Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 43



Pagi datang bersamaan suara siul burung-burung dan embun sebagai pelengkapnya.


Masih terngiyang-ngiyang apa yang di ucapkan Adit tadi malam, hingga membuat Abdar tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Ia juga langsung menghubungi anak buahnya Tomi untuk penyelidikan lebih lanjut malam tadi, entah mengapa jika memikirkan hal itu Abdar menjadi gugup.


Tidak pernah ada terbesit bayangan jika ia akan mempunyai seorang anak, karena semenjak kejadian sepuluh tahun yang lalu adalah pertama dan yang terakhir baginya.


Rasa sakit hati kepada Sherlin membuatnya mabuk-mabukan dan mengakibatkan ia juga menyakiti seseorang tanpa sadar tapi kemudian hatinya tertutup oleh rasa benci pada wanita. Perlahan kebencian itu memudar dengan kembalinya Maryam dan Intan yang membuat hari-harinya menyenangkan.


Saat pertemuan pertamanya dengan Rahimah juga membuatnya gugup, kala Abdar ingat kalau wanita itu adalah orang yang dulu ia sakiti. Ia selalu bertanya-tanya, apakah Rahimah juga mengingatnya?


"Tok ... tok ... tok ... Om Dar, tok ... tok ... tok ...."


"Om Daaar," Abdar tersentak dari lamunannya karena ketukan dari pintu kamarnya.


Buru-buru Abdar berjalan ke arah pintu sambil memasang jas ke tubuh atletisnya. "Ada apa?" tanya Abdar saat pintu kamarnya sudah terbuka.


"Sudah di tungguin mama tuh, om. Ayo sarapan."


"Hemm."


Abdar keluar dan menutup pintu mengikuti langkah Intan dari belakang menuju meja makan, sudah ada Maryan di sana dengan sarapan yang tertata rapi.


"Pagi, kakak." Sapa Maryam yang melihat Abdar sudah dekat.


"Pagi juga, dek." Balas Abdar sembari menarik kursi dan duduk.


Intan duduk di samping kiri Maryam sedang Abdar di samping kanan Maryam yang di ujung hanya menyediakan satu kursi, membuat Abdar bisa melihat Maryam dan Intan.


"Jangan lupa, pulangnya lebih awal. Biar bisa mengaji." Ucap Maryam sambil menyerahkan Roti yang sudah di olesi selai kacang.


"Hemm," gumam Abdar.


"Nanti Intan juga mengaji'kan Ma?" tanya Intan mendongkakkan kepala ke arah Maryam membuat Rambut yang di kepang dua bergerak seiringan kepalanya.


"Iya, sayang ... mama 'kan sudah janji carikan guru ngaji buat kamu." Meletakkan roti berselai nanas di piring Intan.


"Biasanya juga ngaji sama kamu?" sahut Abdar sebelum mengunyah makanannya.


"Iya, bisanya ngaji sama aku. Tapi hari ini aku lagi datang bulan, jadi gak bisa ngajarin Intan."


Abdar mengela nafas mendengar adiknya yang ceplas ceplos, Maryam sama sekali tidak merasa malu dengan kakaknya itu jika membicarakan hal sensitif.


"Maa, memang nanti Intan gantian yaa ngajinya sama om Dar."


Lagi-lagi Abdar mengehela nafas di tengah-tengah megunyah makanannya mendengar Intan yang memanggilnya Dar. Abdar menggelengkan kepala samar menyadari keponakannya yang sangat mirip dengan adiknya itu.


"Enggak sayang, Intan ngajinya sama guru yang lain," Abdar melirik Maryam dan Intan bergantian dan kembali memakan Rotinya tanpa ada niatan menyahut.


"Ooh." refleks Intan membulatkan mulutnya.


"Intan kira gantian!" sambung Intan lagi kembali menggigit rotinya.


"Intan, berangkat bareng om gak?" tanya Abdar setelah meneguk teh hangatnya dan meletakkannya kembali setelah habis.


"E'eh, Intan ikut om Dar," lekas Intan meminum susunya saat melihat roti om-nya yang sudah habis.


"Ayo, berangkat." Abdar berdiri dan beranjak dari duduknya.


Intan dan Maryam juga beranjak mengikuti Abdar keluar rumah.


Seletah saling salim dan salam Abdar pergi mengantar Intan lebih dulu ke sekolah, baru ke kantornya.


Di perjalanan Intan selalu bicara sendiri, ia juga memberi pertanyaan walau tidak mendapat balasan dari Abdar.


"Nanti guru ngaji Intan, laki-kaki atau perempuan ya? Tadi Intan lupa nanya." Abdar hanya melirik sekilas dan kembali melihat jalanan.


"Kalau om Dar, gurunya laki-laki 'kan?" ucap Intan menatap Abdar, ia pun mengangguk mengiyakan.


"Belajar yang rajin, harus jadi anak yang penurut sama guru." pesan Abdar saat sudah tiba di sekolah Intan.


"Iya om, Dar," balas Intan.


"Tunggu," ujar Abdar menahan Intan yang hendak ke luar mobil, mengambil dompet dari saku jasnya. Abdar mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribuan.


"Ini, buat jajan kamu. Pergunakan dengan bijak," kembali Abdar memberinya pesan.


"Heheh, makasih om." Setelah mengambil uang Intan segera menyalami tangan Abdar.


"Assalamu'alaikum." Ucap Intan sambil melambaikan tangan sebelum pergi masuk ke dalam kelasnya.


Abdar segera melajukan mobil usai membalas lambayan Intan, tiba di halaman kantor ia serega memarkirkan mobil dan pergi ke ruang kerjanya. Di kantor Abdar lebih banyak melamun dari pada mengerjakan tugasnya, hingga membuat Adit selalu menegurnya.


"Kenapa sih? Ngelamun trus?" Suara Adit menyadarkan Abdar dari lamunan. "Yang serius dong kerjanya, napa?"


Adit jelas terlihat kesal, bagaimana ia tidak kesal ... setelah nanti Abdar pergi, pastilah Adit yang mengambil alih kerjaannya yang seharusnya Abdar-lah mengerjakan itu.


"Sorry, gw lagi kepikiran sesuatu aja," jujur Abdar.


"Emang apa yang lu pikirin?" Abdar menggaruk tengkungnya yang tidak gatal, tidak mungkinkan ia bercerita tentang tadi malam.


"Bukan masalah besar, sudah lupakan saja." Elaknya ingin menghindar.


"Kalau bukan masalah besar kenapa ngelamun trus," ketus Adit.


"Lagian, sekarang setiap hari lu harus pulang lebih awal ... jadi gw harap elu serius dong kerjanya. Elu gak tau apa? Gw pusing sama tumpukan kerjaan yang gak ada habisnya," Adit mengeluh dengan banyaknya pekerjaan akhir-akhir ini.


"Heemm." Abdar bergumam dengan wajah tanpan expresi.


Jarum jam bergulir, Keadaan semakin hening sejak Adit yang menegur Abdar akan tetapi tetap saja Abdar melamun walau sudah di peringatkan.


"Mending gue berhenti kerja aja kali yah?" ucap Adit dengan suara yang lumayan nyaring, sengaja ia lakukan itu agar menyindir Abdar tetapi pria itu tak acuh dengan sindirannya.


"Silahkan." balas Abdar datar dan cuek saat tersadar ia bersikap biasa saja.


Mendengus kesal Adit pergi dari ruang kerja Abdar dan kembali ke ruangannya sendiri yang di depan ruangan Abdar.


Abdar mencoba kembali fokus agar kerjaannya tidak menumpuk kepada Adit dan


percobaannya sedikit berhasil kali ini, ia benar-benar fokus bahkan melewatkan makan siangnya supaya cepat selesai.


Sesuai dengan rencananya tadi bahwa akan pulang lebih awal, jam dua siang Abdar sudah pulang dan memilih makan siang di rumah menikmati masakan Adiknya.


...****************...


Seperti yang sudah di rencanakan Rahimah, siang menjelang sore ini ia akan pergi mengajar mengaji. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Gamis sederhana berwarna biru muda sudah membalut tubuhnya, dipadu padankan dengan hijab silver juga sudah membungkus rambut panjangnya.


Rahimah lekas memakai sendal dengan hak yang tidak terlalu tinggi dan kemudian pergi keluar kamar dengan membawa envlope clutch berbarengan dengan Rahman yang juga membuka pintu kamarnya.


"Sudah mau berangkat?" tanya Rahimah yang melihat Rahman sudah siap dengan tas di punggungnya serta jaket yang terpasang di tubuhmya.


"Iya, ma ... kalau mama, berangkat sekarang?" Rahimah menggeleng.


"Tunggu Ustad Abizar dulu, baru mama berangkat. Ayo kita turun," ajak Rahimah merangkul Rahman sambil berjalan ke arah tangga.


Ustadz Abizar tadi sudah menghubunginya terlebih dahulu, kalau ia sudah di perjalanan menuju rumah Rahimah. Jangan tanyakan bagaimana Ustadz Abizar bisa tahu alamat rumah dan nomer HP-nya, tentu itu atas bantuan Ustadzah Habibah yang memberikannya.


"Kalau gitu, Rahman temanin mama dulu. Nanti kita berangkat bareng," ucap Rahman saat menuruni anak tangga, Rahimah berjalan di belakang Rahman agar lebih leluasa untuk menuruni anak tangga.


"Apa kamu gak akan telat?" tanya Rahimah sambil duduk di kursi yang di sediakan di lantai bawah.


"Enggak kok, ma. Lagian bentar lagi Ustadz Abizar-nya datang 'kan?" kali ini Rahimah mengangguk.


Rahman ikut duduk di samping Rahimah, ia memperhatikan sekeliling ruangan yang terasa kosong. Sedih rasanya tidak bisa mewujudkan impian sang mama, tapi apa boleh buat ... Rahimah sendiri yang menolak uang dari Rahman.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rahimah yang menyadari sikap Rahman telah memperhatikan ruangan itu.


"Kenapa sih ma, gak pakai uang Rahman aja? Biar butik mama cepat di buka?" keluh Rahman memelas.


Rahimah tersenyum, tangannya terangkat guna mengusap kepala putra tunggalnya dengan sayang.


"Maa, Rahman cari uang itu ... gak susah payah kok! Lagian kalau mama gak mau pakai uang itu, yang ada uangnya juga gak bakal habis dan akan terus tambah banyak." ujar Rahman sambil bersedekap.


"Bagus dong, kalau uangnya tambah banyak. Pinter banget sih kamu ... belum gede aja udah pandai cari uang," puji Rahimah tersenyum.


"Kalau gitu, mama mau ya? Pakai uangnya Rahman?"


Menghela nafas, karena Rahman masih keukeuh membujuknya agar memakai uang itu.


"Kamu gak takut, kalau uang kamu habis? Gak sedikit loh, uang yang bakal di pakai buat buka butik?" Dengan cepat Rahman menggeleng.


"Asal mama tau, uang Rahman itu baaanyak bangettt. Jadi kalau mama pakai berapa pun, uangnya gak bakal habis," Rahimah mengerutkan dahinya dalam, ia tidak yakin kalau Rahman mempunyai banyak tabungan.


Menarik tangan Rahman yang bersedekap, di genggamnya kedua tangan yang sudah hampir sama besarnya dengan tangannya.


"Mama takut, kalau mama pakai uang kamu ... nanti mama akan keenakan, trus akan selalu bergantung sama uang kamu."


"Mama gak mau menjadi beban untuk anak sekecil kamu," Rahimah menatap sendu Rahman.


Sebagai seorang wanita yang tidak bersuami, jelas Rahimah tidak ingin anaknya kekurangan dalam halnya kasih sayang maupun materi. Jika putranya itu sudah mempunyai uang sendiri bukan berarti ia harus berpikir bahwa segalanya sudah terpenuhi, ia takut akan menjadi takabur dan melupakan kasih sayang untuk anaknya hanya karena materi.


"Kalau mama takut pakai uang Rahman, mama 'kan bisa nganggap pinjam aja uangnya Rahman. Nanti kalau butiknya mama udah untung banyak, baru mama bayar."


Rahimah tersenyum mendengarnya, di usia Rahman yang sekarang ia sudah mengerti tentang ketakutan mamanya dalam memakai uang anak sendiri.


Bersyukur, itulah yang selalu Rahimah ucapkan dalam hati ... karena sudah di berikan anak secerdas Rahman. Ia juga sudah mengikhlas'kan segala yang terjadi menimpanya dulu, setelah kebergian ayah-nya hanya Rahman yang ia miliki dan tidak akan ia sia-sia'kan walau hanya untuk mencarikannya uang, karena seharusnya Rahimah-lah yang bertanggung jawab dalam membiayai anaknya itu bukan kebalikannya.


"Nanti mama pikirkan, kalau mama sudah gak ada jalan lagi ... mama akan pinjam uangnya Rahman ..!!" Itu adalah uang Rahman, ia harus menyimpan uang itu untuk masa depan putranya agar bisa lebih cerah. Karena banyak yang Rahimah takutkan ssat ini.


"Janji, kalau mama gak ada cara lain ... nanti harus pakai uang-nya Rahman." Rahimah mangangguk pasrah.


"Ting tong ... Assalamu'alaikum." Bunyi bel dan salam menghentikan percakapan mereka.


"Wa'alaikumussalam."


Rahimah lekas berdiri yang juga di ikuti Rahman.


"Ustadz Abizar," seru Rahimah saat membuka pintu.


"Maaf, kalau lama menunggu."


"Tidak apa-apa pak Ustadz," Abizar meresa kecewa mendengar panggilan Rahimah yang memanggilnya seperti itu, padahal ia mengharapkan panggilan yang sama seperti kapan mana waktu itu dengan panggilan mas.


"Oiya pak Ustadz, kenalkan ini anak saya ... Rahman."


Perhatian Ustadz Abizar langsung teralihkan pada anak di samping Rahimah, saling mengenalkan diri Rahman lantas izin pergi lebih dulu.


"Rahman pergi, mau latihat apa?" tanya Ustadz Abizar menatap punggung Rahman yang pergi menjauh dengan mengayuh sepedanya.


"Taekwondo, pak," jawab Rahimah sambil mendekat ke arah motornya. Ia tidak Ingin membuang waktu berlama-lama dan ingin segera pergi.


"Kita berangkat sekarang Pak Ustadz!" sambung Rahimah.


Abizar yang melihatnya tidak bertanya lagi, karena ia sudah di beritahukan oleh Ustadzah Habibah bahwa Rahimah brangkat dengan motor sendiri.


Ia lantas juga berjalan mendekati motornya dan segera duduk di motor lalu memasang helm. Melirik ke arah Rahimah yang juga sudah duduk di kuda besinya.


"Sudah siap?" anggukan dari Rahimah sudah menjadi jawaban yang nyata baginya.


"Ayo kita berangkat, Bismilah."


Ustadz Abizar menjalankan motornya lebih dulu, memberi jarak tidak terlaru jauh pada Rahimah yang mengekor.


Tidak lupa juga Ustadz Abizar selalu melirik kaca spionnya guna memastikan jika Rahimah tepat berada di belakangnya.


Jalan yang mereka lewati lumayan legang, tidak perlu memakan waktu lama bagi mereka agar sampai pada sebuah rumah besar nan megah.


Dari kejauhan pagar hitam dan tinggi sudah tampak kelihatan, mereka berhenti di depannya untuk melapor pada security yang berjaga.


"Assalamu'alaikum, Pak?"


"Wa'alaikumussalam, Ustadz Abizar yah?"


"Iya, pak."


"Langsung masuk saja pak Ustadz, sudah di tungguin." Ustadz Abizar mengangguk mengerti.


Ia lekas memasukkan motornya setelah pintu pagar terbuka, begitu juga dengan Rahimah. Memarkirkan motornya Rahimah di bantu oleh security.


"Silahkan, Pak Ustadz dan Bu Ustadzah." ucapnya menuntun jalan.


"Saya bukan Ustadzah, Pak ... panggil saya Imah saja," sanggah Rahimah mengenalkan diri.


"Ohh, saya panggil neng Imah saja ya neng?"


"Iya, boleh, Pak."


"Mari lewat sini."


Rahimah dan Ustadz Abizar mengikuti security dari belakang secara beriringan tapi mereka memberi ruang dengan jarang setengah meter.


Tiba di depan pintu Mereka sudah di sambut oleh pelayan paruh baya dan di persilahkan masuk setelah mereka mengucap salam. Duduk di ruang tamu, lantas pelayan itu meninggalkan Rahimah dan Ustadz Abizar guna memanggil tuan rumah.


Memang terasa canggung bagi Rahimah karena di tinggal berdua dengan Ustadz Abizar, tapi ia mencoba menghilangkan kecanggungannya itu dengan melihat-lihat tataan dekorasi ruangan tersebut dari tempat duduknya.


Diam-diam juga Ustadz Abizar memperhatikan Rahimah yang melihat ruangan itu. Rahimah memilih duduk di kursi tunggal sementara Ustadz Abizar duduk di kursi panjang membuatnya bisa melihat jelas wajah Rahimah.


Pelayan datang dengan minuman dan kue, usai mempersilahkan pada mereka ia kembali pergi.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Mendengar salam seseorang dari arah dalam mereka segera menjawab dan menoleh. Dapat Rahimah lihat, seorang perempuan seumurannya dengan anak perempuan yang kapan mana pernah bertemu dengannya di pesantren.


Rahimah dan Ustadz Abizar berdiri menyambut tuan rumah.


"Mbak, Imah apa kabar?" ucapnya dengan senyum yang mengembang. Bersalaman dengan Rahimah tidak lupa cipaka cipiki, Intan pun ikun menyalaminya.


"Alhamdulillah, sehat. Kalau kamu bagaimana?" balas Rahimah ikut tersenym ramah.


"Alhamdulillah, sehat juga mbak. Apa kabar pak Ustadz?"


Maryam beralih menyapa Ustadz Abizar dengan tangan yang di tangkupkan dan sedikit menundukkan kepala.


"Alhamdulillah baik," Ustadz Abizar mengusap pucuk kepala Intan saat menyalami tangannya.


"Silahkan duduk, sebentar lagi kakak saya akan datang."


"Ehemm."


Abdar berdehem mendekati mereka, tidak sengaja pandangan Rahimah dan Abdar bertemu. Mereka terkesiap melihat satu sama lain.


"Dia ...." gumam keduanya di dalam hati.


BERSAMBUNG ....


Hai gaesss ... aku mau rekomendasi novel yang juga sangat keren lo ..!! Jangan lupa mampir di karya author yang satu ini ya, karena di jamin seru, menantang dan sangat menguras emosi.



Bercerita tentang lika liku kehidupan sehari-hari yang di alami sepasang suami istri antara Aji dan Mika. Tak pernah lepas dari campur tangan atasan mereka masing-masing di tempat kerja.


Yang kepo cuss, langsung ke TKP ya man teman😊. @PandaMaiden


Salam dari Urang Banua😘


Noormy Aliansyah