Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 41 Menolong orang



Saat Rahman sudah berangkat ke tempat latihan, Rahimah mencari kesibukan dengan menggambar desain baju di ruang tamu. Bertahan untuk sementara karena kendala kain baru dan sebagainya bukan berarti ia berhenti menggambar. Sambil duduk bersila di atas karpet, Rahimah menggambar di atas mejanya.


Ia tahu jika Rahman tadi pergi dalam keadaan sedang kesal kepadanya, karena penolakannya untuk memakai uang milik anaknya itu. Tapi ia tahu, bahwa Rahman tidak akan marah terlalu lama kepadanya.


Cukup lama Rahimah mengisi waktu luangnya dengan menggambar, karena tidak mempunyai kesibukan.


"Dreeert ... dreert ...." Hp Rahimah bergetar di atas meja samping ia menggambar.


Melirik layar Hp yang berkelap kelip, sebelum mengangkat Rahimah membacanya dulu nama sang penelepon.


Bergegas menggapai Hp tersebut saat sudah tahu siapa yang meneleponnya, menggeser ikon berwarna hijau dan langsung menjawab salam dari sebrang sana.


๐Ÿ“ž"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam Bu Ustadzah," jawab Rahimah lembut.


๐Ÿ“ž"Imah ... kamu gak ada kesibukan buat besok, dan buat kedepannya kan?"


"Emm iya, memang kenapa Bu?"


๐Ÿ“ž"Begini Imah, Ibu mau menawarkan kamu untuk jadi guru mengaji ... apa kamu bisa?"


"Saya Bu Ustadzah?" refleks kembali bertanya.


๐Ÿ“ž"Iya Imah ... tadi ada yang minta di carikan guru mengaji buat anaknya! Jadi, kamu bisa bantu Ibu'kan?"


"Memang, di mana alamatnya Bu?"


๐Ÿ“ž"Di .... (menyebutkan nama alamat)."


"Maaf, Bu Ustadzah. Saya tidak tau alamat itu, mungkin kalau di sekitar sini saja saya pasti tahu ..!!"


Karena Rahimah yang sudah lama tidak tinggal di ibu kota Jakarta, ditambah lagi waktu dulu ia hanyalah seorang wanita rumahan yang jarang sekali keluar rumah jika tidak ada keperluan lain selain pergi ke sekolah, belum lagi karena pembully'an yang ia alami waktu sekolah membuatnya enggan untuk kemana-mana. Sehingga ia tidak terlalu tahu alamat yang di sebut Ustadzah Habibah.


๐Ÿ“ž"Asalkan kamu bisa jadi guru ngajinya, urusan ke sananya ... nanti kamu berangkatnya bareng Ustadz Abizar. Kebetulan dia juga membantu Ibu untuk mengajar!"


"Ooh, gitu ya Bu. Ustadz Abizar berangkatnya pakai apa Bu?"


๐Ÿ“ž"Pakai motor, Imah."


"Kalau gitu, saya pakai motar sendiri saja ya Bu ... Gak apa-apa'kan?"


๐Ÿ“ž"Iya gak apa-apa, Imah."


"Oiya ... jam berapa mengajarnya Bu?"


๐Ÿ“ž"Sekitar jam tigaan."


Rahimah berpikir, berarti bertepatan dengan Rahman yang berangkat ke pelatihannya, dan saat ia kembali kemungkinan juga bersamaan dengan Rahman yang pulang dari tempat latihan.


"Baiklah Bu, saya akan menunggu Ustadz Abizar besok."


๐Ÿ“ž "Ya sudah ... ibu akan menghubungi mereka dulu untuk memberi tahukan kepadanya, kalau kamu bisa mengajar anaknya Imah. ... Assalamualaikum."


"Inggih, Bu ... Wa'alaikumussalam."


Selepas mereka memberi salam, Rahimah membereskan dan menyimpan buku gambarnya ke dalam tas jinjing khusus menggambar yang berwarna coklat. Berdiri dan beranjak dari duduknya membawa tas tersebut ke dalam kamar, menaruh pada tempatnya di atas nakas dekat ranjang.


Waktu sudah memasuki Ashar, seperti biasa ... segabai seorang makhluk yang mengaku seorang muslimah Rahimah menjalankan perintah lima waktunya di awal.


Usai dengan salatnya, lantas Rahimah pergi ke bagian dapur guna menjalankan kewajiban sebagai seorang ibu dari satu orang anak, walau tidak ada suami. Memasak.


Mengambil beras secukupnya ke dalam wadah kecil, mencucinya beberapa kali kemudian memasukkannya pada rice cooker. Mencolokkan kabel penghubung dan menekan tombol Cook, lalu meninggalkannya.


Membuka lemari pendingin, Rahimah mengambil bahan sayuran yang ia perlukan. Memotong sayur pare dengan tipis agar mudah untuk di masak, ini adalah salah satu sayur kesukaan Rahimah dan Rahman. Sayur dengan ciri khas pahitnya, tapi di tangan Rahimah tidak terlalu terasa pahit malah terbilang enak.


Selesai memotong, Rahimah mencucinya menggunakan garam den merendamnya untuk beberapa saat agar mengurangi rasa pahit tersebut.


Di biarkan, Rahimah berganti mencuci ikan Nila yang sudah di potong hingga beberapa bagian. Melumurinya dengan kunyit, jahe, dan bawang putih yang sudah di haluskan ... tidak lupa menambahkan garam serta sedikit penyedap rasa lalu mendiamkannya beberapa saat agar bumbunya meresap.


Setelahnya Rahimah menumis sayurnya dengan bahan pelengkap, bawang mereh, bawang putih, tomat dan cape merah besar. Saat sayurnya setengah matang ia menambahkan telur yang di kocok lepas, tidak lupa memasukkan garam dan penyedap rasa agar masakannya terasa nikmat ....


Tidak ingin membuang waktu, ia juga sambil menggoreng ikan di kompor satunya hingga semua masakan masak bersamaan.


Sibuk berkutat di dapur hingga waktunya Rahimah mandi, tidak lama setelah ia mandi dan berpakaian Rahman pulang dengan keringat yang membanjir serta tedapat luka memanjang di bagian lengan dalam kanannya seperti tergores pisau.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, astaghfirullah hal adzim ... Rahmaaan. Kenapa tangannya?" saat melihat Rahman yang melepas jaketnya, dengan lekas Rahimah membawanya duduk di sofa ruang tamu.


"Kenapa bisa terluka seperti ini?" Tanya Rahimah sembari membuka baju Rahman, menelisik mungkin ada luka yang lain.


"Ma, Rahman mau mandi dulu." tolak Rahman melihat mamanya yang sudah melepas baju dan hendak mengambil kotak P3K.


Rahimah yang sudah berjalan satu langkah menghentikan langkahnya sambil berbalik badan menatap Rahman.


"Memangnya kamu enggak ngerasa sakit?" tanya Rahimah mengerutkan kening.


Rahman berdiri sambil menggeleng.


"Rahman mandi dulu ya? Biar nanti lekas di obatin!"


Sebenarnya Rahimah ingin segera mengobati lukanya, tapi melihat Rahman yang begitu penuh dengan keringat di seluruh tubuhnya berpikir mungkin jika mandi bisa membuat badannya segar maka ia mengizinkannya.


"Ya sudah, lekas mandi ... tapi jangan lupa cerita, kenapa sampai tangannya luka seperti itu?" Rahman mengangguk sambil tersenyum kemudian pergi.


Rahimah menatap kepergian anaknya dengan sedih, mengapa sampai terdapat luka di lengannya.


Cukup gelisah Rahimah menunggu Rahman yang mandi dan berpakaian, padahal biasanya tidak begitu lama ... tapi sekarang sangat terasa begitu lama bagi Rahimah.


Melihat Rahman yang sudah rapi memakai baju kaos biru dan celana hitam selutut, ia segera menggeser duduknya agar memberi banyak ruang untuk putranya duduk di sampingnya.


"Kenapa bisa sampai luka kaya gini?" lukanya tidak terlalu dalam, hanya saja cukup panjang, hampir sepanjang lengannya.


"Tadi pas di jalan, ada pembegalan ... trus Rahman tolongin, berkelahi sebentar jadinya dapet ini," Rahimah langsung memasang wajah masam saat mendengarnya.


"Kenapa pakai acara nolongin segala? Ngerasa udah jagoan, mentang-mentang bisa bela diri? Kamu gak sadar apa? Kalau kamu itu masih anak kecil, kenapa berani banget nolongin orang yang kena begal?" rentetan pertanyaan dengan nada suara yang jelas-jelas marah dan terselip kekhwatiran sangat tergambar jelas dari wajah putih bersih Rahimah hingga terlihat kemerahan.


"Cuman ada Rahman yang lewat situ maa, masa Rahman tega lihat ada orang di rampok tapi gak di tolongolin? Di tambah lagi penjahatnya ada dua orang, ... sepi lagi. Gimana kalau terjadi apa-apa sama orang itu?" Rahimah masih sibuk memasang plaster pada lukanya, ia masih tidak terima mendengar cerita Rahman yang menolong orang dan membahayakan keselamatannya sendiri.


...****************...


Flashback on


Rahman yang sudah selesai dengan latihannya ingin segera pulang, tidak lupa ia mengganti dulu baju taekwondonya dengan kaos putih polos berlengan pendek yang Rahman keluarkan dari dalam tas punggung dan memasukkan kembali baju kotornya kedalam tas itu, ia pergi keluar dari gedung dojang menuju parkiran sepeda. Tidak hanya Rahman yang berjalan ke tempat parkir, teman-temannya juga menuju ke parkiran tersebut.


Dari kejauhan Rahman melihat ada sebuah sedan putih terparkir di tengah jalan yang terbilang sepi dengan sepeda motor di depannya tengah menghalang jalannya.


Rahman juga melihat dua orang yang mendekat kemudian mengedor-gedor pintu depan di sebelah kiri dan kanan mobil, tidak berselang lama keluarlah seorang perempuan dengan ketakutan.


Dari ke adaan yang Rahman tangkap sudah bisa di katakan bahwa orang itu di begal, tanpa pikir panjang Rahman segera menepikan sepedanya di bahu jalan tempatnya tadi memperhatikan tindak kejahatan itu.


Melepas tas dan jaket lalu meletakkannya di setang sepedanya, Rahman segera berlari menghampiri mereka.


"Paman ... apa yang kalian lakukan dengan nenek itu?" tanya Rahman saat sudah dekat, menatap tajam kepada dua pria yang sedang menodongkan pisau pada seorang wanita paruh baya.


Ketiganya menoleh kaget, ke dua pria itu jelas tidak suka dengan kedatangan Rahman yang mengganggu pekerjaan mereka.


"Hai, anak kecill ... jangan ikut campur lo!" Balas salah satu dari mereke menyalak marah karena sudah ikut campur.


"Jangan panggil saya anak kecil paman, kalau tidak ingin menyesal nantinya," dengan tenang Rahman mengatakanya.


Mundur ke belakang ketika pria yang marah tadi maju mendekatinya sambil menodongkan pisau ke arahnya.


"Apa lo ngancap gua hahh ...?" gertak pria itu.


"Kalau iya, emangnya kenapa?" sahut Rahman.


"Jangan main-main sama gua."


Melirik ke arah wanita paruh baya yang rambutnya berwarna hitam bercampur sedikit putih, di sanggul rapi ke bawah dengan hiasan bunga gold serta baju sifon lengan pendek berwana senada di padupadankan dengan celana straight leg hitam ... nampak ketakutan dan dengan suka rela mengambil barang-barangnya kembali di dalam mobil guna menyerahkannya pada pria yang menggertaknya menggunakan pisau.


Kembali memperhatikan pria di hadapannya yang maju secara perlahan, tersenyum kearahnya seolah-olah menganggap Rahman hanya anak ingusan.


Saat ada kesempatan Rahman menendang pria di hadapannya yang terus memojokkannya, tepat di area terlarangnya. Membuat pria itu merintih kesakitan sambil memegang apa yang di tendang tadi.


"B**g saaat," pekiknya tertunduk.


Berlari kepada pria satunya sambil melompat dan menendang pria itu dari arah samping membuat pria itu terjatuh bersama tas wanita yang tadi sudah sempat ia ambil.


"Breng seek, lo anak kecil," ucapnya sambil bangun.


Rahman sudah bersiap dengan kuda-kuda, kedua kaki membuka selebar bahu, lutut depan ditekuk sementara lutut belakang lurus, posisi badan tegak lurus ke depan bersiap untuk menghalau musuh di depannya.


Membiarkan tas itu jatuh pria tersebut lebih memilih pisau untuk menjadi senjatanya, maju mendekat sambil menebaskan pisaunya ke arah Rahman.


Refleks Rahman menghindar ke arah berlawanan dan segera menanggap tangannya, kemudian dengan gerakkan cepat menendang ke arah selangkangnya sambil melepas tangan orang itu.


"Awww, breng seek ...." pekiknya memilih mundur sedikit.


"Awass," peringat wanita paruh baya itu, Rahman menoleh ke arah belakang, tidak siap dengan serangan menandadak ... Rahman mengangkat tangan kanan sambil mundur selangkah tapi dengan cepat juga pria itu menebaskan pisaunya dan mengenai lengannya.


Tidak ingin tinggal diam karena terluka, Rahman melakukan tendangan melompat dengan jarak dekat ke arah dada membuat pria itu terjatuh.


Berjaga-jaga tidak ingin lagi kecolongan Rahman segera melirik ke arah pria satunya yang juga sudah siap dengan pisau dan maju, melakukan tendangan memutar dari arah belakang hingga mengenai tangan musuh membuat pisaunya terjatuh kemudian melakukan salto ke udara sambil menendang dengan kedua kaki hingga musuh terpental jauh.


Terbatuk-batuk karena merasakan sakit di bagian dada pria itu, ia memanggil temannya untuk lari sambil menunggangi motornya.


Menatap kepergian pembegalan itu, Rahman tersentak saat wanita itu memegang lengannya yang terluka.


"Tanganmu terluka nak," ucapnya khwatir.


"Tidak apa-apa Nek."


Rahman menarik kembali tangannya sambil tersenyum menenangkan.


"Kamu yakin tidak apa-apa? Ayo nenek obat nak." Tawar nenek itu.


"Tidak perlu khwatir nek, saya baik-baik saja. Sebaiknya nenek lekas pergi dari sini." Usul Rahman.


"Apa kamu perlu tumpangan? Biar nenek antar," sekali lagi wanita paruh baya itu menawarkan bantuan.


"Tidak usah nek, saya pakai sepeda ... tuh," tunjuk Rahman ke arah sepedanya.


"Ya sudah, kalau begitu terima kasih banyak atas bantuannya," tidak ingin memaksa, wanita itu memilih mengalah dan mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama nek, saya permisi dulu."


Rahman sedikit menundukkan kepala tanda menghormati orang yang lebih tua dan pergi dari tempatnya berpijak.


Wanita itu segera masuk kedalam mobil dan membiarkan Rahman mengayuh sepedanya, lantas ia mengikutinya secara perlahan. Lumayan jauh jarangnya hingga Rahman tidak sadar bahwa ia sudah di ikuti sampai tempat tinggalnya.


Flashback off


...****************...


"Lain kali, gak usah nolongin orang yang di rampok. Gimana kalau terjadi apa-apa sama kamu? Cuman kamu satu-satu keluarga yang mama punya, mama gak akan terima kalau kamu sampai terluka lebih parah dari ini." Rahimah masih saja memarahi Rahman saat sudah selesai mengobati lukanya hingga tanpa sadar air matanya berjatuhan.


Rahman yang melihat mama nya menangis merasa bersalah ia pun langsung memeluk Rahimah.


"Rahman minta maaf maa, Rahman janji ... gak akan seceroboh kaya tadi lagi," seketika Rahimah menarik diri dari pelukan Rahman saat mendengar kata-kata yang janggal menurutnya.


"Yang mama mau, kamu janji gak usah sok jadi pahlawan lagi ... bukan janji gak akan terluka karena nolongin orang," kesal Rahimah sambil mengusap sudut matanya, ia mengerti arah bicara Rahman.


"Heheh, iya-iya ... maksudnya kaya gitu maa," ucap Rahman sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Menatap bola mata Rahman, menelisik bahwa anaknya itu tidak akan berbohong. Merentangkan kedua tangannya sembari memeluk Rahman sayang, yang juga di balas Rahman dengan pelukan tak kalah sayang.


"Oiya Rahman, tadi Neneknya mbak Hawa telepon Mama, beliau bilang ada yang minta di carikan guru mengaji ... dan beliau menawarkan Mama untuk menjadi gurunya. Apa Rahman tidak keberatan, jika setiap harinya Mama harus pergi ke tempat orang itu untuk mengajar? Jam mengajarnya juga sama seperti Rahman yang berangkat latihan dan mungkin pulangnya juga berbarengan," jelas Rahimah panjang lebar memberi sedikit ruang agar ia bisa menatap wajah Rahman.


"Rahman sama sekali tidak keberatan, Rahman bahkan akan lebih senang jika Mama tidak kesepian ... jika caranya seperti itu bisa membuat mama senang, Rahman pasti sangat setuju," ucap Rahman tersenyum lebar.


"Mama sayaaang banget sama kamu!" Ucap Rahimah memanjakan Rahman dengan kembali memeluknya.


"Rahman juga sayaaaaaaangg bangeeett sama Mama," balasnya tak kalah manja, membuat keduanya tersenyum bahagia.


Rahimah selalu berdoa, semonga mereka tetap seperti ini walau apapun yang terjadi kelak di masa depan. Tidak ingin ada yang memisahkannya, termasuk seseorang yang baru-baru ini muncul kembali di kehidupannya. Kecuali memang sang pencipta yang memisahkannya dengan mendatangkan maut antara dirinya dan Rahman.


BERSAMBUNG....


*Maaf jika terlalu lama dan baru sekarang up nya, itu di karenakan aku yang lagi kebanjiran๐Ÿ˜ฉ. Beginilah resiko orang pinggir sungai, jika air pasang begitu deras disertai angin kencang dan hujan ... alamat rumah terendam deh๐Ÿ˜ญ.


Mohon minta do'anya, semoga air tidak tinggi lagi๐Ÿ™, karena yang ke banjiran bukan cuman aku ... tapi seluruh warga di desaku๐Ÿคง. Badan pada cape semua dan mengantuk๐Ÿ˜ด, jadi kadang aku lebih memilih tidur dari pada nulis ๐Ÿ˜…. Sekali lagi harap di maklumi ya๐Ÿ™๐Ÿ˜Œ*.


Salam dari Urang Banua๐Ÿ˜˜


Noormy Aliansyah