
Saat Rahimah tengah fokos membuat baju pesanan dari orang sekitar komplek rumahnya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan salam. Lekas Ia menyahut dan beranjak membuka Pintu.
"Tok.. tok.. tok.. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Sahut Rahimah sembari berjalan mendekati pintu.
"Ceklek." Pintu terbuka menampakan seorang wanita berhijab tengah berdiri sambil menggandeng tangan anak kecil di sampingnya.
"Soraya.." Ujar Rahimah sambil tersenyum menyambut temannya.
"Hai Imah apa kabar" Tanpa risih Soraya memeluk dan menempelkan pipi kiri dan kanannya pada pipi Rahimah.
"Hai, Rayan?" Mengusap kepala anak kecil yang tengah menyalaminya.
Semenjak ke pindahan Rahimah ke kota Bandung, Soraya memang sudah di beritau oleh Nurul dan Dinda, tapi ia belum sempat berkunjung karena bertepatan dengan honeymoon nya ke beberapa negara.
Jadi Soraya datang saat keadaan Rahimah sudah mulai setabil, ia juga sering mengunjungi Rahimah bersama sang suami. Soraya juga Sempat datang berkunjung untuk berkumpul dengan Nurul dan Dinda saat perut Rahimah sudah mulai terlihat begitu juga dengan dirinya. Soraya yang tidak tau menau dengan keadaan Rahimah tentu sangat terkejut saat tau Rahimah tengah hamil.
Perlahan Ia mulai mengerti saat Nurul dan Dinda menceritakan kejadian di waktu acara pesta pernikahannya. Soraya bahkan turut menyesal dan menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa Rahimah. Ia beranggapan karena acara resepsinyalah semua itu bisa terjadi.
Banyak bujukan dari temannya agar tidak usah menyalahkan diri lagi, dan karena itu ia lebih sering mengunjungi Rahimah di waktu ia inginkan kapan pun itu seperti saat ini.
"Dimana Rahman?" Ucap Soraya sambil masuk kedalam rumah mengikuti Rahimah, karena ia tidak menemukan keberadaan Rahman ia pun menanyakannya.
"Itu.. di rumah Mbah Khadizah sedang menunggu kedatangan Ustazah Habibah."
"Ayo sini duduk mau minum apa?"
"Apa saja asal seger.." Kata Soraya mendudukkan diri bersama putranya yang hanya empa bulan lebih muda dari Rahman.
"Bentar ya." Pamitnya meninggalkan soraya kedapur.
"Nurul dan Dinda jadi datangkan?" Tanyanya saat Rahimah sudah duduk setelah meletakkan minuman yang di bawanya di atas meja.
"Sepertinya jadi, sebentar lagi mereka sampai bersama Ustazah Habibah." Jelasnya.
"Assalamualaikum, loh ada Soraya ya." Ujar Pak Ramlan sambil masuk menyalami mereka.
"Wa'alaikumussalam, iya Pak. Bapak habis dari mana?" Sapa Soraya.
"Dari rumah Pak Rt, tadi beliau mengadakan musyawarah untuk gontong royong." Jelas Pak Ramlan yang di balas Soraya dengan ber oh ria.
"Kalau gitu Bapak tinggal ke kemar mau istrahat dulu ya, maklumlah Bapak sudah tua jadi harus banyak istrahat." Kata Pak Ramlan yang di angguki Soraya dan Rahimah.
Pak Ramlan berlalu masuk kedalam kamar, tidak lama suara deru mesin mobil pun terdengar di halaman sebeleh. Yang di yakini mereka itu adalah mobil Uatazah Habibah, Rahimah, Soraya dan Rayan pun keluar untuk meliharnya.
Dan benar saja saat mereka keluar suara teriakan Nurul dan Dinda memikikkan telinga menyambut mereka.
"Imah... Aya..." Teriak mereka berlari heboh mendekat dan memeluknya bergantian.
"Hai Ray.." Ujar Nurul mengacak rambut Rayan, membuat sang emuhnya rambut menjadi marah.
"Tante rambut Aku jadi berantakan ini." Sungutnya kesal sambil merapikan rambut dengan jari-jarinya.
"Hehe maaf, tante emang sengaja.." Pernyataan yang di berikan Nurul tentu semakin membuat Rayan kesal.
"Rayan.." Teriakan serempak dari Hawa dan Rahman mengalihkan perhatiannya dari Nurul.
"Ayo sini, kita bongkar hadiah dari Nenek." Ujar Hawa menghampiri bersama Rahman, Rayan menoleh kepada yang Mama, mengerti dengan tatapan Rayan yang meminta izin dengan lekas Soraya mengiyakan.
"Boleh." Ujarnya.
Rahman, Hawa dan Rayan segera berlari masuk ke rumah Khadizah. Rahimah dan teman-teman pun mendekati Ustazah Habibah dan menyalaminya.
"Ayo kita masuk ke dalam." Ajak tuan rumah, demi menghormati sang tuan rumah mereka pun ikut masuk ke rumah Khadizah.
Di ruang tengah terlihat anak-anak yang duduk di lantai tengah membongkar oleh-oleh dari Ustazah Habibah. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri, tak menghiraukan keberadaan orang tua.
Para orang dewasa duduk di sofa sambil bertanya kabar masing-masing, karena lumayan lama juga tidak bertemu.
"Soraya kapan jadi pindah ke Jakarta?" Tanya Ustazah Habibah.
"Mungkin dalam waktu beberapa bulan ini Bu." Ujarnya.
Ya Soraya dan suami memutuskan akan tinggal di Jakarta untuk mengelola anak hotel sang Ayah mertua yang berada di sana. Tentu dengan pertimbangan yang cukup lama, karena mereka akan meninggalkan orang tua yang berada di Bandung. Mereka bahkan tidak ingin meninggalkan Kota Bandung, tapi kerena paksaan dari kedua orang tua masing-masing untuk memgambil alih sebagian dari bisnis sang mertua akhirnya mereka memutuskan untuk ke Jakarta dalam waktu dekat ini.
"Wah perut Nurul sudah mulai keliatan, udah berapa bulan Nurul?" Tanya Khadizah sambil mengusap merutnya yang terlihat membuncit.
"Sudah empat bulan mau lima Mbak." Jawaban Nurul malah membuat Dinda menjadi murung.
Nurul baru menikah satu tahun lalu, dan sekarang ia tengah hamil muda. Sedangkan Dinda sudah menikah tiga tahun lalu tapi ia belum memiliki anak sampai sekarang, jika ia teringat akan hal itu membuatnya merasa sedih. Rahimah yang melihat wajah sedih Dinda segera menghiburnya.
"Gak usah sedih, kita Do'akan semoga kamu segera diberi anak yang lucu-lucu." Hibur Rahimah sambil memeluknya dari samping, tapi entah kenapa Dinda menjadi pesimis karena meresa sudah lama menikah dan belum juga di beri anak.
"Bersabar dan perbanyaklah berdo'a kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang mempu memberikan sesuatu yang ditetapkan." Ujar Ustazah Habibah.
"Seperti yang sudah di terangkan Allah dalam surat Maryam ayat 21."
"Dia Jibril berkata, "Demikianlah." Tuhanmu berfirman, hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda kebesaran Allah bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang sudah diputuskan."
"Dan apabila Allah berkehendak atas sesuatu DIA hanya berkata "jadilah" maka jadilah ia sesuatu."
"Juga ayat 9 yang bunyinya."
"Allah berfirman, demikianlah. "Tuhanmu berfirman, hal itu mudah bagi-Ku" sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu padahal pada waktu itu engkau belum berwujud sama sekali." Terang Ustazah Habibah membuat senyumnya terbit tapi seketika hilang dan berubah menjadi kesal saat mendengar Nurul ikut menimpali.
"Iya Dinda, nanti kalau anak Aku udah lahir.. kamu juga bisa anggap dia anak kamu kok." Timpal Nurul membuat Dinda melirik kesal.
"Kamu sih iya ngasih izin, lah suami kamu yang ada bakalan ngamuk kalau tau anaknya di bagi-bagi." Ujar Dinda bersungut-sungut melirik Nurul.
"Hehehe iya juga ya." Sambil menggaruk-garuk pelipisnya walau tidak gatal.
"Dasar.." Balas Dinda. Yang lain mentertawakan mereka berdua sambil geleng-gelang kepala melihatnya yang kadang akur, kadang tidak.
Lagi-lagi Rahman menyimak dengan diam saat Ustazah Habibah memberi nasehat, Ia yang tengah menggambar walau fokosnya ke buku yang ia tulis, tapi pendengarannya menangkap yang di katakan oleh Ustazah Habibah.
"Rahman gambar apa? Wah reken banget, Kok bisa gambar isi ruangan dan tataannya sih? Bisa jadi interior nih." Kata Nurul saat matanya menangkap buku gambar yang sedang di tulis Rahman.
"Bagus-bagus.. tetap kembangkan kemampuan menggambarmu yah."
"Nanti kalau gambaran kamu sudah sempurna kita bisa kerja sama. Kamu yang jadi interior rumahnya, tante Dinda bisa jadi menyedia prabotannya dan tante jadi maskot keuangannya. Ya gak?" Ujarnya mengangkat turutkan alisnya, yang mendapat ancungan jempol dari Rahman.
"Siap tante." Serunya senang.
"Trus Rahimah jadi gak mau buat butik?" Pertanyaan dari Soraya membuat semua mata menatap Rahimah lekat menanti jawabannya.
"Kalau mau bikin butik itukan gak segampang yang di ucapkan? Musti cari lokasi yang strategis, harus ada modal buat sewa tempat, modal buat isi prabotan dan juga yang lain-lain. Jadi untuk saat ini cukup buat baju pesanan ibu-ibu komplek aja deh."
"Kalau kamu lagi perlu modal? Aku bisa kok kasih pinjem kamu Imah." Kata Soraya.
"Gak usah.. Aku gak mau ngutang sama kamu, nanti takut gak bisa ngembaliinnya lagi."
"Eh beneran ini, kalau Kamu gak bisa balikin juga gak apa-apa kok." Bujuk Soraya mode serius.
"Ambil Imah.. ambil.. kapan lagi coba di kasih uang sama istri pengusaha hotel." Ucap Nurul yang di buat-buat songong.
"Itu sih kamu." Salak Dinda sewot.
"Haha ya sudah berhenti dulu ngobrolnya, ayo kita minum dulu." Tuan rumah menyuguhkan minuman dan cemilan.
...****************...
Kedatangan seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam rumah itu secara cepat jelas membuat orang yang berada di ruang tengah itu menatapnya terkejut tapi tiga dari empat orang kemudian bersikap tidak peduli.
"Kau mau kemana?" Tanya salah satu orang yang ada di situ tapi ia abaikan dan tetap berjalan menaiki tangga.
Tiba di depan pintu kamar ia segera membukanya dan masuk, berjalan lurus menuju sebuah ranjang.
"Lekas kemasi barang-barangmu dan ikut pulang denganku." Ucap seseorang dengan wajah merah padam, menatap wanita berhijab yang sedang menggendong anak perempuan kisaran 5 tahunan sedang duduk di pinggir ranjang.
"Tidak kak, Aku tidak bisa meninggalkan keluarga suamiku?" Tolaknya membuat orang itu bertambah marah.
"Dari awal mereka memang sudah tidak menerimamu, lalu untuk apa lagi kau berada di sin?" Ucapnya dingin menatap geram pada sang Adik yang menolak ajakannya.
"Dengarkan Kakak Maryam, sebaiknya mulai sekarang kau tinggan denganku. Mereka pasti akan sangat senang dengan kepergianmu." Katanya dengan penuh penekanan.
Mendengar pekataan kakaknya membuat wajahnya menjadi sendu, memang benar yang di katakan sang kakak. Hampir enam tahun sudah ia menikah dan Ia diterimana di keluarga ini hanya karena suaminya, ia bahkan setiap hari tidak pernah di ajak bicara oleh keluarga suaminya walau pun suaminya ada atau sedang pergi, ia tidak dianggap sama sekali.
Ia pikir setelah mereka mempunya anak, keluarga suaminya itu perlahan akan menerimanya. Tapi kenyataannya sekarang bukan hanya dirinya yang tidak diterima melainkan anaknya juga seperti tidak di inginkan.
Memandang putri yang sekarang sedang erat memeluk lehernya membuatnya menitikkan air mata.
Kakak yang melihatnya hanya menangis segera mengambil koper yang berada di atas almari, memasukkan bajunya serta baju anaknya dengan gerakan cepat kemudian menutupnya dengan kesal.
Berjalan menghampiri adiknya segera mengambil alih sang keponakan ke dalam gendongannya, tidak ada penolakan dari gadis kecil itu ia bahkan segera memeluk leher Pamannya.
"Lebih cepat kira pergi dari sini maka itu akan lebih baik untuk mereka, jika tidak ... Aku tidak bisa menjamin apa yang akan ku lakukan pada mereka." Katanya memberi peringatan dan berbalik, Maryam segera mengusap air mata seraya berdiri di belakang sang kakak.
Mengeratkan pelukan kepada keponakan lalu menarik koper dan berjalan ke luar kamar yang langsung di ikuti sang Adik.
Menuruni anak tangga dari kejahuan sudah terlihat keluarga dari suami adiknya, mereka bahkan dengan sengaja membuang muka enggan melihat kepadanya.
"Kemana kau akan membawa mereka Tian?" Pertanyaan dari seseorang jelas membuat yang lain di sekitarnya memandang tidak suka.
"Aku akan membawa mereka tinggal di rumahku." Ucapnya saat di lantai dasar.
"Kau tidak bisa membawa mereka Tian, Aku tidak akan mengijinkannya." Ujarnya yang hendak mengambil gadis kecil yang ada di gendongannya, tapi segera di tangkis Cristian.
"Apa hakmu melarangku membawa Adik serta keponakanku?" Ucapnya sembari menghempaskan tangan orang tersebut.
"Karena Zaki sudah berpesan padaku untuk menjaga mereka." Katanya menatap sengit.
"Adit... untuk apa kau melarangnya? Biarkan dia membawa wanita sialan dan anaknya itu pergi dari sini." Teriak wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa dengan sombongnya, Cristian tersenyum kecut mendengar persetujuan wanita itu.
"Mah ... Zaki sudah memintaku untuk menjaga istri dan anaknya, jadi Aku tidak bisa melepas tanggung jawab ini." Katanya bersungut-sungut kesal dengan ketidak sukaan Mamahnya terhadap Maryam dan Anaknya.
"Orang tuamu saja bahkan tidak menginginkan mereka, lalu bagaimana bisa kau menjamin Adik dan keponakanku akan baik-baik saja disini?"
"Kau tidak perlu mengambil alih tanggung jawab ini, Aku sendiri bisa menjaga mereka karena Aku adalah Kakaknya. Jadi kau tidak perlu repot-repot menjaganya." Ujarnya sembari berjalan, tapi rupanya Adit masih tidak terima dan kembali menghalanginya.
"Cristian..." Teriak Adit menggema sambil menangkap bahunya, seketika anak buah Cristian datang membantu memegangi tangan Adit dan menjauhkannya.
Cristian dan Maryam kembali melanjutkan perjalannya keluar rumah dengan mulus, hanya teriakan Adit yang menggiringnya.
"Cristian... Cristian..." Teriaknya berusaha melepaskan diri dari beberapa pengawal Cristian, hingga Mobil yang membawa Maryam dan Anaknya menjauh baru mereka melepaskannya.
"Sialkan kau Tomi ... kenapa kau menahanku." Ucapnya kesal menatap Tomi dengan tajam.
"Maaf tuan Saya hanya menjalankan perintah dari tuan Saya." Katanya sambil menundukkan kepala di ikuti yang lain.
"Saya mohon undur diri, permisi tuan." Sambungnya lagi dan beranjak dari tampatnya berpijak pergi bersama rekannya.
"Sudahlah biarkan saja mereka pergi, dari awal Mamah sudah tidak setuju dengan Adikmu yang berniat menikahi wanita itu." Ucap Mamahnya dengan mimik wajah yang sulit di artikan.
"Begitu juga denganku, wanita itu hanya pembawa sial." Sahut wanita yang dari tadi duduk di samping Mamahnya. Usianya tidak jauh berbeda dengan Maryam.
Sedang wanita yang terlihat lebih muda dari mereka duduk di ujung sofa tengah sibuk sendiri memainkan benda ajaib berbentuk bersegi panjang dan pipih miliknya, seperti tidak terusik sama sekali dengan kegaduhan yang terjadi itu.
"Jaga mulutmu itu Aira." Bentaknya seketika Aira takut menatapnya.
"Dan Mamah juga kelewatan ... kenapa membenci menantu dan cucu Mamah sendiri? Kalian memang egois, Zaki tidak akan tenang di dalam kuburnya jika tau Istri dan Anaknya tidak mendapat haknya sebagai menantu dan cucu di rumah ini." Tunjuknya kepada Mamah dan saudarinya menatap benci.
"Aku bersyukur karena telah keluar dari rumah ini, kalau tidak entah apakah Aku akan tahan hidup disini." Ujarnya melirik Mamah dan Aira bergantian sembari beranjak pergi meninggalkan mereka.
BERSAMBUNG......
Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.π
Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. πβ
Noormy Aliansyah