Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 6



Dengan menggunakan taxi Pak Ramlan membawa Rahimah ke toko kainnya, di bantu Nurul dan Dinda. Karena pengusiran secara masal oleh warga membuatnya mengambil keputusan untuk pergi dari rumahnya sementara waktu.


Toko kain yang memiliki 2 lantai, lantai dasar tentu tempatnya mengais rezki, memamerkan dagangannya setiap hari. Dan lantai dua tempat untuk beristrahat sejenak, tapi cukup memenuhi kebutuhannya setiap saat.


Ada satu kamar tidur berukuran sedang yang biasa di pakai Pak Ramlan istrahat, ada kamar mandi, ada juga dapur kecil lengkap prabotan masak, satu buah TV, satu set sofa dan meja. Semua sudah tersediakan oleh Pak Ramlan sejak dulu, karena dulu ia sering membawa Rahimah ke tokonya. Di karenakan ia masih mempunyai rumah jadi dulu dia enggan untuk menetap di tokonya.


Tidak disangka akhirnya ia akan menempati tokonya untuk tinggal, sebenarnya warga menyuruhnya pergi dari desanya sejauh mungkin. Tapi Pak Rt memohon kepada warga agar memberi waktu untuk Pak Ramlan bisa menemukan tempat tinggal baru, sebelum ia pergi dari desanya itu. Semua pun setuju asal di tokonya dan jangan di rumahnya, karena toko ada di luar gang komplek mereka. Tapi tetap bersifat sementara.


"Bapak sangat berterimakasih sekali kepada Nurul dan Dinda, karena sudah mau membantu Kami?" Kata Pak Ramlan kepada mereka saat sudah duduk di sofa ruang tengah, Rahimah pun turut duduk dengan diam.


"Sama-sama Pak, kalau kami masih bisa mebantu pasti kami bantu kok Pak. Jadi Bapak tidak usah sungkan," jawab Dinda yang di angguki Nurul.


"Assalamualaikum." Terdengar salam dari seseorang di lantai bawah, Nurul pun menawarkan diri untuk melihatnya.


"Wa'alaikumussalam, Bu Ustazah sudah datang?"


"Ayo Bu naik ke atas semua lagi ngumpul," ajak Nurul dan Ustazah Habibah langsung mengekor di belakangnya.


"Bagaimana Pak Ramlan, apa sudah menemukan tempat tinggal?" saat sudah sampai Ustazah Habibah segera menghampiri Rahimah dan membelainya.


"Belum Bu Ustadzah, apa Ibu ada saran?"


"Kalau mau, tinggal di Bandung saja dekat sama anak saya. Tadi saya sudah telepon Khadizah katanya ada rumah yang mau di kontrakan di samping rumahnya."


"Tapi Bu apa tidak apa-apa membawanya ke Bandung?" tanya Dinda menyela.


"Itu malah lebih bagus buat Rahimah, dia harus melawan rasa takutnya sendiri dengan menghadapi tempat yang membuatnya seperti ini."


"Disana juga tidak perlu khawatir Rahimah tidak punya teman, Khadizah dan putrinya bisa menemani dan membantunya untuk berintraksi dengan suasana baru," tutur Ustadzah Habibah.


"Kalau itu yang terbaik menurut Bu Ustadzah .. kami akan kesana. Dan ini, Saya titip kunci rumah Saya." Sembari menyerahkan gunci dan meletakannya di atas meja.


"Kalau sudah ada yang menawarnya, langsung jual saja Bu Ustadzah. Tapi jika ada orang yang bertanya tentang pemiliknya, Bu Ustadzah tidak usah memberi tau tentang Kami. Takutnya mereka tidak mau beli."


"Baiklah, Saya terima kuncinya Pak Ramlan," ujarnya menyimpan kunci ke dalam tas.


"Yaaaah, kita gak bakal ketemu sama Rahimah lagi dong," keluh Nurul cemberut.


"Hahaha." Seketika semua tersentak kaget dan kini mata tertuju kepada Rahimah yang sedang tertawa kecil.


"Nurul ... muka kamu lucu tau, kalau lagi cemberut," ucapan Rahimah spontan, tentu semua seketika terdiam dengan mata yang menganak sungai. Terharu karena sekarang Rahimah sudah mulai merespon mereka.


"Gimana muka Aku gak cemberut tau gak, Kamukan mau pergi ... dan Kami bakalan kesepian karena gak bisa ketemu kamu lagi," ujar Nurul menahan air mata, dan masih pura-pura cemberut.


"Edihh, sory ya ... Kamu kali yang gak bisa ketemu sama Imah. Akukan bisa ikut Ustadzah Habibah ke Bandung nengokin cucunya sekalian ketemu Imah. Bleee," kata Dinda sembari menjulurkan lidah dan diam-diam mengusap air matanya.


"Iihh jahatnya ... emang kamu gak mau ngajak Aku gitu? Bu Ustadzah nanti kalau Ibu ke Bandung jangan lupa kabarin Saya ya, biar sekalian Saya bisa ikut," Adu Nurul, semua masih curi-curi lirik kepada Rahimah.


"Jangan mau Bu, nanti Bu Ustazah bakalan repot kalau ngajak si Nurul. Diakan makannya banyak banget, iya gak Mah?" Pancing Dinda kepada Rahimah.


"He'eh ... rakus banget Bu." Ucap Rahimah sembari tersenyum di wajah pucatnya. Semua pun terharu dengan Rahimah yang sudah mulai mau berbicara kepada mereka.


"Ehh jangan kasih tau dong ... nanti gak bakal dapet makan gratisan lagi," ucap Nurul pura-pura berbisik menutupi mulutnya dari samping.


"Hahaha, udah tau kali mereka," kata Rahimah mulai terhanyut dalam pembahasan ini.


"Iihh nyebelinnn." Masih pura-pura cemberut.


"Imah ..." Rahimah pun menoleh kepada Ustadzah Habibah. Menggenggam tangan Rahimah dan mengusap-ngusapnya lembut sembari berucap.


"Kalau Imah sudah mau cerita ... kami akan mendengarkan, kapan pun Imah mau bercerita tentang kejadian itu kami akan selalu mendukungmu," seketika Rahimah menundukkan wajahnya.


"Kalau Imah masih belum bisa cerita, gak apa-apa kok sayang," ujarnya mengangkat dagu Rahimah kembali bertemu pandang.


"Nanti kalau Imah sudah di Bandung, bakalan temenan sama Hawa cucunya Ibu. Harap di maklumi ya kalau dia nakal?" Rahimah pun mengangguk, Ustazah Habibah segera memeluknya.


"Kalau perlu sesuatu, minta tolong saja sama Mbah Dizah ya ... tidak usah malu meminta bantuannya," kata Ustadzah Habibah sambil mengusap punggungnya.


"Ajak-ajak dong kalau pelukkan." Timpal Nurul ikut memeluk.


"Ikutan dong." Dinda pun turut memeluk, sedang Pak Ramlan menangis dalam diamnya memparhatikan Rahimah.


"Aduhhh kalian ini, Ibukan jadi kejepit," protes Ustadzah Habibah dan membuat Rahimah tertawa.


"Hahaha," mereka juga tertawa.


"Hehehe maaf ya Bu Ustadzah, emang sengaja itu tadi." Ucap Dinda tersenyum malu.


"Pak Ramlan, kalau Pak Ramlan mau berangkat ... kapan pun, tolong kabari Kami, biar nanti Khadizah yang akan menyambut kalian di sana."


"Iya Bu Ustadzah, Saya akan mengurus semua kepindahan saya dulu. Tadi Pak Rt sedang membuatkan surat kepindahannya," kata Pak Ramlan sedikit serak.


"Sebaiknya toko ini tidak usah di jual juga Pak Ramlan."


"Memang tidak akan saya jual Bu, selain di rumah ... di sini pun banyak kenangan bersama istri saya dulu."


"Mungkin suatu saat nanti, ketika Saya sudah tidak ada lagi. Toko ini pasti akan sangat berguna untuk Rahimah," Rahimah langsung berlari dan memeluk Pak Ramlan sembari menagis.


"Bapak jangan ngomong gitu hiks ... hiks ... hiks ...." Pak Ramlan tersenyum, tangannya membelai pucuk Kepala Rahimah.


"Nak ... mulai saat ini kamu harus lebih kuat dari yang dulu, semua perkara ghoib ... tentang kehidupan, kematian dan jodoh tidak ada yang tau kapan datangnya."


"Tapi yang jelas ... semua tau bahwa semua itu ada. Hanya saja tidak tau pastinya," Rahimah diam merasakan sentuhan tangan Ayahnya.


"Jika kelak kematian itu datang kepada Bapak, Bapak harap kamu bisa menerimanya. Kamu sudah lebih dewasa dari yang dulu, dan di sini masih ada yang menyayangimu selain Bapak. Mereka akan tetap berada di sampingmu, menjaga dan membantumu," terang Pak Ramlan dianggu Rahimah cepat sambil terisak.


"Kalau begitu Ibu pulang dulu, ini sudah mau Magrib," ujar Ustadzah sembari berdiri.


"Imah tetap semangat dan kuat." Ujar Nurul yang di pandang Rahimah dengan diam.


Mereka pun berpamitan, selepas mereka pergi Rahimah kembali murung.


...----------------...


Sudah dua hari Pak Ramlan dan Rahimah tinggal di toko kainnya. Rahimah pun juga sudah kembali mau di ajak mengobrol oleh Nurul dan Dinda, walau kadang masih diam dan murung. Tapi mereka tetap bersyukur atas perubahan yang di tunjukkan oleh Rahimah.


Untungnya Nurul dan Dinda belum berkerja, jadi mereka bisa meluangkan waktu berkumpul menghibur Rahimah. Pagi ini mereka di datangi oleh Pak Rt dan istrinya juga Ustadzah Habibah yang mau menyerahkan surat kepindahan mereka ke Bandung sekaligus menjenguk Rahimah.


"Ini Pak Ramlan, surat kepindahan kependuduknya sudah selesai. Jadi Pak Ramlan bisa sekahkan kepada ketua Rt di sana," ucap Pak Harun menyerahkan sebuah map.


"Terimakasih Pak Harun atas bantuannya."


"Di sana juga Khazidah sudah saya beritau tentang kepindahan Pak Ramlan dan Rahimah, dan dia sudah melaporkan kepada ketua Rtnya." Kata Ustadzah Habibah.


"Baik, sekali lagi ... saya ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Bu Ustadzah dan Pak Harun beserta istrinya. Saya tidak bisa membalas semua kebaikkan kalian untuk saat ini, tapi semoga kelak Saya bisa membasalnya." Ujar Pak Ramlan tulus.


"Mungkin hari ini juga Saya akan pindah Pak Harun, semakin cepat akan semakin baik." Ujar Pak Ramlan dan di sejutu oleh mereka.


Dinda pun segera mencarikan Travel untuk mengantar Pak Ramlan dan Rahimah melalui telepon genggamnya, Nurul juga ikut membantu merapikan barang apa saja yang akan dibawa.


Tidak lama mobil Trevel pun tiba di halaman Ruko Pak Ramlan, mereka segera masukkan barang-barang yang sudah di kemas. Nurul dan Dinda menagis melepas kepergian Rahimah, tapi Rahimah tetap diam tidak lagi merespon seperti kemarin-kemarin. Selesai berpamitan mobil pun segera meninggalkan pekarangan Ruko, di jalan Rahimah selalu memeluk Ayahnya dengan tatapan kosong ke depan.


Supir taxi memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis sederhana yang terlihat sangat asri. Terdapat ruang tamu, dua buah kamar tidur, satu kamar mandi di dekat dapur, dan ruang makan.



Disana pun sudah ada yang menyambutnya, Khazidah, bersama suami dan putrinya.


"Assalamualaikum Wahyu." Sapa Pak Ramlan kedapa suaminya Khadizah.


"Wa'alaikumussalam Amang," sembari bersalaman di ikuti istri dan putrinya.


Rahimah segera mengambil alih Hawa ke dalam gendongannya, gadis yang baru berusia 2 tahun itu pun tampak seneng. Karena Rahimah yang sudah sering menggendongnya, saat datang berkunjung dengan Ustadzah Habibah, jadi Hawa tidak sama sekali merasa takut.


Setelah selesai memberi kabar, mereka segara masuk ke dalam rumah yang akan di tinggali Pak Ramlan dan Rahimah, Wahyu juga mengantar Pak Ramlan untuk melapor kepada ketua Rt setempat, Khadizah dan putrinya Hawa juga selalu mengajak Rahimah bercanda.


Sekarang Hari-hari Rahimah telah di mulai, suasana baru dan dengan nasib yang akan merubahnya di masa depan.


...----------------...


Tak terasa dua bulan sudah Pak Ramlan dan Rahimah tinggal di Bandung bertetangga dengan Khadizah, Khazidah juga setiap hari mengunjungi Rahimah dan menemaninya.


Sedang Pak Ramlan di beri pekerjaan oleh Wahyu sebagai tukang Kasir di Ruko miliknya, yang menyediakan bahan bangunan. Mereka akan pulang di sore hari bersama-sama.


Hari ke hari Rahimah sudah sangat membaik, ia bahkan sudah tidak melamun dan murung lagi mungkin karena Rahimah setiap hari bercanda dengan Hawa sehingga mengalihkan perhatiannya atas musibah yang menimpa dirinya.


Suatu sore saat Pak Ramlan pulang kerja, Rahimah menyerukan keinginannya yang ingin makan mangga muda kepada Ayahnya. Pak Ramlan yang pernah mendapati masa seperti ini berpuluh-puluh tahun lalu saat istrinya sedang mengandung Rahimah, menjadi sedikit was-was dengan keadaan putrinya.


"Apa kamu yakin Imah ... ingin makan mangga muda?" Tanya Pak Ramlan memastikan, Rahimah pun mengiyakan.


"Iya Pak, lidah Aku tuh rasanya pengen makan yang asem-asem gituh. Kayanya kalau engga makan yang asem tuh ada rasa enek di tenggorokan Aku," ujar Rahimah memelas.


Penjelasan Rahimah tentu membuat Pak Ramlam semakin yakin akan kecurigaannya terhadap putrinya. Ia pun urung untuk menanyainya lebih lanjut, mungkin putrinya itu akan sungkan jika ia bertanya tetang hal yang lebih pribadi, seperti... Tamu bulanan misal lebih baik ia akan minta bantuan kepada Khadizah pikirnya. Karena Khadizah yang sudah memiliki anak tentu ia akan memaklumi masalah seperti ini, berbeda dengan Rahimah yang bahkan belum menikah. Ia akan cenderung malu jika membahasnya bersama laki-laki biar pun itu Ayahnya sendiri. Maka jalan yang lebih bagus membahasnya ialah dengan sesama wanita.


Ramlan pun pergi mencari buah di pedagang pinggir jalan, dengan meminjam motornya Wahyu. Setelah ia mendapatkan apa yang ia cari ia segera pulang ke rumah, tapi sebelum masuk ke rumahnya ia lebih dulu menyapa Khadizah yang sedang menemani putri kecilnya di teras.


"Dizah."


"Iya Pak?"


"Ini kunci motornya Wahyu, terimakasih ya karena sudah meminjamkan nya."


"Sama-sama Pak."


"Dizah ... boleh Bapak minta tolong?"


"Boleh, minta tolong apa Pak?"


Dengan ragu Pak Ramlan mengutarakan kecurigaannya. "Emm ... begini Dizah ... entah ini hanya kecurigaan Bapak saja, atau hanya kebetulan. Bisakah Dizah menanyakannya kepada Imah tentang tamu bulanannya, semenjak kejadian itu seingat Bapak Imah belum kedatangan tamunya. Jadi Bapak merasa khawatir dengannya," jelas Pak Ramlan, Khadizah pun mengerti dengan apa yang di maksud oleh Pak Ramlan.


"Baik Pak, Saya mengerti ... nanti akan Saya coba tanyakan sama Imah." membuat senyum Pak Ramlan muncul, ia merasa seperti mempunya dua putri sekarang yang bisa memberinya solusi akan kegundahannya saat ini.


"Kalau begitu Bapak masuk dulunya, terimakasih atas bantuannya." Ujar Pak Ramlan pergi setelah mengucapkan salam.


Rahimah sedang memakan mangga muda yang asem seperti memakan kue yang sangat manis, Rahimah bahkan tidak melihat raut wajah Ayahnya yang memandangnya keasaman setiap kali ia memakan potongan mangga muda itu.


Pak Ramlan hanya bisa menelan ludahnya melihat kelakuaan Rahimah seperti itu. Menghela nafas saat kecurigaannya itu benar-benar yakin.


"Pelan-pelan makannya, Bapak juga gak akan minta." Ujar Ayahnya membuatnya tersenyum senang.


"Iya pak."


"Kalau sudah habis, ayo solat Magrib dulu," kata Pak Ramlan beranjak dari duduknya kembali ke kamar mengambil Sajadah dan bersiap pergi ke Masjid terdekat di rumahnya.


"Iya Pak, dikit lagi ini ... nanggung," ucapnya melanjutkan makanannya yang tinggal sedikit.


BERSAMBUNG.....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Noormy Aliansyah