Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 75 Persiapan



Keinginan anaknya yang tidak ingin ikut dengannya juga sudah bisa ia terima, ia yakin Ustadzah Habibah mau membesarkan putranya sekaligus akan menjadi teman di rumah wanita yang sudah berumur itu. Tapi nanti sekekali ia akan membujuk Rahman agar mau menginap bersama di rumah baru. Pikir Rahimah.


Terkait masalah rumah, Rahimah tidak perlu membahasnya lagi dengan Ustadz Abizar, ia akan mengikuti keinginan dan mendukungnya penuh sebagai istri yang baik jika itu adalah menuju kebaikan.


Menjelang pernikahan, Rahimah ingin memakai kebaya milik alm. ibunya. Walau terlihat sudah tua dan jadul, tapi masih sangat bagus karena selama ini tersimpan dengan baik.


Dengan keterampilan yang ia punya, saat hari pernikahan sudah di tentu, Rahimah segera menambahkan hiasan dan sedikit merubah kebayanya menjadi kekinian.


Kebaya kain satin berwarna putih polos dengan brokat, ia pun menambahkan manik-manik lecil sebagai kesan jaman modern dan bawahan motik batik pun digantinya berwarna senada.


"Cantik," satu kata yang Dinda ucapkan ketika Rahimah mengangkatnya.


"Terimakasih," Rahimah menerima pujian itu.


"Imah, apa kamu akan mengundang teman-teman sekolah kita yang lain?" Dinda yang hari ini malu jika bertemu Adit karena kejadian kemarin, memutuskan berkunjung ke rumah Rahimah.


Mereka mengikuti arus dalam pembicaraan hingga tanpa sadar membahas tentang acara pernikahan yang Rahimah mau, mengingat tinggal tiga minggu lagi.


"Tidak perlu, acara kan cukup sederhana di rumah ini! Jadi tidak usah mengundang teman-teman, mungkin hanya Maya saja karena dia teman yang paling dekat di gang sini."


Sadar jika sudah memiliki anak tanpa sepengetahuan teman-temannya kecuali warganya, Rahimah tidak ingin dihadiri orang terlalu banyak. Acara pun dilangsung 'kan di rumahnya sendiri dengan undangan hanya di sekitar tempatnya tinggal.


Dinda mengangguk mengerti, ia paham jalan pikir Rahimah yang menghindari berbagai pertanyaan dari teman yang lain.


"Oiya, Soraya tadi udah bilang soal buat janji sama pihak WO, semuanya sudah beres katanya," kata Dinda teringat pesan Soraya.


Untuk urusan WO (wedding organizer) Soraya menyanggupi mengurusnya, sementara Perias pengantin ... Nurul yang menanganinya dan Dinda memilih menyediakan makanan dari restorannya.


Lagi-lagi trio wewek tidak bisa dibantah jika urusan membantu Rahimah. Mereka mengatakan, bahwa itu adalah kado pernikahan dari sahabat untuknya.


Rasa haru dan syukur selalu Rahimah ucapkan, karena di kelilingi teman-teman yang baik juga pengertian.


"Terimakasih, ya! Kalian selalu repot karena aku," ucap Rahimah sungkan.


"Jangan bicara seperti itu, kami tidak merasa direpot 'kan kok. Kami malah sangat senang bisa membantu dan ikut andil dalam acara, pernikahan mu," aku Dinda jujur.


"Ya, sekali lagi terimakasih," Rahimah mengalah.


"Sama-sama!"


"Jadi, sekarang Rahman sudah mulai akrab ya sama mas Abdar?" lanjut Dinda.


Mengangguk mengiyakan sembari menyimpan baju yang sudah selesai.


"Mungkin hanya kedekatan itu yang bisa Rahman tunjukan, kepada mas Abdar. Untuk pengakuan ... Rahman masih tidak bisa memberikannya," Ujar Rahimah.


"Ya, aku mengerti. Rahman adalah anak yang sangat cerdas, pasti ada alasan kenapa dia bisa bersikap demikian. Jika tidak memikirkan kehormatan kalian, pasti dengan senangnya Rahman sudah memanggil mas Abdar, papa ...."


"Apa lagi, kamu akan menikah dengan Ustadz Abizar. Bisa jadi itu salah satu alasan Rahman, yang tidak ingin membuat keluarga Ayah tirinya mmm ...." Dinda menggantung kalimatnya karena merasa tidak enak untuk diucapkan.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Malu kan maksudmu?" Dinda mengangguk lemah.


Rahimah diam meresap tiap kata yang terucap dari temannya itu. Ia pun sependapat jika anaknya itu memang sudah memikirkan resiko kedepannya.


Tidak ada ikatan pernikahan diantara dirinya dan Abdar, bisa jadi akan berdampak pada keluarga Abizar.


"Ya, aku juga berpikir seperti itu."


"Bisa jadi alasan Rahman tidak ingin ikut denganmu, karena sebenarnya dia ingin membangun ikatan bersama mas Abdar? Pasti dia sudah mau mengakuinya sebagai ayah di dalam hatinya."


Hening, mendadak sunyi dengan isi pemikiran masing-masing.


"Mmm, sebaiknya aku kembali ke restoran sekarang," Dinda bersua sambil mengangkat tangan dan melihat waktu yang sudah cukup bagi Dinda menghindari Adit.


"Baiklah, hati-hati ya." Pesan Rahimah berpelukan.


"Iya, Assalamualaikum," kata Dinda berlalu.


"Wa'alaikumussalam," balas Rahimah menatap Dinda yang sudah masuk kedalam mobilnya.


Duduk kembali di kursi dekat dengan mesin jahit, Rahimah menjadi gundah dan gelisah saat mengingat orang tua calon suaminya. Pikirin buruk sempat hinggap, bagaimana jika mereka tahu siapa Rahman?


Rahimah mulai berpikir ulang. Apa sebaiknya dari awal ia tidak menerima pernikahan ini? Semakin bertambah gelisah ketika otaknya bekerja merangkai dugaan-dugaan yang akan terjadi nanti.


Kendati ia sudah sholat istikharah dan mendapatkan mimpi, tapi kenapa seperti tetap ada yang mengganjal di hati.


Berdiri guna menghilangkan rasa yang tidak nyaman, detik berikutnya ia duduk kembali. Berdiri dan duduk, sampai beberapa kali Rahimah mengulang ngulang nya.


Lama berpikir dan perang batin. Ia juga bertanya-tanya, kenapa pikirin seperti ini muncul lagi di saat sudah mendekati.


Naik ke lantai atas, Rahimah segera masuk ke dalam kamar dan menyambar Hpnya. Dengan cepat mengotak atik layarnya.


"Sebelum terlambat, bagaimana jika batal," gumam Rahimah.


Tentu akan sangat memalukan, jika pernikahan yang sudah semakin dekat tiba-tiba batal ditengah jalan karena penolakan calon mertu terhadap anaknya. Batinnya.


"Assalamualaikum, Ibu."


...****************...


.


"Sayang, kamu dari mana aja sih?" Dinda terkesiap ketika memasuki restoran, ia malah di sambut oleh Adit yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.


Di liriknya jam tangan yang menunjukkan waktu sudah tidak pagi lagi. Ia pikir Adit sudah pulang. Ternyata dia menunggunya.


Dinda menghela napas, antara kesal dan malu jika mengingat kejadian kemarin yang di olok olok teman-teman dihadapan Adit.


Pria kurus dengan badan yang tinggi dibalut kemeja hitam senada celana kainnya berjalan mendekati Dinda.


"Kenapa mas Adit ada di sini?" Dinda bertanya ketus guna menutupi perasaannya yang sekarang campur aduk, tapi pelan agar tidak menarik perhatian pelanggan.


"Masa kamu lupa? 'Kan mas sekarang setiap pagi ke sini!" jawab Adit lembut.


"Tapi ini udah nggak pagi lagi? Kenapa masih ada di sini?" Bola mata Dinda bergerak-gerak menghindari tatapan Adit.


"Nggak mau pergi, sebelum ketemu dulu sama kamu."


"Udah ketemu, sekarang boleh pergi." Ujar Dinda sambil berlalu melewati Adit.


"Tapi ini baru sebentar, mas 'kan masih kangen." Adit mengikuti langkah Dinda.


"Kangen dari hongkong, baru juga kemarin ketemu." Memutar bolanya malas sambil terus berjalan.


"Memang baru kemarin, tapi rasanya kok kaya setahun gitu." Adit tersenyum sendiri setelah mengatakannya.


"Udah deh mas, mending mas Adit itu pulang aja," katanya.


"Emang mas Adit nggak kerja gitu?" Dinda berbalik mendadak hingga membentur dada bidang Adit. Dengan sigap Adit mendekap pinggang Dinda yang nyaris jatuh.


Tersentak, Dinda mendongakkan kepala menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya. Ia bergeming ketika Adit tersenyum padanya, beberapa detik pandangan mereka beradu dan terkunci.


"Huuh." Kesadaran Dinda kembali saat Adit meniup matanya.


"Iih mas Adit, bukan mahram." Menarik diri mundur kebelakang.


"Bukan mahram, tapi suka'kan?" Kata Adit tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke kantung celana dan melemaskan satu kakinya.


"Yeee, suka dari mana?" Kilah Dinda membuang muka ke samping. Ia merasa gugup dengan kejadian tadi.


"Yakin nggak suka?" goda Adit yang menangkap sedikit semburan merah di pipi Dinda.


"Udah sana, mending mas Adit pulang." Berbalik badan kembali melanjutkan langkahnya. Sempat melirik Adit yang tetap dengan posisinya tersenyum manis padanya, Dinda buru-buru memalingkan muka.


Baru beberapa langkah, ia mendengar ada wanita yang memanggil nama Adit hingga kakinya reflek berhenti dan menoleh ke asal suara.


"Mas Adit, kita ketemu lagi."


Dinda memperhatikan seorang wanita cantik berambut panjang dengan dress berwarna krem di atas lutut tanpa lengan tengah tersenyum manis kepada laki-laki yang tadi sempat menahannya agar tidak jatuh.


"Hai, Ratu," sapaan lembut terdengar ketelinga Dinda karena ia yang masih berdiri di tempat.


Tanpa sadar Dinda merasa kesal melihat pemandangan ketika Adit membalas senyum wanita itu.


"Mas Adit sama siapa?" Ratu melirik ke samping Adit.


Adit mengikuti arah pandang Ratu yang mengarah kepada Dinda yang tidak jauh dari mereka.


Dapat Adit lihat jika Dinda tengah menahan kesal. Ia tersenyum tertahan, menyakini jika Dinda sekarang cemburu.


"Nggak sama siapa-siapa," jawab Adit santai.


Dinda memicing menatap Adit yang kembali melihat wanita cantik itu.


"Kamu sendiri sama siapa?" balas Adit.


"Aku juga sendiri, mas. Lagi nunggu teman," jawab Ratu.


Adit mengangguk mengerti.


"Kita duduk yuk Mas, temenin aku nunggu teman."


"Boleh."


Mereka berjalan ke arah meja kosong yang tidak jauh, di iring tatapan Dinda yang sulit diartikan.


Diam di tempat sambil masih memperhatikan kedua pasang manusia yang terlihat sangat cocok untuk dikatakan kekasih.


Duduk berhadapan dan saling lempar pertanyan sembari di susul senyum juga tawa kecil dari keduanya, membuat Dinda jengah karena di acuhkan.


Ingin pergi tapi enggan, ingin mendekat tapi segan ... mengingat Adit yang tidak menganggapnya ada ketika wanita itu mempertanyakannya.


"Nyebelin," batin Dinda menggerutu.


Menghentakkan satu kakinya dengan perasaan dongkol Dinda akhirnya pergi ke ruang kerjanya.


Di dalam ruangan, bukannya mengerjakan pekerjaannya Dinda malah mondar mandir hilir mudik bagai orang yang tengah kebingungan.


Pandangan tidak tentu arah sambil jarinya memutar-mutar cincin di jari lainnnya.


Melangkah ke arah pintu dengan cepat, perlahan membuka pintu dan sedikit mengintip, walau sebenarnya sama sekali tidak bisa melihat target karena ruangannya yang jauh.


"Nyebelin," gumam Dinda sambil menutup daun pintu.


"Siapa sih cewek tadi? Apa mungkin pacarnya mas Adit?" Monolognya.


"Nggak, nggak mungkin. Orang tadi mereka yang kaya baru kenal gitu," ucapnya menyakinkan diri sendiri.


"Apa sebaiknya, aku semperin ya?" tanya Dinda sendiri.


"Nggak, nggak ...nanti kalau mas Adit bilang nggak kenal, yang ada malu-maluin," gerutu Dinda dengan perasaan gamang.


"Tapi kan, kemaren mas Adit bilang kalau aku pacarnya. Kenapa tadi nggak bilang lagi sama pacar sih," masih menggerutu sendiri.


"Nona Dinda."


"Astaghfirullah hal azim, Nena ... kamu tuh bikin orang jantungan tau nggak?" omel Dinda yang tersentak kaget karena kedatangan Nena yang tiba-tiba.


"Maaf nona."


"Maaf nona, tapi saya sudah ketuk pintu tadi." jawab Nena bingung sendiri.


"Sudah-sudah, ada apa?" tanya Dinda mengalihkan.


"Tadi kakek nona telepon, katanya kenapa Hp nona Dinda nggak aktif?" Segera mengeluarkan Hp-nya dan langsung mengecek.


"Hp-nya, mati. Ya Udah, nanti aku telepon," usir Dinda halus.


Sepeninggal Nena, Dinda mengisi daya Hp-nya. Ingatannya melayang kepada Adit dan wanita cantik tadi.


Tanpa pikir panjang, Dinda beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar ruangan.


"Mas Adit," panggil Dinda di hadapan keduanya.


...****************...


.


"Assalamualaikum, ibu."


"Wa'alaikumussalam, nak Imah."


"Maaf sudah mengganggu waktunya, dan minta bertemu," kata Rahimah sungkan.


"Tidak apa-apa, ibu pikir ini lebih bagus. Kita akan semakin akrab, tidak terlihat seperti mertua dan menantu, tapi seperti ibu dan anak," kata Ibu Ismawati.


"Terimakasih." ucap Rahimah tulus merasa di anggap.


"Mari bu." Ajak Rahimah masuk ke dalam cafe.


"Silahkan pesan dulu, bu," Rahimah mempersilahkan calon ibu mertuanya memesan sesuatu ketika pelayan mendatangi mereka.


"Latte saja dan vanila cheesecake," pesannya.


"Samakan saja," kata Rahimah yang sebenarnya tidak selera makan dan minum semenjak memikirkan sesuatu.


Sang pelayan mencatat. "Baik, mohon tunggu sebentar." Pelayan segera berlalu.


"Apa yang ingin kamu, bicarakan Imah?" tanya Ibu Ismawati to the points.


Menghela napas panjang, Rahimah diam sejenak. Antara ingin mengatakan tapi ada keraguan.


"Apa ini tentang tempat tinggal?" tebak sang calon mertua.


Bingung memulai pembicaraan Rahimah pun mengangguk mengiyakan.


"Tidak apa-apa, keluarkan saja apa keinginan mu. Kita bisa membahasnya bersama-sama," ucap Ibu Ismawati bijak.


"Sebenarnya, saya sempat berpikir ... jika kami akan tetap tinggal di rumah saya. Tapi saya lupa, jika kewajiban seorang istri adalah mengikuti kemana pun suaminya pergi dan tinggal," ucap Rahimah jujur.


"Kami belum pernah membahas tentang ini. Karena saya mengerti kesibukan mas Abi," lanjutnya.


"Ya, ibu bisa mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Maaf jika Abi egois tanpa minta pendapat kamu terlebih dahulu, sebenarnya keinginan Abi untuk tinggal bersama kami ... itu adalah permintaan ibu sendiri."


Rahimah diam mendengarkan.


"Abi adalah anak satu-satunya yang kami punya, jadi ibu ingin kalian menemani kami di rumah agar ibu tidak kesepian," pintanya lembut.


Rahimah menunduk, diam hati ia pun berucap. "Begitu juga Rahman," batinnya.


"Permisi, ini pesanannya." Meletakkan hidangan di atas meja. "Silakan," ucap pelayan sebelum berlalu.


"Terimakasih," ujar keduanya.


Mereka kembali bicara usai pelayan pergi.


"Ibu harap kamu tidak keberatan? Tapi jika kamu tidak mau, ibu juga tidak memaksa." Siapa yang bisa menolak jika melihat wajah kesedihan yang ia tunjukan kehadapan Rahimah.


"Ya, seperti yang saya katakan tadi! Sebagai seorang istri yang baik, saya harus mengikuti kemana pun suami saya tinggal," ujar Rahimah pasrah.


Kedua sudut bibir ibu Ismawati terangkat. "Kalian masih muda, kalian masih bisa untuk menambah anak lagi." kata ibu Ismawati dengan penuh pengharapan.


Yang Rahimah pikirkan saat ini bukan masalah menambah anak, tapi mengenai jati diri anaknya


"Tapi Rahman, dia tidak mau ikut dengan saya," ujar Rahimah sedih.


"Tidak apa-apa, mungkin dia masih sungkan bermanja-manja dengan Kami, sehingga tidak ingin ikut dengan kami. Tapi ibu yakin ... jika lama kelamaan terpisah denganmu, Rahman pasti akan kangen sama kamu dan akhirnya mau tinggal bersama kita."


"Akan kangen dengan saya, tapi hanya sebatas kangen. Rahman tidak semudah itu merubah pendiriannya. Apa lagi sekarang Rahman punya pelarian untuk menghilangkan rasa kangennya itu kepada ayah kandungnya," Rahimah mem'batin.


"Sudah tidak perlu di pikirkan, Imah. Ayo minum dulu."


"Sebenarnya ada alasan lain, yang ingin saya bicarakan," Rahimah menatap serius lawan bicaranya.


"Ya, katakanlah kalau masih ada yang ingin kamu katakan."


"Ini tentang ... Rahman dan ayah kandungnya."


Jeng ... jeng ... jeng ...


BERSAMBUNG ....


Antara nyaman dan cinta, kalian pilih yang mana?😁


Dan, haruskah memilih


Antara dua hati yang berbeda


Resah, gelisa, dan memang sungguh ku β€˜tak bisa


Bohongi rasa


Harus β€˜tuk siapa


Maaf harus seperti ini


Aku β€˜tak mengerti


Menahan hati


Jujur separuh hati ini tlah dimiliki,


Tanya hati mengapa begini


Antara nyaman dan cinta


Sungguh ku dilema


Harus memilah


Hati tuk siapa


Ku mencintaimu


Tapi ku nyaman dengannya


Kamu sakiti Aku terluka


Dia yang ada Obati rasa


Aku terbiasa Nyaman bersama dia


Jujur aku akui Ini salah


Tapi sungguh ku tak bisa


Bohongi Rasa Antara nyaman dan cinta


Maaf harus seperti ini


Aku β€˜tak mengerti


Menahan hati


Jujur separuh hati ini tlah dimiliki,


Tanya hati mengapa begini


Antara nyaman dan cinta


Sungguh ku dilema


Harus memilah


Hati tuk siapa


Ku mencintaimu


Tapi ku nyaman dengannya


Kamu sakiti Aku terluka


Dia yang ada Obati rasa


Aku terbiasa Nyaman bersama dia


Antara nyaman dan cinta


Sungguh ku dilema


Harus memilah


Hati tuk siapa


Ku mencintaimu


Tapi ku nyaman dengannya


Kamu sakiti Aku terluka


Dia yang ada Obati rasa


Aku terbiasa Nyaman bersama dia


Jujur aku akui Ini salah


Tapi sungguh ku tak bisa


Bohongi Rasa Antara nyaman dan cinta


...~Antara Nyaman Dan Cinta, Nazia Marwiana~...


Ayo gays, setelah menyanyi jangan lupa sawerannya πŸ˜‰. Kasih like, komen, gift atau kopi. Kembali ke beranda buat pencet rate bintang, kalau ada vote juga boleh 😁.


Salam sayang ... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Noormy_Aliansyah 😘😘😘