Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 9



Tujuh tahun kemudian..


Di pagi yang sunyi tiba-tiba berubah menjadi keributan, siapa lagi pelakunya jika bukan Rahman. Anak laki-laki yang sekarang berumur tujuh tahun itu, selalu tidak bisa diam jika berhubungan dengan Sholat ke Masjid. Ia berlari ke kamar kakeknya dan mengetok pintu dengan cepat agar sang kakek membukakan pintu untuknya.


"Kakek... tok.. tok.. tok.. kakek..?" Ucapnya di depan pintu.


"Iya sebentar, Kakek lagi pakai baju dan sarung." Sahut Pak Ramlan dari dalam kamar.


"Rahman diam dulu, kakek lagi siap-siap. Mending duduk di sofa sambil ngaji." Ujar Rahimah yang lewat dari arah dapur, ia baru saja selesai memasak. Dan sekarang kembali ke kamar untuk bersiap menunaikan Sholat Subuh.


Rahman pun menurut mengambil Al-Qur'an dari atas meja dinding yang di belikan kakeknya lalu duduk di atas sofa, sembari membaca ia melirik pintu kamar kakeknya.


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ


(Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk)


Ucap Ramlan penuh penghayatan.


بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ


(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)


وَالۡحَبُّ ذُو الۡعَصۡفِ وَالرَّيۡحَانُ‌ۚ


(12. dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.)


 


فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ


(13. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)


 


خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ كَالۡفَخَّارِۙ


(14. Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,)


وَخَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ‌ۚ


(15. dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.)


 


فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ


(16. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)


 


رَبُّ الۡمَشۡرِقَيۡنِ وَ رَبُّ الۡمَغۡرِبَيۡنِ‌ۚ


(17. Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat.)


فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ


(18. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)


 


مَرَجَ الۡبَحۡرَيۡنِ يَلۡتَقِيٰنِۙ


(19. Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,)


 


بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٌ لَّا يَبۡغِيٰنِ‌ۚ‏



di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.



(Juz ke-27 Surat Ar-Rahman ayat 12-20)


صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ


(Maha benarlah Allah yang Maha Agung)


Rahman segera menghentikan mengajinya saat ia melihat sang Kakek keluar kamar dan kembali meletakkan Qur'an ketempat semula.


"Ayo kek kita berangkat ke Mesjid, Rahman sudah siap." Ujar Rahman membetulkan Sarung dan pecinya. Pak Ramlan tersenyum melihatnya, ia bangga telah mempunyai cucu yang sangat ingin mendalami agama di usianya yang masih dini.


Pak Ramlan selalu melaksanakan Sholat Subuh, Magrib dan Isya di Masjid, karena hanya mereka berdua laki-laki di rumah itu, jadi Pak Ramlan sangat senang mengajak sang cucu ke Masjid waktu Rahman masih berusia lima tahun. Tidak disangka dari sering mengajak pergi ke Masjid, Rahman selalu minta ikut di ajak dan ingin di ajari Mengaji supaya kelak bisa seperti imam di Mesjid yang suaranya sangat merdu kata Rahman. Dan Saat usianya yang menginjak tujuh tahun ia sudah khatam Al-Qur'an dua kali, daya ingat dan keinginan belajarnya selalu Rahman perlihatkan kepada siapa pun di sekitarnya jika ada yang melakukan hal baru yang ia lihat.


"Ya sudah ayo, izin dulu sama Mama." Suruh Pak Ramlan yang lekas di laksanakan Rahman, ia berlari ke kamar Rahimah dan memanggilnya.


"Ma.. Rahman dan Kakek udah mau brangkat ke Masjid nih." Ucapnya di depan pintu, Rahimah pun sudah siap dengan mukena yang di pakainya dan menggampiri Rahman untuk mengantar kedepan.


"Ayo biar Mama antar kedepan." Ujar Rahimah tersenyum sembari menggandeng tangan Rahman dan berjalan beriringan menuju ruang tamu (dulunya,) yang sudah di tunggui Kakek nya.


"Rahman sama Kakek hati-hati di jalan ya?" Mengambil tangan sang Ayah lalu mencium punggung tangannya dan di ikuti Rahman mencium tangan sang Mama.


"Iya, kami berangkat dulu Assalamualaikum" Ucap Pak Ramlan, mereka segera pergi saat Rahimah membalas salam mereka Wahyu pun sudah ada di depan terasnya mereka pun berangkat bersama, Masjid yang mereka datangi berada di depan komplek perumahan yang mereka huni, jadi tidak terlalu jauh.


...----------------...


Saat Rahman, Pak Ramlan dan Wahyu tiba di Masjid mereka segera mengambil wudhu dan lekas masuk kedalam Masjid, marbot pun sudah menyerukan iqamah. Semua jamaah sudah bersiap melaksanakan Sholat subuh.


Usai melaksanakan Sholat Pak Ramlan dan Rahman tidak langsung pulang, begitu juga dengan wahyu. Mereka berjalan ke warung nasi yang sejak subuh sudah buka. Pak Ramlan pun membeli kurang lebih 20 bungkus nasi beserta lauk dan air mineralnya, pun Wahyu juga melakukan hal yang sama.


Usai membeli nasi beliau mengajak Rahman berjalan menyusuri pinggir jalan yang masih belum terlalu terang. Wahyu berpencar menyusuri jalan yang lain. Terlihat beberapa pengemis yang sudah bangun dan ada juga yang masih tidur beralaskan kardus.


Pak Ramlan dan Rahman segera menghampiri pengemis satu persatu membagikan nasi bungkus dan minumnya kepada mereka.


"Kenapa setiap hari jum'at kita mesti memberi mereka makanan?" Tanya Rahman setelah mereka sudah menjauh, karena Rahman dulu masih kecil jadi dia tidak mengerti untuk pertanya. Tapi sekarang rasa ingin taunya terus bertambah.


"Salamah dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda: “Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jumat. Sebab pada hari itu Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam as. Dia memasukkan Adam ke surga, pada hari itu ia diturunkan ke bumi dan pada hari itu terjadi kiamat serta pada hari itu terdapat satu masa dimana tidak seorangpun berdoa kecuali Dia akan mengabulkan doa itu.” [HR.Muslim]"


Setelah nasi sudah dibagikan mereka pun beranjak hendak pulang. Pak Ramlan pun menunggu Wahyu sejenak agar pulang bersama.


Tapi sebelum memasuki gang komplek Rahman melihat di seberang jalan ada orang yang di keroyok oleh beberapa preman di pagi ini. Orang yang di keroyok terlihat melawan, dan malah tidak terlihat kesulitan menangkis pukulannya, malah dengan mudahnya ia membalas setiap pukulan sang premen.


Rahman yang melihatnya sangat takjub dengan orang yang di keroyok itu, ia bahkan menahan Kakek dan Om Wahyu untuk beranjak dari tempat mereka agar bisa melihat sampai selesai.


"Sebentar Kek, itu ada orang berkelahi." Ujarnya yang langsung di lirik Ramlan dan Wahyu ke arah tunjuk Rahman.


Mereka sedikit terkejut melihat pengeroyokkan itu, mereka pun langsung menyebrang Agar bisa membantu orang tersebut. Belum mereka sampai para preman sudah pergi berhamburan.


"Nak kamu tidak apa-apa?" Tanya Pak Ramlan saat sudah berhadapan dengan seorang pemuda dewasa. Orang itu tersenyum sembari mengibas baju kokonya.


"Tidak apa-apa Pak."


"Kenapa mereka mengeroyokmu?" Kata Wahyu.


"Mereka meminta uang kepada Saya dan Saya sudah memberinya. Tapi mereka minta tambah, karena saya hanya membawa uang segitu, saya bilang saja kalau uang Saya sudah habis dan mereka tidak percaya. Jadilah main hajar saja." Ujarnya menjelaskan.


"Om.. ajari Rahman berkelahi dong?" Pinta Rahman memandangnya lekat.


"Husss mau jadi apa kamu kalau bisa berkelahi?" Tanya Pak Ramlan kaget dengan permintaan cucuknya.


"Beladiri itu tidak hanya untuk berkelahi. Tapi juga untuk menjaga diri dari orang yang berniat jahat kepada kita." Ujarnya menyela memberi jawaban, kemudian ia membungkukkan badan mensejajarkannya dengan Rahman. Pak Ramlan pun membenarkannya.


"Berapa umurmu?" Bertanya seraya memegang bahu Rahman.


"Tujuh tahun." Jawab Rahman tersenyum


"Berarti sekolah kelas satu ya?"


"Bukan kelas satu tapi kelas dua."


"Kelas dua?" Ulang lagi mengernyit kening.


"Kata Pak guru, Rahman lebih cocok di kelas dua. Jadi Rahman di pindakan oleh kepala sekolah ke kelas dua." Jelasnya membuat orang tersebut tersenyum.


"Kalau kamu ingin belajar seperti tadi, Om bisa mengajadimu. Itu tadi jenis beladiri taekwondo." Ujarnya seraya menegakkan badannya.


"Rahman boleh belajar seperti tadi gak kek?" Ia malah kembali bertanya kepada sang Kakek. Pak Ramlan diam sejenak menimbang-nimbang permintaan Rahman, lalu menatap Wahyu meminta pendapat yang langsung di anggukinya.


"Memangnya Kalau Rahman belajar seperti tadi apa tidak takut?" Dengan cepat Rahman menggeleng sambil menjawab.


"Engga Kek, Rahman berani kok." Ujarnya penuh semangat, Ramlan menggela nafas memandang cucunya kemudian memandang orang tersebut.


"Sebaiknya Saya pikirkan dulu, Ramlan juga harus meminta izin kepada Mamanya." Orang tersebut mengangguk mengerti.


"Baiklah kalau begitu, nanti kalau Rahman sudah mendapat persetujuan untuk belajar taekwondo, Bapak bisa menghubungi Saya di no ini." Mengambil kartu nama dari dalam dompet yang ada di saku baju kokonya.


Pak Ramlan menerimanya dan memperhatikan kartu nama itu kemudian berterimakasih.


"Terimakasih Nak, kalau begitu kami permisi pulang dulu." Mereka pun bersalaman satu sama lain dan berpisah.


...----------------...


Jam sudah menunjukkan jam 07:15 menit ketik Sampai di pekarangan rumah, Wahyu pergi ke rumahnya begitu juga Rahman dan Pak Ramlan.


Saat hendak mengucap salam mereka sudah di sambut oleh Rahimah di depan pintu,


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam, ayo Rahman mandi dulu nanti sekolah biar di antar Kakek." Ujarnya membimbing mereka masuk.


Pak Ramlan tidak lagi bekerja di tempatnya Wahyu, semenjak empat tahun lalu beliau terkena serangan stroke. Rahimah melarangnya bekerja dan menyarankannya untuk perbanyak istrahat sekaligus menemani Rahman, karena Rahman sekarang sudah sekolah maka tugas Pak Ramlan mengantar jemputnya ke sekolah dengan motor hasil kerjanya di tempat Wahyu.


Uang hasil penjualan Rumah mereka di Jakarta sempat di gunakan Rahimah untuk membiayai pengobataan penyakit Pak Ramlan walau sejatinya pengobatan itu menggunakan bantuan tapi tidak menutup kemungkinan sebagian obat juga ada yang harus di tebus di apotek. Ia juga memakainya untuk modal membuka usaha agar dapat bertahan hidup tinggal di perumahan itu, dan selebihnya ia tabung untuk keperluan yang mendesak berjaga-jaga jika Ayahnya terkena serangan stroke lagi.


Rahimah juga membeli dua mesin jahit, satu di antaranya memakai tenaga listrik jadi jika dalam keadaan lampu padam ia akan menggunakan yang no listrik. Ia juga membeli bahan-bahan kain untuk membuat baju, Nurul dan Dinda waktu mengetahui ia membeli peralatan itu untuk usah barunya sangat antusias.


Terbukti saat mereka datang berkunjung bersama Ustazah Habibah, tidak henti-hentinya mereka memfoto semua baju buatan Rahimah. Bahkan mereka juga membawa sebagian baju yang dibuat Rahimah untuk di dijual kepada kenalan dan teman sekantor mereka, ya sekarang mereka sudah bekerja di salah satu prusahaan otomotif di Jakarta.


Karena Nurul pintar dalam bidang keuangan jadi mereka menghitung-hitung dulu berapa uang yang sudah di gunakan dalam satuan bajunya, menghabiskan berapa jumlah kain lalu upah untuk mempuatnya.


Jadi Rahimah menyerahkannya kepada Nurul untuk menetapkan harga, untuk promosi Ia meminta Dinda yang mengurusnya di mensos karena memang bidang Dinda.


Sekarang ruang tamu mereka sudah berubah pungsinya, mereka menjadikannya ruang kerja Rahimah agar dapat membuat baju dan menggambar desain bajunya.


Rahman yang sering melihat Mamanya menggambar sejak usianya tiga tahun, menjadi ikut-ikutan bisa menggambar desain baju untuk anak seumurannya. Hawa yang sempat protes karena tidak di buatkan gambar baju untuknya, membuat Rahman berkeinginan membuatkan gambarnya dan Sang Mama yang membuatkan bajunya untuk Hawa. Sungguh kombinasi yang cocok dari ibu dan anak.


Pak Ramlan yang berpengalaman dalam hal kain tentu sangat di manfaatkan Rahimah, Rahimah akan selalu mendiskusikannya kepada Pak Ramlan tentang kain mana saja yang berkualitas bagus dan apa harganya pantas untuk jenis kainnya. Juga Pak Ramlan yang bercerita perna di tipu temannya tentang harga-harga kain menjadikan Rahimah mendapat pembelajaran untuk kedepannya agar mengetahui harga kain yang sesuai jenisnya.


Rahman yang selalu menyimak juga sekarang mulai mengerti dengan usaha yang di buat sang Mama, diam-diam dia juga mengingat apa saja saran dari Nurul, Dinda dan sang Kakek.


Rahman juga mencoba menggambar apa saja selain Baju, ia pernah menggambar rumah dan mobil gurunya tentu ia mendapat pujian saat menunjukkannya kepada sang guru dan mendapat pesan agar lebih tekun mendalami kenampuan menggambarnya.


"Ini Pak tehnya ayo kita Sarapan dulu." Ujar Rahimah saat sudah berkumpul di meja makan.


"Ini sayang susu untukmu." Meletakkannya si samping piring makan Rahman.


"Terimakasih Ma." Serega meminum setelah ia membaca basmalah untuk beberapa teguk kemudian memakan sarapannya


"Kata Mbak Khadizah, hari ini Ustazah Habibah akan datang. Jadi nanti Rahman dan Hawa bisa belajar lagi dengan beliau." Ujarnya memberitahu Pak Ramlan, Rahman yang sudah khatam Qur'an nyatanya tetap saja suka di ajari Usdazah Habibah mengaji. Jika Ustazah Habibah datang Hawa dan Rahman akan berebut supaya mengajarinya mengaji.


Dengan senang hati Ustazah Habibah mengajari cucu-cucunya mengaji. Dan sedikit memberi mereka pencerahan dengan ceramah mengenai tema surat apa yang di bacanya. Itulah yang membuat keduanya bersemangat mendengarkan.


BERSAMBUNG.....


Maaf up nya molor trus gegara kesibukan di dunia nyata,🙏 membuat mata ini selalu mengantuk.😪 Padahal rangkayan cerita sudah di dalam otak, tapi daya tahan tubuhnya tidak mendukung untuk menulis. Hehe🤭


Kalau ingin bersedekah seperti Pak Ramlan, Rahman dan Wahyu silahkan memberi bunga atau kopi.😅 jika tidak ingin saya tidak memaksa.😁✌


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Noormy Aliansyah