidak ada siapa-siapa. Mobil pun tidak ada, dia hanya sendiri. Mau apa dia? pikirnya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam. Ada apa?" tanya Rahimah berlaku sopan.


"Apa begini caramu menerima tamu?" balasnya.


"Beberapa menit yang lalu anda memang tamu saya, tapi sekarang ... anda mau apa?" tanya Rahimah formal tetap sopan.


"Tadi aku tamumu, sekarang pun begitu. Ada yang ingin ku tanyakan, ini penting. Aku tidak ingin membicarakannya di depan Maryam dan Intan tadi," ujar Abdar santai.


Ya, orang itu adalah Abdar. Dengan sengaja dia minta di turunkan di pinggir jalan dengan alasan akan ada urusan dengan temannya di sekitar sini.


"Apa yang ingin anda tanyakan? Seingat saya kita tidak sedekat itu, untuk saling mempunya pertanyaan penting," tolak Rahimah halus.


"Biarkan aku masuk dulu." Rahimah segera menepi ketika Abdar menerobos masuk melewatinya.


"Sebenarnya, anda mau apa?" masih berdiri di depan pintu menatap bingung pria yang tetap berjalan menuju kursi di dekat tangga.


"Sudah ku katakan, ada yang ingin ku tanyakan," kata Abdar santai.


Satu helaan nafas lolos dari bibir ranum Rahimah, mengalah ia pun mendekat.


"Katakanlah?" perintah Rahimah tetap berdiri dengan memberi jarak.


"Tidak sopan, sebaiknya kamu duduk dulu. Karena ini pertanyaan serius."


Mengele nafas pasrah, Rahimah duduk tetap memberi jarak.


"Katakan?" tatap Rahimah kesal, karena bertele-tele.


Abdar tersenyum tipis, ia tidak pernah melihat Rahimah seperti itu.


"Apa kamu ingat denganku?" tanya Abdar ambigu.


Tidak langsung menjawab, Rahimah diam beberapa detik. "Tentu ... anda adalah kakak dari Maryam," jawab Rahimah pasti.


"Bukan itu maksud ku. Yang ku maksud ... apa kau masih ingat dengan laki-laki sepuluh tahun yang lalu?" Rahimah terlonjat kaget, ia tidak pernah menyangka mendapat pertanyaan seperti ini. Ia pikir Abdar tidak ingat padanya, mengingat Abdar yang selalu bersikap biasa saja selama ini kepadanya dan Rahman.


"Apa yang anda bicarakan? Sepertinya anda salah orang?" elaknya bersikap biasa-biasa saja menutupi kegugupannya.


"Jujur, awalnya aku tidak ingat dengan wajahmu setelah kejadian itu. Dan aku memutuskan untuk mencari informasi tentang dirimu sepuluh tahun yang lalu. Tapi aku telat, karena kalian keburu pindah dari rumah dan kota ini. Hanya iditintas dan fotomu yang aku dapatkan."


Rahimah tetap diam mendengarkan tanpa ada niat untuk menyela, di sudut hatinya ... ia sedikit tersentuh, karena pernah dicari. Tapi jikapun ia ditemukan, tetap saja tidak bisa menyembuhkan depresinya waktu itu.


Entah keberanian dari mana Abdar bisa berbicara seperti itu, sepertinya inilah yang sedang dipertimbangkannya dari tadi.


"Jadi ... apa sekarang kau mengingat aku? Laki-laki sepuluh tahun yang lalu?" ulang Abdar.


Rahimah diam, matanya nanar menatap Abdar. Ini adalah pertanyaan yang menohok, dan untuk kedua kalinya ia diingatkan tentang masalalunya.


Abdar berdiri dan mendekat, Rahimah tersentak kecil melihat tindakan Abdar yang kini berdiri di hadapannya.


"Ad-ada apa?" Rahimah gugup.


Rahimah kembali tersentak melihat Abdar yang tiba-tiba berjongkok dengan kedua lutut menjadi tumpuan.


"Aku berani bersumpah, bahwa kejadian sepuluh tahun yang lalu itu ... bukanlah disengaja. Waktu itu aku tidak sadar telah membuatmu terluka, dan sekarang aku bersyukur telah bertemu kembali denganmu untuk meminta maaf dan pengampunanmu secara langsung."


Tiba-tiba saja mata Rahimah memanas, cairan bening mulai menumpuk berdesakan hendak keluar membuat penglihatannya mengabur. Bayangan Abdar pun tidak terlihat.


"Jadi anda pelakunya?" keduanya terkejut mendengar suara dari arah pintu.


BERSAMBUNG ....


Semuanya saya ucapkan terimakasih banyak atas apresiasi kalian yang selalu setia mendukung saya, mau itu berupa like, komentar, gift dan kopi, ataupun vote. Karena itu semua begitu berharga bagi saya. Saya bukan apa-apa tanpa kalian para pembaca, salam sayang ....


Noormy_Aliansyah😘😘


...xxxxxxxxxxx...