Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 20



Tidak lama dari kepergian dokter Indra, Khadizah bersama suami dan juga Putrinya pun datang.


"Ya udah karena Mbak Dizah udah datang, dan yang berkunjung juga gak boleh banyak-banyak. Jadi mending kita ke kantin dulu aja deh." Usul Dinda.


"Setuju." Seru Nurul cepat.


"Heemm ini nih, giliran makanan aja semangat empat lima, tapi kalau di suruh bayar.. gak mau dia." Cibir Soraya. Sedang Nurul malah nyengir memperlihatkan deretan gigi rapinya.


Rahimah menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya yang satu ini. Walau sudah mempunyai Anak ternyata dia tidak berubah, dan malah semakin menjadi. Perhitungannya jika makan bersama sangat di manfaatkannya, apa lagi jika makan bersama Soraya karena Soraya yang paling royal, memang sangat cocok dengan pekerjaan Nurul yang seorang Akuntan.


"Hehehe Aya yang paling cantik deh, kok tau?" Nurul mentoel dagunya Soraya.


"Jelaslah Aku tau, orang muka Kamu ada tulisannya. TRAKTIR DONGG." Seketika tawa mereka mengudara, ruangan menjadi gaduh oleh karenanya.


"Iih jahatnya." Ujar Nurul pura-pura merajuk.


"Sudah-sudah jangan berisik, kasihan tuh Anak-anak mereka perlu istrahat." Tunjuk Khadizah kepada Rahman dan Intan.


"Gak apa-apa kok Mbak." Maryam tersenyum maklum.


"Iya kalau kamu gak apa-apa, tapi pasein yang lain? Nanti kalau mereka ketauan sama perawat bakalan kena tengur." Sambung Khadizah.


"Hehe maaf ya Mbak, yuk jadi gak kita ke kantin?" Tutur Nurul sungkan tak sungkan.


"Mama tantenya lucu." Bisik Intan sangat pelan, Maryam terkekeh geli.


"Imah kita tinggal dulu yah, nanti kalau sudah mau pulang segera hubungi kami." Kata Dinda.


"He'eh.. masih lama kayanya paling sekitar satu jam lagi." Ujar Rahimah melihat arloji di tangan kirinya.


"Rahman kita pergi bentar yah?" Rahman menganggu sebagai jawaban.


Karena tamu pasein yang lumain bayak jadi Nurul, Dinda, dan Soraya memutuskan pergi kekantin untuk mengulur waktu sebelum Rahman di izinkan pulang.


Itulah kenapa Rahimah yang tidak ingin mehubungi mereka. Selain Rahman yang dirawat hanya sampai siang, tamu juga akan menjadi banyak karena kedatangan Mereka, dan mereka tidak memikirkan dengan situasi ruangan yang menjadi sempit.


Hawa pun mendekati Rahman dia berniat meminta maaf kembali setelah tadi malam juga sudah mengatakannya.


"Rahman Mbak minta maaf yah? Mbak benar-benar tidak tau kalau di makanan itu ada udangnya. Lain kali kalau Mbak jajan, pasti akan Mbak tanyakan dulu."


"Tidak apa-apa Mbak Hawa. Itukan wajar kalau kita bisa sampai lupa." Rahimah tersenyum manatap Rahman dan Hawa yang saling memaafkan. Apakah Ia juga harus berdamai dengan masa lalunya yang kadang kala masih datang menghantuinya.


"Kakak, gak bisa makan udang yah?" Celetuk Intan yang sedang berbaring lemah di ranjangnya. Sangat terlihat pucat dari sebelum-sebelumnya.


Rahman melirik Intan yang mengajaknya bicara tapi Ia tetap diam tidak menanggapinya, Rahman hanya memperhatikan wajah pucatnya. Hawa yang melihatnya segera menjawabnya.


"Iya dek, kak Rahman nya gak bisa makan udang." Intan menatap penuh pada sang Mama. Ia mengerutkan keningnya tanda berpikir.


"Berarti kaya Om Tian yah Ma?" Kata Intan lesu.


"E'eh kaya Om Tian sayang!" Seru Mamanya.


"Memangnya Om adik manis ini alergi udang juga yah?" Khadizah turut menimpali.


"Engga kok tante, Om nya Intan itu gak mau makan udang katanya gak bisa makan udang." Jawabnya polos.


"Iya sayang itu namanya alergi udang. Jadi gak bisa makan udang." Jelas Maryam mengusap pucuk kepala putrinya.


"Oh gitu yah Ma?" Tiba-tiba pintu terbuka. Semua orang pun refleks menoleh ke arah pintu yang terbuka.


Adit datang dengan suster yang tengah mendorong kursi roda, Maryam yang melihatnya pun sudah mengerti dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dari tadi malam Ia sudah menduga kalau Kakak nya pasti akan melakukan hal itu semua. Yaitu memindahkan Intan ke bangsal lain.


"Permisi, pasiennya mau di pindahkan ke ruangan VVIP." Ujar Suster berjalan mendekat.


"Kak Adit sudah mengurus semuanya?" Sembari bertanya dengan cekatan Maryam membereskan semua barang bawaannya.


"Heem sudah Kakak urus, sekarang kita pindah dulu. Nanti Tian nyusul belakangan." Ucapnya yang sudah siap mengangkat Intan ke kursi roda.


"Kapan dong Intan pulangnya?" Keluh Intan memelas tersandar di kursi roda yang sudah di pindahkan Adit.


"Mungkin dua atau tiga malam lagi baru bisa pulang. Soalnya demamnya Intan masih belum normal, kadang masih turun naik." Bukan Maryam atau Adit yang menjawab, melayinkan suster nyalah yang menyahut.


"Yah lama dong.. Intan sudah bosan disini." Keluhnya.


"Emang pusing sama muntah-muntahnya udah gak lagi yah?" Tanya Suster mengerti dengan Anak-anak yang cepat bosan.


Intan menunduk sembari mengangguk. "Sedit." Ucapnya lirih.


"Maka dari itu Intan harus rajin minum obat, biar nanti lekas sembuhnya." Kata suster memberi pengertian.


"Iya deh, nanti Intan pasti rajin minum obatnya."


"Gitu dong, Intan memang anak pintar." Puji suster, Semua tersenyum mendengar keluh kesahnya Intan.


"Kalau gitu Saya permisi Mbak?" Maryam pun berpamitan kepada Rahimah dan yang lainnya di susul Adit.


Setelah waktu yang terus berjalan tibalah saatnya bagi Rahman untuk pulang.


"Mbak, Imah titip Rahman sebentarnya Nyamperin teman-teman dulu kalau sebentar lagi kita mau siap-siap pulang, pengen telpon mereka ternyata Hp Imah mati." Jelasnya yang ingin menyusul Nurul, Dinda dan Soraya.


"Iya gak apa-apa Imah. Sekalian aja ajak Hawa yah?" Suruh Khadizah sengaja membawa Hawa.


Kini tinggal Khadizah, dan Wahyu yang menemani Rahman. Mereka terlibalat pembicaraan ringan tapi serius.


"Rahman? Mama sudah tanya belum masalah tentang tinggal disini atau kembali Bandung?" Selain Ustazah Habibah yang memberi tau jelas Khadizah tau karena sang suami yang lebih dulu menceritakannya.


"Iya tante, Mama udah tanya kok."


"Kalau begitu Rahman sudah memutuskan belum, ingin tinggal di sini atau pulang?" Tanya Khadizah, tanpa pikir panjang dengan cepat Rahman mengangguk sebagai jawaban sebelum bersuara.


"Rahman pengen tinggal di sini sekalian mau nerusin keinginan Kakek." Rahman baru menyadari sesuatu, karena Pak Ramlan yang pernah bercerita tentang rukonya, Rahman tau kalau sang Kakek masih berkeinginan meneruskan usahnya. Dan Rahman sudah mulai tau tentang kenapa Kakeknya yang menghentikan usahanya menjual kain.


Ia selalu bertanya pada Kakek nya, kenapa meninggalkan usahnya. Kejadian tentang warga malam tadi yang meminta maaf dan menyuruh mereka tinggal kembali membuat pikiran Rahman sedikit mengerti, pastilah ada kayitannya.


Wahyu merangkul sang Istri dan tersenyum lalu berujar. "Tinggal kita yang harus kasih tau Hawa, kalau Rahman yang mau tinggal disini." Khadizah dan Wahyu yakin bahwa putri mereka pasti akan sedih dengan pilihan Rahman yang memilih tinggal disini.


"Apa Mbah Hawa akan sedih kalau Rahman tinggal disini?" Khadizah pun menganggukkan kepala.


"Tenang saja, kami akan menjelaskan kepada Hawa secara perlahan. Supaya dia tidak terlalu sedih." Kata Wahyu menengkan.


"Nanti Mbak Hawa bisakan sering kemari?"


...****************...


Selesai mengganti baju yang di bawakan Adit, Cristian mengajaknya untuk kekantin. Ia baru ingat telah melewatkan makan malamnya.


Tiba dikantin Adit segera memesankan makanan untuk Cristian dan dirinya.


"Sial.. badanku jadi sakit semua gara-gara tidur di kursi." Keluh Cristian memukul-mukul kecil bahunya.


"Haha, siapa suruh lo tidur disini? Maryam udah nyuruh lo buat pulang, tapi lo nya yang gak mau." Adit berujar dengan mulut yang penuh dengan makanannya.


"Cepat kau tanyakan pada dokternya Intan, apakah Intan masih harus di rawat atau tidak? Kalau masih perlu perawatan, lekas kau urus kepindahan bangsal nya." Perintah Cristian dengan wajah datarnya sebelum memulai makan paginya.


"Oke, gue habisin makanan gue dulu." Ujar Adit mendengus kesal. Buru-buru Ia menyantap semua makanannya.


Seletah sudah habis Adit pun beranjak dari duduknya, tapi sebelum pergi Cristian menahannya.


"Jangan lupa kau bayar dulu semua makanan ini." Ucap Cristian tanpa menoleh. Adit meliriknya malas.


"Ini juga gue mau bayar.." Ketus Adit.


Beres dengan urusan pembayaran Adit langsung menuju ruang dokter, Ia menanyakan secara detail tentang sakit sang keponakan.


Dan ternyata Intan masih harus di rawat beberapa hari lagi karena DBD yang Ia alami. Jadi seperti yang sudah di perintahkan oleh Cristian, yang mana menyuruhnya untuk memindah Intan ke bangsal ruang VVIP Ia pun segera mengurusnya.


Sementara itu, sepeninggalnya Adit dari kantin Cristian terlihat bermalas-malasan di tempat Ia duduk tadi sambil memainkan Hp nya mencek pekerjaannya.


Pemilik kantin yang melihatnya pun membiarkannya, saat Ia mendatangi meja Cristian untuk membersihkannya. Pemilik kantin tidak berani menegur bahkan menatap wajah datarnya saja sudah membuatnya takut.


Saat Ia tengah sibuk dengan pemikirannya pada kerjaan di Hp nya, ada beberapa wanita yang melewatinya dan duduk dekat meja yang berada di belakangnya. Tentu itu membuatnya bisa mencuri dengar tanpa sengaja.


"Gedek Aku sama si Indra tadi, udah banyak-banyak nanya eh malah gak di jawab sama dia." Keluh salah satu wanita itu.


"Lagian kamu juga, udah nyadar itu Indra..! Malah di ajak ngobrol. Tau sendiri kan? Kalau dia lagi ngerjain sesuatu fokosnya cuman kesitu. Kecuali dia udah selesai sama kerjaannya, baru apa yang di tanyakan akan dia jawab dengan santai." Sahut salah satu temannya.


"Gak inget, saking senangnya tadi tuh Aku sampai lupa. Kan wajar sesama teman lama kita saling tegur sapa?" Kembaili suara wanita yang mengeluh tadi terdengar.


"Lihat tuh si Aya, pas Indra izin permisi dia segera mengizinkan. Pasti masih ingat sama tabiat nya si Indra." Kata temannya.


"Hampir gak kenal juga sih tadi Aku. Tapi Nurul baca Nike name nya, jadi Aku tau apa yang harus dilakukan." Kata teman yang satunya.


"Nih, yah.. biar Aku tebak. Rahimah tadi pasti bisa langsung ngenalinnya, Ya gak?" Cristian yang awalnya hendak beranjak dari tempatnya duduk karena mendengar suara-suara yang tidak Ia mengerti di belakannya, setelah mendengar nama seseorang yang pernah di cari Tomi itu disebut seketika Ia menajamkan pendengarannya.


Menghentikan gerakan tangannya, lalu berpinda duduk kesisi samping agar bisa menjangkau orang-orang yang membahas sesuatu yang membuatnya penasaran. Sedikit menoleh dengan kepala yang di tundukkan, melirik dengan ekor matanya. Mungkinkah orang itu? Pikirnya.


"Mungkin juga. Soalnya di antara kita dulu Rahimah yang paling cepat mengenalinya." Temannya memberi jawaban.


"Menurut Aku iya juga sih." Balas temannya yang lain. Criatian masih memperhatikan dengan curi-curi pendengaran.


Para wanita itu pun memesan makanan, tidak ingin terlihat hanya duduk saja akhirnya Cristian kembali memesan minuman kopi hitam.


Masih membahas hal yang sama, tapi Ia hanya ingin mendengar nama wanita itu tapi nyatanya tidak di sebut-sebut lagi.


Setelah lama duduk dengan hal yang tidak pasti Hp nya berdering.


"Heem?" Gumamnya menyahut telaponnya.


πŸ“ž"Aku sudah mengurusnya, dan sekarang sudah menjemputnya pindah kamar." Ujar orang di sebrang sana.


"Ya Aku akan menyusul." Segera mematikan hendak beranjak pergi tapi urung saat kembali perhatiannya tertuju kepada sekelompok wanita itu.


"Eh itu dia orangnya, Imah sini, ternyata udah di susul aja kita." Mengikuti pandangan orang yang ada di samping mejanya. Ia pun bisa melihat seorang wanita dari arah pintu yang berjalan mendekat bersama seorang anak perempuan sambil tersenyum.


Cristian memandangnya sambil meneliti wajah wanita itu, berusaha keras mengingat. Apakah wajah wanita itu? Samar terbayang wajahnya walau tidak yakin tapi Ia mencoba menyamakannya.


"Sebentar lagi Rahman sudah boleh pulang, jadi kalian bisa siap-siap." Ujarnya sembari duduk.


"Udah kita kesana sekang. "Mereka pergi beriringan dengan seseorang yang memandang penasaran pada salah satu wanita itu.


Saat wanita itu pergi Ia segera menghubungi seseorang.


"Apa kau masih menyimpan data wanita sepuluh tahun yang lalu?" Tanpa embeng basa basi langsung bertanya pada intinya.


πŸ“ž"Maksud tuan wanita yang di hotel itu?" Orang itu malah bertanya. Membuat Cristian geram.


"Bukankah sudah sangat jelas wanita itu yang Aku maksud?" Ujarnya dengan aura dingin membuat orang yang di seberang bergidik ngeri. Hanya mendengar suaranya orang itu sudah takut apalagi jika bertatap muka langsung.


πŸ“ž"I..iya, iya tuan masih ada." Jawabnya gugup.


"Bawa berkas-berkasnya dan temui Aku di... (Menyebutkan salah satu nama cafe) jangan lupa suruh seseorang menjemputku di rumah sakit... (Menyebut nama rumah sakit)"


πŸ“ž"Siap tuan." Sahutnya sigap.


Mematikan telefon lalu kembali menghubungi seseorang.


"Aku pergi sebentar, kau yang menjaga Maryam dan Intan disini." Katanya sambil meletakkan uang pecahan seratus ribu di bawa gelas bekas kopi yang Ia minum.


Lalu beranjak pergi dari kantin.


πŸ“ž"Memangnya kau mau kemana?" Tanyanya penasaran.


"Kau tidak perlu tau cukup jaga Adik dan keponakanku saja." Ujarnya terus berjalan melalu lorong-lorong rumah sakit.


πŸ“ž"Ya baiklah Ak..." Suaranya menggantung saat telapon di matikan sang empuhnya.


Dengan tubuh yang tegap Ia berjalan melewati orang yang berlalu lalang, tiba di halaman rumah sakit Ia sudah kedatangan seseorang berpakaian hitam.


"Silahkan tuan." Kata orang itu membukakan pintu sembari menundukkan badan sedikit. Sungguh anak buah yang selalu siaga, dalam waktu sepuluh menit Ia sudah ada.


Tanpa menunggu perintah Supir yang membawa Cristian segera menginjak gas, dan meninggalkan pekarangan rumah sakit menuju tempat yang sudah di perintahkan orang yang menyuruhnya.


BERSAMBUNG....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejek, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊


Salam sayang ....


Noormy Aliansyah