
Rahimah terisak saat mendengar kabar bahwa Rahman tidak dapat di temukan. Harapan yang sempat hinggap seketika terenggut dan hilang tak berbekas.
Kecewa yang teramat dalam telah menguasai perasaannya saat ini. Entah ia tujukan kepada seseorang atau sang pemilik kehidupan. Yang pasti rasa sakit karena kehilangan Rahmah begitu besar ia rasakan.
Ingin ia mengamuk sama seperti yang dulu pernah ia lakukan saat ia kehilangan ibu tercinta.
Jika dulu ia mengamuk kehilangan ibunya karena ia yang masih anak-anak belum mengerti apa-apa, berbeda saat sang Ayah meninggal karena ada Rahman yang menguatkan hatinya.
Tapi sekarang, Rahman menghilang. Sejenak ia merasa begitu sendiri tidak ada keluarga lagi yang ia miliki. Untungnya ada Ustadzah Habibah yang selalu memeluk dan membisikan kata istighfar di telinganya. Begitu juga dengan teman-temannya.
Tersadar dengan tangisnya yang begitu berlebihan, ia takut jika akan benar-benar mengamuk nantinya. Ia pun segera mengikuti Ustadzah Habibah beristgfar.
"Astaghfirullah hal azim." Lirih sambil memeluk Ustadzah Habibah.
"Ini adalah ujian untuk menguatkan iman hambanya, seberapa kuat ia bertahan saat Allah SWT mengujinya."
"Astaghfirullah hal azim." ulangnya.
"Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri di saat dia di kuasai amarah. Bersabarlah saat menemui ujian itu," ucap Ustadzah Habibah.
Rahimah mengangguk lemah sambil terus beristgfar. Usai ia bisa menenangkan hati dan pikirannya, Rahimah menarik diri dari pelukan Ustadzah Habibah.
Trio wewek hanya bisa melihatnya dengan iba.
"Apa kamu mau ikut menjenguknya ke rumah sakit?" tanya Ustadzah Habibah.
"Iya bu, Imah ingin melihat keadaannya," jawab Rahimah lemah.
"Dinda ikut bu, biar bisa nemani Rahimah," sela Dinda.
"Aya juga, bu," Soraya ikut menimpali.
Ustadzah Habibah mengangguk. Sementara Nurul tetap tinggal menunggu mereka kembali ke rumah Ia tidak bisa ikut karena Nuri yang sedang flu.
Dinda duduk di belakang kemudi dengan Soraya di sampingnya, Rahimah dan Ustadzah Habibah duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Rahimah hanya diam, matanya terus melihat ke arah luar jendala dengan tatapan kosong walau Ustadzah Habibah menggenggam tangannya, ia bergeming.
Soraya dan Dinda sekekali Melirik nya dari kaca spion guna melihat keadaannya.
Tiba di rumah sakit Rahimah kembali merasa begitu sedih. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang tiba-tiba menumpuk di kelopak mata.
Menghela nafas dan menghembuskan nya secara perlahan, di rasa cukup mereka langsung masuk ke rumah sakit dan segera bertanya pada resepsionis.
Usai mengetahui kamar inap yang dimaksud mereka bergegas menuju kamar tersebut.
Melewati lorong rumah sakit, tak terasa mereka sampai pada sebuah kamar di ruangan bangsal VVIP.
"Tok ... tok ... tok ...."
"Assalamualaikum," Ustadzah Habibah mewakili yang lain.
Terdengar balasan salam dari dalam yang sepertinya tidak hanya satu orang yang menyahut.
...****************...
Maryam menangis haru dalam pelukan sang Kakak. Sekarang rasa bahagia begitu memenuhi lerung hatinya yang sempat terpuruk.
Di sana, di atas ranjang pasien tengah berbaring seorang anak perempuan yang amat ia rindukan beberapa terakhir ini.
Tidak henti-hentinya Maryam mengucap syukur atas kembalinya Intan dalam hidupnya.
Menatap wajah pucat Intan yang sedang di periksa oleh dokter, ia begitu sedih bercampur bahagia. Tidak hanya Maryam, Abdar dan Adit pun turut merasakan perasaannya saat ini.
...----------------...
Flashback on
"Elu kenapa?" Adit bertanya dengan kening berkerut melihat Abdar yang gelisah setelah mereka kembali ke dalam mobil usai pergi dari hutan.
"Entahlah, tiba-tiba gw ngerasa gelisah dan khawatir," aku Abdar jujur.
"Udah, sebaiknya lu istrahat dulu. Atau kalau lu mau, kita balik ke rumah aja?" tawar Adit ikut khawatir pada Abdar.
"Gak perlu, kita tunggu di mobil aja sampai besok pagi." Adit mengangguk pasrah.
Saat semua orang tertidur Abdar bahkan tidak bisa tidur, ia begitu gelisah dan seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Berusaha untuk memejamkan mata guna mengumpulkan tetangga, ia harus mencari kembali Intan dan Rahman.
Desa ini sudah di kepung oleh polisi dan para anak buahnya, jadi para penculik tidak akan bisa kabur semudah itu kecuali melewati penyelidikan dan atas seijin mereka.
Jadi kesempatan untuk menemukan para penculik masih ada.
Karena terlalu lelah dan lama terjaga akhirnya Abdar tertidur di kursi depan mobil dengan tempat duduknya yang di turunkan sejajar agar memudahkan ia berbaring dengan Adit di samping sama sepertinya.
"Om Dar," teriak Intan di dekat Abdar.
Seketika Abdar terlonjat kaget dan menatap Intan tajam.
"Bisa gak sih, jangan teriak-teriak?" kesal Abdar bersungut-sungut.
"Gak Bisa, Intan tuh lagi kesel sama om Dar," tolaknya mentah-mentah.
"Emang kesel kenapa? Harusnya om yang kesal sama kamu?" tidak terima dengan penyataan Intan. Karena menurutnya Intan-lah yang salah dan membuat kesal sudah berteriak kepadanya bukan dirinya.
"Om tuh yang bikin kesal," keukeunya.
"Ok, jelasin dulu. Di mana om bikin kesel kamu? Seingat Om nih ya, gak ada bikin kamu kesal ... yang ada kamu yang bikin om kesal."
Abdar memilih mengalah dan menunggu penjelasan Intan.
"Tadi malam buktinya, kenapa om Dar ninggalin Intan?" Abdar mengerutkan kening dalam.
"Tadi malam?" Abdar membeo yang masih bisa di dengar Intan.
"Iya, tadi malam. Kenapa om Dar ninggalin Intan? Harusnya om Dar itu ajakin Intan," ujar Intan dengan mimik wajah merajuk.
"Emang kamu di mana? Perasaan om gak liat kamu?" Abdar bingung sendiri.
"Intan tuh di bawah pohon yang gede, kenapa om Dar ninggalin Intan ...? Jadinya Intan 'kan kedinginan."
"Kamu kedinginan?" tanya Abdar khawatir.
Intan mengangguk lemah.
"Sini, biar om peluk." Melambaikan tangan pada Intan agar lebih dekat, tapi Intan menggeleng dan berjalan mundur.
"Kenapa menjauh? Katanya kedinginan? Sini." Kembali melambaikan tangan dan Intan semakin menjauh.
"Intan," panggil Abdar gusar melihat keponakannya semakin dan semakin menjauh.
"Intan. Inntaaan," teriaknya.
"Abdar .., Abdar, lu gak apa-apa?" samar Abdar mendengar suara Adit memanggil-mungilnya.
"Abdar ..!!"
Seketika Abdar terbangun, Ia terpaku kala menyadari bawa tadi ia sedang bermimpi dan mendapati dirinya yang di pegangi Adit.
"Elu gak apa-apa'kan?" tanya Adit.
"Tadi gw mimpi Intan lagi kedinginan," ujar Abdar termenung. Sedetik kemudian ia bangkit dan keluar dari mobil di susul Adit yang khawatir.
"Lu mimpi Intan?" tanya Adit yang langsung di jawab Abdar.
"Iya," balasnya.
"Elu mau kemana?"
Mengikuti Abdar yang berjalan tergesa.
Tanpa bertanya lagi Adit tetap mengekor di belakang Abdar. Hingga mereka tiba di tempat tadi malam mereka periksa.
Menyingkap semak-semak yang terdapat pohon besar hingga akhirnya mereka terkejut bersama.
"Intan ..!!" teriak mereka berbarengan.
"Periksa lagi tempat ini Dit, mungkin saja Rahman di sekitar Sini?" Ujar Abdar sambil menggendong Intan dan membawanya ke mobil.
Sesampainya di mobil ia meminta para polisi dan anak buahnya memeriksa tempat ia menemukan Intan.
Membaringkan tubuh keponakannya di kursi belakang dan menutup badan Intan dengan jaket miliknya.
"Intan?" Panggilnya sambil menggosok tangan Intan.
Cukup lama Abdar melakukan sebisanya hingga Adit dan para anak buahnya kembali.
"Gak ada tanda-tanda keberadaan Rahman," Adit melaporkan pencarian mereka.
"Trus?"
"Polisi yang akan melanjutkan pencarian. Bagaimana keadaan Intan?"
"Intan denam."
"Kalau gitu, kita bawa Intan kerumah sakit sekarang." Abdar mengangguk setuju.
Dengan sigap Adit duduk di belakang kemudi dan segera menjalankan mobil setelah ia meminta ijin kepada Candra dan Zidan.
Flashback off
...----------------...
"Bagaimana keadaan keponakan saya, dokter Indra?" tanya Abdat cepat.
Abdar sudah tidak sabar menunggu penjelasan dari dokter pria yang sudah ia kenal itu, sehingga saat dokter selesai memeriksa ia langsung bertanya.
Sebenarnya Abdar dan Adit tidak terlalu mengenal Indra. Tapi Adit yang berteman dengan Andri rekan kerjanya mengira jika Indra adalah Andri saat dulu Intan di rawat di rumah sakit ini, ia salah mengenal orang karena wajah mereka yang mirip dan saat itu Adit baru tahu jika mereka saudara kembar.
"Tidak ada masalah, Intan hanya demam biasa. Dan sekarang dia sedang tidur. Saya sudah memberikan cairan infus penurun panas, nanti jika Intan sudah sadar segera beri tahu tenaga medis. Kita akan melanjutkan pemeriksaan ulang setelah dia siuman," jelas dokter.
"Baik terimakasih, doktek Indra" ucap Abdar tulus.
"Terimakasih dokter," Maryam ikut bersua dengan suara parau.
"Tidak masalah, ini sudah menjadi tugas saya."
Dokter itu sedikit heran dengan Maryam. Dari ia datang yang ia lihat Maryam hanya menangis terus menerus hingga membuat suaranya menjadi seperti itu, padahal anaknya hanya demam. Pikirnya.
Sang dokter hendak undur diri, tapi sebelum ia bersuara tiba-tiba bunyi ketukan di pintu dan salam menghentikan niatnya.
"Wa'alaikumussalam," ucap mereka serempak.
Semua mata tertuju ke arah pintu yang terbuka.
"Bu Ustadzah," ucap Maryam saat yang pertama masuk adalah Ustadzah Habibah dan Dinda.
"Bagaimana keadaan Intan?" Berjalan mendekat pada Maryam yang langsung bersalaman dengannya.
"Masih demam," jawabnya lemah.
Perhatian mereka kembali pada kedua wanita ber'hijab yang baru masuk.
Maryam memandang Rahimah dengan tatapan sendu. Semantara Abdar merasa bersalah karena tidak bisa menemukan Rahman.
Rahimah mendekat dan langsung di peluk oleh Maryam dan di balas tangis yang tertahan oleh Rahimah.
"Sabar mbak, aku yakin ... Rahman akan segera di temukan," ujar Maryam ikut menangis.
"Amin," gumam Rahimah.
Semua ikut terbawa suasana sedih dari kedua wanita yang menangis berpelukan.
Sang dokter masih memandang tak mengerti akan situasi ini, tapi itu bukan urusannya walau sebenarnya ia juga penasaran dengan ketiga wanita yang ia kenal. Ia pun memutuskan untuk pergi.
"Saya permisi dulu, kalau Intan sudah sadar ... kalian bisa memanggil saya." Ucapnya memandang orang-orang dan tidak sengaja bertemu pandang dengan Soraya dan Dinda.
"Terima kasih, dokter," ucap Maryam sambil melepas pelukannya dengan Rahimah.
Keduanya sibuk dengan kesedihan yang di rasakan Rahimah hingga membuat mereka lupa kalau sedang di rumah sakit dan lupa dengan banyaknya orang.
Rahimah buru-buru menyeka air matanya, sudah terlalu banyak ia menangis.
"Terimakasih, dokter Indra," mendengar nama itu Rahimah menoleh kepada dokter tersebut begitu juga dokter itu hingga saling pandang.
Rahimah lebih dulu memutus pandangan mereka ke arah Soraya dan Dinda, memastikan bahwa mereka juga menyadari bahwa itu adalah teman sekolah mereka.
Samar Soraya dan Dinda mengangguk bahwa mereka sudah melihat lebih dulu.
"Sama-sama." Dokter itu memperhatikan Rahimah yang terlihat pucat.
"Saya permisi."
Abdar dan Adit memilih meninggalkan para wanita, sebenarnya Abdar masih ingin barlama-lama di sana untuk melihat Rahimah tapi mengingat mereka yang belum membersihkan badan jadi mereka akan pulang terlebih dulu untuk mandi.
Tak henti-hentinya Maryam, Soraya, Dinda, dan Ustadzah Habibah memberi dukungan dan semangat untuk Rahimah.
Rahimah sangat berterimakasih pada semua orang yang sudah membantu dan mendoakannya. Kini mereka tinggal menunggu Intan sadar dari tidurnya.
Rahimah sudah tidak sabar mendengar cerita dari Intan tentang anaknya, ia ingin tahu bagaimana keadaan Rahman saat terakhir kali bersama.
...----------------...
Rahman terbangun dari tidurnya. Ia tidak ingat berapa lama ia tertidur. Yang ia ingat usai mandi ia di beri makan oleh para penculik, tapi setelah makan ia tiba-tiba mengantuk dan tertidur.
Saat ia sadar ia sudah berada di dalam mobil. Penculik yang duduk di samping yang melihat ia terbangun langsung membekap mulutnya dan ia tertidur kembali, beberapa kali Rahman di buat pingsan karena penculik takut Rahman melawan seperti malam kemarin.
Kali ini Rahman terbangun tidak mendapati siapa-siapa. Lagi-lagi Ia berada di sebuah kamar tapi lebih kecil dari kamar sebelumnya dan terasa sedikit bergoyang, hari pun sudah kembali siang.
"Tuuuuttt ... tuuuuuttt ... tuuuuttt ...." Rahman sadar jika ia berada dalam sebuah kapal.
Suara dari kapal itu menandakan jika kapal ferry telah berlabuh, Rahman bertanya-tanya dalam hati kemana gerangan dirinya di bawa.
Rahman tersentak saat mengingat Intan. Ia begitu khawatir dengan keadaan Intan yang demam.
Berjalan ke pintu dan menggendor-gendornya guna di bebaskan. Ia merasa dejavu, tapi jika kemarin ia mendapat balasan maka kali ini tidak sama sekali.
Merasa tidak ada yang menyahut Rahman akhirnya menyerah dan memilih kembali duduk di ranjang kecil yang menempel dengan tempok besi.
Megoroh kantung dan mengeluarkan isinya. Itu adalah gelang Intan. Gelang yang putus dan kerena tidak bisa di pasang lagi ia di minta Intan untuk menyimpannya untuk Intan.
"Intan, bagaimana keadaan mu?" gumam Rahman.
Rasa bersalah karena meninggalkan Intan kembali melanda. Ia merutuki dirinya yang ceroboh. Seandainya ... Seandainya ....
Kata-kata itu selalu terngiang-ngilang di pikirannya.
Rahman menahan geram karena pintu yang tak kunjung terbuka. Ia berjanji dalam hati, jika pintu itu terbuka ... maka ia akan langsung menghajar orang yang membukanya, sebagai bentuk dalam meluapkan emosi.
Cukup lama ia merasa hanyut dan bergoyang hingga malam semakin larut tapi tidak membuat ia mengantuk lagi karena ia yang sudah sering tidur, lebih tepatnya sengaja di tiduk 'kan.
Tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan menunggu. Bosan Rahman pun berdiri dan mandar mandir, kemudian kembali duduk lagi hingga berulang kali menunggu dengan gelisah kapan pintu ini akan di buka.
Lelah Rahman pun merebahkan diri sambil menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Intan, dimana kamu?"
BERSAMBUNG ....