Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 89 Ke rumah Abdar



Sesuai dengan apa yang mereka bicarakan tadi Malam. Siang ini setelah Rahman pulang sekolah, Abdar langsung menjemputnya bersama Intan. Mereka pergi ke tempat kediaman Abdar guna menjenguk adiknya yang sudah menunggu kepulangannya.


Di perjalanan ....


"Om Abdar, tante Imah sama kak Rahman ikut nginap juga?" tanya Intan penasaran.


"Iya Intan, mereka akan ikut nginap sama Om," jawab Abdar.


"Yeee horeee, nanti kita bisa main bareng kak."


"Nggak mau," tolak Rahman to the points.


"Yahh, kok nggak mau?" tanyanya kecewa.


"Mainan kamu itu semuanya buat anak perempuan, memangnya kakak perempuan?" jelas Rahman.


"Enggak."


"Intan 'kan bisa main sama mama?" Abdar menyahut sambil melirik dari kaca yang menggantung.


"Ahh, nggak seru main sama mama. Bosen ...." Abdar dan Rahimah tertawa mendengar pengakuan Intan.


"Kamu aja bosan, apa lagi mama kamu Intan?"


Intan mengangkat kedua bahu acuh tak acuh dan bersedekap sembari bersandar.


"Gimana kalau nanti mainnya sama tante aja?"


"Boleh, boleh ... Intan main sama tante aja deh," ucap Intan girang.


"Yank, kalau kamu main sama Intan ... nanti aku gimana?" protes Abdar langsung.


Rahimah terperangah dengan pertanyaan Abdar yang terkesan koyol, tanpa mempedulikan kedua bocah diantara mereka kenapa malah bertanya seperti itu.


"Ya elah Om, biasanya juga om sibuk di ruang kerja sendiri. Napa jadi ikut-ikutan pengen main? Kaya anak kecil aja," kata Intan heran.


"Itu dulu, sekarang kan om sudah menikah ... jadi om juga pengen main sama tante Imah." Kata Abdar sambil tersenyum geli akan jawabannya sendiri.


Rahimah menggeleng tidak percaya, kelakuan Abdar berbeda dari yang biasa ia lihat. "Apa mas Abdar punya kepribadian ganda? Biasanya omongannya itu yang masuk akal."


"Kalau pengen main, sama kak Rahman aja. Kaliankan sama-sama cowok! Jadi tante Imah mainnya sama Intan," Balas Intan.


Rahimah mengulum senyum ketika melirik wajah Abdar yang masam, karena apa yang dikata Intan memanglah benar.


Rahman diam tidak berminat menyahut, ia ada rencana sendiri dalam pikirannya dan tidak ingin bermain.


Mehela napas karena kesal Abdar tidak lagi ikut berbicara, sepanjang perjalanan hanya Intan yang mengoceh tak jelas.


Sesampainya di halaman, Maryam sudah berdiri di depan pintu rumah mereka dan langsung menyambut kakak iparnya.


"Mbak Imah, aku seneng tau mbah mau nginap di sini," cecar Maryam usai menyahut salam.


"Ayo kita masuk, ayo Intan ... ajak kak Rahman ke kamarnya." Menarik Rahimah masuk kedalam rumah dan tidak menghiraukan kehadiran Abdar.


"Emm, kakak sendiri dicuekin setelah ada kakak ipar," batin Abdar mengeluh.


Dengan langkah gontai Abdar menyusul masuk menuju lantai atas. Dimana Maryam membawa Rahimah ke kamarnya.


Abdar tersenyum samar ketika menangkap wajah kagum Rahimah akan isi kamarnyam. Merapatkan diri di samping sang istri yang menyimak penjelasan adiknya tentang tata letak berbagai keperluannya.


"Nggak nyangka, kamar yang sama sekali belum pernah dimasukin perempuan selain Maryam dan Intan, tiba-tiba malam ini akan dimalamin bidadariku." Bisik Abdar.


Jangan tanya bagaimana respon Rahimah, iya selalu kaget dan tersipu malu dengan perlakuan Abdar yang baru ia ketahui atau ia dapatkan.


"Bidadariku." batin Rahimah menggelitik senang.


"Maryam, di mana mbak bisa meletakkan isi tas ini?" tanya Rahimah pura-pura mengabaikan Abdar.


"Sini biar aku saja yang menyimpannya." Abdar hendak merebut, tapi ditahan Rahimah.


"Nggak usah mas, biar aku aja. Mas kasih tau tempatnya saja," tolak Rahimah.


"Mas, biar aku saja." Rahimah segera menyusul.


Maryam yang melihat mereka berebut tas dan pergi ke sudut ruangan, ia pun memutuskan untuk pergi karena dikacangin.


"Terserahlah," gumam Maryam beranjak dari tempatnya.


"Mas, jangan. Biar Imah saja." Katanya saat melihat Abdar berjongkok di depan wardrobe sambil membuka tasnya.


"Udah nggak apa-apa, biar ma----." Perkataan Abdar menggantung ketika tangannya mengangkat sesuatu dari dalam tas.


Benda berbentuk gunung kembar dan kenal karena mengandung kampas, matanya bahkan tak berkedip menatap benda yang baru kali ini ada dalam genggamnya.


Rahimah terkesiap, ini yang dari awal ia khawatirkan. Buru-buru mengambil miliknya dan menyimpan dibalik punggungnya, Abdar sempat tersentak kecil karena ulahnya tersebut.


"Sudah aku katakan Mas, biar Imah saja." ujar Rahimah sembari menarik tas dan memasukkan barangnya.


Abdar berdiri dan merapatkan tubuh tegap nya pada gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya. Rahimah terkejut dan spontan mundur ke belakang, hingga bersandar di dinding.


Mendongakkan kepala, pandangan mereka beradu dan terkunci. Saling berbicara melalui isyarat mata. Abdar memandang dalam wajah yang seketika tersipu malu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Semakin merapat, meletakkan tangan di dinding samping kepala Rahimah sebagai tumpuan, satu tangannya lagi terangkat dan menempel di pipi sang istri sembari memberi usapan lembut menggunakan jari jempolnya.


Rahimah menunduk sambil menahan gugup, tas ditangannya pun terjatuh di sampingnya. Ia merasa tersudut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Atmosfir disekitar seketika berubah dingin dan sunyi bagai tanpa penghuni.


"Memangnya kenapa kalau aku yang menyimpannya, hmmm?" bisik Abdar lembut memecah keheningan hingga membuat aliran darah terhenti, desiran aneh menyelimuti keduanya.


"Apa kau malu jika aku melihatnya?" sambung Abdar semakin membuat Rahimah menunduk.


Yang semula di pipi kini tangannya berpindah di dagu, mengangkat wajah yang sudah merah bak buah cerry.


"Hmm?"


Kembali Rahimah hendak menunduk tapi ditahan Abdar kuat. "Bukankah tak masalah jika aku melihatnya? Bahkan jika aku mau, aku bisa melihat yang melekat ditubuh mu saat ini!"


Rahimah menelan ludah semakin bertambah gugup, bahkan mungkin Abdar bisa mendengarnya.


"Kau tak keberatan'kan, jika aku ingin melihatnya?"


"Ma-mas," ujar Rahimah lirih berusaha berbicara.


"Hmmm," sahutnya dengan gumaman.


"Bi-bisaka-h ja-ngan se-seperti ini?" kata Rahimah terbata.


"Tidak bisa," tolak Abdar tegas tapi pelan.


"Semenjak kita resmi menikah, aku selalu ingin berada didekat mu," aku Abdar jujur.


"Bahkan kalau bisa, ke kantor pun akan ku bawa," ucapnya tersenyum geli.


Ibu jarinya pun merambat ke bibir ranum sang istri, menelan ludahnya kasar karena begitu tergoda. Semenjak pertama kali ia mencium Rahimah, keberaniannya untuk kembali mencium semakin besar. Apa lagi tidak ada penolakan dari istrinya itu.


Perlahan Abdar menunduk, Rahimah yang sudah memprediksi kejadian selanjutnya pun pasrah. Memejamkan mata guna mengurangi rasa grogi nya.


Tiga senti, dua senti, satu senti, daaan ....


"Om Abdar," panggil seseorang berteriak.


Seketika Rahimah mendorong Abdar kasar hingga membuat suaminya terjatuh dan mengaduh.


"Awww." Rintihnya sambil mengusap pant4tnya.


"Mas." Pekik Rahimah langsung membantu berdiri.


"Om Abdar kenapa?" muncullah bocah kecil yang tadi memanggilnya dari balik pintu yang setengah terbuka.


Abdar dan Rahimah saling pandang.


BERSAMBUNG ....