
Rahimah tengah sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya, dari sejak subuh tadi ia sudah memasak sarapan dan bekal untuk Rahman.
Sebelum beranjak dari dapur ia pun mencuci alat masaknya dulu agar terlihat rapi.
Setelah semua beres Rahimah pun kembali ke kamar, guna bersiap mandi. Saat membuka pintu dan berjalan ke arah lemari, ia tersentak kaget ketika menyadari keberadaan Abdar yang masih tertidur pulas.
Mengingat kejadian tadi malam, pipi Rahimah langsung bersemu merah bak buah delima karena begitu malunya pada diri sendiri. Bagaimana tidak ...? Ia menjadi sulit tidur karena diperhatikan Abdar tiba-tiba dikagetkan dengan dekapan lembut di sampingnya.
Rahimah mer3mas kedua tangannya ketika ingatannya mengulang kejadian yang begitu memalukan.
...********************...
.
Flashback on.
Abdar terpaku dan menegang, memandang bidadari berujud manusia yang kini sudah resmi menjadi istrinya dan tengah melepas jilbabnya. Bukan hanya jilbab yang dilepas Rahimah tapi ikat rambutnya pun juga. Rambut hitam pekat sedikit bergelombang menjuntai indah melebihi pinggang membuatnya seketika terpesona oleh kecantikan alami sang istri.
...πΌπΌπΌ...
Terpesona
Aku terpesona
Memandang memandang wajahmu yang manis
Terpesona
Aku terpesona
Menatap menatap wajahmu yang manis
Bagaikan mutiara
Bola matamu bola bola matamu
Bagaikan kain sutera lesungnya lesungnya pipimu
Β
Cantiknya kamu cantik cantiknya kamu
Eloknya kamu elok eloknya kamu
Semua yang ada padamu membuat aku jadi gelisah
Sampai sampai aku terbangun dari tidurku
Eyaaa ... nyanyi dulu kita. Wkwkwk
...πΆπΆπΆπΆ...
Sementara orang yang merasa diperhatikan menunduk malu, perlahan kembali berbaring dengan diiringi debaran jantung yang begitu kencang dan terasa canggung.
"Cantik," puji Abdar membuat ia semakin malu dan pipinya memerah.
Tidak puas memandang sang istri dengan posisi terlentang, Abdar pun memilih memiringkan badannya ke arah Rahimah sambil memeluk bantal guling yang menjadi penghalang diantara mereka.
Rahimah berusaha memejamkan matanya agar lekas tidur dan tidak terganggu oleh kelakuan Abdar.
Rahimah terkesiap dan seketika itu juga membuka mata saat lengan kekar Abdar kini melingkar di atas perut rampingnya. Melirik tangan sang suami sembari memperhatikan bantal guling yang sudah tidak ada lagi ditengahnya.
"Apa kamu keberatan jika aku memelukmu?" bisik Abdar di daun telinganya. Rahimah tersadar jika kini Abdar tengah meletakan kepalanya dalam satu bantal yang sama dengannya.
Menoleh ke samping, pandangan mereka beradu menjadikan Atmosfir di ruangan tersebut seketika berubah dingin, degup jantung keduanya berpacu begitu cepat bahkan bisa saling mendengar satu sama lain.
"Keberatan tidak?" ulang Abdar.
Hembusan napasnya menerpa wajah Rahimah dan tercium bau mint.
Menelan ludah kasar, tiba-tiba lidahnya kelu dan sulit untuk berbicara walau hanya untuk satu kata saja. Pilihannya pun terpaksa menggeleng samar.
"Apa?" tanya Abdar pura-pura tak mengerti.
"Nggak keberatan kok, mas," jawab Rahimah lirih dan menurunkan pandang tak sanggup barlama-lama menatap mata sang suami yang begitu tajam namun teduh.
Mendapati jawaban seperti itu membuat hati Abdar bersorak gembira sambil tersenyum gemes melihat tingkah alami istrinya yang baru pertama kali dipeluk dirinya sebagai suami istri.
Abdar menatap lekat wajah dihadapannya, menelisik setiap sudut yang terpahatan sempurna dari makhluk berwujub wanita.
Kening, mata, alis, hidung, pipi, dagu tak luput dari perhatiannya hingga tatapannya berhenti pada bibir ranum Rahimah.
Bagai orang yang dihipnotis pelan tapi pasti, Abdar memajukan wajahnya ke wajah Rahimah sontak lawannya langsung memejamkan mata tak berdaya.
Benda kenyal dan lembut kini menempel sempurna dipermukaan bibir Rahimah, membuat tubuhnya berdesir begitu juga Abdar.
Tidak puas hanya menempel, Abdar berbisik dengan tetap menyatukan bibir mereka. "Buka mulutmu," pintanya dengan suara serak.
Rahimah semakin menegang tapi tetap menurut, kini ia merasakan hisapan lembut pada bibirnya membuatnya semakin memejamkan mata tapi tidak bisa membalas.
Tiba-tiba saja Abdar menarik diri dan menghentikan aksinya, reflek Rahimah membuka mata sayunya.
"Izinkan aku menikmatinya malam ini, dan jangan pejamkan matamu." Ujar Abdar sembari berpindah posisi ke atas membawa Rahimah dalam kukungannya.
Kembali Abdar mendekat, tapi kali ini ia mencium kening Rahimah disusul kedua belah matanya dan pipi kiri juga kanannya.
Menarik diri, Abdar tersenyum tertahan melihat Rahimah semakin tersipu. "Bolehkah?" suara paraunya tidak mampu ditolak membuat Rahimah mengangguk samar.
Mengusap lembut bibir sang istri sekilas dan kembali mehis4pnya lembut. Perlahan cium4n Abdar beralih kebagian leher yang menciptakan lengkuhan kecil tercetus dari mulut Rahimah.
Abdar semakin tertantang dan begitu bergairah. Ini adalah pengalaman keduanya bersama Rahimah, tapi kali ini ia dalam keadaan sadar dan tentunya halal.
Tangannya pun tidak tinggal diam, perlahan merayap ke atas dan berhenti di atas d4da Rahimah.
Rahimah tersentak kaget dan menahan tangan Abdar karena ini sesuatu yang tak biasa ia alami. Ia pun teringat satu hal yang tadi ia lupakan.
"Mas," panggil Rahimah lembut menghentikan pergerakan Abdar dan menatapnya sayu.
"Hmm?"
"Itu ... emmm," ucapnya ragu.
"Hmm?"
"Emmm ... anu mas ... itu anu ...."
"Ada apa sayang?" Rahimah langung melambung karena panggilan Abdar yang tidak biasa.
"Itu mas ... saya ... lagi halangan."
Jedaaarrrrr
Seketika Abdar menjatuhkan wajahnya ke bahu sang istri. Rahimah menggigit bibirnya tak enak hati karena lupa mengatakan hal itu tadi. Ia baru saja mendapatkannya ketika hendak buang air kecil sebelum tidur.
Cukup lama Abdar dalam posisi menindih sang istri, hingga akhirnya ia bangkit dan duduk.
"Maaf mas," ucap Rahimah merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, aku ke kamar mandi dulu." Pamitnya beranjak dan pergi dengan langkah gontai diiringi tatapan Rahimah yang semakin tidak enak hati.
Cieeeee ... yang lagi mikirin malam pertama, tiba-tiba ambyaaar. Wkwkwk π
Flashback off
Tidak ingin mengganggu tidur sang suami yang baru beberap jam, Rahimah memilih mengambil keperluan baju gantinya dan pergi ke kamar mandi.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian Rahimah kembali ke kamarnya dengan rambut setengah basah tergerai indah, tangannya sibuk menggosok-gosok rambut panjangnya.
Melihat jam yang akan masuk waktu shalat, Rahimah pun memutuskan membangunkan Abdar.
"Mas, bangun mas." Menggoyang pelan bahu Abdar.
"Mas, sudah mau sholat." Ucapnya masih memegang bahu suaminya.
"Hmmm," gumam Abdar.
"Mas bangun, sudah mau sholat," ulang Rahimah.
Kelopak matanya bergerak-gerak tanda akan terbuka. "Hmmm." Mata tajam itu memicing menyesuaikan pencahayaan dan menyadari kehadiran sang istri.
Rahimah pun menarik tangan dari bahu Abdar, tapi keburu ditangkap olehnya dan sedikit tarikan hingga ia terjatuh tepat di atas d4da bidang sang suami, pinggangnya pun peluk Abdar.
"Mas." Pekik Rahimah manja sambil menahan untuk membuat jarak sembari hendak bangkit dan pelukan pun semakin erat.
"Sebentar saja, aku masih ingin memelukmu," kata Abdar dengan suara parau.
"Tapi jangan seperti ini mas, nanti kamu bisa sakit," ucapnya pasrah.
Abdar pun menjatuhkan tubuh kecil Rahimah ke sampingnya, kepalanya menyusup disela leher dan bahu membuat sang empuhnya tersentak geli.
"Jangan banyak bergerak, nikmati saja," ujar Abdar tidak terlalu jelas.
Menghirup dalam bau sabun dan sampo yang menyeruak memenuhi indra menciumannya, membuatnya enggan untuk berhenti walau hanya sedetik saja.
Ingin sekali rasanya Rahimah memukul kepala yang semakin mengendus lehernya, bagaimana bisa ia tidak bergerak jika demikian.
"Kamu harum sekali," pujinya sambil mencium daun telinga Rahimah.
"Ya iyalah harum, 'kan aku udah mandi," kesal Rahimah tidak tahan karena ke'gelian.
Kedua sudut bibirnya tertarik menyadari istrinya yang kesal, bahkan kini panggilannya berubah menjadi 'aku'.
"Emang mas cinta?"
"Pakai nanya lagi! Aku udah cinta dan sayang banget sama kamu, sejak tau kalau Rahman itu anak aku." Menatap lembut sambil jarinya menyusuri wajah Rahimah.
"Masa sih?"
"Hmmm. Kamu cinta dan sayang nggak sama aku?"
"Enggak." Seketika Abdar melepas pelukannya.
"Seharusnya kalau kamu terpaksa, nggak usah diterima kemarin. Aku pikir kamu menerima lamaran dadakan ku, karena juga suka," ucap Abdar pelan merasa kecewa.
"Enggak salah lagi Maksud nya." Terang Rahimah langsung menyembunyikan wajahnya ke bawah bantal ketika berkata demikian.
"Kamu Ya, dari mana pintar ngomong kaya gitu?" Tangan merayap menggelitik pinggang sang istri.
"Mas geli." Katanya sambil tertawa di bawah bantal.
"Tok ... tok ... tok ...." Ketukan pintu membuat keduanya terdiam dan saling pandang.
"Ma, apa ayah sudah bangun?"
"Iya sayang, ayah sudah bangun." Kompak menyahut.
"Rahman sudah siap, apa ayah sudah mandi?"
"Ini mau mandi." Lagi-lagi menyahut bersama.
"Ya sudah Rahman tunggu di kamar."
"Iya sayang."
"Buruan mandi mas," suruh nya.
"Cium dulu," tawa Abdar.
Tidak ingin anaknya menunggu lama, lekas dicium nya pipi Abdar.
"Lagi," pintanya.
"Sudah." Ujarnya melepas ciuman di pipi satunya.
"Lagi." Pintanya ngelunjak sambil memajukan bibir.
Malu, itulah yang Rahimah rasakan. Akhirnya Abdar-lah yang mendominasi. "Makasih sayang." Sambil bangkit dan pergi.
Menghela napas tangannya terangkat memengang d4da.
"Dasar," *gumamnya.
...*******************...
.
"Assalamualaikum*."
"Wa'alaikumussalam."
Intan datang bersama Maryam, guna menjembut Rahman sekolah bersama.
"Ayo ke atas, mas Abdar dan Rahman lagi sarapan. Kalian sudah sarapan?" Berjalan beriringan menaiki anak tangga.
"Belum tante," ujar Intan.
"Gimana mau sarapan, orang Intannya nggak mau. Katanya sarapan di rumah tante Imah aja." Cerita Maryam sambil cemberut.
"Hehe." Intan nyengir tidak merasa bersalah.
"Kalian sudah datang?" sapa Abdar melihat Maryam dan Intan menghampirinya di meja makan.
"Sini Intan, biar tante siapi." Dengan cekatan Rahimah menyajikan makanan kedalam piring.
"Gimana tadi malam, apa sudah tool?" bisik Maryam pada sang Kakak.
"Uhukkk uhukkk." Abdar tersedak mendengar pernyataan sang adik yang tidak tau akhlak.
"Minum dulu, mas." Rahimah menyerahkan gelas berisi air kehadapan Abdar.
Maryam membekap mulutnya yang hendak tertawa. "Kamu." Tunjuk Abdar usai minum sambil melotot.
"Hehe, maaf." Mengangkat tangan dan menunjukan jadi telunjuk dan tengahnya sambil nyengir. β
"Ayo sarapan dulu." Lerai sang tuan rumah.
Maryam pun memilih diam dan ikut makan, nyali nya menciut ketika Abdar tetap melotot.
Usai sarapan mereka pun pamit, begitu juga Abdar yang hendak ke kantornya dulu sebentar. Sebelum Abdar pergi, Rahimah terlebih dulu menyerahkan anak kunci rumahnya agar mempermudah untuk masuk sendiri seperti Rahman.
...*****************...
.
"Wah, pengantin baru ternyata datang ke kantor. Nggak cuti bos? Apa nggak cape habis lembur?" goda Adit menyambut Abdar di ruangannya.
"Urus semua berkas pernikahan. Jangan lupa hubungi Zidan, senyewa holet nya untuk resepsi pernikahan dalam waktu dekat ini. Catatan semua rekan bisnis kita dan kirim undangan secepatnya," katanya serius mengidahkan godaan Adit.
"Iya tau gw, ini juga lagi diurus. Perasaan kerjaan gw jadi tambah banyak," keluh Adit kesal.
"Kenapa lu nggak minta bantuan Tomi?" Tanya Abdar heran mengerutkan kening.
Tepukan tangan seketika mendarat di keningnya sendiri. "Ck, iya ya ... Kenapa gw jadi lupa," decak Adit.
Abdar menggeleng melihat Adit yang segera mengambil hp guna menghubungi Tomi.
"Tomi buruan ke kantor, ada tugas penting!"
Mematikan telepon ketika sahutan di seberang sana menyanggupinya. Dalam kurun waktu lima belas menit Tomi kini sudah berada dihadapan mereka.
"Urus berkas pernikahan tuan mu. Pastikan tanggal pernikahannya dalam minggu ini, dan minta catatan rekan bisnis kita kepada Hasna untuk mencetak undangan." Menyodorkan map berisi data diri Abdar dan Rahimah.
"Baik tuan." Menyambut map tersebut tanpa banyak tanya, walau kendatinya raut wajah penasarannya terpancar begitu nyata.
"Sekarang pergilah!" perintahnya mengusir Tomi.
"Baik tuan," Selalu saja kata itu ia ucap kan.
"Gw mau kasih hadiah pernikahan buat istri gw, kira-kira yang cocok apa ya?" tanya Abdar usai Tomi undur diri.
"Lu tanya gw, kaya gw yang tau aja. Si Maryam tuh, yang lebih tau."
"Emm, sebaiknya gw tanya Maryam aja nanti."
"Gw balik dulu." Ujarnya berdiri dari duduknya.
"Gw pikir bakal seharian di kantor, taunya cuman ngasih perintah," cibir Adit.
"Emang gitu'kan kerjanya seorang atasan," sahut Abdar menaik turunkan alisnya.
"Sialan lu," kesal Adit dibalas gelak tawa kemenangan dari sang atasan sebelum meninggalkan ruangannya.
...****************...
.
Kedua sudut bibir Abdar tertarik sambil memandang bangunan berlantai dua yang kini tepat di hadapannya. Kembali kejadian kemarin memutar ulang dalam memorinya, tidak pernah menyangka jika kemarin ia sudah resmi menikah dengan wanita yang menjadi ibu dari anaknya, walau pun hanya menikah siri.
Setidaknya ada kelegaan yang ia rasakan saat ini, bahwa ialah yang menjadi pendamping hidup Rahimah. Perlahan kaki jenjangnya melangkah, tangannya pun memasukkan anak kunci.
Membuka daun pintu, hening ... itulah yang ia rasakan ketika masuk ke dalam rumah tersebut. Naik ke lantai atas dan sengaja mengucap salam pelan agar tuan rumah tidak menyadari kehadirannya.
Mencari keberadaan sang istri, ia pun mendapati istrinya tengah sibuk di dapur. Melepas sepasang sepatu, Abdar berjalan mengendap ngendap ke arah Rahimah.
"Gereeppp." Abdar memeluknya dari arah belakang.
"Allahuakbar." pekik Rahimah tersentak kaget dan berbalik.
"Mas Abdar." Keluh Rahimah sambil memukul lengan suaminya.
"Aku kangen tau, di jalan cuman kamu yang aku pikirin. Rasanya pengen gini terus." Memeluk mesra tidak peduli keadaan istrinya.
"Mas, aku malu," ucap Rahimah jujur.
Kendati sudah menghabiskan malam tidur bersama, tapi rasa malu juga gugup tidaklah berkurang dari seorang yang bernama Rahimah.
"Tapi aku suka." Bisik Abdar lembut.
"Mas, udah dong ... tangan aku kotor," ujar Rahimah.
Abdar yang dimabuk cinta tak mengidahkan perkataan sang istri, ia malah menarik tangan itu dan meletakkannya di pipinya sendiri.
"Yang, kok tangan kamu bau?" Ujar Abdar gegas menatap telapak tangan Rahimah
"Ahahahahaha, mas ... tangan aku habis motongin ikan, tadi aku ke pasar beli ikan." Tak kuasa Rahimah menahan tawanya karena expresi wajah suaminya yang berubah masam.
"Ck, ah kamu." Decaknya berlalu ke kamar mandi.
"Yeeee, kanapa jadi selain aku. Dasar ...." Ujarnya masih tertawa.
BERSAMBUNG ....