Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 91 Malam Pertama, atau Kedua?



Peringatan ..!! Area dewasa ... yang belum cukup umur nggak usah baca. Nanti saya dimarahi mamanya. Kabooorrrr πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ


.


Melihat anggukan Rahimah, Abdar bersorak senang. Sampai-sampai ia memekik kegirangan dan membuat wanita yang berada di bawah kungkungannya bersemu merah.


Gemes dengan istrinya Abdar pun langsung mencium bibir Rahimah yang begitu menggoda iman, tapi hanya kecupan ... Karena istrinya itu keburu menahan.


"Kenapa?" tanya Abdar cepat.


"Aku mau mandi dulu Mas, gerah." Aku Rahimah jujur sambil mendorong pelan dad4 bidang Abdar agar dapat bangun dari pembaringannya.


"Baiklah, aku akan menunggumu," kata Abdar pasrah.


Gegas Rahimah berlalu menuju kamar mandi. Abdar yang hanya memakai handuk pun, memutuskan memakai baju karena tidak ingin kedinginan selagi menunggu Rahimah.


Usai memakai baju, perlahan Abdar membaringkan tubuh lelah nya di atas kasur empuk dan besar. Menatap langit-langit kamar, ingatannya pun melayang tentang kejadian seminggu terakhir.


Ia tersenyum kecil, mensyukuri perjalanan hidupnya yang jauh diluar rencana. Bertemu dengan Rahimah adalah sebuah keberuntungan, dan akan ia kenang seumur hidupnya.


Perlahan matanya terasa begitu berat, tak tahan dengan kelopak yang selalu tertutup ia pun memenajamkan matanya sempurna. Samar Abdar dapat mendengar pintu yang terbuka, tapi ia kalah dengan rasa kantuk yang begitu berat mendera dan akhirnya ia pergi ke alam bawah sadarnya.


Rahimah terperangah melihat Abdar yang kini terpejam dengan deru nafas berhembus teratur. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala, memang sekarang mereka benar-benar lelah jadi ia memutuskan untuk ikut tidur di samping suaminya.


Malam ini lagi-lagi tidak terjadi apa-apa diantara mereka, tapi tidak mengurangi rasa syukur dan bahagia karena sudah resmi menjadi satu keluarga kecil.


...**********************...


.


Rahimah yang begitu mengantuk dan kedinginan semakin mempererat dekapannya. Ia bahkan merasa sedang berada di alam mimpi yang begitu menentramkan.


Tapi selain rasa nyaman ada terselip rasa aneh dan begitu nyata. Semakin lama, ia semakin geli akan sesuatu entah itu apa.


"Hah." Pekiknya terkejut ketika membuka mata sambil tangannya reflek menyingkirkan tangan yang merem4as-remas gundukan gunung kembarnya.


"Kau sudah bangun?" sang pelaku bertanya tanpa rasa bersalah karena sudah membangunkannya dengan cara yang terbilang aneh.


"Mas ngapain?" tanya Rahimah serak masih mengantuk.


"Aku tadi terkejut lihat kamu tidur di sampingku. Bukannya seingat aku kamu sedang mandi ya? Rupanya tadi aku ketiduran ya?" Tanya Abdar sambil mengendus leher sang Istri.


"Mas geli." Protes Rahimah sambil menahan kepala Abdar.


"Kamu'kan sudah bangun, aku pengen yang tadi." Ucap Abdar serah semakin mempererat pelukan sambil mencium manja pipi Rahimah.


Baru saja Rahimah hendak berbicara, tapi mulutnya sudah disumbat oleh bibir sang suami. Ia yang awalnya masih ingin tidur dengan setengah kesadaran tiba-tiba langsung segar.


"Mas," ujar Rahimah setelah terlepas karena sang pelaku berpindah mangsa.


"Hmm," suaranya tenggelam menyusur leher.


"Denger dulu," kesel Rahimah.


Abdar langsung menarik diri dan menatap sayu istrinya itu. "Apa?" tanyanya pelan.


"Kita sholat dulu, kitakan belum pernah sholat bareng."


Abdar terkulai lemas, ia sudah sampai diangan-angan tetapi seketika terhempas ke daratan.


Tapi kemudian dahinya berkerut sambil berpikir, ia memang belum pernah sholat bersama setelah menikah. Abdar pun bangkit dan membantu istri bangun, memilih sholat sunnah terlebih dulu sebelum kembali melanjutkan pertempuran yang belum dimulai.


Berbekal dari pelajaran yang Ustadz Abizar ajarkan, Abdar pun dengan khusu memimpin sholat. Bukan hanya sholat sunnah yang ia kerjakan, bahkan sholat tahajud pun juga.


Usai salam Rahimah mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Abdar yang dibalas kecupan di keningnya.


"Terimakasih karena selalu mengingatkanku tentang agama yang ku anut."


"Bantu aku menjadi orang yang lebih baik lagi. Tegur-lah aku jika melakukan kesalahan dalam beribadah," ujar Abdar tersenyum simpul.


Tanpa protes Rahimah malah mengalungkan kedua tangannya sambil bersandar di dada bidang sang suami.


Membaringkan perlahan, lantas Abdar duduk sejenak guna membuka pakaian sang istri dan dirinya.


"Kenapa malah ditutupin?"


Rahimah yang sudah terlepas dari kain yang membalut tubuhnya malah langsung menyambar selimut dan membungkus tubuh kecilnya.


"Aku malu," jawabnya pelan.


"Tapi aku nggak bisa liat," balas Abdar tersenyum geli karena kelakuan Rahimah.


"Ya jangan diliat." Ujarnya sambil menyembunyikan kelapa ke dalam selimut.


"Ck, yank ... kalau gini caranya gimana cepat selesai?" kesal Abdar sambil menarik selimut itu kuat dan terlempar jauh ke lantai.


"Mas." Pekik Rahimah menyilangkan kedua tangannya di atas dad4, sementara kakinya di tekuk.


"Ini adalah malam Kedua Kita, kenapa kamu masih malu?" kata Abdar tersenyum menggoda.


"Malam kedua! Tapi bagi aku tetap aja malam pertama," jawabnya sambil menunduk.


Merapat diri, Abdar membisikkan do'a sambil mencium kening, mata, hidung pipi, dagu dan menetap di bibir.


Mengecap lembut guna memberi ruang bagi Rahimah agar terasa rileks. Perlahan tangan yang menyilang ditariknya dan meletakkannya pada lehernya.


Tangan pun perlahan merambat hingga tinggal di salah satu gunung kembar. Sementara itu tangannya yang lain turun kebawah, tapi belum sampai pada tempat tujuan sang pemilik lahan segera menahannya karena khawatir akan hutan miliknya diusik orang.


Abdar yang merasa tangannya ditahan, tetap tidak peduli dan terus turun hingga akhirnya tangan yang menahannya pasrah.


Cukup lama bagi keduanya untuk menikmati makanan pembuka, hingga kini siap menerima sajian utama.


Abdar menegakkan sedikit tubuhnya guna mempersiapkan posisi tubuhnya, perlahan menempel dan menerobos masuk.


"Ehh," pekik Rahimah kaget dan kesakitan sambil mencekam erat bahu suaminya, matanya sedikit berair.


"Sakit?" tanya Abdar berbisik lembut menghentikan pergerakan sembari memeluk.


Tidak ada jawaban, tapi Abdar merasakan pergerakan kepala Rahimah yang mengangguk.


Memang bukan yang pertama, tapi dalam waktu sepuluh tahun tidak pernah mengalaminya ... jelas menimbulkan epek sakit yang teramat bagai pertama.


Setelah merasa cukup, perlahan Abdar menggerakkan nya. Rahimah yang awalnya dengan wajah masam kini sudah melembut.


Ruangan luas yang hanya diisi mereka berdua, kini di penuhi des4han dan rintihan dari keduanya, menjadi saksi bisu penyatuan sepasang manusia yang disatukan oleh sebuah ikatan pernikahan.


Gays ... kok saya jadi malu ya menjabarkannya! πŸ™ˆπŸ™ˆ


Maaf jika hanya sedikit narasinya πŸ™, karena saya masih amatir ✌😁.


Jadi jangan dihujat ya gays πŸ™πŸ˜….


Usai penyatuan keduanya tertidur sambil berpelukan, tidak ada lagi rasa malu dan kesal karena mereka sudah kelelahan.


Hingga siang datang menyapa, mereka tetap tertidur pulas sampai melewatkan sholat subuh.


.


Tamat .... Tapi bo'ong .... haiya .... pepelepalepalepale πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


Hihihi 🀭🀭 Semuanya terimakasih karena sudah menemani perjalanan hidup keluarga Rahman ya! Tinggal beberapa bab lagi ceritanya akan saya tamat kan. Jadi mohon dukunganya, untuk menyemangati Author amatir seperti saya ini 😘.


Jangan lupa pencet bintang 5 di pojok kiri atas, tinggalkan jejak like dan komentar agar saya tahu jika kalian ada. Karena jika tidak kalian lakukan itu, kalian tidak akan pernah terlihat oleh saya πŸ™.


Salam sayang .... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Noormy Aliansyah 😘😘😘