Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 15



Flashback on


Seletah Rahman berangkat sekolah, sekarang tinggallah Rahimah dan Pak Ramlan di rumah. Seperti biasa, Rahimah kembali mengerjakan pekerjaannya menjahit baju. Dan Pak Ramlan izin berkeliling di halaman rumah tanpa alas kaki, Pak Ramlan merasa kakinya kebas jadi Ia akan berjalan santai di depan rumah pikirnya.


Rahimah yang tidak melihat Ayah nya masuk setelah setengah jam, akhirnya ikut keluar rumah untuk memastikan keadaan Ayahnya. Rahimah pun melihat ada Pak Rt Udin yang sedang berbincang-bincang dengan Pak Ramlan di halaman rumahnya.


"Loh ada Pak Rt yah? Kenapa gak di ajak duduk Pak?" Pak Ramlan dan Pak Rt menoleh ke arah Rahimah.


"Hehe keasyikan ngobrol, Bapak sampai lupa ngajakin Pak Rt duduk. Ayo Pak Udin kita ngopi dulu."


"Ahh Pak Ramlan ini bisa saja, keasyikan apanya? Wong Saya juga baru banget menyapa Pak Ramlan." Ternyata saat Rahimah membuka pintu dan keluar rumah bertepatan dengan Pak Rt yang menyapa Pak Ramlan.


"Sudah ayo, kita ngopi dulu. Lagi gak sibukkan?" Pak Udin mengangguk sabagai jawaban.


"Imah, minta tolong.. buatkan kopi ya buat tamu kita." Pak Udin tertawa mendengar candaan Pak Ramlan.


"Haha Pak Ramlan bisa saja, tamu dari hongkong?" Mereka pun tertawa bersama.


"Iya Imah buatkan." Rahimah menggeleng sembari tersenyum. Pak Rt Udin ikut duduk di teras rumah, kembali mereka berbincang-bincang santai.


"Silahkan Pak Udin di minum kopinya." Rahimah meletakkan dua kopi di atas meja.


"Terimakasih Nak Imah."


"Sama-sama Pak, kalau gitu Imah kedalam dulu Pak. Masih ada kerjaan menjahin baju." Rahimah segera berlalu saat mendapat izin dari dua pria paruh baya tersebut.


Cukup lama Pak Ramlan berbincang dengan Pak Rt, akhirnya Pak Ramlan masuk kedalam rumah setelah Pak Rt berpamitan untuk pulang.


"Imah, angkat jemuran. Sepertinya akan turun hujan."


"Iya Pak." Saat Rahimah sudah mengangkat jemuran dan masuk kedalam rumah tiba-tiba Ia mendengar suara petir menyambar.


"Gruggumm."


"Astaghfirullah" Pekik Rahimah tersentak kaget.


"Sepertinya akan hujan lebat."


"Iya Pak." Tidak lama hujan pun benar-benar turun.


Di luar yang hujan lebat Rahimah kembali berkutat dengan pekerjaannya. Pak Ramlan pun turut menemaninya mengajak bicara duduk di kursi dekat mesin jahit.


"Nanti kalau Rahman sudah sukses Kamu bisa minta di buatkan butik sama dia." Ujar Pak Ramlan sambil memperhatikannya, Rahimah melirik sejenak, dan kembali menatap kain di tangannya.


"Tapi, entahlah Pak.. Imah belum berani berharap terlalu berlebih. Imah hanya mengikuti arus kehidupan yang mengalir dan takdir yang menentukan akan bagaimana nantinya Rahman." Pak Ramlan mengangguk membenarkan.


"Ya.. yang kamu katakan itu juga benar, kita tidak boleh berharap terlalu berlebihan. Tapi jika kita berdo'a dan selalu berusaha dalam bekerja, apapun akan menjadi mungkin." Rahimah menghentikan gerakan tangannya, dan melihat lekat pada Ayah nya.


"Bapak melihat kegigihan Rahman dalam belajar, dan Bapak mempunyai keyakinan. Jika nanti kelak Rahman tumbuh dewasa, Dia akan menjadi orang yang sukses." Ujar Rak Ramlan sembil tersenyum menatap Rahimah.


"Kamu lihatkan? Rahman bahkan loncat kelas waktu Dia duduk di kelas satu, itu tandanya Rahman Anak yang sangat cerdas dan pintar. Dia dengan mudahnya meresap semua pelajaran, Rahman juga tidak sembarangan membeli sepeda bekas tanpa adanya saksi."


"Rahman sudah menunjukan perkembang yang sangat baik dalam hal bertindak. Berpikir dulu baru bertindak.." Sambung Pak Ramlan dengan bangga Ia memuji Rahman.


Senyum Rahimah mengembang mendengar perkataan sang Ayah, yang di katakan Ayahnya tentang Rahman memang benar adanya.


Sekarang Ia juga mempunyai keyakinan tentang Rahman yang kelak akan menjadi orang sukses, Ia hanya tinggal menunggu waktu yang akan membawanya melewali semua hal untuk menuju masa depan.


"Insyaallah, semoga itu menjadi kenyataan Pak."


"Amin.."


"Rahimah.." Seketika Ia menatap sang Ayah, sudah lama sekali Ia tidak mendengar Ayah nya yang memanggil nama lengkapnya. Walau pun sudah lama Ia masih ingat terakhir Ia di panggil dengan nama tengkap, saat sebelum kejadian malam naas itu. Ia yang memang jarang di panggil dengan nama lengkap pasti bisa Ia ingat dan hitung dengan jari.


Teringat kejadian itu tida-tiba Ia merasa akan ada hal buruk yang terjadi, tapi segera Ia tepis. Ia tidak ingin berpikir yang macam-macam, mungkin saja itu hanya kebetulan semata.


Tidak ada salahnya kan jika Ia di panggil dengan nama lengkapnya oleh sang Ayah pikirnya.


"Iya Pak?"


"Sudah lama sekali ya, kita tidak ke makam Ibu." Rahimah terhenyak mendengar penuturan Ayahnya. Memang benar sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak Ziarah ke makam Ibu tercinta.


"Apa Bapak ingin kita Ziarah ke makam Ibu?" Entah kenapa Ia merasa hatinya menjadi sangat gelisah tanpa tau apa sebabnya. Ia juga takut jika sang Ayah ingin berziarah, maka itu akan membuka luka yang pernah warganya torehkan kepada mereka dulu.


Bukan Rahimah tak ingin mengunjungi kuburan sang Ibu, Ia bahkan juga sangat merindukan Ibu tercinta, hanya saja Ia takut jika warga di sana menolak kedatangan mereka atas tuduhan yang pernah di sematkan kepadanya.


"Kalau kita tidak bisa Ziarah juga tidak apa-apa, tapi.." Ujar Pak Ramlan menghentikan kalimatnya sejenak, Pak Ramlan menatap lekat Rahimah sambil tesenyum.


"Nanti kalau Bapak meninggal, Bapak berkeinginan untuk di makamkan di samping Ibu-mu." Seketika matanya berembun mendapati permintaan sang Ayah. Bisakah Ia mengabulkannya pikirnya.


"Bapak.. jangan bicara seperti itu, Imah jadi sedih mendengarnya." Rahimah mengusap sudut matanya yang berair, Ia sekarang benar-benar merasa takut.


"Apa yang Bapak harapkan di usia Bapak yang sudah setengah abat lebih ini Imah? Jika bukan tempat terakhir Bapak?"


"Kamu tidak usah sedih Imah, cepat atau lambat itu semua pasti akan terjadi." Rahimah segera mengambil tangan Pak Ramlan dan menggenggamnya lembut.


"Iya, Imah tau semua itu pasti akan terjadi. Tapi Imah mohon.. Bapak jangan bicarakan hal itu, Imah takut mendengarnya." Ujar Rahimah dengan wajah sendunya.


Pak Ramlan menarik kembali tangannya dan sekarang giliran Pak Ramlan yang mengenggam tangan Rahimah.


"Perbanyaklah beristigfar Imah, kalau tidak setan akan mengambil alih dan menguasai rasa takutmu." Pak Ramlan mengusap kepala Rahimah yang terbungkus kerudung dengan sayang. Rahimah pun menitikkan air mata, tapi segera Ia sapu.


"Astaghfirullah" Ujar Rahimah lirih.


"Hujan sudah berhenti tapi sepertinya akan hujan lagi." Ujar Pak Ramlan melihat ke arah luar jendela. Diliriknya jam dinding, waktu pun hampir menunjukkan waktu Sholat Dzuhur.


Rahimah menundukkan pandang masih terngiang-ngiang akan pembahasan tadi.


"Ya sudah, Bapak mau istrahat dulu sebentar. Nanti mau sekalian Sholat Dzuhur."


"Iya Pak." Pak Ramlan pun beranjar dari duduknya dan berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu baru kembali ke kamar tidurnya. Rahimah tetap memperhatikan punggung sang Ayah dengan senduh sampai menghikang di balik pintu.


Flashback off


...****************...


"Assalamualaikum" Khadizah mengucap salam saat sambungan telponnya terhubung, Ia pun melirik kepada Rahimah yang duduk bersandar di sandaran ranjang sambil menenggelamkan kepalanya di atas lutut yang Ia peluk.


(x x x)


"Begini Bu.. Pak Ramlan sebelum meninggal sudah berpesan kepada Rahimah, Beliau beramanat ingin dikubur di samping kuburan Istrinya." Pandangan Khazidah tetap pada Rahimah saat mengutarakan pesan Pak Ramlan.


(x x x)


"Baik Bu, kami juga akan mempersiapkan semuanya untuk membawa jenazah Pak Ramlan ke sana."


(x x x)


"Wa'alaikumussalam."


"Rahimah, siapkan semua keperluan mu dan Rahman untuk ke Jakarta. Mbak dan Mas Wahyu akan mengurus semuanya disini dan memanggil mobil ambulan sekarang juga." Mengangkat kepala saat mendengar perintah dari Khadizah.


"Tapi Mbak.. bagaimana dengan warga disana? Bagaimana jika mereka tidak mengijinkan Bapak di makamkan disana?" Suara Rahimah terdengar parau karena menangis.


"Kamu tenang saja Imah, semua yang disana akan di urus oleh Ibu dan Pak Rt Harun. Jadi Mbak yakin, warga disana pasti akan mengerti jika sudah di jelaskan apa sebabnya." Walau pun Khadizah berkata seperti itu, nyatanya itu semua sama sekali tidak bisa menghilangkan rasa gelisahnya.


"Mbak.." Dengan suara lirih dan bibir bergetar Ia berucap.


"Im..mah tak..kut.. Mmbakk.." Ucapnya terbata.


"Dengarkan Mbak Imah, semua ini demi Bapak-mu.. demi amanat terakhir beliau yang ingin kuburannya berdekatan dengan Istri beliau." Ujar Khadizah memberi pengertian.


Rahimah tertunduk membenarkan apa yang di katakan Khadizah, tapi Ia masih merasa takut dengan kenyataan yang akan menantinya disana.


Khadizah mengela nafas panjang, masih berpikir untuk kembali meyakinkan Rahimah.


"Imah, Kamu sudah mampu menghadapi rasa takutmu disini, dan sekarang adalah saatnya Kamu menghadapi rasa takutmu disana."


"Jika nanti ada yang merendahkanmu, maka Kamu jangan pernah menundukkan kepalamu, Kamu harus berani mengangkat wajahmu, tunjukan jika mereka tidak bisa menginjak-nginjak harga dirimu. Kamu juga harus berani untuk bersuara, menyangkal semua tuduhan yang telah di lontarkan dan di katakan mereka padamu."


"Jika kamu benar, maka kamu jangan pernah takut untuk menghadapi semuanya dengan keberanian."


"Ingatlah Imah, Tuhan itu tidak pernah tidur.. Tuhan akan selalu ada dinama pun hambanya berada, Tuhan juga akan membantu orang-orang yang bertakwa dan berserah diri kepadanya. Kita hanya perlu yakin, Tuhan akan melindungi setiap langkah kita jika diiringi dengan Do'a. Yakinlah dengan semua itu Imah" Hati Rahimah bergetar setelah di beri sedikit pencerahan dari Khadizah.


"Terimakasih Mbak atas nasehatnya."


"Sama-sama." Perlahan Rahimah beranjak dari duduknya, Ia pun mengambil tas jinjing yang ada di atas almari untuk tempat pakaiannya.


"Imah.. Mbak permisi dulu untuk memberitau Mas Wahyu agar segera memanggil ambulan?" Ujar Khadizah di sela aktifitas Rahimah memasukkan baju kedalam tasnya.


Rahimah pun memberi izin kepada Khadizah. Selesai mengemas bajunya Ia pun berjalan menuju kamar sang Ayah dan Anaknya.


Perlahan dibukanya pintu itu dengan hati yang kembali sedih, gelisah, penyesalan, dan takut. Pintu terbuka fokos pandangannya pun langsung tertuju kepada sang Ayah, yang terkujur kaku tertutup sebuah kain sarung behalai.


Dapat Ia lihat Rahman yang duduk di atas kasur di samping Ayahnya dengan posisi bersila sambil mengaji untuk Kakeknya.


Ia pun mendekat dengan diam, tidak ingin mengganggu Rahman yang tengah asyik mengaji, segera di ampilnya tas Rahman dan di masukkannya beberapa lembar baju dan yang lain kedalamnya.


Rahimah bersyukur bahwa ujian Rahman sudah selesai tadi pagi, jadi Ia tidak perlu repot-repot meminta izin untuk libur sekolah karena memang telah libur panjang.


Rahman yang menyadari kedatangan Mamanya pun menoleh, hatinya tergelitik untuk bertanya kenapa Mamanya memasukkan bajunya ke dalam tasnya.


"Ma.." Rahimah berhenti dan menatap kearah Rahman.


"Iya sayang?"


Rahman berjalan ke pada Rahimah dan bertanya.


"Kenapa memasukkan baju-baju Rahman ke dalam tas Ma.."


"Kita akan ke Jakarta untuk menguburkan Kakek kamu , di dekat kuburuan Nenak."


"Beliau, perpesan seperti itu sebelum meninggal" Tunjuk Rahimah kepada Pak Ramlan.


"Ya sudah sini biar Rahman sendiri yang membereskannya" Rahimah pun tidak melarang Rahman yang mengambil alih kerjaan yang Ia lakukan sekarang.


"Mama ambil Wudhu dulu yah." Rahman mengangguk paham.


Selesai berwudhu kni Rahimah sudah duduk di samping Jasad Ayahnya, kini giliran Ia yang mengaji.


Sembari mengaji Rahimah selalu menitikkan air matanya, Rahman yang melihat Mama nya yang menangis pun ikut menangis dalam diamnya. Rahman juga merasakan perasaan Mamanya saat ini. Kembali Rahman mendekat dan ikut mengaji bersama dengan Rahimah duduk bersebelahan.


Mereka berdua pun menangis bersama dalam diam sembari melantunkan Ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk Pak Ramlan.


Selesei mereka mengaji beberapa warga juga sudah datang untuk mengucapkan bela sungkawa, Khadizah dan suaminya pun sudah memberitau warganya bahwa mereka akan membawa Jasab Pak Ramlan ke Jakarta.


Mereka pun langsung siap sedia untuk memberi bantuan apa saja yang di perlukan. Sampai mobil ambulan telah datang mereka segera mengangkat Jasad Pak Ramlan kedalam mobil ambulan


Waktu sudah mwnunjukan pukul setanga tiga Sore, Rahimah dan Raham memutuskan untuk ikut dalam mobil ambulan, sedang Khadizah memakai mobil sendiri dengan suami dan putrinya.


Hanya dalam kurang lebih satu jam mereka sudah sampai di kediaman Ustazah Habibah. Jelas waktunya singngkat karena semua pengguna mobil jalan raya akan memberi jalan untuk mobil ambulan. Sementara Khadizah belum sampai karena terjebang macer.


Beberapa warga setempat juga sudah ada untuk membantu mereka, besok Pak Ramlan akan di makamkan di samping kuburan sang Istri tercinta. Karena semua urusan sudah di selesaikan oleh Pak Rt Harun.


*BERSAM**BUNG*....


Mata udah berat banget, tapi tetap saya sempatkan untuk nulis dulu. Maaf jika kependekan. Otak udah mentok, gak bisa mikir lagi.πŸ™πŸ˜…


Pengennya sih up nya sehari dua kali, tapi berhubung di dunia nyata juga perlu perhatian jadi semampunya saja. Hehehe🀭


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Salam sayang ....


Noormy Aliansyah