Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 8



Hari-hari yang di lewati Rahimah setiap harinya penuh perjuangan dan kesabaran, bagaimana tidak ... setiap paginya ia terpaksa bangun lebih awal di karenakan sesuatu dalam perutnya yang terasa mengaduk-ngaduk membuatnya mual dan itu mengharuskan ia memuntahkan isi perutnya.


Untunglah sang Ayah senan tiasa membantu memijat tengkuknya, dan selalu bisa di andalkan untuk dimintai tolong jika ia menginginkan makanan yang hendak di makannya.


Tapi jika Rahimah menginginkannya di malam hari ia akan selalau menahannya, karena tidak tega jadilah ia akan menitip setiap Ayahnya pulang bekerja tak apa ia harus menahan semalam asal esoknya ia bisa memakannya. Ia juga tidak memaksakan sang Ayah, jika tidak ada maka tidak perlu di cari. ~Gak mau lewat Gafood kayanya🤭~


Ia bersyukur ada Khadizah dan Hawa yang selalu menemaninya, seperti hari ini Khadizah dan Hawa akan mengantarkannya ke Klinik Kandungan tempat Khazidah melahirkan Hawa. Sang Dokter pun sudah di hubungi oleh Khadizah agar bisa membuat janji.


Karena jarak klinik dan rumah Khadizah tidak terlalu jauh, juga kliniknya berada di komplek perumahan yang mereka tempati, mereka memutuskan untuk berjalan kaki dengan santai.


Tiba di klinik mereka sudah di sambut oleh seorang Dokter paruh baya, mereka pun duduk di kursi perhadapan dengan Dokter tersebut. Tertera nama di dada sebelah kirinya. Rahimah pun membacanya dalam hati, dr. Amanda Susanto, Sp. OG.


"Selamat pagi Dokter?" Ujar Khadizah bersalaman di ikuti Rahimah dan Hawa.


"Selamat pagi, wah Hawa makin gemuk dan cantik ya?" Kata Dokter sambil mengusap kepala Hawa. Hawanya tersenyum malu.


"Iya Dokter Amanda, Hawa makannya tambah banyak."


"Haha, bagus dong ... jangan lupa makannya sama sayur dan buah-buahan ya sayang? Biar seimbang." Mereka pun mengakhiri basa basinya dan kembali membahas tentang kehamilan Rahimah.


Mula-mula Dr. Amanda menanyakan siapa nama dan berapa umurnya, tapi Dr. Amanda tidak menanyai siapa suami Rahimah, karena saat Khadizah menghubunginya tewet telefon, Khadizah sudah sedikit menerangkan tentang keadaan Rahimah jadi Dr. Amanda tidak menanyakan hal itu agar tidak menimbulkan kecanggungan.


Kemudian Dr. Amanda memintanya agar menimbang BB, memeriksa tekanan darah, dan terakhir menanyai kapan terakhir menstruasinya. Setelahnya Dr. Amanda mulai menghitung berapa usia kehamilannya Rahimah.


"Mari sini, biar kita periksa usia kandungannya? Berbaring di atas ranjang, usahakan setiap hendak berbaring dengan posisi menyamping, agar kandungannya tidak merasa kram karena kita yang memakai gerak senam di bagian perut." Kata Dr. Amanda memberi saran.


"Usia kehamilan Rahimah sudah memasuki 9 minggu, apa ada keluhan selama kehamilan?" Tanya Dr. Amanda sembari mencatatat di sebuah buku berwarna pink.


"Iya Dokter, biasanya Saya akan muntah-muntah di pagi hari."


"Biasanya memang sebagian bumil mengalami gejala muntah-muntah. Kondisi ini dikenal juga dengan sebutan morning sickness. Meski demikian, tapi morning sickness tidak hanya terjadi di pagi hari saja, bisa juga siang atau sore harinya. Kondisi ini terjadi akibat meningkatnya hormon kehamilan yang dilepaskan oleh plasenta selama tiga bulan pertama (trimester awal) kehamilan."


"Apa ada keluhan yang lain?"


"Tidak ada Dokter."


"Baik, Saya akan memberikan obat untuk mengurangi rasa mualnya." Ujar Dr. Amanda sambil mengampil beberapa macam obat.


Setelah selesai dengan pemeriksaan, mereka pun berjalan-jalan ke taman sekitar komplek, sembari mengajak Hawa bermain. Tapi hanya sebentar, karena Ustadzah Habibah menelfon bahwa Ia sedang di perjalanan dan sebentar lagi sampai di rumah mereka.


Jadi mereka memutuskan untuk segera menyudahi bermain di taman dan pulang kerumah, saat sudah dekat rumah terlihat sebuah mobil Avanza berwarna hitam yang terparkir rapi di halaman rumah Khadizah yang di yakini adalah mobil dari Ustadzah Habibah.


"Assalamualaikum." Ucap Khadizah dan Rahimah serempak.


"Wa'alaikumussalam, wah.. cucu Nenek dari mana nih?" Tanya Ustadzah Habibah sembari menggendong Hawa dan lekas di salimi Hawa juga Khadizah dan Rahimah.


"Tadi kita habis dari klinik Dr. Amanda, periksa kandungan Rahimah Bu." Ucap Khadizah.


"Bagaimana dengan keadaanmu Imah? Ibu sudah mendengar kabar tentang kehamilanmu?" Mereka sekarang tengah duduk di ruang tamu. Rahimah yang mendapat pertanyaan seperti itu seketika tertunduk sedih.


"Tidak apa-apa Imah, samoga anak yang kelak kau lahirkan akan menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah."


"Amin." Ucap mereka disertai senyum tipis.


"Maaf Ibu baru bisa menjengukmu, karena Ibu sedang sibuk dengan acara tahlil 100 hari Ayahnya Khadizah dan harus mengajar mengaji anak-anak di komplek," Jesal Ustadzah Habibah, Rahimah pun mengangguk.


"Gak papa kok Bu Ustadzah, lagian Saya juga baik-baik aja disini." Ujar Rahimah memaklumi.


"Hawa gak capek sayang? Kita istrahat yuk" Mengecup kedua pipi cabi Hawa sampai anak kecil di pangkuannya itu tertawa geli.


"Khehe.. khekhehe.." Tawa Hawa menggema. Ustadzah Habibah mengajar Hawa tidur siang, begitu juga Rahimah yang kembali kerumahnya.


...****************...


Jika Rahimah kepayahan dengan kondisi kehamilannya, maka berbeda dengan Cristian. Semenjak pencarian yang tidak membuahkan hasil Ia bahkan tidak lagi memikirkan wanita yang sudah ia nodai.


Ia bahkan sekarang bertambah benci dengan namanya wanita. Setiap ia mengingat perselingkuhan yang telah Sherlin lakukan kepadanya, maka ia akan menganggap semua wanita itu sama rendahnya dengan Sherlin.


Hubungannya dengan Adit yang dulu sangat bersahabat pun sekarang mulai merenggang, sekarang tidak ada lagi yang namanya sahabat untuk diajak berdebat, sekarang diibaratkan hanya sebagai atasan dan bawahan.


Cristian selalu bersikap menutup diri, dan terkesan dingin.


"Tian hari ini jam 2 ada rapat dengan klien kita di Cafe Ceria." Terang Adit membacakan jatualnya.


"Heem." Sahut Cristian dengan gumaman. Adit menghela nafas kesal melihat Cristian yang setiap harinya menjadi semakin menyebalkan menurutnya.


"Oiya, Zaki bilang sama gue ... setelah Maryam Khatam Al-Qur'an, dia berniat ngelamar adik lo." Ujar Adit memancing cristian.


"Heem." Lagi-lagi Adit tidak di hiraukan.


"Sialan...." Gumamnya sembari meninggalkan ruang kerja Cristian.


Hari-hari yang di tewati Adit pun harus menahan emosi, karena setiap hari ia seperti berbicara dengan sebuah patung. Cristian hanya berbicara singkat, bahkan kadang-kadang ia cuman menggunakan isyarat tangan saja.


Dan itu benar-benar membuat Adit geram sendiri melihatnya.


...****************...


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan. Tak terasa kini Rahimah sudah memasuki hari kelahiran.


Dini hari saat jam menunjukkan angka 1, ia merasakan sakit di bagian punggunya, ia pun memiringkan posisi tubuhnya ke sisi sebah kiri seperti yang sering di sarankan Dr. Amanda niatnya agar rasa sakitnya berkurang. Namun bukannya berkurang sakitnya malah semakin mendera, ia pun kembali membalikkan tubuhnya ke sisi sebelah kanan dengan gelisah, lagi-lagi sakitnya tidak berkurang ... malah semakin terasa sakitnya, ia kembali berbalik menjadi telentang dan itu tidak membuat perubahan sama sekali.


Rahimah yang sama sekali belum pernah merasakan sakitnya orang saat melahirkan tentu membuatnya bertanya-tanya, kenapa ia mendapat sakit pinggang yang begitu sakit.


Sampai Azan Subuh perkumandang pun ia tetap merasakan sakitnya, hingga menyebapkan ia yang tidak bisa tidur.


Ia pun berniat ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, tiba di kamar mandi ia segera mengambil sikat gigi.


Saat ia mengosok gigi ia sambil menahan sakit di pinggangnya, Ia pun segera menyelesaikan menggosok giginya dan berwudhu karena sakit di pinggang tidak berhenti juga, ia Sholat sembari meringis sakit. Usai Sholat tiba-tiba ia merasakan sakit di pinggangnya yang berkurang, tapi berganti karena perut yang terasa mules dengan bunyi kruwuk-kruwak ia pun segera ke kamar mandi hendak BAB.


Tapi saat tiba di kamar mandi mulesnya hilang dan setelah kembali ketempat tidur ia merasa mules lagi ia pun akhirnya bolak balik ke kamar mandi tapi sama sekali tidak mau BAB.


Hingga ia merasa ada sesuatu yang keluar dari daerah sensitifnya. Ia pun kambali ke kamar mandi, setelah itu ia lekas mengecek CD nya, ia bisa melihat ada lendir yang bercampur sedikit darah di bagian CD.


Dan sekarang setiap lima menit sekali nafasnya terasa berat dan seperti ingin mengejan.


Teringat akan tanda-tanda pasca melahirkan dari buku yang ia baca, ia pun segera keluar kamar mandi. Rahimah pun segera menghubungi Dr. Amanda dan memberitahu tentang sakit pinggang juga lendir yang menempel di CD nya.


"Assalamualaikum, Dr. Amanda ... maaf pagi-pagi begini Saya sudah menghubungi Dokter?" Ujarnya saat sambungan telefonnya terhubung.


"Begini Dokter, tadi malam sekitar jam satuan saya merasa sakit pinggang yang begitu sakit, dan setesai saya Sholat Shubuh Saya merasa mules dan ada yang keluar dari daerah kewanitaan Saya, Saya pun menemukan bercak darah di CD saya."


(x x x)


"Iya Dokter ... sekarang tiap 5 menit sekali sakitnya.


(x x x)


(x x x)


"Baiklah kalau begitu, Saya akan siap-siap Dokter."


Sembari menunggu mobil jemputan ia menyiapkan peralatan bayi yang di belikan Khadizah saat ia melakukan acara 7 bulanan sederhana. Kemudian memberitau sang Ayah.


"Bapak. Sepertinya hari ini Aku bakalan melahirkan." Pak Ramlan pun terkejut, tapi ia yang pernah menemani sang Istri melahirkan pun merasa tidak takut sama sekali.


"Benaran itu Imah?" Tanya Pak Ramlan memastikan


"Ia Pak, sebentar lagi mobil jemputannya akan datang. Sebaiknya Bapak segera mengabari Mbak Khadizah." Pak Ramlan pun keluar dan memanggil Khadizah.


Mobil jemputan pun tiba, segera Rahimah di tuntun Pak Ramlan untuk masuk ke dalam mobil. Khadizah pun turut ikut dengannya, karena Hawa masih tidur jadi ia tinggalkan bersama sang Ayah. Wahyu.


Saat tiba di klinik Dr. Amanda Rahimah merikis kesakitan. "Sssshhh."


Ia pun di bantu seorang suster ketempat tidur.


"Maaf ya Mbak CD nya di lepas dulu biar di PD (Periksa Dalam).


"Kaki di lipat dan membuka, jangan tegang. Lemas saja ...."


"Justru kalau tegang nanti akan terasa sakit. Jadi rileks saja."


"Tarik nafss..."


"Hhh!" Rahimah terlonjat kaget ketika sesuatu memasuki dirinya, dan membuatnya merasa tegang.


Kini jantungnya makin berdegup kencang. Keringat dingin mulai terasa membanjiri di seluruh permukaan dahinya.


"Rasa mules yang dirasakan Mbak Rahimah itu akibat kontraksi."


"Barusan saya periksa sudah pembukaan tujuh."


"Kalau kontraksinya datang, tarik napas panjang melalui hidung."


"Lalu keluarkan lewat mulut." Suster memberi bimbingan.


"Hhhh." Rahimah menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Ffuuuuu." Lalu menghembuskannya melalui mulut.


"Bagus saat sakitnya datang lakukan terus seperti itu, nanti jika sudah pembukaan 10 ... Mbak Rahimah sudah siap melahirkan." Terangnya Rahimah hanya bisa mengangguk.


"Kemungkinan Mbah Rahimah melahirkannya selepas Dzuhur. Jadi bisa jalan-jalan dulu di sini agar mempercepat pembukaannya."


"Apa sudah makan?" Ia pun menggeleng.


"Kalau mau makan biar saya siapkan, karena Mbak Rahimah perlu tenaga banyak." Lagi-lagi ia hanya mengangguk.


Rahimah pun makan di bantu Khadizah, selesai makan Khadizah pulang karena proses lahir yang masih lama, ia pun kembali bersama suami dan putrinya.


Pembukan lengkap pun sudah sempurna, dengan bimbingan Dokter Amanda ia pun melewatinya.


"Saat sakitnya datang, dorong dengan kuat." Ujar Dokter Amanda, ia hanya di temani suster di sampingnya sedang yang lain tengah melakukan Sholat Dzuhur kecuali Khadizah yang menemani putrinya di ruang tunggu.


"Ya, satu, dua ... dorong," Ujang Dokter.


"Eeehhhhhggrrrh." Ejannya kuat.


Saat sakitnya hilang ia pun berhenti mengejan dan mengambil nafas dalam.


"Tarik nafas ... hembuskan ...."


"Hhhhh."


"Ffuuuu"


Kembali Dokter bersuara, saat melihatnya meringis.


"Bagus, kita mulai lagi. Satu... dua... dorong...."


"Kheeehhhh ... khaarrgg ...."


"Ya. Sekali lagi, satu... dua... dorong ...."


"Kheeehhhh ... khaarrgg ... aaaaa ...."


"Oooeekkk ... oooeekkk ...."


"Alhamdulillah." Gumamnya lirih dengan mata yang teramat mengantuk.


"Selamat ya Rahimah, anaknya laki-laki." Ujar Dokter Amanda menyerahkan kepada suster agar di bersihkan. Begitu juga denganya yang di bersihkan oleh Dokter Amanda.


Setelah di bersihkan putranya di berikan kepadanya ia pun segera memberi Asi pertamanya, membiarkan putranya mencari dan menghisap dengan cepat. Ada terasa sakit yang Rahimah rasakan saat p*tingnya di hisap.


"Sakit ya?" Tanya suster.


"Iya, sedikit." Ucapnya.


"Memang seperti itu awal-awaknya, kadang sampai memerah dan lecet ... sakitnya juga lumaian lama. Tapi seiringnya waktu akan sembuh perlahan." kata suster.


Semua yang tadi menunggu pun sudah di perbolehkan masuk, dan Pak Ramlan langsung membisikkan Azan di telinga kanan putra Rahimah kemudian kembali membisikkan Iqomah di telinga kirinya.


"Lutu.., dede na ...." Celetuk Hawa membuat yang lain tertawa.


"Siapa nama jagoan kita ini?" Tanya Khadizah mengusap pipi selembut sutra yang ada pada gendongannya.


"Rahman." Ucapnya bangga seraya tersenyum memandang sang putra yang juga tersenyum walau matanya terpejam.


"Wah sepertinya dia suka sama namanya, sampai-sampai senyum gitu." Kata Wahyu.


BERSAMBUNG....


Maaf jika masih ada salah dalam penempatan kosa kata🙏 harap di maklumi ... karena masih pemula, dan juga mengantuk😅.


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Noormy Aliansyah