Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 94 Melihat Proyek



Rahman yang pulang sekolah hendak di jemput Maryam, menolak halus dengan alasan ada keperluan dengan master Candra dan minta izin untuk pergi.


Maryam yang sempat trauma dengan kasus penculikan, tidak langsung menyetujuinya. Apa lagi ia yang mengambil alih Rahman dari Ustadzah Habibah tadi malam, pasti akan disalahkan jika terjadi apa-apa dengan keponakannya itu.


Rahman hampir menyerah guna meyakinkan sang tante, beruntung orang yang dijadikan alasan bagi Rahman datang.


Akhirnya Maryam mengizinkannya pergi dengan Candra, ia pun pulang bersama Intan.


"Bagaimana master?" Tanya Rahman sambil mengedarkan penglihatan ke seluruh hamparan di depannya.


Saat ini keduanya sedang berada di salah satu lahan yang sedang mengerjakan proyek pembangunan.


Candra sebagai orang yang mengkerut Rahman guna ikut berinvestasi, tentu menjadi menyambung antara murid dan perusahaan yang menaungi nya.


Master tersebut akan memantau pekerjaan satu minggu kebelakang dan berbagi cerita pada Rahman. Setelah kunjungan Rahman dulu ketika lahan itu masih rata, kini Candra kembali mengajaknya.


Sebenarnya Rahman sudah tahu kalau Ayahnya mengadakan kejutan untuk sang mama tercinta, dan ia sudah memberi tahu ayahnya tidak bisa pulang karena ada pekerjaan dengan master Candra yang dikira Abdar adalah pekerjaan hacker.


Rahman juga tidak perlu khawatir jika mamanya mencari dirinya, pasti ayahnya bisa membantu mencarikan alasan atau mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang akan ia lakukan karena Rahimah juga sudah tahu pekerjaan sampingannya.


"Semua beres, kita tinggal meninjau hasil pekerjaan mereka. Oiya Rahman, kau tau? Ternyata proyek ini bekerjasama dengan perusahaan ayahmu. Mereka yang menyediakan bahan dan pengiriman." Terang Candra sambil berjalan.


Mereka menatap semua pekerja dari jarak yang lumayan jauh.


"Benarkah itu master?" tanya Rahman mengerutkan kening.


"Ya, tapi dia belum tau kalau kita ikut berinvestasi dalam proyek ini. Apa kau ingin aku memberitahu ayahmu?"


"Tidak perlu master," tolaknya halus.


"Seperti yang saya katakan dulu padamu! Proyek ini tidak akan langsung cepat selesai. Paling tidak membutuhkan waktu tiga tahun atau lebih cepat dua setengah tahun baru akan selesai. Jadi untuk mengisi waktu, saya akan mulai bekerja di perusahan keluarga."


"Dan untuk latihan taekwondo, saya akan berhenti sejenak."


"Jadi master punya perusahan?"


Rahman pikir Candra mempunyai koneksi di perusahaan itu karena pekerjaan hacker mereka.


"Ya, perusahaan keluarga. Tapi saya tidak pernah ikut andil di perusahaan itu, karena saya sudah menyerahkannya pada kakak saya. Dan sekarang dia menarik saya ke perusahan itu, karena tahu bahwa saya menetap di sini tempat kelahiran ibu saya," tutur Candra.


"Mungkin jika saya hanya bolak balik Bandung dan Jakarta saja, dia tidak akan menarik saya. Tapi saya kecolongan rupanya, ayah saya malah dengan sengaja memberi tahu." Candra tertawa masam sambil menggelengkan kepala.


"Bagus dong, master ... kalau anda bekerja di perusahan keluarga sendiri," kata Rahman heran melihat Candra seperti itu.


"Iya kalau di perusahaan itu tidak ada serigala berbulu domba, tapi sepertinya saya harus berurusan dengan serigala itu."


"Kenapa seperti itu master? Bukankah perusahaan keluarga?" Rahman tambah mengerutkan kening heran bercampur bingung.


Candra menghela napas berat, matanya jauh menerawang. "Kau belum mengerti apa-apa Rahman," kata Candra lirih.


"Ya saya masih anak kecil, yang tidak mengerti jalan pikir orang dewasa. Tapi satu hal yang saya tahu," kata Rahman.


Candra langsung menoleh ke arah anak didiknya. "Apa?" tanya Candra.


"Menjadi orang dewasa itu tidak menyenangkan."


Seketika Candra tertawa mendengar pernyataan dari muridnya yang paling cepat tangkap soal latihan.


"Memang tidak menyenangkan, saya bahkan ingin kembali menjadi anak kecil lagi." Ujar Candra masih diiringi tawa.


Mungkin tidak mengenakan, tapi jika kita punya pendamping hidup, itu sudah pasti menyenangkan. Batin Candra tertawa geli.


"Ayo kita kembali, kau sudah puas melihatnya kan?" Ujarnya melihat pergelangan tangannya.


"Iya, master."


Keduanya berbalik badan dan berjalan ke luar area pembangunan dan menuju di mana Candra memarkirkan kendaraan beroda duanya.


Dari tempat proyek Candra langsung membawa Rahman ke rumahnya.


...******************...


.


Setibanya ....


"Iya, master?"


"Apa aku salah alamat?" Tanya melirik Rahman dan rumah itu bergantian.


"Tidak master," kata Rahman ikut memperhatikan rumahnya.


"Tapi kenapa berubah?"


"Itu mobil ayah, dan teman mama master!" Tunjuk Rahman ke ujung halaman.


"Mungkin ini yang ayah bilang, beberapa hari lalu. Ayo master, kita masuk?" Tanpa bertanya lagi Candra mengekor di belakang Rahman.


"Assalamualaikum." Sambil menekan bel.


"Wa'alaikumussalam." Pintu terbuka dan pandangan Candra sempat bertemu dengan orang yang membukan Pintu tersebut, tapi keduanya sama-sama langsung memutus nya.


"Rahman, ayo masuk."


"Tante Dinda, apa tante Maryam ada di sini juga? Aku lihat mobilnya juga ada parkir di depan." Tanya Rahman sambil masuk.


"Iya, baru aja datang. Tadi pulang dulu katanya, baru ke sini. Mama kamu sempat ngomel karena kamu nggak ikut tante Maryam, tapi pas dijelaskan ayahmu ... baru dia diam."


Candra hanya memperhatikan keduanya dari belakang, ia tidak tahu akan menuju ke mana.


"Imah, Rahman sudah datang."


"Rahman, ayo sini sayang ... kita makan bareng." Rahimah melambaikan tangannya pada Rahman.


"Candra, ayo ikut makan," ajak Abdar menyadari kehadiran pelatih Rahman.


Ternyata semua sedang berkumpul di ruang makan dan akan bersiap makan. Meja yang hanya muat untuk enam orang pun di letakkan ke samping, sedang mereka duduk dengan lesehan dan melingkar.


Ada sepasang pengantin baru yang duduk berdampingan, di sisi Rahimah adalah trio wewek dan di sisi Abdar ada Maryam dan Intan juga Rayan.


Sementara Ustadzah Habibah dekat anak-anak bersama Nuri. Nuri duduk diam sambil bermain dengan Intan dan Rayan, ia tampak habis bangun tidur.


"Terimakasih, tidak perlu repot-repot. Saya langsung pulang saja," tolak Candra.


"Jangan seperti itu master, ayo makan siang sama kami dulu. Tidak perlu sungkan-sungkan," bujuk Rahimah menahannya pulang.


"Tidak apa-apa mbak Imah, saya memang harus pergi."


"Biar saja Imah, kalau dia mau pergi ... tidak usah dicegah," Dinda menyela walau Abdar dan Candra hendak angkat suara, tapi keburu tertahan oleh kalimatnya.


Sedang yang lain hanya diam menyimak, tak berminat untuk menyampaikan pendapatnya.


"Tapi kan, Din.," Rahimah masih kukuh ingin mengajak Candra ikut bergabung.


"Saya memang harus pergi sekarang mbak, karena ada sedikit keperluan."


"Biarkan saja yank, mungkin memang ada keperluan mendesak," Abdar menjadi penengah.


"Ya sudah, kalau begitu. Hati-hati ya master."


"Iya mbak, Rahman ... saya pulang dulu," pamit Candra pada sang murid.


"Baik master," jawab Rahman.


"Bu Ustadzah, saya pamit." Candra memberi sedikit anggukan pada wanita paruh baya dan yang lain kecuali Dinda.


"Baik silahkan."


"Assalamualaikum." Ucap Candra sambil melirik Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Wa'alaikumussalam." Sahut mereka serempak.


Dinda bahkan dengan sengaja menunjukan mimik wajah tak sukanya, ia seperti punya dendam pribadi dengan Candra.


Ingatannya mengulang ketika pernah jatuh di atas tubuh Candra. Mulai saat itu Dinda selalu sinis terhadap guru dari anak temannya tersebut.


BERSAMBUNG ....


Sekedar tambah narasi untuk menyempurnakan cerita, mohon bisa diterima πŸ™. Terimakasih πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—