
...Tersenyumlah ketika kau mengingat ku! Karena saat itu aku sangat merindukan mu. Dan menangislah ketika kau merindukanku! Karena saat itu aku tak berada didekat mu....
...Tetapi ......
...Pejamkan lah mata indah mu itu! Karena saat itu, aku akan terasa ada didekat mu, karena aku telah ada di hatimu untuk selamanya....
...(Abdar Bariq)...
......................
.
Rahimah sudah siap dengan tas di tangan, tapi sebelum keluar dari dalam kamar ... ia kembali berkaca menatap pantulan dirinya guna memastikan penampilannya.
Merapikan pasmina berwarna coral, terjuntai panjang menutupi dada dan punggung senada dengan baju gamis yang membalut tubuh kecilnya walau sebenarnya tidak ada perubahan dari sejak awal Ia pakai tetap saja ia benahi.
Memakai hak yang tidak terlalu tinggi, Rahimah pun segera keluar kamar. Ia akan menunggu Dinda yang katanya akan menjemputnya guna makan siang bersama di restoran milik sang sahabat.
Sebelum turun ke lantai bawa, Rahimah meletakkan selembar kertas kecil berupa note di atas meja untuk Rahman. Tidak lupa di tindihnya sedikit dengan gelas kosong , agar tidak hilang dan mudah di temukan anaknya.
Tepat ketika kakinya menapak lantai satu, deru mesin mobil terdengar berhenti di depan rumah.
"Itu pasti Dinda," tebak Rahimah.
Bergegas berjalan ke arah pintu, ia pun membukanya. Benar saja, Dinda yang juga baru turun dari mobil sudah melihat Rahimah di depan pintu.
"Sudah siap?" tanya Dinda dan mendapat anggukan dari Rahimah.
"Yuk," ajaknya.
"Memangnya ada acara apa sih? Sampai-sampai aku harus hadir segala? Apa Aya dan Nurul juga Ada?" tanya Rahimah beruntun.
Sebenarnya Rahimah meresa heran ketika menerima telepon dari Dinda, yang mengajaknya makan siang di restorannya karena ada yang membuat acara.
Karena di grup mereka, tidak pernah membahas akan ada yang merayakan sesuatu hari ini, tapi tiba-tiba Dinda menyuruhnya bersiap untuk dijemput. Siapa kira-kira pemilik acara. Pikir Rahimah.
"Bukan acara besar, hanya makan siang aja sama para karyawan buat syukuran kata mas Adit. Dan juga Aya sama Nurul nggak ada," balas Dinda tetap fokus ke depan.
"Jadi mas Adit, yang punya acara?" Rahimah tersentak kecil mendengar pernyataan Dinda.
"Lebih tepatnya, mas Abdar sih katanya yang punya acara," terang sang sahabat.
Rahimah terkesiap. "Terus, apa hubungannya ngajak Aku?" Keningnya berkerut, alis tebal yang tidak pernah dicukurnya bahkan hampir menyatu.
"Nggak ada hubungannya, cuman mas Adit tadi bilang ... katanya ajak kamu aja, biar ada yang nemenin aku buat gabung sama dia. Takutnya aku nggak ada teman ngobrol gitu!"
Kening Rahimah semakin berkerut dalam. "Emang kamu mau ngapain ikut gabung sama acara mereka? Lagian kan ini cuman acara makan siang, buat apa juga perlu teman ngobrol? Nggak sampai setengah jam juga udah beres makannya?" tanya Rahimah terheran-heran.
"Hehe ... kata mas Adit dia mau nyewa resto aku, dari siang ini sampai dua jam ke depan biar para karyawannya bisa santai gitu sekekali."
"Dan resto aku mau dipromosikan sama dia, jadi aku sebagai pemilik restoran diharuskan ikut gabung. Lumayanlah bisa untung besar aku," papar Dinda panjang lebar dengan semangat.
"Tapi kenapa mesti bawa-bawa aku segala?" protes Rahimah.
"Sudah aku jelasin kan tadi, biar bisa temenin aku gabung sama mereka dan aku nggak bingung cari teman ngobrol!"
Satu helaan napas pasrah keluar begitu saja darinya. Tidak mungkin bagi Rahimah menolak ajakan Dinda yang meminta bantuannya. Mengingat terlalu banyak yang sudah temannya itu berikan untuknya, dan hanya ini yang bisa ia lakukan guna membalas budi.
Ingatnya pun melayang pada sang pemilik acara, tanpa sadar ia tersenyum tipis jika mengingat kebersamaan ayah dan anaknya.
Itu adalah impian Rahman saat umurnya lima tahun. Makan bersama dengan kedua orang tuanya.
Rahimah buru-buru menggeleng ketika imajinasinya melayang menjadi sebuah keluarga kecil. Ia tersadar akan tindakan konyolnya, ia baru saja gagal menikah beberapa hari yang lalu tapi kenapa malah kembali bermimpi dalam keadaan mata terbuka. 'Jangan mimpi kamu Imah!' Rahimah membatin.
Mungkin kegagalan ini akan membuatnya takut melangkah ke depan bersama pasangan. Jadi ia hanya akan fokus pada kebahagian diri sendiri dan Rahman.
Mobil sedan berwarna silver yang dikendarai mereka terus melaju membelah keramaian ibu kota, hingga tak terasa kini sudah terparkir sempurna di parkiran restoran milik Dinda.
Turun berbarengan dan melangkah pun beriringan, suasana keadaan di dalam mulai terlihat ramai.
"Sayang .... Dari mana aja? Dari tadi aku nyariin kamu." Refleks keduanya langsung menoleh mengarah pada kedua lelaki yang berjalan mendekat ke arah mereka saat baru masuk.
"Jemput Imah, ini kita baru nyampe." Balas Dinda sambil menggandeng lengan Rahimah.
"Hai, Imah." Sapa Adit sambil tersenyum, diam-diam ia menyenggol lengan Abdar.
"Hai juga." Ujarnya melirik Abdar dan Adit bergantian.
"Yuk, kita makan. Aku sudah pesan dari tadi." Adit mengajaknya duduk berempat.
Abdar diam tidak menunjukkan respon apa pun, ia bingung ingin memulai bicara dengan Rahimah. Apa lagi setiap pagi mereka juga ketemu, jadi apa yang harus dibicarakan. Pikirnya.
Rupanya acara makan siang sudah di mulai, terlihat mereka sedang menikmati hidangan yang di sediakan.
Hampir semua pengunjung adalah karyawan Abdar, karena karyawan yang dibawa Adit membludak akhirnya hari ini resto ditutup semantara untuk umum, dan akan kembali di buka jika pegawai dari Abdar sudah selesai dengan makanan mereka.
Ada juga beberapa karyawan yang duduk di bagian belang karena tidak muat.
Rahimah menjadi segan, ia mencuri pandang pada semua orang yang ada di sana dan tengah menatapnya saat melewatinya. Samar terdengar seperti bisik-bisik sebagai latarnya di setiap meja.
"Ayo Imah, dimakan." Suara Dinda menyadarkannya dari perhatian orang-orang.
"Kok kayanya, mereka pada liatin kita sih?" Tanya Rahimah sambil berbisik agar tidak terdengar Abdar dan Adit yang duduk di seberang mereka.
Walau pandangan Abdar ke bawah menatap makanan di depannya, tapi ia bisa melihat gerak-gerik Rahimah dengan ekor matanya.
"Iya, juga ya!" heran Dinda juga berbisik.
"Emang ada yang salah ya, sama penampilan aku?" masih berbisik.
"Enggak Kok," jawab Dinda cepat. "Atau penampilan aku ya, yang salah?" ia jadi khawatir.
"Enggak juga," balas Rahimah.
"Kenapa yank?"
Pipi Dinda mendadak bersemu merah, karena Adit selalu memanggilnya sayang. "Hah," serunya tersentak kaget kala teringat sesuatu.
"Kenapa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Adit, Dinda malah kembali berbisik pada Rahimah. "Jangan-jangan, mereka tadi dengar mas Adit panggil aku sayang? Makanya pada liatin kita. Pasti kamu juga dikira pacarnya mas Abdar."
Rahimah terperangah, ia pun menatap kedua pria di hadapannya dengan tanda tanya besar begitu juga Dinda.
"Ada apa?" kali ini Abdar yang bertanya.
"Nggak apa-apa," kata mereka serempak.
"Ayo makan, nanti habis makan aku promosiin kamu." Dinda mengangguk semangat.
Para pegawainya sebagian sudah selesai dengan makan siangnya, tapi mereka tidak langsung pulang sebelum mendengar instruksi dari sang atasan.
"Sudah selesai?" tanya Adit dan di balas anggukan Dinda sambil tersenyum malu.
"Perhatian Semuanya ..!!" seru Adit sambil berdiri seketika semua memperhatikannya.
Abdar membiarkan Adit yang sok menjadi atasan hari ini. Sebenarnya ia ingin sekali memiting leher asistennya itu, tapi karena ada Rahimah ia pun menjaga sikap.
"Perkenalkan, dia adalah pemilik restoran ini. Adinda Juwita Larasati."
Dinda ikut berdiri dan sedikit membungkukkan badan sebagai sapaan.
"Kalau kalian tidak sengaja lewat restoran ini, jangan ragu untuk mampir. Sudah tau rasanya masakan di sini 'kan?"
"Dan satu lagi," kata Adit.
"Dinda ini, tunangan saya," lanjutnya.
Dinda terkesiap sampai-sampai tanpa sadar mulutnya terbuka sedikit. Rahimah tak kalah terkejutnya.
"Ma-mas Adit," protes Dinda tergagap.
Ia pikir Adit hanya akan mengatakan ia sebagai kekasihnya, walau belum pernah terucap kata sepakat untuk dikata pacaran.
Adit tersenyum lebar melihat wajah Dinda yang melongo. Sedang Abdar mengumpat di dalam hati, ia bak seorang kacung yang menemani juragan nya memperkenalkan calon istri.
Tepuk tangan semua orang menyadarkan Dinda. Banyak yang mengucapkan selamat pada mereka berdua.
Dengan pipi yang memanas dan memerah juga ragu-ragu, Ia membalas ucapan terimakasih untuk semuanya dan kembali duduk.
"Pak." Ada salah satu karyawan Dari Abdar yang mengangkat tangan.
"Ya."
"Apa wanita yang satu itu, juga calon istrinya pak Cristian? Emm, maksudnya pak Abdar?"
Rahimah dan Abdar saling pandang karena terkejut. Kembali terdengar bisik-bisik dari orang-orang. "Bukan," jawab Adit membuat Rahimah bernapas lega.
"Tapi lagi OTW. Do'ain semuanya ya?" sambung Adit lagi terucap begitu saja.
"Ehh," pekik Rahimah tersentak kecil.
Abdar menahan senyum, lagi tepuk tangan terdengar diiringi do'a semoga segera menjadi pasangan suami istri.
Tapi seketika senyum Abdar menghilang kala ia ingat kalau Rahimah adalah calon istri Abizar, ia merutuki kebodohannya yang melupakan sesuatu hal penting.
"Silakan lanjutkan makanan kalian. Jika ada yang ingin pulang, maka pulanglah," seru Abdar menyela dengan nada datar dan dingin.
Setelah semua tenang, Abdar menatap tajam pada Adit. "Apa?" tanyanya santai.
"Imah, saya minta maaf jika kamu meresa tidak enak dengan pengakuan Adit tadi?" menghiraukan Adit, Abdar langsung meminta maaf pada orang yang bersangkutan.
"I-iya ... mas." Jawab Rahimah sambil menyenggol Dinda yang juga shok. Mereka berdua dibuat ketar ketir dari tadi.
"Saya harap, semua ini tidak terdengar sampai ke pak Ustadz."
Rahimah dan Dinda saling lirik, detik berikutnya mereka saling senggol. Adit yang juga baru tersadar dengan ucapan Abdar seketika menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Hehe, sorry ya, gw lupa soal itu." Ucap Adit cengengesan.
"Iya, nggak apa-apa mas."
"Lain kali mikir dulu kalau ngomong," ucap Abdar datar.
"Iya, sorry gw lupa," ujarnya sambil mencibir.
"Kamu nggak apa-apakan Imah?" tanya Dinda khawatir.
"Nggak apa- apa."
"Mas, Adit sih asal ngomong," marahnya pada sang kekasih dadakan.
"Hehe ... maaf." Tangan Adit terangkat mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
Dalam hati Rahimah menjadi takut, jika sampai Abizar mendengar kabar ini. Bisa-bisa dia mengira karena ini Rahimah membatalkan pernikahannya
Abdar dan Adit curi-curi pandang. Bahkan kaki mereka juga tidak diam, di bawah meja saling tendang menendang seperti sedang berdiskusi.
Mereka tidak menyadari, kalau perbuatannya itu telah diabadikan oleh sebagian karyawan yang melihatnya.
"Apa kalian mau pulang? Biar kami antar," tawar Adit setelah semua pelanggan mulai pergi.
"Nggak usah mas, tadi saya dijemput Dinda." Tolak halus Rahimah.
"Begini saja, Abdar yang mengantar kamu gimana? Soalnya saya mau ngajak dia ketemu orang tuanya," usul Adit.
"Eh mas Adit serius? Jangan sekarang," Dinda belum berani mengatakan kepada orang tuanya. Ia bahkan setelah semua orang pergi berencana mewanti-wanti para karyawannya di restoran ini untuk tutup mulut soal pengakuan Adit yang sulit ia elak karena takut mempermalukan Adit didepan bawahan yang dibawanya tadi.
"Tapi aku harus mengatakannya."
Dinda jadi frustasi, gegara mengikuti permainan Adit ia harus terjebak dalam situasi yang tidak bisa dimengerti karena terjadi begitu saja.
Rahimah pun tidak karuan, ia jadi bingung dan sakit kepala. Masalahnya belum selesai, dan sekarang muncul yang lain hanya gara-gara Adit.
Abdar sekarang juga tengah menahan marah pada Adit. 'Awas lo, brengg sekk. Kalau Rahimah itu bukan calon istri orang, bisa aja lu ngomong gitu ... dasar brengg sekkk,' umpat Abdar di dalam hati.
"Biarin mereka pulang bersama, lu ikut gw." Ucap Abdar dingin sambil beranjak dari duduknya.
"Kami pulang dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," sahut Dinda dan Rahimah.
Adit tidak bisa berkutik setelah melihat Abdar yang sudah berjalan pergi. Sambil melambai ia pun mengekor di belakang Abdar.
Di halaman parkir ....
"Brengg sekk lu." Marah Abdar sambil memiting leher Adit.
"Awww, maaf-maaf ... gw tadi khilaf," Adit meringis kesakitan.
"Elu ya, dikasih hati malah minta jantung," kesal Abdar bersungut-Sungut.
Ia jadi kesal dan marah berkali-kali lipat, teringat tindakan Adit hari ini. Mulai dari mengambil keputusan sepihak untuk memberitahu para karyawan tentang namanya, dan sekarang pemberitahuan yang jauh diluar dugaan.
Ia merasa malu dan tidak enak hati jika bertemu Rahimah.
"Elu, gw hukum ngerjain tugas kantor sebulan." Kata Abdar sambil melepaskan kepala Adit.
Adit tepuk dahi mendengarnya.
"Kembali ke kantor," perintah Abdar tak terbantahkan.
Dengan langkah gontai, Adit langsung masuk mobil di kursi kemudi.
Ia merutuki kebodohan hari ini yang tidak berpikir panjang. Ide konyolnya itu muncul begitu saja, karena niatnya hanya ingin mengerjai Dinda mengenai calon istri. Tapi lupa dengan resiko, ketika melibatkan Rahimah.
'Nasib-nasib' Adit membatin.
Tanpa mereka sadari semua kejadian hari ini akan membuat mereka saling memikirkan satu sama lain, hingga sampai ke alam mimpi sekali pun.
Membuat hati semakin terpaut hanya karena merasa tidak enak satu sama lain, merajut benang merah yang tak kasat mata dan menguat.
Rahimah menjadi kepikiran tentang ia yang di anggap sebagai calon istri Abdar. Sedang Abdar kepikiran jika Rahimah takut kalau kabar ini sampai pada Abizar.
Dinda dan Adit pun ikut kepikiran dan merenung, ada sesal di hati keduanya karena berani bermain-main dengan kata-kata tanpa pikir panjang.
Kendati mereka sudah dewasa, tapi manusia adalah tempatnya salah dan bisa mengambil pelajaran dari kesalahan.
Semoga setelah merenung dan berpikir panjang, akan membuat kita semakin dewasa.
BERSAMBUNG ....
(Pengalaman pribadi othor ini π , 'pernah bertindak tanpa pikir panjang' dan mau tidak mau harus menanggung resiko π€ . Tapi akhirnya ada kebaikan dibalik semua itu. Ambil hikmahnya saja, yang baik di petik dan yang buruk di buang. Semoga kita semakin dewasa dan saling mengingatkan ππ. Amin π€²)