
Happy Birthday
Happy Birthday Om Tian
Happy Birthday
Happy Birthday
Happy Birthday Om Tian
Criatian terhenti di ambang pintu rumahnya saat mendengar lagu selamat ulang tahun yang di nyanyikan Adik dan Keponakannya untuknya, Ia bahkan sudah lupa akan umurnya sekarang.
Semenjak pengkhiatan Sherlin dulu Ia tidak pernah lagi membuka hati, dan sejak itu juga Ia tidak pernah merayakan tanggal kelahirannya. Karena biasanya Sherlin lah yang memberinya kejutaan, tapi hari ini berbeda.. Adik dan keponakannya yang mengejutkannya.
"Om Tian.. selamat ulang tahun ya." Seru Intan menarik tangan Cristian dan mendekat ke arah Maryam.
"Selamat ulang tahun Kak Tian, semoga panjang umur dan cepat dapat jodoh." Do'a Maryam sambil menyodorkan kue di tangannya ke hadapan Cristian dengan lilin yang menyala, Cristian tersenyum kecut mendengar Do'a Adiknya.
Melirik kepada Maryam kemudian melirik Adit dan Tomi di belakang sang Adik yang menggunakan topi ulang tahun anak-anak, Cristian mengangkat sudut bibirnya sebelah karena marasa geli, tapi segera Ia hentikan senyumnya.
Mengangkat Intan dalam gendongannya dan mencodongkan badan ke lilin bersiap untuk meniupnya.
"Hfuuuu."
"Prokk prokk.. prokkk prokkk.. prokk prokkk.." Adit dan Tomi bertepuk tangan dengan malas, mereka kesal karena di paksa oleh Intan untuk ikut memakai topi anak-anak dengan gambar kartun seorang putri raja Elsa & Anna.
"Yee... prokkk prokkkk..." Cristian segera mencium gemas pada Intan saat gadis kecil itu bersorak dan bertepuk tangan untuknya, sudah dua tahun ini Maryam dan Intan tinggal bersamanya sekarang Ia jadi lebih suka dengan anak-anak.
"Ayo sini potong dulu kuenya." Cristian segera memotong kuenya dan memberikan suapan pertama untuk Maryam lalu Intan.
Di letakkannya keatas meja, Maryam melanjutkan memotong-motong kuenya kemudian ikut memberi suapan pada Cristian. Pun Intan tidak ingin ketinggalan Ia juga turut menyuapi Om nya tersebut.
"Terimakasih." Ucap Cristian, Maryam tersenyum dan memeluk sayang pada Kakak dan Anaknya, membuat Intan tertawa.
"Terimakasih kembali."
"Khahahaha.."
"Ekhemm." Maryam melepaskan pelukan mereka saat mendengar Adit berdehem.
"Ah jadi lupa ngasih kue buat Kak Adit dan Mas Tomi. Bentar ya." Ia segera meletakkan potongongan kue ke piring dan menyerahkannya pada Adit dan Tomi.
"Ayo Intan sini, biar Om Tian duduk dulu dan makan kuenya lagi." Setelah Adit dan Tomi mengucapkan terimakasih Ia segera menyuruh Intan turun dan mengajak Cristian duduk di kursi sofa.
"Ini Om Tian kado dari Intan." Mengambil kadonya dan mengusap kepala Intan sejenak.
"Apa ini isinya?" Melirik Maryam kemudian kembali pada Intan. Adit juga melirik sekilas dan kembali fokos memakan kuenya.
"Buka dong.." Seru Intan dengan semangat.
Cristian memutar-mutar kotak berukuran sedang dan membukanya tapi sangat pelan membuat Intan jadi gemes dan merebutnya untuk membukakan, Cristian tersenyum dan menggeleng kepala.
"Taraaaa." Terlihat sebuah boneka buruang yang memegang lambang hati di tengahnya.
"Waww, terimakasih sayang."
"Sama-sama, ayo Om Adit, Om Tomi kasih kadonya." Adit segera mengambil sesuatu dari saku jasnya dan meletakkan nya di atas meja.
"Ini." Katanya pendek. Intan langsung cemberut melihat kado yang di berikan Adit untuk Cristian, Maryam terkekeh melihatnya.
"Om Adit iih.. masa kadonya gak di bungkus?" Sungutnya kesal, tapi Adit hanya tersenyum kepada keponakannya.
"Intan sayang,, buat apa kadonya Om bungkus? Kalau nanti juga di buka?" Sahutnya enteng, Cristian menggeleng kepala melihat Adit yang tidak ingin ambil pusing dengan kadonya.
"Iih kok bisa gitu?" Sungutnya kesal menatap Om Adit.
"Bisa dong, tuh buktinya."
Terpampang jelas apa yang di berikan Adit itu kepada Cristian, sebuah Jam tangan di dalam kotak kaca. Cristian pun mengambilnya.
"Terimakasih." Ujarnya menghentikan bertikayan Paman dan keponakan itu.
"Heem sama-sama." Adit segera melepas topi, sudah sejak tadi tangannya gatal ingin melepas topi tersebut.
Intan tetap cemberut karena kado dari Adit yang tidak di bungkus, beralih melirik kepada Tomi. Intan menunggu kado darinya.
"Ini Tuan kado dari saya." Tomi mengerti apa arti tatapan gadis kecil itu, Cristian menyambut dan membukanya.
"Terimakasih Tomi." Sebuah dasi berwarna hitam terlihat cocok untuk Cristian.
"Sama-sama tuan."
"Ini Kak kado dari Aku." Maryam duduk di samping Cristian.
"Terimakasih." Cristian terlihat bersemangat membukanya, sebuah gantungan kunci tokoh kartun Iron man. Ia tersenyum melihatnya.
"Semuanya terimakasih untuk kejutan dan katonya." Adit hanya mengangguk dan Tomi membungkungkan sedikit badannya.
"Sama-sama Om Tian."
"Kalau gitu Om mau mandi dulu. Kadonya Om bawa ya?"
"Iya Om." Intan mengangguk cepat.
Cristian berlalu dan mereka pun kembali melanjutkan memakan kue yang belum habis.
...****************...
Hari ini adalah hari terakhir UTS Rahman, Ia pun perpamitan kepada Mama dan Kakeknya sekaligus minta Do'a agar Ia berhasil dalam menjawab soal-soal ujiannya.
"Mama.. Do'akan Rahman ya, semoga ujian kali ini berjalan lancar." Pintanya sembari mencium punggung tangan Rahimah dan Pak Ramlan bergantian.
"Iya, Mama Do'akan semoga di mudahkan dan di lancarkan segala urusan Rahman dalam soal ujian kali ini." Rahman pun berganti memcium tangan Kakeknya.
"Kakek turun mendo'akanmu Rahman, semoga kelak apa yang Kamu cita-citakan akan terwujud dan kalian bisa hidup bahagia." Tiba-tiba Rahman merasa sedih mendengar kata-kata Kakeknya, entah kenapa Ia merasa ada yang mengganjal di hatinya yang ia rasakan saat ini.
"Terimakasih Ma.. Kek.. Rahman berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucapnya yang sudah siap mengayuh sepedanya.
"Wa'alaikumussalam." Segera Ia kayuh sepedanya saat mendapat balasan salamnya.
Tiba di tempat Parkir sepeda Rahman sudah di tunggu Riki dan Andi. Ia lekas memarkirkan sepedanya dan menghampiri mereka.
"Kelas masih sepi yah?" Tanya Rahman, mereka berjalan beriringan.
"He'eh, tapi paling cuman bentaran doang.. gak nyampai lima melit pasti udah pada rame." Kata Andi, dan benar saja mereka yang baru duduk dengan keadaan kelas yang masih sepi, seketika kelas menjadi penuh.
Bel berbunyi, Wali kelas pun menyapa memulai pelajaraan UTS hari ini. Lembar ujian di bagikan satu persatu dengan tertib, segera mereka mengisinya dengan teliti.
Hening... kelas menjadi sunyi karena semua sedang fokos dalam mengisi soal-soal jawaban tersebut.
Istrahat pertama pun tiba, Rahman, Riki dan Andi tidak menyia-nyiakan waktu istrahatnya. Mereka lekas pergi kekantin dan mengisih perut mereka agar nanti tidak menganggu pelajaran berikutnya.
"Perasan Aku aja, atau memang seperti itu? Kok kayanya soal hari ini susah banget yah?" Ujar Andi mengeluh sambil makan tahu isi.
Sudah biasa bagi Riki dan Andi, jika mereka tidak mendapat jawaban dari Rahman. Karena Rahman tidak akan bicara disaat makanan masih dalam mulutnya.
Tiba-tiba mereka terhenyak saat mendengar suara petir menyambar.
"Gruggumm."
"Allahu akbar" Pekik Rahman di ikuti Andi dan Riki.
"Ett dah petir, bikin kaget aja." Andi sambil mengusap dadanya karena kaget.
Rahman mendongkakkan kepala menatap tangit yang berubah gelap, sepertinya akan turun hujan. Mereka pun kembali ke dalam kelas setelah menghabiskan tahunya dan membayarnya. Tidak lama mereka masuk hujan turun dengan lebatnya bersama kilat dan petir yang bersahutan.
Sampai mereka selesai mengerjakan tugas ujian terakhir dan bersiap akan pulang barulah hujan berkurang dan tinggal rinti-rintik kecil.
"Wahh lama juga ya hujannya?" Ujar Riki.
"Lebat banget pula." Timpal Andi.
"Heem." Rahman bergumam sambil menahan perasan yang gelisah dan tidak enak.
Semua murid perlahan pergi satu persatu begitu juga dengan Rahman dan teman-temannya. Mereka pun menerobos rintik-rintik hujan, karena sepertinya hujan akan turun kembali.
Perlahan Rahman mengayuh sepedanya beriringan dengan teman-temannya yang lain dan berpisah di persimpangan jalan.
Keberuntungan bagi Rahman saat tiba di rumah hujan turun kembali dengan dua kali lipat lebih lebat dari yang tadi. Saking lebatnya hujan sampai-sampai salamnya pun tidak terdengar dari dalam rumah.
Ia pun membuka handle pintu dan ternyata tidak di kunci. Rahimah yang saat itu sedang menjahit langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka, Rahimah tersenyum dan berdiri dari duduknya sembari mendekat ke arah Rahman.
"Wa'alaikumussalam, maaf ya salamnya tidak kedengeran." Rahimah yakin tadi Rahman mengucapkan salam, Ia juga agak sedikit mengeraskan suaranya karena suara hujan yang mengguruh menenggelamkan suaranya.
"Gak apa-apa Ma." Begitu juga dengan Rahman ikut mengeraskan suaranya. Tak lupa Ia mencium tangan Mamanya.
"Kakek mana Ma" Sambil melepas sepatu dan menyimpannya di rak sendal.
"Lagi Sholat." Rahman mengangguk mengerti, Ia pun pergi ke kamar membuka pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Kakek yang sedang Sholat Dzuhur.
Terlihat Pak Ramlan yang sedang bersujud, berjalan pelahan di belakang sang Kakek ke arah almari. Mengambil baju ganti dan sarung serta peci Ia pun berniat ke kamar Mama nya untuk mengganti baju dan sekalian Sholat di kamar Rahimah.
Sedikit heran melihat Kakeknya yang tetap bersujud saat Ia menutup pintu. Pergi ke kamar Rahimah saat sudah minta izan pada Mama nya, Ia pun berganti pakaian dan mengambil Wudhu lalu melaksanakan Sholat.
Usai Sholat Ia sudah di hidangkan makan siang, Rahman pun di tugaskan Rahimah untuk memanggil Kakek nya agar makan bersama.
Hujan yang begitu lebat ternyanya tidak begitu lama, terbukti Ia yang selesai Sholat hujan juga berhenti.
"Kakek.. tok.. tok.. Kakek.. tok.. tok.." Tidak ada sahutan, Rahman pun membuka handle pintu.
Pintu terbuka dan Rahman tersentak kaget, Ia bergeming diam mematung di ambang pintu ketika mendapati sang Kakek dalam posisi tidak berubah sama sekali seperti pertama Ia melihat tadi.
Dengan ragu-ragu Rahman berjalan mendekat memperhatikan pergerakan Kakeknya, Ia pun tidak mendengar do'a apapun dari Kakek nya.
Entah kenapa tiba-tiba Rahman merasa tubuhnya sedikit bergetar melihat sang Kakek seperti ini. Rahman berlutut di samping Pak Ramlan, dengan tangan yang juga bergetar Ia memengan pundak Kakek nya dan sedikit menggoyangkannya sembari memanggil.
"Kek.." Lirih Rahman memanggil tapi tiba-tiba berubah jadi teriakan saat Pak Ramlan jatuh kesisi sebelah berlawan dari Rahman.
"Kakek...." Rahimah yang mendengar teriakkan Rahman lekas menyusulnya ke kamar.
Bertapa terkejutnya Rahimah melihat Rahman yang menangis sambil memeluk sang Ayah dan memanggil-manggilnya.
"Kakek.. hiks.. hikks.. Kek, bangun.. hikss.."
Rahimah yang menyaksikan pemandangan itu seketika penglihatannya mengabur, dengan pelan Ia pun mendekat. Pipinya sudah basah oleh air mata yang jatuh tanpa suara.
Rahman yang menyadari kedatangan Mama nya pun menoleh, masih dengan isaknya Ia mengadu pada Mama yang juga sudah berlutut di depannya.
"Ma.. Kakek.." Suara lirih Rahman terlatan oleh isak tangisnya.
"Bapak.." Pecah sudah tangisnya yang juga kembali diikuti oleh Rahman, di ambilnya tubuh kurus nan tua Ayahnya dan di dekapnya dengan erat sembari menangisi sang Ayah.
"Hikss.. hikks.. Bapak.. hiks..hikss Pak, bangun.. ayo bangun Pak.. hiks.. hiks.."
"Kek.. hiks.. hiks.. Kakek hiks.. hikss.." Rahman ikut menggoyangkan lengan sang Kakek, tangis mereka bertambah kencang karena sama sekali tidak mendapati pergerakan dari Pak Ramlan.
"Astaghfirullah haladzim." Pekik seseorang di ambang pintu tapi tak di hiraukan oleh Rahimah dan Rahman, mereka tetap menangis.
"Rahimah." Sontak Rahimah mengurai pelukannya pada sang Ayah saat ada orang yang memegang pundaknya.
"Mbak.. Bapak, Mbak.. Bapak.. hikss.. hiks.." Khadizah segera memegang tangan Pak Ramlan, terasa dingin bak air es Ia pun menekan pergelangan Pak Ramlan di bagian urat nadinya.
"Inalilahi wainalilahi rojiun." Lagi dan lagi, bertambah kencanglah tangis Ibu dan Anak itu.
Khadizah segera pergi keluar kamar untuk mengubungi Suami dan Ibunya tentang meninggalnya Pak Ramlan. Awalnya Khadizah hanya penasaran dengan suara orang yang menangis dari rumah Rahimah, Ia pun ingin memastikannya. Saat di depan pintu rumah Rahimah suara tangis yang bersahutan semakin terdengar jelas.
Lantas Ia masuk karena pintu tidak di kunci, dan Khadizah sangat kaget melihat Rahimah dan Rahman yang menangis sambil memeluk Pak Ramlan.
Sepeninggalnya Khadizah dari kamar itu Rahimah dan Putranya tetap menangis tapi sudah berkurang. Di bingkainya wajah sang Ayah dan di ciumnya lembut mulai dari kening kemudian pipi kiri dan kanan.
"Terimakasih Pak, karena sudah membesarkan Imah dan menemani Imah sampai sekarang. Terimakasih kerena sudah mebantu Imah merawat dan juga membesarkan Rahman."
"Terimakasih atas segala pengorbanan Bapak yang tanpa lelah selalu ada di saat kami sedang membutuhkan dan rapuh." Dengan suara serak dan bibir yang bergetar Rahimah mengucapkan kata demi kata yang belum sempat Ia ucapkan.
"Terimakasih untuk segala-galanya, Bapak.." Kembali Ia cium kening Pak Ramlan dengan dalam.
Rahman hanya diam dengan isakan kecil, ikut mencim sang Kakek setelah Mama nya menarik diri.
"Terimakasih Kek." Gumamnya lirih di telinga sang Kakek.
Khadizah datang bersama suami, Wahyu mengambil alih Pak Ramlan dan membaringkannya di atas kasur. Kemudian Khadizah menarik Rahimah pelan keluar kamar agar lebih leluasa berbicara, Khadizah membawa Rahimah ke kamarnya dan duduk di pinggir ranjang.
"Imah, apa Pak Ramlan memberi wasiat sebelun beliau meninggal?" Rahimah mengangguk pelan.
"Tadi sebelum Bapak Sholat, Bapak banyak berpesan sama Imah Mbak.. tapi Imah gak tau kalau itu adalah pesan terakhir Bapak.." Rahimah menunduk sedih karena tidak menyadari bahwa itu seperti sebuah isyarat akan kepergian sang Ayah, Ia menyusut hidungnya kembali air matanya beranak sungai.
Tak tahan Rahimah kembali menangis dalam dekapan Khadizah, meluapkan semua emosi yang ada. Khadizah pun membiarkannya sambil mengusap lembut punggung Rahimah.
Hawa berdiri di depan pintu dengan diam, melihat Mama nya yang menenangkan Rahimah. Tak terasa Ia pun ikut menitikkan air mata.
Khadizah mengedipkan mata kepada Hawa, agar Putrinya mendekat. Paham dengan isyrat mata, Hawa berjalan dan ikut duduk di samping Mama nya sampil ikut memeluk dari punggung Mama nya.
BERSAMBUNG...
ππππ Saya nulis bagian ini ikut nangis juga, jadi keingat sama Bapak. Waktu kerja di toko, dapet telepon dari Mama kalau Bapak meninggal, dan saya langsung lemas.. sepanjang perjalan pulang dari pasar sampai rumah nangis aja, sampai-sampai tukang ojeknya nanyain, Kenapa My?
Alfatehah buat Bapak dan Mama Aminn π€²
Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.π
Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. β
Salam sayang ....
Noormy Aliansyah