
Dalam kurun waktu 3,5 jam kapal feery tiba di pelabuhan Klang.
Pelabuhan Klang adalah nama pelabuhan utama di Malaysia dan juga merupakan sebuah kota pelabuhan yang sibuk, ia terletak di daerah/distrik Klang di negara bagian Selangor. Pelabuhan ini melayani Lembah Klang, termasuk ibu kota federal Kuala Lumpur dan ibu kota administratif federal Putrajaya.
Sekarang waktu menunjukan pukul 12:37 WIB. kapal ferry pun sudah sandar. Orang-orang tengah berjejer menunggu giliran untuk turun. Hanya satu jam batas waktu yang di perlukan penumpang untuk segera keluar dari kapal ferry tersebut.
Jack yang tahu jika mereka sudah terkepung di detik-detik terakhir kapal sandar segera membuat rencana dengan Shandy dan anak buahnya untuk menghindar.
Tentu saja jika tidak ada bantuan orang dalam, mana mungkin mereka bisa menyelundupkan sebagian nark**a dan Rahman. Mereka sudah biasa pulang pergi dengan kapal ferry, maka tidakkah heran jia ia banyak mempunyai koneksi di kapal itu.
Saat orang sedang bersiap dengan barang bawaannya. Jack mengecoh para polisi dengan berpencar dan melapis bajunya dengan baju lain yang sudah disediakan oleh orang dalam untuk kamuflase di waktu polisi lengah tidak melihat mereka.
Polisi yang bingung kehilangan jejak secara tiba-tiba segera melapor, akhirnya para polisi sibuk untuk mencari keberadaan si penculik ... dan itu malah membuat peluang besar untuk para penculik lolos dari intaian.
Kepolisian Malaysia yang sudah datang untuk membantu, langsung bergabung tapi hanya bisa menunggu aba-aba karena mereka tidak tahu bagaimana wajah si penculik.
Penumpang sedikit bingung dan penasaran saat mendapati ada polisi. Buru-buru polisi menjelaskan bahwa akan ada penyelidikan nark**a agar mengurangi desas desus.
Dengan sembunyi-sembunyi Shandy dan Jack membawa Rahman turun dari ferry mereka memisahkan diri dari bawahannya. Sekali lagi itu atas bantuan orang dalam.
Candra yang memperhatikan orang-orang turun tidak sengaja menanggap sekelebat bayangan wajah Rahman.
Guna memastikan benar atau tidaknya itu adalah muridnya, Candra pun memanggil Rahman dari kapal ferry.
"Rahmaannn ..!!" teriak Candra lantang.
Membuat atensi orang-orang yang berada di sana menoleh termasuk Abdar dan Adit.
Rahman yang merasa tidak asing dengan suara yang cukup familiar di pendengarannya pun segera menoleh berbarengan dengan yang lain.
Bola mata bening berwarna coklat di bawah alis tepal itu sekejap bertemu pandang dengan Candra dari jarak jauh dalam waktu persekian detik karena keburu di dorong Jack.
"Master," gumam Rahman terkesiap dengan apa yang ia lihat. Masih tidak percaya kembali memastikan penglihatannya.
"Itu, Rahman," teriaknya yakin sambil menunjuk ke arah Rahman yang di giring dua orang pria dewasa.
"Hentikan mereka." Perintah Abdar segera turun di ikuti Adit dan Chandra.
Polisi tidak ketinggalan. Sebagian polisi Indonesia dan Malaysia turut membantu, sebagian lagi memeriksa yang di kapal bersama polisi Indonesia.
Sempat terjadi kegaduhan ketika polisi ikut turun guna membantu Abdar untuk menangkap penjahat.
Shandy dan Jack segera membawa Rahman berlari ikut berbaur di tengah hilir mudik orang-orang.
Sebenarnya bisa saja jika Rahman mau melarikan diri dari mereka, hanya saja Rahman mengira Intan bersama para penculik dan Ia harus membantu Intan bebas dari kenjagarl6
Rahman terus di tarik hingga menjauh dari kerumunan. Tiba di ujung jalan sudah ada sedan putih yang memang sudah di suruh menunggu Shandy dan Jack.
"Jom, cepat," perintah Jack kepada sang supir tatkala mereka sudah duduk dalam mobil.
"Oke pakcik."
Tanpa bertanya lagi sang supir langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang di maksud.
.
.
.
Abdar, Adit dan satu polisi donesia satu mobil dengan dua orang polisi Malaysia. Candra dan polisi Indonesia juga berada di mobil lain dengan dua polisi Malaysia, total orang jadi sepuluh.
Mengikuti mobil yang membawa Rahman, karena jalan yang begitu padat akhirnya polisi membunyikan sirine polisi membuat jalan menjadi legang tapi tidak serta merta dapat menggapainya karena mereka sangatlah cepat.
Melewati beberapa mobil kiri dan kanan dengan kecepatan tibggi menyusuri jalan tol hingga masuk ke ibu kota, mereka langsung disambut dengan menara kembar yang tinggi menjulang yakni memiliki total 88 lantai dengan tinggi 451,9 m, dan 40 lift/eskalator tiap menaranya. Patronase Twin Towers.
Kejar-kejaran masih terus berlangsung sampai ketika para penculik masuk ke salah satu gang yang sepi, polisi menembak ban mobil para penculik saat mereka sudah mendekat.
Polisi juga melakukan pertimbangan saat melakukan Itu. Seandainya mereka masih di jalan tol ... kemungkinan akan ada kecelakaan sangatlah besar, maka dari itu polisi baru melakukan penembakan ban sekarang. Karena selain jalanan yang terlihat sepi, jalan juga tidak terlalu mulus akan mengurangi resiko tabrakan beruntun.
Terbukti, dengan kecepatan yang menurun akibat jalan yang tidak mulus saat bannya pecah terkena tembakan ... mobil itu langsung oleng ke kiri dan ke kanan. Tapi tetap tidak mau berhenti.
Cukup jauh mobil terus melaju walau dalam keadaan berat. Mobil polisi pun sudah menyusul di belakang dan semakin mendekat.
Salah satu mobil yang di tumpangi Candra sudah menyalip di depan mobil penculik dan menghentikannya.
Abdar dan semua rekannya turun mengepung. Tentu Rahman terkejut, karena tidak hanya polisi dan Candra, tapi ada Abdar yang menolongnya.
"Jom, turun. Anda sedang dikepung." Polisi Malaysia menodongkan pistol ke arah penumpang.
Belum lagi Shandy dan Jack turun, tiba-tiba dua buah mobil lain datang dari kejauhan.
Keluarlah beberapa orang dari mobil itu, sekitar lima belas orang membantu Shandy dan Jack sambil mengenakan topeng.
Abdar yang melihat Shandy dan Jack turun hendak berganti mobil segera menangkap bahu Shandy. Menariknya hingga menghadap ke arahnya dan langsung di hadiah bogem mentah dari Abdar.
"Berenggg seeek," geram Shandy tidak terima dengan wajah ke arah samping kanan.
"Mau kau bawa Kemana anak itu, hah?" Ujar Abdar sambil menendang Shandy.
"Ahh." Shandy meringis kesakitan.
Perkelahian pun tak terelakkan.
Candra melawan tiga penjahat sekaligus dan Adit melawan dua Candra pun hampir kewalahan saat melawan tiga orang sekaligus. Tidak hanya Candra yang melawan lebih dari satu, Abdar pun juga. Selain melawan Shandy, ia juga melawan supir yang membawa Rahman tadi di tambah satu orang yang membantu Shandy, sementara yang lain melawan satu orang.
Pukul dan saling tendang, polisi tidak bisa mengeluarkan senjata ... takut salah sasaran. Jadi mereka ikut berkelahi dan akan menggunakannya di saat di perlukan.
Abdar langsung meluapkan rasa marahnya selama beberapa hari ini kepada Shandy dengan menghajarnya habis-habisan.
"Bereeng seek ..!! Tidak akan ku biarkan pembunuh kakak, hidup tenang." ujar Shandy sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Abdar yang mendengar itu mengerutkan kening dalam. Ia tidak mengerti arah pembicaraan yang di ucapkan Shandy. Abdar menduga ada kesalah fahaman antara Shandy terhadap dirinya.
Jack tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan menarik Rahman untuk masuk ke dalam mobil.
Rahman sadar jika banyak orang yang datang menolongnya. Ia pun tidak tinggal diam saat terus di tarik.
"Om, sebaiknya lepaskan tangan saya kalau tidak ingin menyesal," ancam Rahman yang di remehkan Jack.
"Jangan banyak bicara kau bocah ingusan." Bentaknya sambil menarik kasar.
Tidak terima Rahman langsung menarik tangannya kembali sambil memelintir tangan Jack, hingga kini tangan Jack yang berada dalam geganggamannya.
Walau tangan Rahman terbilang masih kecil, tapi ia menggunakan tenaga di kelima jarinya dan membuat tangan itu tetap berada dalam genggamnya.
Sambil memelintir tangan Jack, Rahman juga menendangan perutnya hingga terjatuh.
"Sialan kau, bocah. Ku pikir waktu itu hanya kebetulan," ingat Jack saat di pukul Rahman. Ketika Rahman memukulnya Ia pikir Rahman hanyalah kebetulan karena secara tiba-tiba saat ia membuka pintu.
"Sudah saya katakan, anda akan menyesal," ucap Rahman santai.
Bangkit dari jatuhnya, Jack langsung menyerang dengan kepalan tangan kanannya.
Rahman yang sudah memprediksi segera menangkis dengan tangan kiri dan melayangkan tinju ke wajah Jack yang langsung menghindar.
Jack membalas menggunakan tendangan yang juga di tangkis dengan tendangan oleh Rahman.
Sekarang saling memengang tangan satu sama lain. Kini giliran kaki yang bertindak.
Rahman langsung menendang, untuk menghindar sudah jelas kedua tangan itu terlepas.
Jack meninju ke bagian wajah.
Rahman yang sudah menyandang sabuk merah dengan 2 strip hitam jelas sudah tidak di ragukan lagi. Itu sudah sama dengan sabuk hitam.
Rahman melakukan kayang ketika Jack hendak memukulnya, saat kembali pada posisi semula ia juga membalas pukulan, tapi rupanya Jack lawan yang sepadan karena ia juga tangkas menghindar.
Pukulan pertama yang tadi di berikan Rahman, Jack pikir hanya main-main karena mengira Rahman hanyalah anak biasa.
Tapi saat melihat cara Rahman membela diri ia segera waspada.
Abdar sempat melirik Rahman yang berkelahi. Ia terkesiap saat tahu jika Rahman begitu hebat dalam bidang bela diri.
Polisi yang satu lawan satu berhasil melumpuhkan penjahat dan langsung memborgol satu tangannya dan memborgol ke pintu mobil yang terbuka agar bisa membantu yang lain.
Jack melakukan pukulan dan tendangan secara beruntun sambil maju yang langsung di hindari Rahman dengan Cara melakukan tangkisan tangan lompat dan kayang.
Rahman yang melihat dekat dengan mobil melakukan putaran badan lalu berlari ke arah mobil menjadikan mobil sebagai pijakan dan melompat ke udara sambil melakukan salto kemudian mendarat di atas bahu Jack dan langsung menarik ke belakang hingga akhirnya Jack terbanting dan jatuh terlentang.
Sangat sakit karena bantingan dan jalan yang berbatu. Saat Jack menahan sakit di pinggang Rahman sibuk mengatur nafas yang tersengal-sengal.
Di rasa cukup, Jack kembali bangkit dengan wajah penuh amarah. Ia merasa sangat terhina karena bisa di kalahkan oleh seorang anak kecil.
Akan menjadi sia-sia latihannya selama bertahun-tshun jika tidak bisa mengalahkan seorang anak kecil.
Berlari kearah Rahman dengan semangat dan kemarahan yang menggebu. Melayang kan tinju sekuat tenaga.
Rahman yang sudah menyimpan pasokan udara tak serta merta berdiam diri. Menangkis dan membalas tinju juga tendangan.
Melakukan tendangan memutar hingga mengenai pinggang Jack membuatnya terhuyung ke samping.
Jack yang sudah kesal sejak tadi, tidak tahan lagi .... Ia pun segera mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke arah Rahman.
"Doorrr." Satu tembakan Melayang, seketika menghentikan perkelahian dan langsung menoleh ke asal suara.
Semua orang terpaku melihat seseorang terjatuh dengan darah yang mengalir.
Melihat orang yang diam Jack segera masuk ke dalam mobil yang tadi menjemput mereka, menghidupkannya dan meninggalkan anak buahnya.
Sebagian anak buah yang bertahan juga segera masuk ke mobil satunya. Polisi yang tersadar dengan kepergian para penjahat segera menangkap.
Shandy yang hendak pergi pun tidak sempat karena Candra yang menahannya.
Polisi hendak mengejar tapi mereka lupa jika sebagian menjahat terborgol di pintu mobil. Alhasil mereka tidak bisa mengejar dan hanya bisa menahan empat orang termasuk Shandy.
...****************...
Dengan di temani Dinda, Rahimah kembali menjenguk Intan.
Tidak bertanya lagi ke bagian resepsionis, karena mereka yang masih ingat di kamar mana Intan inap.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam," terdengar sahutan dari dalam.
"Tante, Imah." Dengan riang Intan menerima uluran tangan Rahimah.
"Bagaimana Intan, apa sudah baikan?" tanya Rahimah sambil mengusap pucuk kepala Intan.
"Sudah mendingan, tante," Rahimah tersenyum mendengarnya.
Maryam dan Dinda membiarkan keduanya bicara setelah tadi bersalaman, mereka duduk di sofa.
"Intan Maaf ya, tante?" ucap Intan berubah sendu.
Duduk di tepian ranjang sambil mengambil tangan Intan dan mengusapnya lembut.
"Ini bukan salahnya Intan, ini memang sudah takdir dari Allah SWT. Tuhan pasti akan selalu menjaga Rahman di mana pun dia berada."
"Tante cuman minta, Intan bantuin do'a ya ... buat Rahman?" Dengan cepat Intan. mengangguk.
"Intan selalu do'ain. Semoga kak Rahman cepat ketemu dan gak sakit kaya Intan," do'a Intan tulus.
"Amin." Ucap ketiga wanita itu berbarengan.
"Ayo sayang, minum obat dulu nya. Nanti kalau ketemu kak Rahman, Intan sudah sembuh dari sakitnya," kata Maryam saat mengingat Intan yang belum meminum obatnta.
Maryam segera berdiri dan beranjak mendekati nakas di mana obat-obat Intan tergeletak. Usai mengambil obat ia bergabung bersana Rahimah dan Intan.
"Loh, Intan belum minum obatnya?" tanya Rahimah menatap Intan yang menundukkan kepala.
"Pahit tante," aku Intan jujur tidak suka minum obat.
"Pahitnya cuman sedikit, nanti pas Intan sudah minum obatnya ... pasti pahitnya gak kerasa lagi." Bujuk Rahimah mengambil alih obat yang berada di tangan Maryam.
"Pengen cepat sembuh 'kan? Jadi, harus rajin buat minum obat kalau sedang sakit," sambung Rahimah menyerahkan obat kepada Intan.
"Tapi gak tahan, tante." keluh Intan memelas.
"Sudah sering minum obat ya, berarti? Kok tau, kalau obatnya pahit?"
Intan mengangguk mengiyakan
"Kalau Intan sudah sering minum obat, berarti ... harusnya Intan gak bakal takut lagi sama obat yang kecil dan pahit ini, dong?"
"Malu tahu sama anak kecil? Tadi pas tante kesini, tante liat anak kecil di kamar sebelah lagi di minumin obat sama mama-nya."
"Emang dia hak nangis tante?" tanya Intan polos.
"Engga nangis, malah langsung minum obatnya Biar cepat sembuh dan segera pulang."
"Ya udah deh, Intan minum obatnya. Biar cepat sembuh dari demamnya."
"Anak pintar," puji Rahimah membantu meminum kan air kepada Intan.
Hp Maryam berdering. Ia pun ijin untuk mengangkat telepon nya.
Tidak lama setelah mengangkat telepon, tiba-tiba Hp-nya terjatuh sambil menutup mulutnya.
"Ada apa?" Tanya Dinda cepat.
Dinda dan Rahimah saling lirik, mereka tidak mengerti apa yang terjadi kepada Maryam.
"Po-polisi bilang ... ter-tertembak." Ucapnya terbata sembari dengan wajah yang terlihat begitu sedih.
BERSAMBUNG ....
Hai gays ... ada rekomendasi novel lagi nih. Dari temen Author aku. Siapa tahu kalian suka sama ceritanya. Yuk buruan baca ceritanya.😘
Noormy_Aliansyah