
"Yank ... kita jalan yuk?" ajak Abdar kepada Rahimah.
Usai makan siang Abdar membawanya ke luar rumah tanpa tahu maksud tujuannya. Rahimah pikir hanya untuk bersantai, tapi ternyata malah diajak pergi.
"Pergi ke mana mas?" Rahimah memperjelas ajakan sang suami dengan bertanya tujuannya.
"Ke suatu tempat." Tersirat ada sesuatu yang disembunyikan Abdar dari Rahimah.
Kening Rahimah berkerut, "Apa masih ada kejutan mas?" tebak Rahimah merasa curiga.
"Apa kau tidak mau kuberi kejutan lagi?" goda Abdar tersenyum simpul.
"Bukan begitu, dari tadi mas Abdar kasih kejutan terus, dari rumah ini ... baju satu lemari penuh ... sepatu dan tas ... terus perhiasan ...! sekarang apa lagi?" tanya Rahimah sambil menyebutkan semua pemberian Abdar.
"Ada deh!" Senyum misterius.
Sepertinya mereka adalah sepasang manusia yang senang sekali membuat pertanyaan sepele menjadi berbelit-belit. padahalkan tinggal bilang iya saja selesai sudah urusan.
"Ish dasar," pekik Rahimah.
"Kita pergi sekarang." Abdar langsung menarik tangan Rahimah yang sama sekali tidak mendapat penolakan.
Membuka pintu depan mobil di samping kemudi dan membimbing Rahimah duduk di kursinya.
"Tunggu sebentar ya?" Ujar Abdar sebelum menutup pintu.
Rahimah menatapnya bingung ketika melihat Abdar malah kembali masuk ke dalam rumah, dua menit kemudian Abdar muncul bersama Rahman. Ia pun tersenyum merekah, menyadari suaminya telah mengajak putra tunggal mereka.
"Memang mau kemana ma?" Tidak hanya Rahimah yang penasaran akan ajakan suaminya tersebut tapi Rahman juga dan langsung melayangkan pertanyaan ketika masuk ke dalam mobil.
"Nggak tau, sayang." Sambil menggeleng.
Tatapannya beralih pada pintu kemudi yang terbuka, menanti jawaban apa dari sang suami.
"Tidak jauh, kita hanya di sekitar sini saja." Abdar yang menyadari rasa penasarannya hanya memberi petunjuk sambil menutup pintu dan memasang seat belt.
"Apa tadi izin dulu kalau mau pergi?"
"Aku tadi sudah izin kepada Ustadzah Habibah." Jawabnya menghidupkan mobil perlahan mobilnya bergerak maju meninggalkan halaman.
Tidak memakan waktu lama, jarak tempuh tempat yang mereka kunjungi hanya memerlukan kiranya sepuluh menit saja.
Ketika sampai di halaman parkir Rahimah dan Rahman heran kenapa Abdar malah membawa mereka ke sebuah toko baju. Bukannya mereka sudah disediakan baju baru dalam Almari di rumah barunya.
"Ngapain kesini mas?" tanya Rahimah, mimik wajahnya menunjukan rasa penasaran yang tinggi.
"Ayo, kita turun dulu." Ajaknya cepat turun dan langsung berputar ke sisi pintu Rahimah guna membukakan pintu mobilnya.
"Ayo kita masuk." Langsung merangkul Rahimah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana sambil berjalan santai.
"Rahman, ayo." Melirik Rahman yang memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Iya." Jawabnya pendek menyusul di samping mamanya.
Baru berdiri di depan pintu, tiba-tiba pintunya terbuka sendiri seperti di salah satu pusat perbelanjaan besar. Mereka segera masuk dan di sambut oleh seorang wanita cantik yang berpakain sopan.
Di belakang wanita itu juga ada sekitar enam orang dengan pakaian segaram layaknya seorang karyawan.
"Selamat sore tuan dan nyonya." Sedikit membungkuk diikuti orang-orang di belakangnya.
"Selamat sore tuan dan nyonya." Jawab mereka serempak.
"Sore," balas Abdar.
"Perkenankan, ini adalah istriku Rahimah dan ini putra kami Rahman." Ujar Abdar memperkenalkan kedua orang yang kini menjadi bagian hidupnya.
Semua membungkuk guna memberikan rasa hormat.
"Yank, kenalin ... Mereka adalah pekerja di sini dan akan membantu apa saja yang kau kerjakan atau butuhkan," terangnya yang membuat Rahimah mengerutkan kening.
"Memang apa hubungannya denganku mas?" Melirik Abdar dan karyawan secara bergantian.
"Tentu saja ada hubungannya, kau adalah pemilik butik ini."
Rahimah terkesiap mencoba mencerna semua kalimat yang terlontar dari suaminya, sedetik kemudian lamunannya buyar oleh sang karyawan.
"Mas?" Rahimah kembali menatap penuh Abdar, rasa ketidak percayaan masih memenuhi perasaannya.
Tersenyum lembut melihat Rahimah, Abdar mengangguk membenarkan, "Iya sayang, ini adalah kado pernikahan yang ku siapkan untukmu."
Tidak lama setelah Abdar mengatakan perihal itu Rahimah malah memeluk Abdar dengan rasa haru yang teramat dalam.
Abdar tersentak kecil dengan tindakan Rahimah yang tiba-tiba, tapi juga membalas pelukannya.
Bagaimana tidak, ini adalah keinginan terbesar Rahimah. Walau dari awal Rahman sudah menawarkan untuk membuat butik dari uangnya, tapi mamanya itu menolak dengan alasan uang yang didapat Rahman adalah tabungan masa depannya kelak dan tidak ingin mengusik hak anaknya.
"Yank, di sini banyak orang." Bisik Abdar mengingatkan.
Rahimah tersadar dan langsung menarik diri sambil mengusap sudut matanya yang sedikit basah oleh bulir kristal.
"Kau menangis?" Abdar terperangah dan mengambil alih mengusap kedua sudut mata istrinya menggunakan ibu jari.
"Entahlah! Tiba-tiba saja, ada air dalam mataku," kata Rahimah sambil tersenyum.
"Rahman," panggil Abdar.
"Iya, yah?"
"Lihatlah, begitu bahagianya mama-mu sampai menitikkan air mata." Merangkul Rahman dan Rahimah secara bersamaan.
"Ayo, kita lihat isi butik ini!" Membimbing keduanya memasuki butik semakin dalam.
"Di lantai atas adalah ruang kerja mu, ayo kita lihat." Membalas merangkul pinggang sang suami Rahimah mengangguk semangat.
Menaiki anakan tangga senyum kebahagian tidak lepas dari ketiganya hingga tiba di ruangan yang dikatakan Abdar tadi.
Sebuah ruangan luas dengan fasilitas lengkap memenuhi isi ruangan. Rahimah menatap takjub meja gambar yang dipenuhi alat tulis dan buku gambar sudah tertata rapi, serta alat pengukur baju dan kawan-kawannya pun tidak ketinggalan.
"Terimakasih mas!" ucap haru Rahimah.
"Sama-sama, kalian adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Dan akan selalu ku buat bahagia selama aku masih ada di samping kalian," kata Abdar tulus.
"Mari kita lewati semua kesulitan, kesedihan dan kebahagian bersama-sama. Dan hiduplah sampai maut memisahkan kita," sambungnya. Rahimah dan Rahman langsung memeluknya.
"Maaf, atas semua perbuatan ku dulu, hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu." Bisik Abdar mengerat kan pelukannya.
"Aku sudah memaafkan mu mas, tidak perlu lagi kamu ungkit semua itu." Balas Rahimah berbisik dan menikmati dekapan sang suami.
"Kau belum melihat yang lain kan? Ayo kita lihat." Abdar menghentikan rasa haru, karena jika terus berlanjut ia tidak bisa menjamin tidak terhanyut dalam kesedihan ini.
Ketiganya berkeliling melihat keadaan butik berlantai dua tersebut dengan penuh semangat dengan di bimbing oleh orang yang mengaku sebagai asisten Rahimah.
"Jihan, terimakasih untuk hari ini. Semoga kedepannya kita bisa bekerja sama," kata Rahimah ketika hendak berpamitan pulang.
"Sama-sama nyonya, semoga saya bisa diandalkan." Sahut Jihan menunduk sopan.
"Jangan panggil aku nyonya, panggil saja mbak Imah."
Jihan melirik Abdar terlihat ragu akan permintaan bosnya. Abdar yang menyaksikan interaksi kedua nya pun mengangguk.
"Baik mbak Imah," ujarnya setelah menerima persetujuan dari Abdar
"Kalau begitu kami pulang dulu, dan sebaiknya kalian juga pulang karena hari sudah hampir malam."
"Baik mbak Imah."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawab serempak.
Tamat ....
Terimakasih banyak untuk semua teman-teman yang dengan setia menemani saya menyelesaikan cerita 'Rahman bin Rahimah' ini, semoga kalian merasa terhibur π.
Salam sayang .... π€π€π€
Noormy Aliansyah πππ