
Rahimah sudah tidak sabar lagi dengan kedatangan Rahman yang akan kembali di tengah-tengah mereka.
Ketika menunggu Rahman, ia begitu gelisah dan was-was. Tadi Candra sudah menghubungi jika mereka sudah sampai di kantor polisi dan akan menggunakan taksi menuju rumah Ustadzah Habibah.
Saat Rahman muncul di depan pintu Rahimah langsung beranjak dari duduknya dan berlari ke arah putranya, ia merasa dunia berhenti berputar sejenak.
Tidak ada lagi yang begitu berharga selain putranya. Rahimah bahkan sempat terisak dalam mendekap erat anaknya.
Duduk di ruang tamu, Rahman tidak sejengkal pun menjauh dari Rahman. Ia terus memeluk dari samping dan sekekali mencium pipi cabi putranya hingga Rahman terpaksa bersuara dan mengeluh karena selalu di cium sang mama.
"Maa, malu ...." Seketika membuat yang lain tertawa.
Bagaimana Rahman tidak malu, ada begitu banyak orang yang berkumpul di rumah Ustadzah Habibah. Selain Khadijah dan Hawa tidak ketinggalan trio wewek bersama masing-masing keluarga kecilnya yang sudah menunggu kedatangan Rahman-candra, pun dengan Ustadz Abizar.
"Biar saja Rahman. Tunggu sampai mama mu puas," Ustadzah Habibah menimpali.
Lagi-lagi yang lain tertawa melihat wajah Rahman yang cemberut dan Rahman hanya bisa pasrah.
"Oiya, Imah. Lusa kita buat acara syukuran ya, di rumah ibu." usul Ustadzah Habibah.
"Apa tidak merepotkan, bu?" Ia menjadi sungkan.
Acara 25 hari alm. pak Ramlan yang akan di gelar dari jauh-jauh hari kemarin sudah terancam batal karena Rahimah yang kepikiran Rahman, tapi ternyata Ustadzah Habibah tetep membuat acara kecil-kecilnya kemarin pagi di hari Abdar tertembak, mereka hanya mengadakan tahlilan sederhana dan mengundang para warga di lingkungan rumah Ustadzah Habibah saja. Dan sekarang Ustadzah Habibah ingin mengadakan acara lagi untuk syukuran karena kembalinya Rahman, tentu membuat ia tak enak hati.
"Sama sekali tidak merepotkan. Ibu senang bisa membantumu, Imah. Kamu sudah ibu anggap anak ibu sendiri," kata-kata Ustadzah Habibah menggetarkan hatinya, ia begitu terharu atas bantuan yang di berikan Ustadzah Habibah di tambah lagi di anggap anak sendiri, semakin basalah perasaannya saat ini.
"Iya, bu. Terimakasih atas segala apa yang ibu dan mbak Khadijah lakukan selama ini."
"Nanti aku bawain kue, deh," Soraya bersuara.
"Aku juga bawa masakan andalan Resto aku," Dinda tidak mau kalah.
"Aku bawa Nuri aja deh."
"Huuuu," seketika ruangan gaduh dengan teriak Dinda dan Soraya.
Semua orang pun di undang untuk acara Lusa, besok Rahman juga akan kembali sekolah. Ia juga diperbolehkan Rahimah untuk mengundang teman-temannya.
Dengan senang Rahman akan mengajak teman barunya. Ia dan Rayan segera merencanakan siapa saja yang akan di undang.
Sementara yang lain sibuk membahas rencana lusa, Rahimah pun berlalu ke dapur guna membuat minuman lagi karena gelas yang sudah kosong tapi masih asik berbincang.
Asyik dengan botol sirup di tangan tiba-tiba Ustadzah Habibah datang menyusul.
"Imah." Rahimah langsung menoleh.
"Iya, bu?"
"Apa kamu sudah membuat keputusan dengan rencana yang ibu bilang tentang Ustadz Abizar Itu?"
Rahimah menghela nafas yang terasa berat, lantas ia menggeleng pelan.
"Ibu paham, pasti ini gegara kamu sibuk mikirin Rahman waktu di culik 'kan?"
Dengan ragu Imah mengangguk dan kemudian menggeleng samar.
"Sebenarnya, saya tidak yakin dengan dengan keinginan ibu. Bagaimana kalau dia tahu tentang Rahman? Apa yang akan dia pikirkan tentang saya?" Menunduk menghenti Kan gerak tangan yang sedang mengaduk air sirup dalam teko.
"Imah, ibu sebelumnya minta maaf karena sudah memberitahu Ustadz Abizar, tentang Rahman." Seketika Rahimah menegakkan kepala, memandang dengan rasa keingin tahuan tentang pernyataan yang baru saja ia dengar.
Belum Rahimah memperjelas tatapan nya dengan tindakan pertanyaan, tapi rupanya Ustadzah Habibah sudah menduga apa yang ia pikirkan.
"Ustadz Abizar sudah tahu," duaaaarrr Rahimah terkesiap dengan fakta kalau Ustadz Abizar tahu tentang itu semua.
"Bukan maksud ibu ingin membuka aib-mu, bukan ...." Dengan cepat Ustadzah Habibah menggeleng agar Rahimah tidak salah faham.
"Ibu hanya ingin Ustadz Abizar tidak berburuk sangka padamu, jika ibu menunjuk mu sebagai pilihan yang ingin di carikan jodohnya." Di raihnya tangan Rahimah.
"Alangkah baiknya jika semua itu ketahui sebelum terjadinya ikatan pernikahan, agar kelak jika Rahman menikah ... tidak menimbulkan fitnah karena nasab-nya (status hukum anak dalam pernikahan)."
Flashback on
"Di antara kita cuman Ustadz Abizar yang belum menikah, apa tidak ada kenalan di antara kalian yang cocok untuk di kenalkan kepada junior kita ini?" Ustadz Rasyid memandang satu persatu orang yang berada di ruang kantor pondok pesantren miliknya.
"Jangan tanya kami, bang. Abang kan tahu sendiri? Kalau kami tidak punya teman akhwat, kecuali istri kami," ujar Ustadz Roy yang tak lain ialah adik ipar Ustadz Rasyid yakni suami dari Ustadzah Madinah.
"Maksud saya, keluarga atau saudara," ralat Ustadz Rasyid.
"Tidak usah di paksakan bang, mungkin memang jodohnya masih jauh di ujung dunia," ujar sang pemilik nama yang menjadi topik pembicaraan.
"Tak akan datang padamu jika tidak di jemput, karena mereka akhwat yang menunggu imam-nya yang datang," Ustadz Abas menimpali.
"Coba tanya sama Ustadzah Habibah, mungkin saja beliau punya anak angkat?" usul Ustadz Adnan.
Semua menoleh pada Ustadzah Habibah yang sedang mengobrol dengan kakak ipar alm. suaminya. Ustadzah Badawiya.
"Jangan mengganggu beliau," tolak Abizar.
"Itu, bidadariku sudah datang. Coba kita minta tolong saja sama istriku, untuk bertanya dengan Ustadzah Habibah." Tunjuk Roy.
Yang lain mengangguk, kecuali Abizar yang menggeleng tapi di tak dihiraukan oleh mereka.
"Bidadariku, sini." Tentu Madinah segera menoleh kepada para lelaki itu ketika memasuki ruangan.
Madinah tahu jika yang memanggil bidadariku itu adalah suaminya, karena hanya Roy yang mempunyai panggilan sayang seperti itu untuk istrinya ketika memanggil dari jarang lumayan jauh.
"Ada Apa, bang?" Mendekati mereka Madinah memilih duduk di samping suaminya.
"Yank (Sayang) bisa gak kamu tanyakan kepada Ustadzah Habibah, apa dia punya kenalan akhwat atau anak angkat yang seusia kamu buat di jadikan istri?" Madinah tidak langsung mengiyakan. Ia menatap sang suami dengan tatapan serius. Dari tatapannya bisa di artikan seolah bertanya, untuk Apa?
"Untuk Ustadz Abizar," Ustadz Rasyid mewakili.
Abdar menunduk malu sambil mengusap-ngusap kening nya agar tidak kelihatan kalau ia grogi karena sampai melibatkan akhwat dalam pembahasan ini.
Melirik sekilas pada Abizar dan langsung kembali melihat sang suami, lantas Madinah mengangguk.
"Iya, akan saya tanyakan." Segera berdiri dan berjalan ke arah Ummi dan tantenya.
"Kalian ini," gumam Abizar berdecak kesal.
Semuanya memandang pada satu titik yang sama, dimana Ada Ustadzah Badawiya, Ustadzah Habibah, dan Madinah.
Bahkan keheningan melanda di sekitar mereka, samar hanya terdengar percakapan para akhwat yang membahas tentang para santri. Masih tidak terdengar pertanyaan yang ingin mereka pastikan tadi.
Semua harap-harap cemas, padahal yang di tanyakan itu untuk Abizar tapi kemana semua ikut menegang.
Abizar yang menyadari kesunyian diantara mereka, menggelengkan kepala.
"Kenapa lama sekali, apa Dinah lupa?" keluh Adnan.
Tiba-tiba mereka tersentak kecil saat para akhwat tadi berdiri bersama dan berlalu pergi keluar ruangan melewati tempat duduk mereka.
Mereka saling lirik, ingin memanggil Madinah yang berlalu tapi ternyata keburu sang empuhnya badan berbalik dan mengangkat bahu dan menggeleng.
Lagi mereka saling lirik. "Maksudnya apa? Tidak tahu atau tidak ada?" Adnan bingung dengan jawaban isyarat dari Madinah.
"Sudah-sudah, jangan bingung mikirinnya sebentar lagi masuk waktu Dzuhur, ayo ke masjid." Ustadz Rasyid lebih dulu bangkit dari duduknya berlalu pergi dan segera di ekori mereka.
Usai sholat mereka semua kembali ke ruang kantor, saat Abizar dan yang lain hendak melangkah menuju ruang itu ... tiba-tiba ada santri putra yang datang memanggil Abizar.
"Pak Ustadz Abizar, bapak di panggil Ustadzah Habibah. Dan sekarang beliau sedang menunggu di masjid bersama Ustadzah Madinah." ucap sang santri.
"Saya?" tunjuknya kepada diri sendiri sambil menatap rekannya satu-satu dan di iya'kan oleh mereka semua.
"Ya, sudah. Saya menemui Ustadzah Habibah dulu." Abizar langsung balik badan putar arah kembali ke masjid yang sudah menyepi.
Tiba di dalam masjid hanya ada Ustadzah Habibah dan Madinah.
"Assalamualaikum, bu Ustadzah. Apa anda memanggil saya tadi?" duduk di depan Ustadzah Habibah dan Madinah dengan jarak yang tidak terlalu jauh atau dekat.
"Tadi, Dinah bilang ... kamu ingin minta di carikan kenalan untuk di jadikan istri, apa itu betul?" Abizar mengangguk malu sembari tatapan menunduk kebawah.
"Sebenarnya saya punya kenalan. Tapi dia sudah tidak muda lagi, usianya sekarang semuran dengan Aysun ... 32 tahun. Dan dia juga sudah mempunyai seorang putra."
"Hanya saja ...," Ustadzah memberi jeda pada ceritanya. "Dia belum pernah menikah," Ustadzah Habibah memperhatikan wajah Abizar yang terlihat kaget.
Kentara sekali jika Abizar terkesiap dengan cerita Ustadzah Habibah, tapi tidak dengan Madinah. Sepertinya Madinah sudah lebih tahu darinya.
"Ada banyak faktor, kenapa seorang wanita bisa mempunyai anak sebelum dia menikah. Kita juga tidak bisa mengklaimnya sebagai wanita hina, karena sejatinya tidak semua wanita yang bernasib seperti itu adalah hina, jika kita tahu perjalan hidupnya."
"Wanita yang saya sebutkan tadi, adalah korban dari seseorang yang tidak bertanggung jawab dan mengambilnya secara paksa." Abizar mulai mengerti dengan keadaan wanita yang di ceritakan itu.
"Jika saya menyarankan wanita tadi kepadamu, apa kamu bersedia dengan wanita yang saya sebutkan tadi?" tanya Ustadzah Habibah serius.
Abizar terdiam, ia tidak bisa memberikan jawaban langsung. Menyadari itu kembali Ustadzah Habibah bersuara.
"Tidak usah terburu-terburu dalam mengambil keputusan, kamu bisa merenungkan apa yang saya tawarkan tadi. Berserah dirilah kepada Allah SWT. untuk meneguhkan niat mu jika pilihan mu ragu."
"Jika sudah jatuh pilihanmu ... maka kamu tahu apa yang harus kamu lakukan," Ustadzah Habibah tidak langsung menyebut nama Rahimah.
"Baik, bu. Kau begitu saya permisi dulu." Pelahan Abizar mundur dan berlalu.
Seminggu kemudian ....
"Apa kamu sudah menjatuhkan pilihan?" ketika Abizar datang menemui Ustadzah Habibah kembali.
"Jika, ibu menganggapnya baik ... maka saya bersedia."
"Ibu, tidak memaksa mu. Jika keputusan itu memberatkan mu, kamu tidak perlu menerima."
Hening karena Abizar yang tertunduk diam. Hanya ada mereka berdua saat ini di teras rumah Ustadzah Habibah.
"Insya Allah, saya menerimanya," jawabnya pasti.
"Baik, kebetulan tadi ada murid ibu yang menelepon ... katanya saudaranya hendak memeluk islam. Dan ibu menyuruh Rasyid untuk bertemu dengannya besok, jika harinya sudah di tetapkan ibu akan usahakan acaranya di laksanakan di pesantren saja agar bisa membawa anak angkat ibu sekalian." Abizar mengangguk mengerti.
Usai menyampaikan keputusannya, tanpa barlama-lama Abizar pulang undur diri.
Flashback off
"Jadi, itu sebabnya ibu mengajak saya ke pondok pesantren?" tanya Rahimah.
"Sebenarnya, ada yang mengusik hati Ibu setelah bertemu dengan nak Abdar."
Ustadzah Habibah menatap lekat pada Rahimah. Sebenarnya sudah lama pernyataan ini ingin di utarakannya kepada Rahimah, tapi entah mengapa terasa begitu berat untuk di ungkapkan.
Sementara Rahimah harap-harap cemas, teringat tentang pembicaraannya dengan Dinda tadi malam. Jika bisa jadi Ustadzah Habibah juga berpikiran sama dengan Dinda dan tang lainnya.
"Apa bu?" ragu-ragu Rahimah bertanya.
"Wajahnya," satu kata itu sudah bisa menjelaskan bahwa dugaan nya benar, lebih tepatnya dugaan Dinda.
"Sudah sepuluh tahun sejak kejadian itu, saya bahkan tidak ingat dengan wajahnya. Tapi jika di sandingkan ... dia dan Rahman, mungkin itu memanglah benar."
"Yang sudah terjadi tidaklah bisa di rubah, tapi yang terpenting dari semua itu adalah ... di kemudian hari kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Ambil hikmahnya dari pertemuan kalian kembali, mungkin Allah memberi jalan untuk kalian agar saling meminta maaf dan di maafkan."
"Jangan jadikan pertemuan kalian menjadi dasar awal untuk kalian saling memberi pembelaan diri dan saling menuntut."
"Ikhlaskan kejadian dulu, dan hiduplah dalam kelapangan hati yang di penuhi oleh kata maaf."
Rahimah tersenyum dan ia teringat tentang mimpinya yang sudah hampir ia lupakan.
Diceritakan nya bagaimana ia bisa mendapatkan mimpi, yaitu ketika malam hari setelah pulang dari pondok pesantren dan Rahman yang membawa Abdar ke rumah dengan niatan menolong lukanya.
Hingga ia gelisah tidak tergantikan ketika tidur dan mimpi itu singgah.
"Itu adalah isyarat, Jika kamu sebaiknya memaafkannya. Allah SWT pasti ingin membukakan jalan kemudaan untuk Abdar sebagai seorang muslim dan menghapus 'kan dosa-dosanya."
Rahimah kini yakin dengan maaf yang ia berikan untuk Abdar, Tuhan memang sudah memberikan janji yang pasti pada hambanya yang datang dan memperbaiki diri (mu'alaf), menghapus dosa-dosa dan menempatkan di Syurga-nya jika orang itu adalah bersungguh-sungguh.
"Iya bu, Imah sudah ikhlas dan memaafkannya."
Setelah mengatakan Itu, Rahimah merasa bebannya menuai dan menghilang ... seolah tanpa beban.
"Syukurlah, jika demikian. Allah akan memberi balasan kebaikanmu dengan kebahagiaan yang tidak henti-hentinya kelak kepadamu Imah."
"Amin."
"Eemmm, pantesan ... dari tadi di tungguin minumannya gak datang-datang, ternyata lagi asyik ngobrol sama Ibu?" Terhentilah pembahasan kedua wanita itu dengan kedatangan Nurul.
"Hehe, maaf ya? Aku jadi lupa," Rahimah segera bersikap biasa-biasa saja agar Nurul tidak banyak tanya.
"Ya sudah, ayo buat minumnya. Yang lain pada nungguin." Rahimah terkekeh menatap punggung Nurul yang pergi menjauh.
Temannya yang satu itu memang kadang tidak terlalu peduli dengan apa yang orang lain bicarakan. Tapi kadang kala dia bisa juga menjadi orang yang sangat ingin tahu tentang pembicaraan orang.
"Ayo, kita ke depan. Nanti kita bicarakan lagi." Ustadzah Habibah berlalu lebih dulu yang di ekor Rahimah kemudian.
BERSAMBUNG ....
Sekali lagi mohon dukungannya gaes, jangan pelitlah sama tekan jempol. Biar author-nya bisa semangat, entah mengapa semakin kesini aku jadi makin gak semangat nulisnya pas liat pembaca yang cuman baca doang, tapi gak mau kasih like apa lagi gift atau kopi.
Sekedar info nih ya teman-teman ... di riwayat membaca author itu ada sekitar ratusan lo yang baca. Tapi yang ngasih like-nya cuman ada puluhan, lah ... kemana sisanya?π€
Hermen deh .... okelah kalau begitu, harap maklum aja ya kalau saya lama baru up lagi.π Salam sayang dari sayaπ
Noormy Aliansyah