Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 48



Dari awal sejak kabar tentang Rahman yang di culik di sampaikan oleh pihak sekolah, tiba-tiba saja detak jantungnya seakan berhenti.


Ia bahkan memilih menggunakan taksi dari pada berkendara sendiri dikarenakan tangannya yang terasa bergetar. Berjalan pun Rahimah seakan melayang.


Tiba di pekarangan sekolah Rahimah segera berlari kecil, ia bahkan hampir terjerembab karena tersandung kaki sendiri. Untungnya ada Rayan saat itu terjadi, jadi ia bisa berpegangan pada anak sahabatnya itu.


Sesampainya di depan ruang guru Rahimah lekas mengucap salam. Yang ada dalam benaknya hanya Rahman putranya bukan yang lain, ia juga seakan buta dengan keberadaan Abdar.


Saat ia datang polisi juga datang, mereka pun di persilakan untuk melihat cctv. Awalnya Maryam-lah yang memaksa pihak sekolah untuk melihat cctv, karena ia yang mendapat laporan dari supir pribadinya ... bahwa sudah menunggu Intan hampir satu jam, tapi tidak muncul juga. Bertanya pada murid lain, juga jawabannya tidak tahu.


Hingga akhirnya fakta penculikan itu terekam dan tidak hanya satu murid melainkan dua murid.


Rahimah yang melihat rekaman Rahman di culik tiba-tiba badannya menjadi lemas. "Astaghfirullah hal azim." gumamnya. Ia meremas tangannya dan memegang dada. Degup jantungnya sudah tak karuan dan ada rasa nyeri karena berpacu dengan cepat.


Ia hampir saja jatuh jika Abdar tidak segera menangkap pinggang kecil Rahimah dan menarik tubuhnya ke dalam pelukan lelaki itu.


Dengan mata terpejam dan deru nafas yang lemah Rahimah masih bergumam menguntaikan kalimat istighfar itu.


"Astaghfirullah hal azim," ucapnya pelan sekali, bahkan hanya Abdar yang mendengarnya karena Rahimah yang berada dalam pelukkannya.


Pihak guru pun menyarankan Abdar untuk membawa Rahimah ke ruang UKS. Meletakkan tangan di bawah kaki Rahimah dengan sekali hentakan saja Rahimah sudah berada dalam gendongan Abdar.


Rahimah bahkan tidak sadar siapa yang mengangkatnya ia hanya merasa tubuhnya sedikit melayang.


Maryam ikut menyusul di belakang mereka kecuali Adit, ia memilih tinggal untuk menunggu instruksi apa yang akan pihak polisi lakukan setelah ini.


Tidak terlalu jauh untuk menuju ruang UKS, hanya melewati ruang perpustakaan dan mereka sampai.


Perlahan Abdar meletakkan tubuh ringkih Rahimah ke atas ranjang, sejenak ia menatap wajah pucat yang masih setia dengan mata terpejamnya walau separuh kesadaran Rahimah masih ada.


Menikmati setiap pahatan tuhan yang begitu sempurna, hampir saja Abdar tidak bisa menghentikan pandangannya hingga ia tersentak saat Maryam memanggilnya.


"Kakak," panggil sang adik di sampingnya. Sempat terperanjat, Abdar segera bergeser ke samping bagian kepala Rahimah seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ini, minyak kayu putih. Oleskan di pelipis dan hidungnya." Guru tadi menyerahkan botol minyak kecil kepada Maryam yang lekas di sambutnya.


"Dan Ini air mineral, jika ia sudah lebih baik beri ia minum." Sambung guru itu kembali menyerahkan botol minum kemasan sedang.


"Terima kasih, Bu." Sedikit menundukkan kepala pada sang guru untuk bantuannya.


Berdiri di belakang Maryam, Abdar bisa melihat apa saja yang dilakukan adiknya itu. Mulai dari mengoles pelipisnya hingga di bawa hidung mancung Rahimah.


Olesan minyak di bawah hidung itu membuat sang empuhnya badan bereaksi tapi tak serta merta membuat orangnya bangun.


Maryam menyingkap kerudung merah bersegi di bagian dada Rahimah dan membuka retsleting baju guna mengoleskan minyak di dadanya.


Abdar yang menyadari apa yang akan di lakukan Maryam segera berbalik badan sebelum ia melihat apa yang ada dari balik baju itu.


Maryam mengulang lagi mengoles minyak ke pelipis, bawah hidung dan dada beberapa kali hingga perlahan kelopak dengan bulu mata yang lentik itu bergerak-gerak. Maryam lekas menutup kembali retsleting baju Rahimah, Abdar pun mendengar lantas ia membalikkan badan. Sedikit demi sedikit Rahimah membuka matanya.


"Ugh." lenguh Rahimah sembari mengangkat satu tangan guna memegang kepala yang terasa amat sakit saat mata itu terbuka.


"Mbak, Imah." Lirih Maryam memanggil, ia juga merasa sedih.


Menoleh pada Maryam dengan menyipitkan mata. Sejenak Rahimah diam, mengingat ingat pada yang baru saja terjadi.


Detik berikutnya. Air matanya mulai berdesakan keluar, bulir-bulir air mata berjatuhan melewati kelopak.


Menarik kembali kepalanya ke posisi menghadap atas hingga matanya kini lurus menatap langit-langit ruangan itu.


"Rahman." Gumam Rahimah kecil seakan tak bersuara dan hanya bibir yang bergerak.


"Imah ..!!" Panggilan yang terdengar nyaring dan tersirat kekhawatiran muncul dari depan pintu yang terbuka lebar.


Maryam dan Abdar bergeser agar Rahimah bisa melihat siapa yang memanggilnya. Bukannya berhenti kini air mata itu malah bertambah deras saat ia tahu siapa wanita yang berjalan mendekatinya.


"Aya." Suaranya bergetar.


Bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk Soraya yang sudah berdiri di sampingnya. Seketika tangisnya pecah dengan suara yang terdengar memilukan.


"Hhwwaaaaa, hwaaahkss."


"Sabar Imah." Dengan lembut Soraya mengusap punggung Rahimah agar memenangkannya. Tanpa sadar Soraya menitikkan air mata.


Tidak hanya Rahimah yang menangis, Maryam yang juga merasa kehilangan putrinya juga ikut menangis dalam diamnya. Abdar yang melihat adiknya menangis segera memberi pelukan sayang.


Soraya yang tadi datang hendak menjemput Rayan, mendapat kabar dari putranya kalau ia bertemu Rahimah yang berlari ke ruang guru dan hampir terjerembab jika tidak ada Rayan.


Dari situ Soraya tahu tentang Rahman yang di culik oleh keterangan polisi dan guru juga mengatakan kalau Rahimah berada di ruang UKS. Sebelum menemui Rahimah, Soraya lebih dulu menghubungi suaminya.


Cukup lama Rahimah menangis dalam pelukan Soraya. Hingga tangisnya berhenti dan hanya menyisakan isakan kecil.


"Kita, pulang." Ajak Soraya lembut.


Rahimah tidak menjawab tapi Soraya bisa merasakan anggukan kepala Rahimah. Mengurai pelukan, menurunkan kedua kakinya dengan kepala menunduk.


Maryam menarik diri dari pelukan sang Kakak, mengusap air mata di kedua pipi putihnya. Mendekati Rahimah dan memberikan botol minum yang tadi di beri guru. "Ini mbak, minum dulu." Tawar Maryam.


Soraya mengambil juga membuka segel botol itu dan membantu Rahimah untuk minum. Abdar hanya bisa jadi penonton dari ketiga wanita itu.


Menyudahi minumnya ia pun turun dari ranjang kecil yang sama seperti ranjang pasien. Soraya dan Maryam turut membantu Rahimah dari ke dua sisi yang berbeda hingga ia berpijak pada lantai. Perlahan mereka berjalan ke luar ruangan yang di ikuti Abdar.


Keadaan sekolah hening, karena semua murid sudah di pulangkan. Yang ada hanya pihak guru dan pihak kepolisian. Polisi mencari keterangan dari semua guru dan security terkait apa saja yang mereka lakukan dari pagi hingga waktu penculikan.


Atensi Rahimah, Maryam, Abdar dan Soraya tertuju pada bebarapa orang yang terlihat berbicara dengan seorang polisi.


Ternyata tidak hanya Zidan suami Soraya yang datang, melainkan master Candra yang juga ada. Kini mereka dan Adit sedang berdiskusi agar langkah apa yang bisa mereka lakukan.


"Adit." Mereka menoleh dengan kedatangan Abdar dan para wanita.


"Abdar, kenalin ... ini Candra yang bantuin perusahaan kita waktu itu." Adit mengenalkannya saat mereka sudah berhadapan. Abdar mengulurkan tangan kepada Candra.


Candra yang di uluri tangan sempat terpaku dengan orang yang berada di hadapannya. Tidak hanya Candra, tapi Zidan juga sempat terkesiap melihat wajah Abdar yang hampir mirip dengan Rahman.


Merasa tangan yang menggantung di udara dan tidak mendapat sambutan lantas Abdar hendak kembali menarik tangannya, tapi belum sempat ia menjatuhkan Candra sudah menggenggamnya.


"Candra." Ucapnya dengan senyum ramah guna membunuh rasa bersalah yang tadi sempat membiarkan tangan itu menggantung.


"Abdar." Seperti biasa. Datar.


Melepas tangan Candra kini Adit mengenalkan Zidan padanya.


"Zidan."


"Abdar."


"Mas, aku antar Rahimah pulang dulu ya?" Sela Soraya menatap suaminya.


"Apa kamu yang menyetir? Kamu sedang hamil, yank (sayang)?" Tanya Zidan lembut.


Perhatian Zidan itu tentu membuat para jomblo di sampingnya merasa iri, karena tidak ada yang bisa di manja oleh mereka.


"Ya mau gimana lagi, Mas." Kesalnya. Semenjak Zidan yang tahu dirinya hamil lagi ia mulai di batasi dalam segala hal yang membahayakan. Termasuk menyetir.


Biasanya juga Rayan memang di jemput oleh supir tapi rencananya Soraya akan menghabiskan waktu di rumah Rahimah, maka dari itu ia tidak ingin membawa supir.


Zidan yang berada di kantor tidak tahu kalau Soraya mengemudi sendiri dan tadi istrinya itu menghubunginya tentang Rahman yang di culik membuat ia tahu kalau Soraya pergi tanpa supir.


"Adit, apa Tomi sudah lu panggil?"


Adit mengangguk, saat Abdar yang mengantar Rahimah ke ruang UKS ia pun menghubungi beberapa anak buahnya untuk melakukan pencarian sendiri terlepas dari pihak kepolisian.


"Suruh Tomi yang mengantar Mereka," perintahnya yang langsung di sanggup Adit.


"Oke, ayo Maryam." Ajaknya pada istri alm. adiknya.


"Hati-hati yank." Pesan Zidan yang balas senyum tipis Soraya.


Maryam, Rahimah, dan Soraya berjalan menuju ke tempat parkir dengan Adit yang berjalan di depan tidak terkecuali Rayan.


Memasuki mobil Rahimah duduk di dekat pintu sebelah kiri berdampingan dengan Soraya dan Rayan di dekat pintu kanan. Sementara Maryam memilih duduk di samping kemudi.


Di perjalanan Rahimah hanya diam sambil memandang keluar jendela mobil dengan pandangan kosong.


Soraya dengan setia mengusap punggung tangan Rahimah yang berada dalam geganggaman nya.


Keadaan dalam mobil terasa begitu hening. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.


Sampai di rumah Rahimah, Soraya mengucapkan terimakasih pada Maryam dan Tomi yang sudah mau mengantarkannya.


Setelah sempat saling memberikan sport, mobil Maryam kini pergi meninggalkan mereka.


Perlahan membantu Rahimah mencuci kaki dan tangannya kemudian mengantarnya ke dalam kamar Rahimah.


Menyarankan Rahimah untuk istirahat. Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi, bisa Soraya tebak jika itu adalah Dinda dan Nurul bersama Nuri dalam gendongannya yang datang.


"Sayang, minta tolong buka pintunya ya?" pintanya lembut kepada sang putra.


Rayan menyahut malas. "Iya." Berdiri dan berjalan dengan langkah gontai, walau pun malas tapi ia tetap melakukannya.


"Assalamualaikum." Salam berbarengan dari Dinda dan Nurul dari arah tangga dengan penuh semangat.


Mereka belum tahu apa yang terjadi dengan Rahman, sehingga tanpa beban dan begitu ringannya mereka menyapa Soraya yang duduk di meja ruang makan.


"Aya, Imah-nya mana ...?" Tanya Dinda santai sambil menarik kursi yang tepat berada di seberang Soraya.


"Kok Rahman, juga gak keliatan?" Belum Soraya menjawab Nurul juga memberi pertanyaan lain.


"Aku, punya kabar buruk buat kalian ..!!" Ucap Soraya serius menatap penuh pada kedua temannya.


"Kabar buruk apaan? Kamu jangan bikin Aku takut," omel Nurul tidak suka dengan suara Soraya.


"Tante Nurul ..!! Ini anaknya, bisa di ambil gak sih?" Kesal Rayan melirik Nuri dan Nurul bergantian.


Nurul tadi melepas Nuri di dekat Rayan yang duduk bersila di depan Tv. Membuat Nuri selalu berpegangan pada Rayan karena ingin bermain.


Bergegas menangkap Nuri dan kembali duduk di samping Dinda.


"Rahman, di culik."


"Astaghfirullah hal azim." Pekik keduanya nyaring.


"Sshuutt, jangan kencang-kencang ... Imah lagi istrahat. Tadi dia pingsan di sekolah," bisik Soraya sambil meletakkan satu jari telunjuk pada bibirnya.


Mereka mengangguk lemah dengan wajah yang tiba-tiba sendu.


Sementara itu, Rahimah yang berada di dalam kamar.


Ia meringkuk di atas ranjang. Air matanya tak berhenti keluar sejak ia membaringkan tubuh lemahnya di atas pembaringan itu, menangis tanpa suara.


Jarum jam terus bergulir. Keadaan di dalam kamarnya semakin hening, samar terdengar tangis Nuri di luar kamar tapi tidak membuat Rahimah bersemangat untuk bangun.


Terlalu lama menangis membuat mata kecil itu sembab hingga terasa begitu berat, Rahimah pun tertidur karena kelelahan akibat menangis.


Soraya dan Nuri tetap membiarkannya kerena mereka mengerti keadaan Rahimah saat ini.


...****************...


"Kenapa kalian juga menculik anak itu?" geram seseorang ketika menerima laporan dari kedua anak buah yang berdiri di hadapannya.


"Maaf, tuan .... Tiba-tiba saja anak itu muncul, saat kesempatan sudah di depan mata," kilahnya cepat.


"Ckk." Ia berdecak.


"Lalu di mana kalian, mengurung kedua bocah itu?"


"Di gudang bawa tanah tuan." Sahut rekannya.


"Apa mereka sudah siuman?"


"Belum, tuan mereka masih tidak sadar."


"Bagus .., segera pindahkan mereka dari gudang, bawa mereka ke tempat Jack."


"Tapi sebelumnya Aku ingin, melihat mereka lebih dulu."


Berjalan melewati kedua anak buahnya, melangkah hendak memasuki sebuah ruangan rahasia. Memutar pajangan berbentuk obar yang menggantung di dinding menghadap kebawah, tiba-tiba tembok polos berwarna putih bergeser.


Menampakan sebuah tangga yang menghubungkan ke gudang bawah tanah.


Menuruni anak tangga satu persatu hingga ia sampai pada sebuah ruangan yang tidak terlalu terang karena kurangnya pencahayaan.


Berdiri tepat di depan pintu kayu yang terlihat masih kokoh. "Buka, pintunya!!" Tidak perlu menunggu perintah hingga dua kali sang anak buah langsung membuka gembok pintu itu.


"Krekkk." Decit pintu yang berbunyi


Memasukkan satu tangan ke saku celana, dengan langkah pasti ia pun memasuki ruangan.


"Belikan badannya."


Sigap anak buahnya membalikkan anak laki-laki yang berbaring menyamping dengan wajah tertutup tangannya.


"Plak." Suara tubuh yang terlentang akibat dorongan seseorang.


"Arahkan senter ke wajahnya," kembali sang bos menginstruksikan.


"Menarik," ucapnya setelah cukup lama memperhatikan wajah anak itu.


"Apa anak ini juga ada hubungan darah dengannya?" monolog nya sambil tersenyum misterius.


"Segera pindahkan, kalau tidak mereka akan mencium jejak kalian." Ucap sembari berbalik badan dan pergi lebih dulu.


BERSAMBUNG ....


Yuhuuu, aku mau rekomendasi novel keren lagi nih. Dari author kece @Senja merona


Di jamin bikin kalian jungkir balik, gemes, greget, sedih, marah dan senang. Pokoknya nano-nano.πŸ€—



Noormy Aliansyah