Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 11



Seletah berkumpul bersama di rumah Khadizah sampai sore, Soraya dan putranya pulang, begitu juga Rahimah dan Rahman pun pulang ke rumahnya untuk memasak makan malam.


Ustazah Habibah menginap di rumah Khadizah pun juga dengan Nurul dan Dinda yang akan menginap di Rumah Khadizah, mengingat di rumah Rahimah yang tidak ada tempat untuk mereka tidur, di karenakan ruang tamu yang di jadikan Rahimah tempat bekerjanya membuat rumahnya menjadi sempit. Di tambah kamar tidur memang hanya ada dua, berbeda dengan rumah Khadizah yang bertingkat.


Jadi mereka memutuskan untuk ikut menginap di rumah Khadizah.


Saat Pak Ramlan dan Rahman pergi ke Masjid Nurul dan Dinda ke rumah Rahimah selepas Sholat Magrib untuk sekedar kumpul bareng sebentar di malam hari. Waktu Isya tiba barulah mereka kembali ke rumah Khadizah.


"Eh Aku punya kabar baru loh..!" Seru Dinda membuat Rahimah dan Nurul menatapnya, menanti kabar apa yang akan dia sampaikan kepada mereka.


"Apaan?" Tanya Nurul tidak sabar.


"Ingat sama Hafiz kan?" Tunjuknya kepada Rahimah dan Nurul bergantian. Mereka pun mengangguk cepat bersamaan.


"Kan dia liat iklan baju kita di mensos, trus dia cari tau siapa pemilik akunnya.. pas dia tau itu akun Aku dia langsung kontak Aku, dia bilang mau ngajak kita kerjasama. Jadi menurut kalian gimana?" Ujarnya dengan sumringah.


"Kalau kita terima tawarannya, berarti nanti kita musti siap dong kalau mereka pesan baju dalam skala besar?" Tanya Nurul membuat Rahimah mengerutkan kening.


"Kalau gitu ceritanya? Jangan di terima." Tolak Rahimah sambil menggoyangkan tangannya ke kiri dan kanan.


"Kamu liat keadaan Aku, yang ngenggambar desain bajunya Aku.. yang buat bajunya, juga Aku.. trus kalau ada pesanan dalam skala besar, Aku gak bakal sanggup." Ucapnya memelas.


"Kalian juga gak bisa selalu ada di." Sambung Rahimah.


"Iya juga ya." Dinda nampak berpikir.


"Lagian juga kalau kita mau bekerja sama, kita nih yah harus punya tempat kerja. Lah ini.. masih di tempat kegini gimana mau buat ruang kerja."


"Karyawan juga gak ada." Kata Nurul panjang lebar.


"Emang sekarang di tinggal dimana?" Tanya Rahimah ingin tau.


"Di Jakarta, tapi dia udah buka cabang baru di Bandung katanya. Pas Aka kasih tau kalau kamu buat bajunya dari Bandung." Jawab Dinda.


"Gak usah di terima dulu deh, kitakan masih belum mempunyai apa-apa yang di perluin. Kantor buat kita desain gambar dan buat bajunya.. karyawannya.. dan buat ngengajih mereka pakai apa cobaa?" Benar juga apa yang di katakan Rahimah pikir Dinda.


"Lagian nih ya, nanti kalau ada modal mending kita buat sendiri aja deh mereknya." Ujar Nurul.


"Mayankan kalau udah laku, dua kali lipat keuntungannya ketimbang kerja sama dengan merek yang menawungi kita." Sambungnya lagi.


"Gak senampang itu MAI..MUNAH.." Sewot Dinda.


"Kamu pikir bikin merek itu semudah membalikkan telapak tangan apa? Apa lagi merek baru, gak bisa dengan cepat lakunya. Mesti ada merek yang sudah di kenal yang menaungi kita, ini malah ngitung untungnya." Kesal Dinda bersungut-sungut melirik Nurul, sedang sang pelaku tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil mengangkat tangan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. Membentuk huruf V


"Tapi untuk saat ini kita masih belum bisa berkarja sama, Aku juga belum siap." Keluh Rahimah memandang teman-temannya.


"Ya sudah.. mau gimana lagi, kita juga masih berjahuan. Akan sulit untuk kita saling berdiskusi, Aku lupa akan hal itu." Akhirnya Dinda memutuskan tidak jadi untuk menerima tawaran Hafiz, karena semua yang mereka gunakan masih banyak kekurangan. Dari segi tempat, karyawan untuk membuat baju dan gajih. Dinda tepuk jidan dengan semua yang ia katakan tadi, kenapa ia jadi lupa akan hal penting dalam berkerja sama.


Ia diam sejenak, biasanya ia tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini. Tapi kenapa ia jadi berpikiran sempit akhir-akhir ini, jangan sampai masah pribadi membuatnya jadi begini pikirnya.


"Hei.. kenapa ngelamun?" Rahimah yang melihatnya diam saja segera menyentuh pundaknya. Dinda menoleh kemudian menggeleng.


"Udah gak usah di pikirin soal yang tadi, Aku ngerti kok kalau Kamu mau bantu Aku. Makasih ya karena selalu ada buat Aku, mau bantu Aku dalam keadaan susah." Rahimah memeluknya dari samping.


"Ikutan dong." Nurul juga ikut memeluk, jadilah mereka saling peluk.


"Udah ah.. ini Udah Isya, kita balik yuk." Ajak Dinda mendengar seruan Adzan.


"Ayo." Mereka pun pamit pergi ke rumah Khadizah.


...----------------...


Setelah Ayah dan Anaknya datang dari Masjid, Rahimah segera menyiapkan makan malam untuk mereka. Rahman pun mendekat agar bisa membantu sang Mama menata makanan di meja makan, walau Rahman sudah di larang tapi ia tetap melakukannya.


Kadang Rahman juga membantu menggoreng ikan dan memasak sayur, rasa penasaraannya akan sesuatu yang di lakukan Mamanya membuat ia ingin belajar. Mulai dari mengupas bawang, memotong sayuran, membersihkan ikan, sampai memasak nasi pun ia minta di ajari oleh sang Mama.


Saat Rahimah sedang sakit, ia dan Kakeknya akan bekerja sama menggantikan peran Mamanya dalam hal memasak dan membereskan rumah, agar Mamanya tidak perlu repot-repot memaksakan diri untuk mengerjakaan pekerjaan rumah dalam keadaan sakit.


"Rahman ayo panggil Kakek, biar kita lekas makan." Suruh Rahimah saat semua makanan sudah tersaji di meja makan.


Rahman pun berjalan menuju kamar Kakeknya yang ternyata tidak di tutup. Di liriknya Kakek yang sedang duduk di kursi yang ada di dalam kamar sambil memandang sesuatu di tangannya.


"Kakek lagi lihat apa?" Tanya Rahman saat sudah mendekat pada sang Kakek, mendongkakkan kepala menatap Rahman sembari tersenyum.


"Kakek lagi liatin Foto Alm. Nenekmu." Memperlihatkannya kepada Rahman.


"Boleh Rahman liat Kek?" Izinnya kepada Kakek.


"Tentu Rahman boleh melihatnya." Menyerahkannya, yang langsung di sambut oleh Rahman. Melihat dengan seksama foto seorang wanita yang mirip dengan Mamanya tengah menggendong anak perempuan, kisaran berumur kurang lebih tiga tahun.


"Apa anak kecil ini adalah Mama?" Memandang sang Kakek dengan mata yang berbinar seolah telah menemukan harta karun.


Pak Ramlan tersenyum menganggung.


"Ya, itu Mamamu."


"Ternyata Mama sangat mirip dengan Nenek ya Kek?"


"Wajahnya memang mirip, tapi kalau galaknya.. Mamamu kalah galak." Ingat Pak Ramlan mengenang mendiang sang istri.


"Emang dulu Nenek galak ya Kek?" Tertarik untuk mengetahui sifat Neneknya.


"Galak banget." Jawabnya tersenyum.


"Itu apa Kak?'' Tunjuknya pada benda yang ada di tangan Pak Ramlan satunya.


"Ini sapu tangan dan Nenekmu membuatkan nama kami berdua di sapu tangannya dari sulaman" Membuka dan terlihat sapu tangan yang sudah lama tapi masih terawat berwana putih yang terdapat nama di ujung sapu tangannya.


Fatimah & Ramlan (ingatkan sapu tangan satunya kebalikannya Ramlan & Fatimah)


"Loh, di suruh panggil Kakeknya kok malah ngobrol." Rahimah yang dari tadi menunggu Ayah dan Anaknya di meja makan tapi tak kunjung datang, dan ia pun berinisiatif untuk menyusul mereka.


"Ma, sini deh.. Rahman lagi liat foto Nenek!" Rahimah pun melihat apa yang di pengang Rahman dan segera mengambil alih, di tatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil mengusap foto lama dirinya bersama sang Ibu.


"Ternyata Mama mirip Nenek ya..! Tapi kata Kakek Nenek itu orangnya galak, kalau Mamakan engga." Ujarnya sambil memeluk Mamanya, Rahimah menghela nafas dan menghembuskan secara perlahan, diam-diam mengusap air mata yang tadi terlanjur jatuh begitu juga Pak Ramlan.


Rahman segera menarik diri saat ia teringat sesuatu.


"Oiya Ma, Kakek kan punya foto Nenek. Kalau Mama punya gak foto Papa?" Pak Ramlan dan Rahimah saling pandang bingung ingin menjawab apa atas pertanyaan Rahman.


Hening..


Tidak mendapat jawaban Rahman pun melihat Kakek dan Mamanya bergantian.


"Ehemm.. Jadi gak kita makan nih? Kakek udah haus dan laper." Segera berjalan sembari memeluk pundak Rahman agar keluar kamar. Rahimah bergeming tidak terasa air matanya jatuh kembali karena teringat akan status anaknya.


"Mama ayo kita makan." Panggil Rahman sebelum benar-benar menghilang dari balik dinding. Dengan cepat ia menyapu pipinya dan segera menyusul Ayah dan anaknya.


"Iya." Sahutnya sambil menepuk-nepuk pipinya menuju meja makan.


"Oiya Ma.. gimana soal berkelahi itu? Aku boleh tidak belajar sama Paman itu?" Pak Ramlan dan Rahman memang sudah menceritakan keinginannya untuk belajar beladiri.


Mengusap kepala Rahman yang bersandar di tubuhnya dengan lembut Ia pun berkara.


"Memangnya Rahman berani? Gak takut apa di pukul waktu latihan?" Rahman yang tadinya bersandar segera menarik diri.


"Engga dong, Rahman berani kok Ma.."


"Nanti kalau Rahman sudah besar, kan bisa lindungi Mama dari penjahat." Ujarnya penuh semangat.


"Kaya gini Ma!" Ujarnya berdiri menekuk siku tangan kanan dengan posisi lurus kedepan sejajar dengan kepala sedang satu tangan kirinya di tekuknya di samping perut dengan mengepalkan kedua tangannya kakinya pun memasak kuda-kuda lalu memajukan tangan kanan dengan gerakan cepat menirukan gerakan memukul.


"Heyaaa." Seru Rahman.


"Kerenkan Ma?"


"Boleh ya Ma, Rahman belajar?" Sambung Rahman lagi kembali duduk dan memegang tangan Rahimah sambil menggoyang-goyangkannya pelan.


Memandang sang Ayah untuk meminta pendapat, Pak Ramlan pun mengangguk setuju. Kembali melihat ke arah Rahman di tatapnya wajah yang memelas, di tangkupnya kedua pipi cabi putranya Ia pun tersenyum sambil mengangguk.


"Boleh, asalkan Rahman bisa bertanggung jawab. Kalau nanti sudah bisa beladiri harus di pergunakan untuk kebaikkan, menolong orang yang kesusahan dan memerlukan bantuan tidak untuk digunakan semena-mena kepada orang yang lemah." Ujar Rahimah memberi nasehat.


"Siap Mama.." Ucap Rahman tegas mengangkan tangan kanan dan meletakkan di pelipis kanan seperti orang memberi hormat, Rahimah pun terkekeh karenanya.


"Jangan lupa juga sama tugas-tugas sekolahmu, kamu harus bisa membagi waktu supaya tidak kecapean." Pesan Pak Ramlan.


"Iya kek, Rahman janji." Sembari mengacungkan dua jempol.


"Sebaiknya Bapak istrahat dulu." Pak Ramlan beranjak dari duduknya.


"Ya sudah selamat istrahat Pak." Pak Ramlan pun masuk ke kamar.


"Ayo ambil wudhu trus ngaji baru tidur." Suruh Rahimah kepada putranya sembari ke kamar mandi beriringan.


Selesai berwudhu mereka tadarusan sebentar barulah mereka tidur dengan Rahman yang memeluk Mamanya.


...****************...


Dilain tempat...


Terlihat sepasang manusia tengah duduk di ruang keluarga sedang bicara serius.


"Jelaskan kepada Kakak, kenapa keluarga suamimu tidak menyukaimu? Kakak mendapat laporan dari anak buahku, bahwa setelah suamimu meninggal beberapa hari yang lalu, kau di perlakukan tidak baik oleh mereka?" Menatap tajam kepada Adiknya.


"Tidak semua kok Kak." Bantahnya.


"Kak Adit baik kok sama Aku, dia juga sering bawain Aku dan Intan makanan." Ucapnya lirih memandak sang Kakak.


"Kalau saja dia bukan sahabat Kakak, sudah bisa dipastikan Adit dan keluarganya akan menyesal dengan sumua ini." Ujarnya dengan penuh penekanan.


"Jangan lakukan apa-apa pada mereka Kak." Pintanya sendu.


"Terserah... lalu kenapa wanita tua itu tidak menyukaimu, bukankah Kau sudah lama menikah dengan Zaki? Kenapa mereka baru menunjukan ketidak sukaannya padamu sekarang?" Geramnya mengingat perlakuan Mertua Adiknya.


Melihat sang Adik hanya diam dan menunduk membuatnya geram.


"MARYAM..!!" Teriaknya tertahan.


Mendongkakkan kepada dengan mata yang sudah beranak sungai lekas ia memeluk sang Kakak, menangis dengan diam dalam pelukkan Kakaknya. Kakaknya pun membalas pelukan Adiknya agar merasa tenang.


Hening..


Menyandarkan kepala pada dada bidang sang Kakak masih menikmati kebersamaan yang jarang mereka lakukan.


"Apa ini ada hubungannya karena kau seorang Mualaf?" Ucapnya lembut memecah keheningan.


Masih dalam dekapan Kakaknya Ia pun menjawab.


"Ini semua gak ada hubungannya sama Agama Aku yang dulu Kak Tian." Gumamnya.


"Lalu?" Maryam menarik diri dari pelukkan Kakaknya, menatap lekat pada mata indah milik sang Kakak. Menghela nafas menghembuskannya perlahan lalu berucap.


"Aku juga baru tau setelah Mas Zaki meninggal, ternyata dulu Mas Zaki mau di jodohin sama anak kenalan Mertua Aku. Cerita yang Aku dengar dari Kak Adit awalnya mau di jodohin sama Kak Adit ... tapi ternyata ceweknya naksir sama Mas Zaki."


"Mereka udah paksa Mas Zaki buat terima berjodohan itu, Mas Zaki juga hampir menerimanya sebelum tau Aku memeluk Islam."


"Setelah tau Aku jadi seorang Mualaf dengan keras Mas Zaki menolak perjodohan itu karena ingin menikah denganku. Itulah yang menyebabkan mereka marah, karena rencana perjodihannya batal." Kembali air matanya jatuh ia pun segera menunduk dan menyapu air matanya.


"Ini semua salah Kakak. Kalau saja waktu itu Kakak gak cerita sama Adit tentang kamu yang jadi seorang Mualaf, Zaki pasti akan menerima perjodohan itu.. dan kamu tidak akan di perlakukan buruk oleh mereka setelah Zaki meninggal." Cristian kembali menarik Maryam dalam pelukannya saat melihat Maryam menyeka air matanya.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Kak Tian, Jodoh.. maut.. dan Reziki itu adalah perkara goib, tidak ada yang tau kemana takdir akan membawa kita, semua sudah di tetapkan oleh Allah SWA."


"Ini sudah takdirku, menjadi seorang janda di usia muda juga sudah suratan dari Allah SWA. Aku hanya harus bertahan dengan cobaan ini menjalankan kehidupanku untuk Intan dan untuk masa depan kami." Ucapnya bijak setelah sudah menceritakan masalahnya kepada Kakaknya Ia merasa bebannya mulai mengurai dan menghilang.


"Wah sudah pintar ngomong ya kamu?"


"Awww." Pekiknya karena hidungnya di tarik Cristian. Memukul-mukul sang Kakak sembari mengusap hidungnya yang memerah, sangat kentara di kulit putihnya. Cristia pun membiarkan adiknya marah.


"Sakit tau." Katanya ketus.


"Makasih ya Kak, udah mau berkorban demi Aku dan intan."


"Emang apa yang sudah Kakak korbankan?"


"Itu.. Aku udah gak liat patung salip lagi di rumah ini." Ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.


"Cuman kalian yang Kakak miliki di dunia ini." Ia juga mengeratkan pelukan pada Maryam.


"Makanya Kakak cepetan cari pendamping, emang kenapa dulu sampai putus sama Sherlin? Bukannya udah pacaran lama yah?" Bertanya sembari menarik diri dari pelukannya.


Seketika ingatannya kembali pada kejadian delapan tahun yang lalu, ia bahkan sudah tidak ingat lagi dengan wanita yang pernah ia tiduri, dan sekarang ia teringat wanita itu.. Membuat pikirannya terusik olehnya.


"Sebaiknya Kau kembali ke kamarmu, nanti intan menangis jika ia terbangun dan tidak menemukanmu di kamar." Kilahnya mengalihkan pembicaran.


"Baiklah Aku ke kamar dulu. Dah.." Sebelum ia pergi, ia cium pipi sang Kakak kemudian berlalu.


Cristian pun kembali ke kamar dengan pikiran yang tidak tentu arah.


BERSAMBUNG....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Noormy Aliansyah