
Rahimah yang sudah datang dari pasar segera menata semua belanjaannya di dapur, cukup banyak belanjaan yang Rahimah beli dan hampir satu jam ia menata semuanya.
Sayur, daging, dan buah.
Mencuci daging ayam lalu menyimpannya dalam wadah yang tertutup rapat, tidak hanya daging ayam tapi ada juga daging sapi yang ia beli.
Buah apel, anggur dan pisang pun di simpan nya ke dalam wadah agar terlihat rapih.
Beres dengan apa yang di kerjakan, Rahimah ingin bersantai sejenak. Membawa gelas yang berisi air teh ia pun beranjak ke ruang tamu menyimpan gelas di atas meja. Duduk sambil bersandar di sandaran sofa dan Rahimah membuka aplikasi whatsapp di Hp-nya.
Ternyata trio wewek sedang online dan saling mengobrol, Rahimah pun menyimak apa yang mereka bahas terlebih dulu.
Dinda yang bercerita bahwa Resto-nya yang semakin hari semakin ramai, ia pun menikmati kesendiriannya dan sudah melupakan masalah yang lalu.
Nurul tudak ketinggalan selalu menceritakan tentang perkembangan Nuri yang sekarang tidak berhenti berceloteh dan membuat orang tertawa karena kata-kata yang masih belum di mengerti oleh keluarganya.
Soraya ikut membagikan kabar kalau dirinya sedang hamil dua bulan, tentu itu kabar yang membahagiakan tapi di balik kebahagiaan itu ada juga kesedihan. Soraya mengatakan kekhawatirannya kepada Rayan. Setahunya Rayan tidak ingin punya adik, lalu bagaimana jika anaknya itu tahu mamanya sedang hamil adiknya ...?
Dengan cepat Rahimah mengetikkan kata demi kata menjadi kalimat guna memberikan ucapan selamat juga nasehat.
^^^📨"Assalamu'alaikum, selamat ya cantik. Buat Dinda selalu sukses untuk Resto dan karirnya😘. Buat Nuri semoga cepat lancar ngomongnya☺. Dan Aya, semoga kamu dan baby sehat selalu. Jangan lupa abang Rayan, nanti di ajak kumpul-kumpul di rumah aku ... biar kita nasehati dulu dia supaya mengerti🤗."^^^
^^^Saran Rahimah.^^^
📨"Wa'alaikumussalam. Iya, Imah ... nanti aku ajak jalan-jalan ke rumah kamu sekalian kita ngumpul bareng, 'kan udah lama gak ngumpul😘." Balas Soraya.
📨"Wa'alakumussalam. Siip👍, nanti aku ajak Nuri😊." Jawab Nurul.
📨"Assalamu'alaiku. Oke, jam berapa kita kumpul?" tanya Dinda.
^^^📨"Hari ini, Bada dzuhur boleh?"^^^
^^^Kata Rahimah.^^^
📨"Seteju😊." kata serempak trio wewek.
📨"Aku jemput Rayan sekalian kalo gitu."
Sambung Soraya.
^^^📨"Assalamualaikum."^^^
Setelah menerima balasan salam dari trio wewek Rahimah pun menyimpan Hp-nya di atas meja.
Rahimah memang sangat jarang ikut ngobrol wag, hanya sekekali ia ikut nibrung.
Merasa haus Rahimah segera mengambil gelas di atas meja. Saat Rahimah memegang tangkai gelas, tiba-tiba tangkai itu patah dari gelasnya. Membuat gelas itu jatuh ke lantai, pecah berhamburan.
"Aww," jerit kecil Rahimah.
Deg, deg ....
Hatinya langsung merasa tidak enak menyadari tangkai gelas tiba-tiba patah. "Ada apa ini?" gumam Rahimah dalam hati.
Melirik kakinya yang terkena cipratan air teh dan beling, untung ia mengenakan baju gamis panjang sehingga hanya mengenai sedikit kakinya di tambah airnya tidak terlalu panas tapi tetap saja ada sedikit beling yang menancap di ibu jari kaki.
Menarik beling, hati Rahman bertambah tidak tenang. "Sshh." Desis Rahimah merasa sakit dan perih.
Berdiri dan berjalan guna mengambil kain lap juga tempat beling, tidak lupa ia mengambil kotak P3K.
Memungut beling-beling gelas. Selesai memungut beling dan meng'ngepelnya, Rahimah mengobati lukanya. di dalam hati Rahimah berdoa. "Semoga tidak terjadi apa-apa, amin." pintanya.
...****************...
Kali ini Abdar dan Adit menghabiskan waktu makan siang di kantin kantornya, selesai makan siang ke duanya lekas hendak kembali ke ruang kerja mereka.
Di lorong kantor Abdar berjalan dengan langkah lebar beriringan Adit melewati beberapa karyawan yang berlalu lalang, sambil memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana panjang hitam.
Hampir semua karyawan mengagumi ketampanan yang dimiliki Abdar. Hidung mancung, bibir tipis, mata yang tidak terlalu lebar di bawah sepasang alis tebal terbingkai sampurna dalam wajah berahang tegas.
Walau terlihat datar dan dingin tapi tidak mengurangi pesona yang dimiliki oleh seorang Abdar Bariq. Dengan sigap para pekerja membungkuk hormat kepada Abdar dan Adit, nilai plus adalah bosnya itu selalu membalas dengan anggukan kepala.
Menaiki lift yang akan mengantar mereka ke ruangan di lantai 4. Tiba di lantai tersebut Abdar dan Adit berpisah di depan ruangan yang berdampingan.
Mereka kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing, fokus apa yang berada di hadapannya hingga keheningan pun begitu terasa.
Atensi Abdar seketika mengarah kepada Adit yang tiba-tiba saja datang dan masuk tanpa permisi dengan begitu cepat. Ia bahkan sempat terlonjat kaget akan tindakan Adit itu.
Abdar mengerutkan kening dalam dan heran, melihat asistennya itu demikian bernafas tidak beraturan. Bukankah ruangan mereka bersebelahan lalu kenapa Adit sampai seperti habis berlari.
"Kata Maryam , HP lu gak aktif ... susah buat hubungi ...," seru Adit tersengal-sengal.
Abdar kembali mengerutkan dahinya, ia seperti dejavu. Keadaan seperti ini pernah ia alami waktu kapan mana Adit memberi kabar kalau Intan yang harus di rawat inap di rumah sakit.
Buru-buru mengambil HP di saku jasnya, dapat Abdar lihat kalau HP-nya mati karena kehabisan betrai.
"Hp, gw mati," peliknya.
"Maryam, bilang apa?" Tanya Abdar sambil berdiri.
"Tadi Maryam bilang, Intan hilang." balasnya cepat.
Jedaarrr.
Abdar terhenyak, ia seakan mendengar petir di hari yang begitu cerah dan tiba-tiba menjadi mendung. Kabar yang ia dengar ini bahkan lebih parah dari waktu Intan masuk rumah sakit.
"Jelasin, yang bener! Maksud lu apa? Hilang gimana?" Mendorong kursi dengan kasar hingga membuat kursi itu berputar. Berjalan mengitari meja, memangkas jarang antara dirinya dan Adit hingga sekarang ia berdiri tepat di hadapan asistennya itu.
"Dia cerita sambil nangis ... jadi gak terlalu jelas. Yang sempat gw dengar, Intan hilang dan sepertinya di culik."
"Sekarang Maryam di mana?" selanya cepat, sangat terlihat jelas jika Abdar sudah tidak sabar dan tertihat panik dengan penjelasan Adit.
"Masih, di sekolah." Tentu Adit bisa memaklumi sikap atasannya itu.
Ia yang bukan kakak kandung Maryam saja juga sudah khawatir, apa lagi Abdar ... pasti pikirannya saat ini sangat kacau.
"Kita susul Maryam." Melewati Adit berjalan cepat, hanya beberapa langkah saja Abdar sudah memegang gagang pintu ruangannya dan keluar.
Adit pun lekas menyusul Abdar yang berlari, tepat saat pintu lift yang terbuka mereka pun langsung masuk. Menekan no 1 guna ke lantai dasar.
Tiba di lantai dasar kembali mereka berlari. Hingga tanpa sadar menabrak beberapa karyawan yang ia lewati, membuat atensi karyawan yang melihatnya bertanya-tanya ada apa dengan sang atasan yang terlihat begitu panik dan kacau.
Di lobby, masih sambil berlari ia merogoh saku celana hitamnya lantas Abdar melempar kunci mobil pada Adit. Untungnya Adit dengan sigap menangkap tanpa aba-aba terlebih dulu.
Masuk ke dalam mobil di belakang kemudi bersebelahan dengan Abdar, Adit langsung memacu laju mobilnya ke sekolah Intan.
"Mana Hp lu," menadahkan tangan kepada Adit.
Dengan susah payah Adit memasukkan tangan ke kantung celana guna menggapai Hp-nya.
"Ini." Tanpa bertanya ia sudah tahu apa yang akan di lakukan Abdar.
"Hallo ... Mang Ujang, apa bapak sama Maryam?" samar Abdar bisa mendengar mang Ujang seperti memberi tahukan pada seseorang bahwa ialah yang menelepon, juga terdengar banyaknya suara orang.
Tanpa di pinta, suara di seberang telepon itu berganti dengan suara sang adik yang terdengar serak seperti habis menangis.
"Kakakkk ... Intan gak ada ... hemmsss," adunya sambil membuang hingusnya.
Abdar segera mematikan Hp dan menyimpannya dalam saku jasnya.
Tiba di sekolah Adit segera memarkirkan kendaraannya. Belum mobil terparkir sempurna Abdar sudah membuka pintu dan turun.
"Abdar ...," pekik Adit yang kaget.
Hampir saja Abdar terjerembab kalau tidak langsung lari. Bergegas menyusul Abdar yang sudah memasuki gerbang sekolah.
Abdar tak menemukan Maryam di halaman sekolah tersebut, ia lantas berputar-putar mencari adiknya. Detik berikutnya ia melihat mang Ujang yang berdiri di dekat pintu sebuah ruangan yang terbuka.
Berlari bersama Adit yang sudah menyusulnya. Semakin mendekat memotong jarang antara mereka dengan Mang Ujang.
"Mang, Ujung." Dengan cepat orang yang di panggil segera menoleh.
"Tuan," aura ketakutan jelas terpancar di wajah paruh baya itu.
"Apa, yang terjadi?" Tidak bermaksud membentak, hanya saja situasi itu membuatnya bernada tinggi.
"Tu--tuan, maafkan saya ...! Saya tidak tahu kalau non Intan hilang." dengan gugup mang Ujang menjawab.
Melirik ke dalam ruangan Abdar melihat adiknya yang sedang menangis, duduk di salah satu kursi yang berhadapan seorang guru. Tidak hanya satu guru, tapi beberapa guru juga ada dan sebagian ibu guru mencoba menenangkan Maryam.
"Maryam ..!!" Atensi para guru seketika mengarah pada sosok Abdar yang berdiri di ambang pintu.
"Kakakkk." Berdiri dari tempatnya lari dan masuk dalam pelukan sang kakak.
"Tenang dek, jelasin dulu apa yang sebenarnya terjadi." Dengan lembut Abdar mengusap punggung Maryam.
Abdar sebenarnya juga merasa takut dengan apa yang ia dengar dan lihat saat ini, tapi ia mencoba bersikap tenang.
"Silahkan Pak, duduk dulu ...," seorang guru mempersilahkan Abdar untuk duduk.
Mengangguk samar Abdar pun berjalan membimbing Maryam kembali untuk duduk. Masih setia Adit juga mengekor di belakang.
"Intan, kak." gumam Maryam lirih.
"Bisa anda jelaskan, kronologis nya?" Menatap salah satu guru untuk mencari tahu.
"Begini Pak, mari saya perlihatkan." Memutar ulang sebuah rekaman video di laptop yang memang dari tadi sudah ada di atas meja. Yang Abdar yakini bahwa itu adalah video dari cctv di depan gerbang.
Memperhatikan setiap gerakan semua murid yang keluar satu persatu dari sekolah hendak ke tempat parkir.
"Ini adalah murid kelas satu, dan dua." Jelas guru itu.
Hingga semua murid sudah habis, security pun terlihat meninggalkan tempat jaga entah kemana.
"Pak Sayuti sedang pergi ke kantin," rupanya guru itu paham apa yang harus ia jelaskan sebelum ke pokok masalah.
Tiba-tiba Intan muncul dari balik gerbang seorang diri. Belum Intan menjauh, sebuah sedan hitam berhenti di depannya.
Seorang pria kurus tinggi dengan pakaian serba hitam memakai jaket kulit serta kaca mata yang senada turun dari pintu samping kemudi dekat Intan.
Ruangan itu begitu terasa hening ... hanya samar sekekali suara isak kecil Maryam yang terdengar dalam pelukan sang kakak, Abdar dan Adit tetap fokus dengan apa yang di perlihatkan video itu.
Jika di perhatikan pria itu seperti mengajak Intan bicara. Melihat situasi itu mereka sudah bisa menyimpulkan jika Intan di bawa oleh pria kurus itu menggunakan mobil. Tapi mereka tetap menatap layar itu menunggu bagaimana sampai bisa terjadi Intan yang hilang.
Di luar dugaan ... ternyata ada seorang anak laki-laki yang muncul dari balik pagar itu.
"Rahman." Pekik Abdar dan Adit berbarengan.
Mereka terperangah, tidak hanya mendekati Intan tapi juga terlihat jika Rahman menarik Intan kesampingnya, seolah memberi perlindungan.
Seorang pria terlihat keluar lagi dari pintu kemudi dengan perlahan, Rahman dan Intan tidak menyadari jika pria satunya sudah berdiri di belakang mereka.
Merogoh kantung jaketnya lantas pria itu mengeluarkan saputangan dan tiba-tiba membekap hidung Rahman dari belakang.
Intan hendak berteriak tapi pria di depannya juga membekap mulutnya. Kemudian Rahman dan Intan di masukkan kedalam mobil secara bergantian.
Kembali kedua pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan sekolah.
"Apa anda sudah melaporkannya, ke pihak yang berwajib?" dengan aura dingin Abdar bertanya pada guru itu.
"Kami sudah melaporkannya, Pak." jawab guru itu tenang.
"Intan ...." Lirih sekali suara Maryam.
"Tenanglah, kakak akan menyewa detektif terbaik untuk menemukan mereka." Maryam tidak menjawab tapi dapat Abdar rasakan jika Maryam menanggung dalam peluangnya.
"Assalamualaikum."
Deg ... deg ....
Mata Abdar bertemu pandang dengan orang yang baru saja datang dan mengucap salam.
"Wa'alaikumussalam." jawab para guru dan Adit.
Abdar tidak bisa berkata-kata, ia sempat lupa sejenak bahwa tidak hanya Intan yang di culik ... tapi juga Rahman. Karena rasa emosinya tadi membuatnya hanya mengingat Intan.
Mengabaikan Abdar, Rahimah mendekati seorang ibu guru.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Bu?" Dari rumah hingga sampai di tempat sekolah, dada Rahimah tidak berhenti berdetak cepat. Karena mendapat kabar jika Rahman di culik.
"Selamat siang, Bapak dan ibu?" Belum sempat guru itu menjelaskan kepada Rahimah. Pihak kepolisian sudah datang, dua anggota kepolisian berdiri di hadapan mereka.
"Siang pak polisi." Bapak kepala sekolah menyalami kedua polisi itu.
"Kami mendapat laporan, jika di sini tadi ada kasus penculikan?" tanya Pak polisi Ramah.
"Benar Pak. Bapak bisa melihat cctv nya di sini." kembali seorang guru memberi tempat duduk pada pak polisi di samping Meja yang tadi di singgahi Abdar dan Maryam.
"Silahkan Ibu Rahimah," mempersilahkan Rahimah untuk duduk di kursi samping pak polisi.
Dengan wajah yang begitu tegang Rahimah menyimak video itu, Abdar hanya bisa melihat Rahimah dari tempatnya duduk. Tidak begitu jauh karena hanya berjarak satu meter darinya dan tepat di sebelahnya.
Maryam juga sudah menarik diri dari pelukan Abdar, ia pun ikut memperhatikan Rahimah dengan wajah sendu.
Cukup terasa lama ketika rekaman itu kembali di putar. Hingga akhirnya sampai di mana Rahman dan Intan yang di masukkan ke dalam mobil.
"Astaghfirullah hal azim." ucap Rahimah bergetar. Tiba-tiba tubuh Rahimah oleng dan terjatuh ke samping Abdar.
Abdar yang dari tadi memperhatikan sosok wanita itu segera menangkap tubuh kecil Rahimah dalam dekapannya.
Keadaan seketika menjadi gaduh.
BERSAMBUNG ....
Yuk, baca lagi karya teman mimin yang juga seru abis. Pasti bakalan suka sama cerita yang satu ini.😊
Penasaran'kan? cusss langsung ke TKP.
Noormy Aliansyah