
Hari pertama Rahimah dan Rahman di rumah baru, sebelum pagi datang Rahimah sudah bangun dan sibuk berkutat di dapur bersama perabotan masaknya. Subuh ini Ia akan memasak banyak masakan, yang memang bahan masakannya sudah di sediakan oleh trio wewek.
Pagi menjelang siang nanti mereka akan mengadakan syukuran rumah barunya, sekalian ruko di sampingnya. Jadi dari subuh Ia memang sudah sangat sibuk.
Sedang Rahman, di dalam kamar Ia tengah berkirim email dengan sang Master. Master mengatakan ingin bertemu siang ini, sebelum dirinya di sibukkan dengan pekerjaannya membantu pihak kepolisian. Rahman mengiyakan, dan Ia sekalian mengundang ke acara syukuran rumah tersebut.
Selesai Sholat subuh Rahimah bergegas menata makanan ke tempat piring saji, jam tujuh lewat semua makanan sudah tersaji rapi di meja makan. Menakir salah satu kursi dan duduk ... Rahimah segera mengirim pesan pada grup cetnya.
...~GRUP WEWEK~...
^^^π¨(Rahimah)^^^
^^^"Assalamualaikum gaes, gak ada yang lupakan ... hari ini kita ngumpul di rumah baru Aku?π"^^^
(Nurul)π¨
"Wa'alaikummusalam, inget dong, ini Aku lagi masukin tas bajunya Nuri ke dalam mobil.π€"
(Dinda)π¨
"Wa'alaikummusalam ... Iya inget kok, tapi mungkin Aku bakalan telat dikit deh dari kalian. Soalnya ada masalah sedikit.π"
(Soraya)π¨
"Wa'alaikummusalam, Kami otw.π"
^^^π¨(Rahimah)^^^
^^^"Siip ... oke gak papa dinda. Semua masakan udah beres. Tinggal nungguin kalian datang, Ustazah Habibah juga udah siap lagi di perjalanan.π"^^^
(Nurul)π¨
"Aku juga otw. Emang ada masalah apa Dinda? Kok pakai telat segala?π€"
(Dinda)π¨
"Ada deh, nanti kalau semua sudah beres ... Aku bakal cerita.π€"
(Soraya)π¨
"Masalah serius yah?π€¨"
(Dinda)π¨
"Tenang aja gaes, kalian gak usah pusing mikirin masalah Aku ... paling Aku telatnya cuman satu jam-an.βΊ"
(Nurul)π¨
"Lah, itukan lama banget?π"
^^^π¨(Rahimah)^^^
^^^"Penting banget yah?π"^^^
(Dinda)π¨
"Bangeeet ... Aku lupa kalau hari ini ada keperluan yang udah di rencanaain dari awal.π¬ Jadi maaf kalau Aku nyusulnya belakangan, gak papa kalau kalian syukurannya gak ada Aku kan?"
(Soraya)π¨
"Apa bertu bantuan?"
(Nurul)π¨
"Iya ngomong aja kalau perlu bantuan!"
(Dinda)π¨
"Gak perlu, semua baik-baik aja kok."
^^^π¨(Rahimah)^^^
^^^"Oke deh gak papa Dinda, kita do'ain semoga cepat selesai.π€² Aku tunggu kedatangan kalian.π€"^^^
^^^π¨(Rahimah)^^^
^^^"Udah dulu yah, Assalamualaikum.πππ"^^^
(Nurul, Dinda, & Soraya)π¨
"Wa'alaikummusalamπππ"
...----------------...
Usai berkirim pesan, Rahimah kembali kedapur Ia mencuci piring dan prabotan dapur yang masih kotor.
Selang dua puluh menit, Soraya dan suami juga putranya Rayan datang. Menyusul Nurul beserta keluarga kecilnya, Ia datang berbarengan dengan Ustazah Habibah.
Seperti yang di katakan Dinda tadi, Ia akan terlambat datang ketempat Rahimah. Meraka yang sudah tahu berapa lama Dinda akan telat, tidak ingin membuang waktu lagi. Segera acara membaca do'a selamat pun di mulai dengan di pimpin oleh Zidan suami Soraya, atas suruhan dari Ustazah Habibah.
Mereka memilih duduk bersila di ruang TV,
membentuk lingkaran agar semua muat berkumpul untuk makan bersama. Saat semua tengah asyik makan dan sambil mengajak Nuri bermain, tiba-tiba terdengar bunyi bel dari lantai bawah.
Yang mereka yakini itu adalah Dinda, dan Nurul menawarkan diri untuk membukakan pintu dengan niatan ingin mengintrogasi Dinda tentang masalah yang menyebabkan telatnya dirinya.
Saat Nurul sudah turun, Rahman terkenang sesuatu.
"Ma, apa itu Master?" ujar Rahman yang tadi sempat bercerita kalau Masternya akan datang untuk berkunjung dan mengajaknya jalan-jalan.
Rahimah juga berpikir, ini belum satu jam telatnya Dinda ... dan sekarang mereka masih makan, Ia pun menyakini kalau itu ialah Master Rahman.
Di lantai bawah ....
"Kenapa Din jadi tel--" suara Nurul menggantung, saat Ia membuka lebar daun pintu. Ia sudah mempersiapkan banyak pertanyaan untuk Dinda, tapi ternyata itu bukan Dinda.
"Assalamualaikum, apa benar ini tempat tinggalnya Rahman?"
"Eh Waalaikummusalam," pekiknya. Mengerjapkan mata beberapa kali, guna menghilangkan rasa malu karena salah orang.
"iya, ini rumah Rahman ... Mas ini siapa yah?" tanya Nurul saat sejenak hening, tentu Ia tidak ingin asal menerima tamu, tanpa tahu orang tersebut.
"Saya--"
"Masteeer." Seru Rahman yang menyusul Nurul.
"Tante, ini Masternya Rahman,"
"Ooh, jadi tamunya Rahman yah? Mari Mas ... silahkan masuk, naik aja langsung ke atas."
"Iya terimakasih Mbak," Rahman membimbing Masternya naik ke lantai atas yang juga di ikuti Nurul di belakang.
"Ma ... ini Master sudah datang," Rahman segera memberitau Mamanya.
"Loh Candraa!" bukan Rahimah yang memanggil, tapi Zidan suami Soraya.
"Zidan," meletakkan sendok dan melap pinggiran bibirnya, Zidan pun berdiri menyambut tangan yang di ulurkan Master.
"Kalian kenal?" pertanyaan Rahimah mewakili semua orang.
"Ya, dia Candra temanku waktu SMA ... sudah lama kami tidak bertemu. Waktu itu, di pindah sekolah," Zidan mengenalkan Master pada mereka yang memang belum tahu kalau temannya.
"Mari Master di makan dulu," Rahimah menyodorkan piring nasi beserta lauknya.
"Terimakasih."
"Jadi Master kau sekarang?" tanya Zidan.
"Ya begituhlh, Rahman adalah muridku" mereka melanjutkan makanannya sambil sesekali bicara.
"Sekarang kau tinggal di mana?" Zidan ingin tahu.
"Kembali ke bandung, di sini Aku hanya sebentar. Ada sedikit pekerjaan yang harus di urus," ujarnya menjelaskan.
Rahimah, Soraya, Nurul dan Ustazah Habibah memilih duduk di meja makan seletah selesai dengan acara makan-makan.
Sengaja mereke duduk di situ untuk memberikan ruang kepada para pria yang ada di ruang TV, tentu setelah mereka membersihkan terlebih dulu piring-piringnya dari hadapan mereka.
Walau sebenarnya ruang TV dan meja makan bersebelahan, mereka bahkan masih bisa saling bicara antara jarak itu.
Cukup lama mereka asyik bicara hingga kembali bunyi bel terdengar lagi.
"Itu pasti Dinda, biar Aku yang buka," Nurul kembali menawarkan dirinya. Tanpa menunggu jawaban Nurul sudah berjakan ke arah tangga.
Benar saja, itu memanglah Dinda.
"Kemana aja sih? Kok lama baru sampai? Ini sudah lebih dari satu jam, satu jam setengah malah," Nurul melempar pertanyaan beruntun saat sudah menaiki anakan tangga. Tapi tidak di sahut Dinda sama sekali.
Tiba di lantai atas, tanpa memperhatikan siapa saja orang yang berada di situ Dinda memberi penguguman penting.
"Gaess, Aku punya kabar penting," ucapnya nyaring sambil duduk di kursi meja makan.
Semua mata tertuju pada Dinda, mereka menunggu berita yang akan di sampaikan Dinda.
"Sekarang Aku ..." katanya menggantung kalimat, meletakkan ke dua tangan di atas meja.
"Resmi jadi janda," ujarnya langsung menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya.
"astaghfirullah hal adzim," pekik mereka serempak.
"Kamu serius Din?" tanya Soraya memastikan, Dinda mengangguk dalam dekapan tangannya di atas meja.
"Kenapa gak ngomong sama kita-kita, kalau kamu ada masalah besar seperti ini?" tanya Rahimah sendu, Ia merasa ikut bersalah. Menduga karena Dinda yang terlalu sibuk membantunya, hingga mengakibatkan masalah di rumah tangga Dinda.
Mendongkakkan kepala, langsung menoleh pada Rahimah yang ada di sampingnya.
"Maaf ... bukannya Aku gak mau cerita, Ku pikir Aku masih bisa menyelesaikannya tanpa ada perceraian. Tapi ternyata Mas Angga tetap mau bercerai," suara Dinda bergetar menahan tangis.
Nurul dan Soraya memberi usapan lembut di punggung pada kedua temannya, mereka juga ikut sedih.
"Sama sekali gak ada hubungannya sama kalian," ucapnya tegas bersikap tegar.
"Ini murni karena masalah rumah tangga kami, jadi jangan ada yang menyalahkan diri kalian," para pria hanya diam menyimak.
"Apa ini gegara masalah anak?" geram Nurul merasa marah pada suami temannya yang memilih berpisah. Dinda tertunduk malu mendapat pertanyaan seperti itu dari Nurul.
"Jadi benar, ini semua karena masalah anak?" Soraya ikut anggat bicara melihat Dinda hanya diam saja.
"Jadikan ini sebagai membelajaran hidup untuk kalian. Jika hanya karena masalah tidak memiliki anak, lalu pasangan kita meminta bercerai ... maka yakinlah, bahwa Allah SWT. kelak akan memberi ganti yang lebih baik dari pasangan kita sebelumnya. Hanya kuncinya, kita bisa ikhlas dan sabar lalu berserah diri kepada sang pemilik kehidupan." nasehat Ustazah Habibah.
"InsyaAllah, Saya ikhlas Bu ... mungkin ini yang terbaik bagi Saya dan Mas Angga," ucap Dinda lirih, segera di peluk Rahimah di susul Soraya dan Nurul.
"Terimakasih semuanya, selalu ada di saat sedih Ku," kata Dinda di sela pelukannya.
"Maama...." pelukan pun terurai, mana kala mendengar panggilan Nuri di samping mereka.
"Eh, keponakan tante yang canti dan imut ini ternyata ada di sininya?" Dinda segera menggendong Nuri dan menciuminya.
"Khahaha," Nuri tertawa geli karena ciuman yang bertubi-tubi di berikan Dinda. Semua tersenyum melihat keadaan Dinda yang sudah membaik.
"Kamu belum makankan? Ayo makan dulu," seru Rahimah bergegas menyiapkan makanan untuk Dinda dan menyodorkannya kehadapan Dinda. Nurul pun mengambil alih Nuri dari gendongannya Dinda.
"Terimakasih, jadi cuman Aku nih yah yang belum makan?" tanya Dinda di sela-sela kunyahannya.
"Iya, cuman kamu yang belum makan ... sekarang kamu mutsi banyak makan, biar gak cepat kurus gegara mikirin status jomlo," ejek Nurul.
Dinda segera meletakkan sendoknya dan berdiri di dekat Nurul duduk, tiba-tiba Dinda mempiting kepala Nurul sambil berucap.
"Ngomong apa tadi kamu? Mikirin status, nih status ...." ketus Dinda.
"Aww ampun, ampun ...." rintih Nurul memegang erat Nuri yang duduk di pangkuannya.
"Hahaha rasain tuh, kenapa juga ngejekin Dinda," Soraya tertawa melihat keduanya.
"Mas Ari ... tolongin Aku," teriaknya memanggil suaminya.
"Jangan harap suami kamu bisa bantuin kamu," sungut Dinda masih kesal.
"Eh, sudah-sudah ... Dinda ayo lepasin Nurul, makan dulu kamu," lerai Rahimah. Ustazah Habibah menggelengkan kepala melihatnya.
"Dengar ya Rul, Aku sekarang mesti banyak makan, biar nanti bisa memiting kepalamu terus," ujar Dinda kembali duduk.
"Ish, enak aja."
Seketika semua tertawa tepas melihat Nurul yang cemberut manyun.
...****************...
Sesuai rencan, hari ini Cristian akan melakukan khitan. Adit yang di mintai tolong oleh Maryam, untuk mengurus masalah ini ... segera datang bersama sang dokter bedah ke rumahnya.
Adit masih belum tahu, jika Cristian-lah orang yang akan di khitan. Ia masih menebak-nebak, siapa gerangan orang yang akan di khitan hari ini. Bukankah Maryam tidak mempunyai anak laki-laki yang akan di khitan? Lalu kenapa Ia harus membawa dokter nya ke rumah ini? Pikirnya.
Setelah cukup lama Ia menunggu bersama seorang dokter, Maryam pun akhirnya datang bersama dengan Criatian.
"Selamat pagi Pak dokter?" sapa Maryam ramah pada sang dokter sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"Saya Maryam dan ini Kakak Saya Cristian,"
"Selamat pagi, nona dan tuan Saya dokter Firman," jawabnya menerima uluran tangan Maryam dan beralih bersalaman pada Cristian, dokter tersebut bisa merasakan bahwa tangan Cristian sangat dingin.
"Jangan panggil nona dan tuan Pak dokter, panggil Maryam sama Tian aja."
Maryam merasa tidak enak di panggil seperti itu oleh orang lain, terlebih lagi doΔ·ter tersebut lebih tua dari mereka.
"Baiklah, nak Maryam dan nak Tian saja bagaimana?" tanya dokter meminta peretujuan sang empuhnya.
Maryam tersenyum mengembang, Ia lebih suka di panggil anak dari pada nona ... dengan cepat Maryam mengangguk.
"Boleh ... Saya suka itu," akunya senang.
"Jadi, mana orang yang akan di khitan?" sela Adit cepat.
"Ini." Tunjuk Maryam kepada Cristian, membuat Adit seketika melongo. Tanpa sadar Ia melototkan mata dan membuka sedikit mulutnya karena sangat terkejut.
Sementara dokter tadi tersenyum, pastas pikirnya tangan Cristian terasa dingin, itu pasti disebabkan karena Cristian yang merasa gugup.
"Tutup mulutmu," perintah Cristian dingin menatap Adit tajam.
Tidak ingin memperpanjang urusan, Adit segera menutup mulutnya dengan melipat bibirnya kedalam dan menoleh kesamping ... karena ia sedang menahan tawa yang tiba-tiba menyerangnya.
"Mari Pak dokter, kita langsung ke kamar Kak Tian aja," ajaknya bergegas mengalihkan perhatian, Ia tahu bahwa Kakak dari suaminya itu pasti sedang mentertawakan sahabatnya sekaligus Kakaknya.
"Silahkan," mereka pun berjalan beriringan menuju kamar tidur Cristian, tiba di dalam kamar ... Maryam segera undur diri.
Maryam meminta Adit tetap tinggal di kamar untuk menemani Kakaknya, Adit pun dengan senang hati menyanggupinya.
"Baik, kita akan segera memulainya. Apa nak Cristian ingin kekamar mandi dulu?" segera menganggung dan berlalu ke kamar mandi.
Diam-diam Adit tertawa tanpa suara dari balik punggung Cristian yang berjalan, Ia pun bergegas mengeluarkan HP-nya lalu menyalakannya dan mencari aplikasi camera, kemudian menyetel mode vidio.
Tidak ingin ketahuan oleh sang atasan yang berkedok teman, Ia pun meletakkannya di atas meja rias di sebrang ranjang, dan menyamarkan dengan botol-botol farpum milik Cristian.
Dokter pun tidak memperhatikan apa yang dilakukan Adit, karena Ia juga tengah mempersiapkan alat-alat bedah
Sementara di dalan kamar mandi, Cristian segera mencuci mukanya beberapa kali agar rasa gugupnya hilang. Entah kenapa Ia menjadi takut, padahal jika di suruh berkelahi dengan sepuluh orang sekaligus ... jelas itu tidaklah membuatnya takut, tapi sekarang Ia bingung sendiri.
Menarik handuk yang menggantung dengan kasar, lekas Ia melap muka dan mengeringkannya. Sebelum keluar, Cristian menghirup udara dalam-dalam ... memastikan pasokan udara di rongga paru-parunya tetap tersedia setelah Ia keluar dari kamar mandi ini.
Merasa cukup, Ia pun bergegas membuka daun pintu yang menghungkan antara dirinya dengan masa depannya.
Dengan tegap Ia berjalan menuju ranjang, dimana sang dokter sudah duduk di kursi dengan ranjang. Di liriknya Adit sekilas yang tengah duduk di kursi sofa dengan balkon kamarnya, Ia terlihat acuh sambil membaca buku milik Cristian.
"Silahkan nak Tian, pakai ini ... dan tepas celanamu. Tadi nak Maryam yang membawakannya untukmu," menyambut sarung yang di serahkan dokter, Ia segera menanggalkan celananya.
"Silahkan berbaring," perintah dokter yang di lakukan Cristian.
Di dalam hati Ia menyakini, bahwa semua akan baik-baik saja setelah ini. Ia mencoba membunuh rasa takut yang sejak tadi mendera, kenapa semakin kesini semakin bertambah?
"Sudah siap?" dokter segera bertanya saat Cristian sudah membaringkan tubuhnya.
"Iya," jawabnya singkat.
"Tidak usah tegang, nak Tian hanya akan merasakan sakitnya di suntik ... setelahnya tidak merasa apa-apa," dokter yang dari tadi sudah sadar dengan ketakutan Cristian mencoba menenangkan.
Mengangguk takzim dengan diam seperti anak kecil, hanya itu yang bisa di lakukan Cristian. Lagi, diam-diam Adit tertawa tanpa suara dari balik buku yang pura-pura Ia baca.
"Baik, kita mulai sekatang," instruksi dokter mengudara dalam keheningan, memang sejak tadi hanya sang dokterlah yang bersua. Memejamkan mata, membiarkan apa saja yang dilakukan oleh dokter kepadanya.
Ia pun mulai merasa ada suntikkan yang masuk ke tubuh area bawahnya, merasa aman tidak terjadi apa-apa ... Ia pun memberanikan diri membuka mata.
"Kita tunggu sebentar beberapa saat, agar efek obatnya jalan dulu," dari ucapan dokter menjelaskan bahwa dokter tersebut belum melakukan apapun selain menyuntikkan obat tadi. Ia pun hanya pasrah untuk menunggu itu, akhirnya Ia memutuskan untuk memejamkan matanya kembali.
Hening ....
Cristian tetap dalam posisi terlentangnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sudah selesai," Seketika Cristian membuka mata terkejut mendengar ucapan dokter Firman.
"Sudah selesai?" Cristian membeo tidak percaya, Ia bahkan tidak ingat berapa lama Ia memejamkan mata.
"Ya, sudah selesai. Saya juga sudah menyiapkan obat, untuk kau minum nanti di atas nakas itu," tunjuknya pada nakas.
"Aturan minumnya sudah di tulis di bungkusnya," sambung dokter.
Cristian menoleh pada nakas di samping ranjangnya, terdapat beberapa bungkus obat taplet dan satu gelas air putih.
Sama seperti sebelumnya, Adit kembali tertawa di balik buku. Ia merasa geli sendiri melihat reaksi Cristian yang terliat kaget.
"Setengah jam dari sekarang, kau bisa meminumnya atau jika nak Tian merasa sakit, bisa langsung di minum," ujar dokter sambil melepaskan sarung tangannya. Cristian masih diam, Ia merasa lidahnya kelu ... tidak bisa berkata-kata.
Dokter membiarkannya, Ia lekas membersikan alat medisnya. Seletah semua sudah tersimpan dalam tas dokternya, dokter Firman meminta izin ke kamar mandi untuk memcuci tangannya.
Cristian mengangguk setuju, dokter beranjak dari duduknya ... Adit pun mendekat padanya.
"Selamat, semua berjalan dengan lancar," ucap Adit tersenyum. Cristian menelisik, mencari tahu makna dari perkataan Adit, apakah itu sebuh pujian atau hanya ejekan.
Di rasa itu tulus, Cristian pun ikut tersenyum. "Terimakasih."
"Salut gue sama lo, akhirnya hidayah datang juga sama lo," ucap Adit sambil duduk. Mengangguk mengiyakan.
"Gue juga gak nyangka," pintu kamar mandi terbuka.
"Oya nak Tian, ini ****** ***** untuk membuatmu nyaman," dokter menyerahkan beberapa CD yang memang khusus untuk orang sehabis khitan padanya yang baru saja Ia ambil dari dalam tas.
Sebenarnya dokter tersebut, dari awal juga tidak tau kalau pasiennya adalah orang dewasa. Tapi pengalamanlah yang membuatnya menyediakan CD berbagai ukuran.
"Kalau begitu, Saya permisi."
"Biar Saya antar dokter," Adit meninggal Cristian sendiri, segara memberinya ruang untuk memakai CD-nya.
BERSAMBUNG ....
Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.π
Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. πβ
#salamkakawananbarataan
(salamtemantemansemua)
Salam dari Urang Banuaπβ
Noormy Aliansyah