
Seperti kejadian kemarin malam, Abdar kembali merasakan gejolak dalam perut yang memaksanya untuk bangun dan berlari ke kamar mandi.
Rahimah yang mendengar sengaja mengabaikannya. Namun, rasa empati telah mengalahkan benteng pertahanan yang sudah dibangunnya sejak tadi sore.
Dengan langkah gontai, mengantuk, malas dan bercampur masih ada rasa kesal, Rahimah pun menyusul Abdar ke dalam kamar mandi.
Tangan kecil Rahimah terulur memijat pelan tengkuk suaminya. Abdar sempat tersentak kecil, tapi tidak kentara karena sibuk dengan muntahnya.
Setelah berhenti dari muntah, gegas Abdar mencuci mulutnya. Ketika dia berbalik badan ternyata Rahimah tidak ada dan sudah kembali ke tempat tidur.
Menghela napas berat, Abdar menyeret kakinya lesu tak berminat serta serba salah menyadari sikap kekanak-kanakannya tadi siang.
Di ambang pintu Abdar melihat gerak gerik Rahimah yang meletakkan minyak kayu putih di atas nakas samping tidur bagiannya dan segera kembali ke tempat pembaringan sisi lain.
Abdar mengacak rambutnya kesal, ketika Rahimah malah menggulung diri dengan selimut dan hanya menyisakan kepalanya. Lebih tepatnya kesal pada diri sendiri.
Walau Rahimah tidak memunggunginya, tapi mata yang terpejam rapat dan mulut yang terkunci membuat Abdar sedih.
Minyak kayu putih itu adalah tanda, bahwa dia harus mengoles'kannya sendiri tanpa bantuan sang istri. Sebelum mengambil botol kecil itu, Abdar terpaku dan menatapnya nanar beberapa detik baru menggapainya.
Bau semerbak minyak kayu putih tidak lantas mengganggu Rahimah dari tidur pura-puranya.
Menghela napas berat, Abdar menyambar gelas yang berisi air putih di samping minyak kayu putih tadi berada. Hanya dalam sekali teguk, airnya tandas tak tersisa.
Namun, itu sama sekali tidak mengurangi penyesalan yang dibuatnya tadi siang, hingga membuat Rahimah membalas sikapnya yang sangat menyebalkan.
Dengan gerakan pelan Abdar berbaring dan perlahan mendekatkan diri pada Rahimah. Ragu, tapi Abdar tetap mengulurkan tangan guna memeluk tubuh kecil istrinya.
Rahimah bergeming, sama sekali tidak beraksi. Biasanya istrinya itu akan membalas pelukan sang suami, apa lagi Abdar tahu kalau Rahimah belum tidur.
Tidak seperti kemarin malam Abdar langsung tertidur setelah muntah, malam ini dia tidak dapat tidur. Mata tajamnya memperhatikan Rahimah dengan tatapan sendu dan rasa bersalah.
"Maaf," gumam Abdar lirih.
Tangan besarnya perlahan turun meraih tangan kecil Rahimah yang sedikit keluar dari balik selimut dekat wajahnya. Menggenggam lembut dan menarik tanpa ada penolakan, menempelkannya ke atas pipi bagian kanannya.
"Maaf," ulang Abdar sambil mencium telapak tangan istrinya.
"Apa Mas sudah sadar, dengan kesalahan, Mas Abdar?" tanya Rahimah pelan dengan mata terbuka dan sudah penuh air mata.
Abdar tersentak kaget. "Maaf, Mas sudah menyadarinya," kata Abdar menyesal.
Air mata Rahimah jatuh tak tertahankan melewati pangkal hidung dan pipinya yang langsung di usap Abdar lembut.
"Mas mohon, jangan menangis! Mas minta maaf," sesal Abdar sedih.
Tidak tahan melihat Rahimah yang tiba-tiba menangis gara-gara dirinya, Abdar langsung merengkuh tubuh kecil tersebut dalam dekapannya.
"Jangan menangis, Mas sudah menyesal ... Mas cemburu waktu itu," aku Abdar jujur.
"Mas jahat banget!" Rahimah memukul pelan dada Abdar sambil mulai terisak pelan.
Ingatan Rahimah menggali kembali ketika Abdar mengabaikannya. Sakit hati? Jelas, dia sakit hati diperlakukan seperti itu. Walau pun tidak ada kekerasan fisik, tapi itu sudah seperti pukulan bagi dirinya.
"Iya, Mas memang jahat ... tolong maafkan Mas!" Abdar memberikan beberapa kali kecupan mesra di kening Rahimah sambil memeluknya erat.
"Kenapa Mas nggak bilang aja kalau cemburu? Kenapa mesti bersikap dingin sama aku? Aku, kan, sudah pernah cerita tentang teman-temanku, yang pernah nolongin aku," tanya Rahimah beruntun dengan nada kesal dan sedih.
"Maaf," hanya itu yang bisa Abdar ucapkan.
"Jadi, dia yang pernah menyelamatkanmu waktu di gudang?" tanya Abdar pelan, tersirat penyesalan mendalam karena sudah cemburu berlebihan.
"Iya," jawab Rahimah ketus.
Rahimah sempat menolak, jika harus mengungkit masa lalunya yang menurutnya itu adalah sebuah aib karena dia yang pernah depresi.
Namun, Abdar tetap memaksanya dan akan menerima apa pun ceritanya, tidak masalah itu buruk atau baik.
Dengan ragu Rahimah memulai ceritanya, dari saat ditinggal sang Ibu hingga menyebabkannya depresi dan dibully oleh teman sekolahnya.
Kedatangan Soraya, Nurul, dan Dinda yang selalu menolongnya. Tak luput juga Rahimah bercerita pernah dikunci di gudang, dan Indra-lah yang menolong tanpa seorang pun tahu hingga sampai sekarang termasuk ketiga temannya.
Rahimah melanjutkan ceritanya ketika dia kembali depresi, karena ulah Abdar yang sudah membuatnya tidur bersama.
Abdar sempat merasa sedih, karena dirinya Rahimah kembali depresi. Namun, Rahimah juga menyakinkan bahwa Dia sudah tidak memikirkannya lagi.
Sering melamun karena menjadi penyebab Rahimah kembali depresi, hingga membuat Abdar tidak fokus dalam membagikan kotak nasi, saat menggelar seratus hari Ayah mertuanya di panti asuhan untuk buka puasa bersama beberapa hari lalu.
Ketika Maryam meminta kotak nasi, belum sempat Adiknya itu menyambut Abdar malah sudah melepaskannya dan seketika terjatuh berhamburan di lantai.
Itu adalah hari memalukan bagi Abdar, karena sempat kena omel oleh Adik satu-satunya. Bukan karena nasi kotaknya yang jatuh, tapi karena selalu melamun.
Untungnya Rahimah selalu ada dan mengalihkan perhatian anak-anak yatim, yang mentertawakannya dengan memberi bingkisan berupa perlengkapan sekolah.
"Apa Mas, sudah dimaafkan?" tanya Abdar usai Rahimah tenang.
"Nggak," jawab Rahimah cepat sambil memberontak ingin melepaskan pelukan Abdar.
"Yank, jangan gitu dong. Mas benar-benar menyesal. Mas janji, nggak bakalan kaya gitu lagi!" ucap Abdar memelas dan mengeratkan pelukannya.
"Mas itu boleh cemburu dan bilang ke aku, tapi nggak harus cuekin aku juga kali, Mas. Apa lagi sampai bentak aku. Mas mau, kalau aku depresi lagi?" cerca Rahimah bersungut-sungut dan pasrah dalam pelukan Abdar.
"Nggak mau, nggak mau. Mas minta maaf ... janji nggak lagi-lagi kaya gitu."
"Janji?"
"Iya, janji!"
"Awas, kalau ingkar? Bakal aku tinggalin, Mas Abdar," ancam Rahimah.
"Janji, janji! jadi ... dimaafin, kan?"
"Hmmm," gumam Rahimah.
Abdar menjauhkan wajahnya dari pucuk kepala Rahimah, memandang sejenak sebelum akhirnya dia cium seluruh permukaan wajah Rahimah.
"Maaf," ulang Abdar sekian kalinya.
"Hmmm," gumam Rahimah lagi.
"Yank," panggil Abdar manja.
"Apa?" tanya Rahimah malas.
"Aku pengen," bisik Abdar.
Rahimah tersentak dan segera berbalik badan, tapi terlambat. Ketika Dia dalam posisi terlentang, Abdar sudah mengukungnya.
"Mau ke mana? Kamu, kan tahu, kalau tidak boleh membelakangi suami saat tidur?" tanya Abdar sambil menurunkan kepala pada lehernya.
Rahimah menelan ludah, dia terjebak dan tidak bisa mengelak. Akhirnya sepasang manusia itu menghentikan pertengkaran dingin mereka dengan cara olah raga malam, agar berubah panas.
Woy, lagi puasa ... jangan mikirin yang aneh-aneh ya? πβ