
Rahimah sekarang sedang berada di sebuah restoran yang cukup terkenal di kotanya. Self Restaurant.
Dinda selaku pemilik baru dari sebuah restoran tersebut yang di berikan oleh kakeknya mengadakan acara makan bersama, sekaligus memperlihatkan kepada teman-teman tempat kerja barunya.
Seperti janji mereka tadi pagi, bahwa mereka akan perkumpul dari jam sepuluh. Waktu yang lumayan banyak jika hanya sekedar duduk bersantai di tempat itu, jadi mereka memutuskan untuk melihat-lihat isi dan sekitarnya dari tempat restoran tersebut.
Mulai dari halaman yang luas, menyedikan tempat parkir dengan keamanan yang menjamin. Meja makan pelanggan yang berjejer rapi, ada beberapa menyediakan private room, halaman belakang untuk acara-acara istimewa seperti lamaran atau ulang tahun.
Puas berkeliling, Dinda mengajak mereka untuk melihat bagian penting dari restoran itu. Dapur.
Dinda juga menunjukkan kepiyawaiannya dalam hal memasak, jelas itu bukanlah sebuah rahasia lagi karena mereka memang sama-sama berbakat jika menyangkut masalah perdapuran dan dalam kesempatan ini mereka memasak bersama.
Selesai dengan masakannya, Dinda menyuruh pelayan menyediakan ke meja untuk makan siang mereka. Bukannya memakai private room, mereka malah lebih memilih makan di deretan meja pelanggan. Tidak ada yang menyangka jika Dinda adalah pemilik yang baru, karena ia berprilaku layaknya seorang pelanggan.
Sebelum memulai makan siangnya mereka menunaikan salat Dzuhur dulu di mushola restoran karena sudah masuk pada waktunya, baru mereka kembali.
Mereka duduk di salah satu meja dengan enam kursi dekat dengan pintu keluar, sudah tersaji berbagai makanan yang di buat oleh Dinda dan teman-temannya.
Hari ini restoran lumayan penuh, hampir semua kursi telah di isi oleh setiap orang. Cukup lama Rahimah dan teman-temannya mengobrol sambil di selingi makan siang.
Sebenarnya bukan Rahimah yang mengobrol, tapi trio wewek ... Rahimah baru ikut dalam pembicaraan itu setelah makanannya habis. Mereka juga tidak mempermasalahkan Rahimah yang diam saja.
"Keren banget! Gak nyangka aku kalau kamu adalah pemilik dari restoran ini!" aku Nurul, hari ini ia tidak membawa Nuri, batita itu di titipkan kepada sang mama. Beruntung Nurul memiliki suami dan orang tua yang pengertian.
"Ini namanya perpisahan membawa berkah, habis cerai dari dia ... kamu dapet kepercayaan buat ngurus resto," sindir Nurul, tapi ia mensyukuri apa yang di dapat oleh Dinda, teman yang selalu berdepat dengannya tapi tetap sayang satu sama lain.
"Sebenarnya, sebelum kita pisah kakek juga sudah mau nyerahin resto ini. Cuman aku aja yang gak mau, tapi pas kita udah pisah ... aku putusin buat berhenti dari kantor dan memilih kerja di resto ini." Balas Dinda, sedikit menunduk. Jika biasanya Dinda akan membalas tidak untuk saat ini.
"Trus, Imah, kamu bagaimana? Kapan mau renovasi ruko yang di sebelah itu?" Rahimah menjadi lemas saat dapat pertanyaan seperti itu dari Soraya.
"Belum tau, kalau aku pakai tabungan buat renovasi, trus aku sama Rahman mau makan ... belinya pakai apa?" Ucap Rahimah lirih.
"Apa perlu aku bantu?" Tawar Soraya, Rahimah menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Maaf ya Rahimah, kalau aku gak bisa bantu. Kamu tau sendirikan sekarang aku harus minta izin dulu sama Mas Ari," kata Nurul dengan mimik menyesal.
"Aku sih, bisa aja bantu-bantu sedikit," balas Dinda.
"Enggak apa-apa kok Rul, tapi serius aku gak mau repotin kalian trus. Biar masalah ruko nanti aja," tolak Rahimah halus sambil menatap temannya satu persatu.
"Tapi aku sama sekali gak ngerasa di repotin, kalau kamu takut gak enak sama Mas Zidan ... kamu tenang aja. Aku pakai uang aku sendiri kok," Soraya masih kuekueh menawarkan bantuan.
"Enggak perlu ... aku serius, buat kali ini aku gak mau repotin kalian," mendengar itu Soraya menghela napas pasrah.
"Trus, kamu bakal lanjut jual baju yang masih ada?" tanya Nurul menimpali.
"Iya, itu semua sudah di urus sama Dinda." ucapnya tersenyum.
Semua baju yang di buat Rahimah waktu di Bandung sudah di bawa pulang oleh Dinda, dan di tawarkannya kepada ibu-ibu komplek di perumahannya. Sebagin sudah terjual, dan sebagian masih ada.
"Lalu? Apa akan buat baju yang baru?" Soraya ikut menimpali.
"Belum tau," ujar Rahimah sambil mengangkat kedua bahunya.
"Gimana kalau kerja sama aku di sini?" usul Dinda.
"Eemmm, nanti aku tanya sama Rahman dulu deh, apa dia gak masalah di tinggal sendirian," Dinda mengangguk mengiyakan.
Saat mereka masih asyik dalam pembicaraan ringan tersebut, tiba-tiba fokos Nurul tepat kedepan dan ada yang mengusik perhatiannya dari arah pintu. Karena posisi Nurul dan Soraya tepat menghadap ke arah pintu sedang Dinda dan Rahimah membelakanginya.
Seorang wanita cantik dengan pakaian tedikit longgor tanpa lengan sebatas lutut berwarna kuning. Sedang bergelayut manja kepada seorang pria, berjas warna vany senada dengan celananya.
Walau baju wanita itu agak longgar tapi saat ia menekuk tangannya guna mengapit lengan kekar di sampingnya, perutnya terlihat sangat jelas bawa membuncit seperti sedang hamil muda.
Nurul mengenal betul siapa pria itu, ia yang sudah berpengalaman dalam hal mengandung juga dapat menebak berapa kira-kira usia kehamilan wanita itu, jika betul dugaannya wanita itu tengah hamil empat atau lima bulan.
Mendapati pemandangan seperi itu, membuat Nurul mendengus kesal ia pun tergelitik untuk menghampiri sepasang manusia tersebut.
Rahimah, Dinda, dan Soraya heran melihat Nurul yang tiba-tiba berdiri dan berjalan, dan tambah terkejut saat Nurul berteriak dengan lantang.
"Heeh, berhenti di situ," bukan hanya orang yang di maksud Nurul saja yang menoleh padanya, bahkan semua yang ada di situ ikut menoleh karena cukup menarik perhatian.
Pria yang di panggil itu terkejut saat tahu siapa yang berteriak, bukan hanya dia ... Rahimah dan teman-teman juga ikut terkejut sambil berdiri.
"Apa karena wanita ini, kamu memilih menceraikan Dinda," dengan sengit Nurul bertanya saat sudah mendekat sembari menunjuk-nunjuk wanita di samping pria itu yang tidak bukan adalah Angga mantan suami Dinda yang baru beberapa hari lalu.
"Jaga omonganmu," ujar wanita itu mengibas tangan Nurul.
"Baru beberapa hari lalu kalian ketuk palu, tapi liat ini," tunjuknya lagi ke arah perut wanita itu.
Seketika ruangan itu menjadi gaduh, mereka berbisik-bisik ... dapat mereka simpulkan jika itu adalah masalah perselingkuhan.
Dinda segera beranjak dari tempatnya di susul Soraya dan Rahimah, meraka takut terjadi sesuatu nantinya.
"Dasar pria brengg seek," Nurul menyalak marah pada Angga.
"Diam, kamu Nurul ... jangan ikut campur dengan urusanku, atau kau akan tahu akibatnya." balas Angga mengancam tidak terima di katai Nurul.
Dinda mendekat dan menarik Nurul agar menjauh tapi ia tidak mau dan tetap pada posisinya.
"Kamu pikir aku takut? Ayo kalau berani!" Nurul bahkan menantangnya.
Mereka sekarang jadi bahan tontonan gratis semua orang, bahkan ada yang dengan sengaja merekamnya dengan Hp-nya masing-masing.
"Pergi kalian dari sini, dasar pengganggu," ujar wanita itu.
Dinda tersulut ia juga ikut maju di samping Nurul tanpa malu, tanggung'kan? Kalau sudah basah karena main air, kenapa tidak mandi saja sekalian!
"Siapa yang kau bilang pengganggu? Justru kaulah yang pengganggu! Disaat dia masih menjadi suamiku, kau bahkan rela menampung bayinya," ujak Dinda sambil berkacak pinggang.
"Diam kauu ...." ucap Wanita itu sambil mendorong Dinda kencang.
Dinda terdorong hingga menabrak Rahimah yang tepat di belakangnya, Rahimah yang tidak menyangka hilang keseimbangan dan ....
"Ahh," pekik Rahimah terjatuh, semuanya menoleh kearah Rahimah.
"Imaah." kata serempak dari trio wewek.
...****************...
"Jangan lupa carikan guru ngaji buat kakak?" Ujar Abdar sebelum pergi, hari ini ia ada meeting di sebuah restoran. Sebenarnya ia sudah menyarankan untuk meeting di cafe-nya, tapi sang klien menolaknya dan memilih sendiri tempatnya.
"Iya, Insya Allah ... nanti aku coba nanya sama Ustadzah Habibah."
"Emm kalau begitu kakak pergi dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam, hati-hati kak," Abdar mengangguk kemudian pergi.
Memasuki mobil mewahnya duduk di belakang kemudi, perlahan Abdar menjalankan mobilnya. Kali ini Abdar melakukan rapatnya sendiri, karena Adit sedang melakukan pekerjaan yang lain di kantornya.
Saat di perjalanan melewati masjid, bertepatan dengan waktunya Dzuhur, tidak ingin membuang waktu Abdar segera memarkirkan mobilnya di halaman Masjid untuk ikut berjamaah.
Usai salat, kembali ia menjalankan mobilnya menuju tempat yang di janjikan. Sampai di restoran itu bertepatan dengan kliennya yang juga baru datang mereka pun berjalan beriringan ke private room.
Memulai rapat dengan beberapa kudapan dan kopi sebagai pendampingnya, hingga kesepakatan pun terjalin sudah. Usai rapat mereka memutuskan makan siang bersama, tidak butuh waktu lama makanan sudah habis di santap oleh mereka berdua.
Setelah selesai dengan makan siang ... mereka berpisah di depan pintu private room, sebelum pulang Abdar ingin pergi ke toitel dulu, rekannya hendak menunggu tapi di larang oleh Abdar.
Menuntaskan hajat, lantas setelah selesai ... pria berjas hitam dengan baju kaos putih di dalamnya dan celana jins biru itu pergi menuju keluar.
Di tengah jalannya ia menangkap suara orang berteriak, mendekat dapat ia liat seorang wanita berhadapan dengan sepasang manusia di depan pintu.
Abdar memperhatikannya sambil berjalan pelan, tiba-tiba pandangannya jatuh pada wanita berbaju gamis berwarna maron senada dengan kerudung perseginya.
Abdar beegeming, ia terkesiap. Tidak lagi mendengar berdebatan adu mulut itu, yang Abdar liat sekarang adalah wanita yang ia pikirkan semalam.
Entah ini jodoh atau apa, Abdar menyakini bahwa perubahan dalam dirinya akan semakin baik jika ia sudah mendapatkan maaf dari wanita itu.
Abdar tersentak kaget saat wanita di depan wanita yang ia perhatikan terundur kebelakang dan menabrang wanita itu sehingga hampir jatuh, bergegas Abdar berlari dan menanggapnya.
"Ahh."
Memegang kedua bahu wanita yang bersandar di dada bidangnya, degup jantungnya berdetak lebih kencang dan tak karuan.
"Imaah ...," teriakan dari beberapa orang tidak mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang berada dalam dekapan itu.
...----------------...
Karena dorongan tadi begitu mengejutkan dan Rahimah yang tidak seimbang, kakinya sampai terkilir dan jatuh. Tapi ia tersadar bahwa ada seseorang yang menahan dirinya agar tidak jatuh ke lantai.
Menoleh kesamping mendongkakkan kepala, Rahimah terkesiap saat mendapati wajah seorang pria yang begitu dekat dengan wajahnya hembusan nafasnya bahkan begitu terasa di permukaan kulit mukanya.
Bertambah kaget lagi saat menyadari orang itu adalah orang yang tadi malam bertamu ke rumahnya tanpa di duga.
Bukan lagi perasaan marah, kecewa, sedih atau benci yang Rahimah rasakan saat ini, tapi rasa malu dan gugup yang mengambil alih semua perasaannya.
Ini adalah pengalaman baru bagi Rahimah, berdekatan dengan seorang pria jelas itu adalah sesuatu yang tak biasa di tambah lagi dengan posisi mereka yang tidak wajar baginya.
"Maaf," bisik Abdar menatapnya lekat.
Sekilas ingatannya melayang pada mimpi tadi malam, persis walau situwasi yang berbeda.
"Imah, kamu gak apa-apakan?" tersentak kecil ketika Soraya menghampirinya.
Gugup Rahimah tidak bisa menjawab akhirnya ia hanya menggeleng. Dengan bantuan Abdar yang masih memegang bahunya sedikit mendorong badannya agar bisa berdiri tegap.
Rahimah merigis saat kakinya di tapakkan ke lantai, ada rasa ngilu. Ia pun menjadi oleng ke samping membuat tangan yang sudah terlepas kembali memegangnya.
"Auww."
"Apa ada yang sakit?" khawatir Soraya.
"Kaki ku terkilir," kata Rahimah lirih.
Abdar menuntun Rahimah duduk di kursinya.
Nurul tambah marah kerena temannya di dorong dan Rahimah yang terjatuh.
"Heh, wanita gil la ... sini kamu maju, hadapi saya kalau berani," Nurul hendak menangkap wajah wanita itu, tapi di tahan oleh Dinda.
"Kamu pikir saya takut," wanita itu juga maju tapi di larang oleh Angga.
Tidak lama security datang melerainya, Nurul masih hendak meluapkan emosinya tapi melihat wajah Dinda yang memelas padanya membuatnya urung.
Security mempersilahkan kedua orang itu untuk pergi, sang wanita sempat menolak tapi di paksa pergi oleh Angga. Menghentakkan kaki ke lantai, wanita itu dengan enggan pergi sambil menatapa tajam kepada Nurul dan Dinda.
Nurul juga melotot, sambil berbicara tanpa suara. "Apa lo?"
Kembali ke meja makannya saat melihat Rahimah sudah duduk di tuntun seseorang.
"Imah," ucap Dinda dan Nurul ikut duduk.
Rahimah tidak menyahut, ia hanya meringis kesakitan.
"Yang mana yang sakit," tanya Abdar, trio wewek memandangnya lekat tanpa berkedip melihat Abdar yang berjongkok di hadapan Rahimah.
Rahimah kembali terkesiap, melihat tindakan pria di hadapannya ini.
"Anda mau apa berjongkok, ayo berdiri," kata Rahimah malu.
"Biar ku bantu," tanpa peduli dengan pandangan orang lain yang sekekali melihatnya seperti itu. Ia juga mengabaikan perintah Rahimah, tanpa malu Abdar menarik kaki kiri Rahimah.
Jika dilihat dari posisi Rahimah tadi yang jatuh sedikit ke arah kiri, maka kaki kirinyalah yang terkilir.
"Ehh, eehh ... anda mau apa tuan," Rahimah hendak mencegahnya.
Di lepasnya sendal Rahimah yang tidak terlalu tinggi itu, tanpa peduli sang empuhnya, kemudian memberi sedikit pijatan di sekitar tumitnya yang membuat Rahimah meringis kesakitan sambil menarik-narik kakinya.
"Aww."
"Tahan sebentar," ujar Abdar sambil menahan kaki yang tertarik itu, memutar-mutar kaki Rahimah pelan dan yang terakhir dengan gerakan cepat hingga mengeluarkan bunyi.
"Sudah," ujar Abdar sambil memasangkan kembali sendal Rahimah.
"Terima kasih," ucap Rahimah tulus atas bantuannya saat ini, Rahimah sedikit malu karena kakinya yang sempat di pijat-pijat oleh lelaki di depannya.
Soraya, Dinda dan Nurul saling pandang. Mereka bahkan melupakan apa yang terjadi tadi. Kembali mereka memperhatikan wajah Abdar, dan sibuk memikirkan sesuatu.
"Sama-sama," katanya, sadar di perhatikan Abdar memilih undur diri walau sebenarnya enggan karena ada sesuatu yang ingjn ia katakan kepada Rahimah.
"Kalau begitu saya permisi, Assalamu'alailum."
"Terima kasih, Waalaikumussalam." Jawab mereka serempak.
Mereka memperhatikan punggung Abdar yang menjauh dan mengecil di penglihatan lalu menghilang dari balik pintu.
"Masih sakit Imah?" tanya Soraya
"Udah enggak lagi kok," aku Rahinah.
Dinda seketika menatap tajam kepada sang tukang onar, saat teringat sesuatu.
"Ini semua gara-gara kamu Rul!" sungut Dinda kesal. Nurul melongo karena di salahkan.
"Iya, ini semua gegara aku. Trus, kamu gak mau cerita gitu?" kata Nurus sambil bersedekap, menanti penjelasan Dinda atas penghianatan mantan suami Dinda.
Dinda menghela nafas pasrah, sudah cukup ia berpura-pura tegar.
"Jadi apa yang mau kamu tanyakan?"
"Apa kamu tau tentang perselingkuhan Angga?" Dinda menggeleng sambil menunduk, ia bahkan baru tau sama seperti teman-temannya.
Yang menggugat cerai bahkan bukan dirinya, tapi suaminya. Mungkin karena desakan wanita itu, yang tengah hamil.
Melihat itu Nurul semakin benci dan marah terhadap Angga. Andai masih ada kesempatan tadi, ia ingin mencekik leher Angga untuk Dinda.
"Angga breeng seek," umpat Nurul yang di setujui Dinda, Soraya dan Nurul.
BERSAMBUNG ....
Noormy Aliansyah