Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 53



Di malam yang sunyi dalam kegelapan, hanya berterangkan cahaya dari sang rembulan, pepohonan yang menjulang tinggi dan suara binatang sahut bergantian.


Rahman dan Intan terus berjalan tanpa tujuan, saat ada persimpangan mereka memilihnya guna mengecoh takut di kejar penculik hinggga tanpa sadar telah memasuki hutan dan semakin dalam.


Ingin kembali, mereka takut tertangkap. Maka jalan satu-satu adalah terus berjalan.


Terdengar suara jangkrik dan binatang-binatang lainnya menemani langkah kaki keduanya, membuat pelukan Intan pada lengan Rahman semakin erat. Tadi mereka sempat berhenti untuk melepaskan ikatan tali di tangannya. Setelah terlepas barulah mereka melanjutkan perjalanan.


"Kak, Intan takut," adunya menumpahkan apa yang ia rasakan saat ini.


"Tenanglah, kakak ada di sini." Memegang tangan Intan guna menenangkannya.


"Apa kita akan terus berada di hutan Ini?" tanyanya sambil menatap sekeliling yang sama persis di penuhi pepohonan.


"Kakak sedang mencari jalan keluar, karena kita tidak punya senter ... jadi susah untuk menemukan jalannya." Jelas Rahman dengan terus berjalan pelan.


"Intan takut kalau ada ular," ujar Intan jujur.


"Kamu tenang aja, kalau ada ular ... palingan kamu di patok," jawab Rahman.


Intan merenggut mendengarnya, karena yang ia katakan tadi tidaklah bercanda tapi malah di balas dengan candaan.


"Kak, Rahman nyebelin banget deh," kesal Intan sambil merenggangkan dekapan pada lengan Rahman.


"Makanya diem, jalan aja. Kalau kamu terus ngomong yang ada nanti kita ketauan," Mau tidak mau Intan langsung diam dan berjalan pelan sambil memeluk tangan Rahman pelan.


Hening ... keduanya terus berjalan walau tidak menemukan jalan.


"Ssheeek, ssheeek." Seketika Intan terlonjat kaget saat suara di semak-semak memecah keheningan.


"Bunyi apa itu, Kak?" tanya Intan ketakutan.


Menoleh ke kiri, ke kanan, ke depan dan ke belakang. Yang sekelilingnya terlihat gelap.


Sungguh saat ia amat begitu takut, tidak pernah terpikir bahwa akan di culik dan sekarang tersesat ke dalam hutan. Beruntung ada Rahman di sisinya, kalau tidak entah apa jadinya.


"Entahlah, kakak juga tidak tahu," jawab Rahman sambil siaga memperhatikan.


Bukan hanya penculik yang di khawatirkan Rahman, tapi binatang yang ada di hutan ini juga harus ia khawatirkan.


Dirasa tidak ada apa-apa mereka kembali melangkah. Cukup lama mereka berjalan hingga Intan mulai merasa ke lelahan.


"Kak, Intan capek," keluhnya.


Malam yang semakin meninggi membuat cahaya rembulan pun semakin terang. Menemukan pohon besar dan mencek sekitarnya, dirasa aman Rahman memutuskan untuk istrahat di pohon tersebut.


"Kita istrahat di sini dulu." Mengangguk setuju karena tidak ada tempat lain yang lebih bagus.


Menekuk kaki lantas Intan melipat kedua tangannya dan menyimpan di antara perut dan pahanya. Untungnya tadi mereka di beri baju oleh penculik dengan celana panjang, setidaknya mereka hanya merasa ke dinginkan di bagian tangan karena baju yang berlengan pendek.


"Dingin," suara lirih Intan.


Merangkul Intan dan memadsukannya dalam dekapannya guna memberi ke hangatan.


"Terpaksa kita tidur di sini." Kata Rahman bingung mencari jalan keluar.


Hening ....


Rahman dan Intan memilih diam. Cukup lama mereka dalam posisi Itu, hingga kembali mereka mendengar suara dari semak-semak.


Keduanya diam memperhatikan, hingga akhirnya mereka melihat cahaya dari senter.


Intan hampir mengeluarkan suara untuk bertanya tapi Rahman lebih dulu meng'instruksi .


"Ssshttt." Rahman meletakan satu jarinya di depan bibir dan sedikit suara.


"Hoo hoooooo." terdengar suara burung hantu di tengah-tengah ketegangan.


Rahman dan Intan takut jika itu adalah para penculik yang mencari mereka. Perhatian mereka tetap tertuju kearah semak-semak yang bercahaya, hingga akhirnya cahaya itu menjauh dan menghilang.


Keduanya menghela nafas lega setelah orang itu pergi.


Setelah tadi sempat merasa takut dan tegang, kedua pun di hinggapi rasa kantuk yang mendera. Tanpa sadar Rahman dan Intan tertidur sambil bersandar satu sama lain.


...****************...


Saat Abdar dan yang lain hendak pergi karena kecewa menemukan rumah yang kosong, tiba-tiba polisi menginformasikan, bahwa dugaan mereka ... penculik pergi memang sudah di rencanakan. Tapi sebelum mereka pergi, kedatangan polisi sudah tercium dan penculik memilih kabur.


Polisi mengatakan mereka kabur dalam keadaan tidak menggunakan kendaraan apa pun dan barang-barangnya di tinggal semua.


Jadi polisi menyimpulkan kemungkinan penculik berpencar guna meloloskan diri. Abdar dan kawan-kawan pun urung untuk pergi.


Mereka memutuskan ikut mencari di sekitar tempat ini. Perhitungan mereka, penculik meninggalkan barang-barang dalam keadaan tergeletak berarti mereka baru saja kabur dan itu ada harapan untuk Abdar dan yang lain.


Bermodalkan senter dari Hp masing-masing, mereka berjalan menyusuri jalan.


"Kalau menurut perhitungan saya mereka pasti bersembunyi di hutan ini," Ujar Candra yakin.


"Apa perlu kita terpencar?" tanya Abdar.


"Kalian berdua dan kami berdua," sambungnya.


"Tentu, itu lebih baik," sahut Candra.


"Sepertinya begitu, ayo kita cari." Zidan berjalan lebih dulu di depan Candra ke sebelah kiri dan Abdar juga Adit ke sebelah kanan.


...----------------...


"Bagaimana?" tanya Abdar berdiri di samping Adit.


"Jika di lihat, jalan ini sepertinya pernah di lalui oleh seseorang. Coba kau perhatikan," tunjuk Adit ke wabah sembari mengarahkan senter. Terlihat sebagian rumput-rumput yang lepek habis terinjak.


"Dan sepertinya ini belum terlalu lama." Adit berjongkok memperhatikan dengan seksama.


Abdar ikut berjongkok dan ia juga sependapat dengan apa yang di katakan Adit. Mereka pun bangkit secara bersama.


"Gw akan melihat di sini. Elu coba lihat di sana." Adit menunjuk sisi di sampingnya dan samping Abdar.


Abdar mengangguk setuju. Ia berharap menemukan satu saja penculik itu maka ia akan menghajarnya sampai habis dan menginterogasi penculik itu, di mana menyekap keponakannya.


Akhir-akhir ini ia sudah terlalu banyak yang di pikirkan, ia berharap pencarian ini menemukan titik terang dan membuahkan hasil.


Mengikuti jejak yang tadi sempat ia lihat hingga jejak menghilang di balik semak-semak.


Menyingkap semak-semak dan mengarahkan cahaya senter Hp guna menjangkau lebih jauh penglihatan.


"Hoo hoooooo," menengadah keatas pohon saat mendengar suara burung hantu.


Memutar badan secara perlahan dan tidak menemukan apa-apa ia pun pergi menjauh menghampiri Adit kembali.


"Sepertinya mereka sudah melihat kita di sini dan buru-buru pergi sebelum kita menemukan mereka," ucapnya tanpa melihat ke arah Adit sambil memperhatikan sekeliling.


"Kalau kau terus menerus mengarahkan senter Itu, jelas mereka akan tahu," sahut Adit.


"Begitukah?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Adit menghela nafas kasar dan memilih tanpa menjawab.


Dasar atasan gak punya otak. Rutuknya dalam hati.


"Untuk sementara kita kembali dulu ke mobil, besok baru kita kesini lagi. Akan lebih mudah mencari mereka di siang hari. Aku yakin mereka tidak akan berani kembali ke rumah Itu, karena ada polisi yang berjaga." Usul Abdar.


"Dan mereka tidak semudah itu membawa anak-anak dari sini." Adit pun mengiyakan.


"Baiklah, ayo kita kembali."


...****************...


"Shandy," panggil Jack.


Shandy sengaja menunggu Jack dan anak buahnya di dekat hutan.


"Untung saja kau cepat memberitahu kalau kita sudah terapung, jika tidak kita akan tertangkap." Ucap Jack sambil mengatur nafas karena habis berlari.


"Kedua anak itu melarikan diri dan aku mengejarnya, tidak sengaja aku melihat mobil polisi berdatangan."


"Jadi, apa perkiraanmu kedua anak itu lari kesini?"


"Iya." Jawab Shandy penuh keyakinan.


"Kalian, cepat berpencar mencari kedua anak itu. Kami akan menunggu di tempat persembunyian di tengah hutan," perintah Jack kepada beberapa anak buahnya.


"Siap, bos."


Shandy dan Jack berjalan ke dalam hutan dari sisi lain berlawanan arah dengan sang bawahan.


Sebagai orang yang tinggal di sekitar hutan Itu, membuat mereka mengenal baik seluk beluk isi hutan walau pun hari sudah dalam keadaan gelap.


Mereka berpencar mencari Rahman dan Intan. Berputar-putar dan berkeliling, lumayan lama dalam pencarian hingga mereka mendengar suara orang yang sedang bicara dan mendekat.


Lekas mereka menjauh dan memperhatikan dari jarak jauh dan memberi kode untuk segera pergi.


"Hoo hoooooo."


...----------------...


"Apa kalian menemukannya?" tanya Shandy saat melihat anak buahnya datang.


Mereka bersembunyi dekat dengan sungai berkamuflase dalam dedaunan. Jika di lihat dari luar hanyalah sebuah daun yang bertumpuk, tapi jika di lihat dari dalam seperti sebuah ruangan yang cukup untuk mereka semua.


"Kami, tadi melihat beberapa orang di dalam hutan sebelah barat. Mungkin mereka sedang mencari kita," lapor seorang anak buahnya.


"Aku yakin, kedua anak itu tidak akan pergi jauh dari hutan ini. Sebaiknya besok pagi, kita cari kembali."


...****************...


Waktu bergulir. Tak terasa malam berganti siang, gelap berganti terang walau belum sepenuh matahari muncul keperadapan. Rahman tersentak saat meresa sesuatu bergetar di sampingnya.


Membuka mata, Rahman terkesiap melihat Intan yang tengah menggigil karena kedinginan.


"Intan." Rahman memanggil dengan panik.


Menyentuh kening Intan, Rahman bertambah panik saat tubuh Intan terasa begitu panas.


"Kamu demam," gumam Rahman.


Bingung apa yang harus ia lakukan, tidak ada siapa-siapa yang akan menolong mereka di tengah hutan.


Rahman pun berpikir akan mencari air untuk mengompres kening Intan, tapi sejenak ia ragu untuk meninggalkannya sendiri.


"Intan, kakak akan pergi sebentar mencari air, kamu gak apa-apa 'kan kakak tinggal sebentar?" Intan mengangguk samar.


"Kakak janji, hanya sebentar." Kata Rahman sembari berdiri dan berjalan.


Intan membuka sedikit matanya dan bergumam. " Cepat kembali," ucapnya lirih.


...----------------...


Rahman berjalan dengan begitu cepat tidak menghiraukan tangan yang tersangkut di ranting-ranting kering hingga membuat tangannya terluka.


Yang ia pikirkan sekarang adalah cepat menemukan air dan segera kembali ke tempat Intan.


Setelah beberapa kali melewati pepohonan dan semak-semak akhirnya Rahman menemukan sungai.


"Alhamdulillah," gumam nya.


Mencari daun yang besar dan lebar, setelah menemukan daun yang di rasa cukup besar ia pun mengambilnya beberapa lembar dan menggulung nya lalu menyematkan ranting yang sangat kecil sebagai perekat daun.


Melepaskan baju dan hanya menyisakan kaus berlengan pendek, lantas ia mencelupkan bajunya ke dalam air dan melipat lalu meletakkannya di lengan.


Daun yang tadi Rahman gulung juga ia isi dengan air. Merasa sudah cukup ia pun bergegas hendak kembali ke tempat Intan.


Menyeimbangkan laju jalannya agar air tidak tumpah, untung ia masih mengingat jalan yang ia lewati tadi.


"Intan, kakak sud--." Air yang di tangan Rahman seketika jatuh di terlepas saat ia tidak melihat Intan di tempat di mana ia meninggalkan tadi.


"Intan," panggil Rahman berteriak sambil melihat sekeliling.


"Intan," kembali Rahman memanggil.


Mendekati di mana tadi mereka tidur. Ia yakin tidak mungkin salah tempat. Menyingkap rerumputan, Rahman pun menemukan tali bekas mengikat tangan mereka.


"Intan." Berdiri sambil menggenggam tali.


Rahman menyesal telah meninggalkan Intan sendiri tadi, ia curiga jika para penculik itu yang menangkap Intan.


Hendak beranjak dari tempatnya berpijak tapi tiba-tiba ada suara yang mengajaknya bicara.


"Jadi kau bersembunyi di sini anak kecil?"


Refleks Rahman menoleh ke arah suara.


Orang itu ialah bos dari penculik mereka. Shandy.


"Di mana Intan?" tanya Rahman tajam.


Shandy mengerutkan kening dalam, sedetik kemudian ia tersenyum misterius.


"Aku tidak akan mengatakannya, jika kau mencoba melawan," ancamnya, samar tersemat perjanjian jika Rahman tidak boleh melawan.


"Cepat katakan, bagaimana dengan demamnya?" suaranya terdengar pasrah.


"Intan sudah kami bawa, untuk di obati." ucap sambil mendekat, membuat Rahman mundur perlahan.


"Apa kau tidak ingin melihatnya?"


Rahman hendak menyahut tapi tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang. Rahman pun pingsan.


"Cepat, bawa dia. Untung tadi kita melihatnya di sungai." Ucapnya pada sang bawahan.


...****************...


Rahman mengerjapkan mata perlahan dengan kepalanya yang terasa begitu berat. Ia pun sadar bahwa sekarang ia berada dalam sebuah kamar berukuran sedang.


Menatap sekeliling kesadaran Rahman sepenuhnya kembali.


"Intan." Bangkit dari tidurnya dan segera berlari ke arah pintu.


Memutar gagang pintu yang ternyata terkunci.


"Dung, dung, dung ..., Buka pintunya."


"Dung, dung, dung ...." Rahman menggedor-gedor pintu itu.


"Cepat, buka pintunya." teriak Rahman tidak sabar.


"Hei anak kecil, diamlah di situ dengan tenang. Nanti akan ada saatnya kau, kami keluarkan," jawab seseorang berteriak dari luar.


Rahman geram. Ia begitu khawatir dengan keadaan Intan saat ini. Berjalan ke arah jendela, matahari sudah meninggi.


Rahman berpikir berapa lama ia tertidur.


"Hei anak kecil, sebaiknya kau lekas mandi dan ganti pakaianmu. Aku sudah menyiapkan nya di atas meja." Kembali suara seseorang berteriak dari arah luar.


Menoleh ke atas nakas, Rahman melihat satu stel baju ganti.


Mungkin setelah mandi mereka akan membawaku bertemu Intan. Gumam Rahman dalam hati.


Mengambil baju ganti dan membawanya ke dalam kamar mandi dan segera mandi.


...----------------...


"Bagaimana jika kita ketahuan kalau berbohong, bos?" salah satu anak buah Shandy bertanya.


"Bod*hhhh, itu tugas kalian agar dia jangan sampai tahu," Shandy melotot marah.


"Ba-baik, bos." Ucapnya sambil menunduk takut.


"Setelah dia selesai mandi, kita langsung berangkat." Sahut Jack.


"Ta-tapi bos, bagaimana jika anak kecil itu melawan? Sepertinya dia bisa bela diri," ia teringat saat Rahman beberapa kali menendangnya.


"Apa kau bosan hidup?" tanya Shandy melirik tajam.


"Bukankah kau bisa membiusnya? Untuk apa kau mempunyai itu, jika tidak di gunakan?" Jack ikut menatap tajam.


Lagi-lagi bawahannya menunduk takut.


"Aku tidak mau tahu, besok kita sudah harus berada di dermaga." Kata Jack meninggalkan ruangan itu di ikuti Shandy.


"Baik, bos."


BERSAMBUNG ....


Hai semua, maaf jika telat up mulu. Soalnya kehidupan nyata juga tidak bisa di abaikan. Mohon di maklumi ya man teman.


Untuk menunggu Rahman up kalian bisa baca karya teman aku yang juga benar-benar keren.


Ini rekomendasi novel yang sangat bagus, kalian pasti suka.



Noormy Aliansyah