Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 12



Pagi datang setelah melewati sang malam, sudah dua hari ini Ustazah Habibah, Nurul dan Dinda menginap di rumah Khadizah. Dan Hari minggu yang cerah pun akan mengantar kepulangan mereka ke Jakarta.


"Hati-hati ya semua." Ujar Khadizah melepas kepergian Ibu, Nurul dan Dinda di halaman rumahnya bersama Anak dan suami begitu juga dengan Rahimah, Pak Ramlan dan Rahman.


"Nanti kabari kalau sudah sampai?" Sahut Rahimah ikut memperi pesan.


"Iya sayang Kuhh.. Kami pergi dulu." Ucap Nurul melambaikan tangan dari jendela mobil.


"Dadah sayang.. Assalamualaikum." Ucap Ustazah Habibah kepada Anak dan Cucunya.


"Wa'alaikumussalam." Ucap Serempak dari Khadizah dan Rahimah sekeluarga.


Perlahan tapi pasti, mobil pun pergi menjauh mengecil di penglihatan dan menghilang di ujung jalan. Khadizah beserta suami dan putrinya pun pamit kepada Rahimah untuk kembali ke dalam rumah, begitu juga Rahimah izin pamit bersama Ayah dan Putranya.


"Ayo, kita siap-siap ke pelatihan taekwondo" Kata Pak Ramlan saat sudah berada dalam rumah, Rahman yang mendengar Kakeknya mengajak ia pergi ke pelatihan taekwondo, dengan semangat ia menjawab.


"Okidokiii." Ujarnya sambil berlari ke dalam kamar untuk bersiap.


Pak Ramlan pun turut bersiap masak ke dalam kamar, Rahimah yang juga mendengar Ayahnya yang hendak membawa pergi Rahman, menjadi merasa kasihan kepada sang Ayah.


Ayahnya yang sudah tua rentan dan sering sakitan-sakitan mesti repot-repot membantunya merawat Rahman, ia tidak bisa membayangkan jika saja ia harus sendirian. Rahimah sangat-sangat bersyukur karena sang Ayah yang di berikan umur panjang, bisa melewati hal tersulit bersama-sama dalam hidupnya.


Kadang Rahimah masih selalu kepikiran dengan kejadian delapan tahun lalu, bagaimana ia tidak kepikiran Rahmanlah yang membuatnya teringat akan kejadian itu. Tujuh tahun hidup bersama Rahman dengan bayang-bayang masa lalu.


Karena kehadiran Rahmanlah yang membuat ia tidak bisa melupakan sosok lelaki yang sudah merenggut hal paling berharga miliknya, ia memang tidak terlalu ingat dengan wajah lelaki itu, tapi entah kenapa melihat wajah Rahman sekilas mengingatkannya pada lelaki malam itu.


Rahimah kembali merenung memikirkan nasab tentang Anaknya, yang tidak memiliki nasab sang Ayah dan malah memiliki nasab dari dirinya. Bagaimana kelak ia menjelaskan kepada Rahman, seandainya kelak Putranya menikah dan tau nasabnya bukan dari sang Ayah? Melainkan nasab dari Ibunya, dan bagaimana juga pendapat tentang keluarga calon istrinya jika tau tentang nasab sang putra.


Sibuk dalam pikiran-pikiran masa lalu dan masa depan, ia tersentak kaget saat Rahman memanggilnya.


"Mama, kenapa melamun?" Ujar Rahman memegang lengannya saat Mamanya tidak menyahut.


"Eh, gak papa kok sayang. Kamu sudah siap? Kakeknya mana?" Ia yang tidak melihat Ayahnya cilingak celinguk mencari sang Ayah.


"Kakek lagi minum dulu katanya di dapur." Jelas Rahman dan tidak lama Pak Ramlan muncul dari arah dapur.


"Ayo kita berangkat sekarang." Mereka pun berjalan keluar rumah beriringan, tiba di halaman rumah Pak Ramlan segera memasang helm dan diikuti Rahman. Pak Ramlan segera menunggangi motornya kemudian menghidupkannya setelah hidup Rahman pun lekas naik di belakang sang Kakek.


"Kami berangkat, Assalamualaikum." Kata Pak Ramlan saat sudah bersalaman dengan Rahimah.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati." Pesan Rahimah, motor pun melaju dengan pelan meninggalkan Rahimah sendiri di halaman.


Kembali kedalam rumah Rahimah pun mencari kesibukan dengan kerjaan membuat baju pesanan tetangganya. Sambil bekerja pikirannya kembali memikirkan nasab Anaknya. Berharap kelak hidup putranya tidak di persulit oleh nasab dirinya.


Menghela nafas dan menghembuskannya secara perlahan, menyandarkan punggung di sandaran kursi. Bosan dengan menjahit ia pun mengambil pencil dan buku gambar.


Jarinya bergerak-gerak membuat coretan yang berubah menjadi sebuah gambar gaun pernikahan. Tangannya ia hentikan, matanya nanar memandang gambarnya, kini penglihatannya terasa kabur oleh genangan air mata. Ia yang dulu sempat memimpikan pernikahan seketika terkubur bersama takdir, ia enggan memimpikin hal itu lagi.


Akan sulit baginya menemukan lelaki yang bisa menerima keadaannya dan putranya, belum lagi dari pihak keluarganya.


Mendekap buku gambar, dadanya terasa dihimpit benda berat membuatnya terasa sesak bernafas, seketika air matanya mengalir deras tak tertahan. Tangannya segera menangkup mulutnya agar tidak keluar suara tangisnya, ia menangis dalam diam. Beginilah Rahimah jika ditinggal sendiri, ia masih sedikit depresi dengan segala pemikiran yang pernah ia impikan.


Ia sekarang memiliki Rahman dan ia harus bekerja keras agar Anaknya bisa menjadi seorang yang sukses, mengusap pipinya dengan kasar meletakkan gambarannya di atas meja kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi, ia pun mengambil wudhu.


Kembali duduk ke kursinya sambil membawa Al-Qur'an, ia pun mengaji sebentar agar pikirannya sedikit tenang.


Meninggalkan Rahimah dengan segala deritanya, kita lihat Rahman dengan tujuannya.


...----------------...


Melihat kartu nama dan mencocokkannya dengan yang berada di dinding pagar, setelah yakin sama, Pak Ramlan pun menekan bel yang ada di situ. Muncullah security dari arah pintu samping.


"Assalamu'alaikum." Ucap Pak Ramlan mendekatinya security.


"Wa'alaikumussalam, ada apa Pak?" Tanyanya ramah.


"Begini apa benar di sini tempat pelatihan taekwondo?"


"Benar, apa Bapak ingin mendaftarkan Anak Bapak?"


"Saya ingin mendaftarkan cucu Saya." Sembari merangkul Rahman.


"Baik silahkan masuk." Ucap security memberi jalan untuk Pak Ramlan dan Rahman agar masuk.


Mereka pun masuk di tuntun oleh security itu, samar terdengar teriakan orang serempak dari kejahuan. Semakin mereka berjalan masuk lebih dalam semakin jelas teriakan itu dari dalam ruangan.


Sampai di depan sebuah pintu, security segera membuka dan seketika teriakkan orang dari dalam menggema keluar ruangan.


"Hahh..." Terlihat anak-anak dan ramaja dengan seragam putih, membentuk dua kelompok. Satu kelompok dengan sabuk berwana putih, dan satunya lagi dengan sabuk berwarna kuning.


Anak bersabuk kuning melakukan gerakan serempak dan bersuara Hah dengan nyaring, sementara anak yang memakai sabuk putih sedang melakukan gerakan tinju dan tendangam kepada benda mati yang sedang di pegang oleh pelatih (Saboemnim/Master) secara bergantian.


Pak Ramlan dan Rahman di ajak masuk oleh security dan duduk di kursi yang di sediakan. Scurity pun masuk kedalam dan menghampiri pelatih yang memakai sabuk hitam polos.


Security berbicara pada pelatih itu lalu menunjuk ke arah Pak Ramlan dan Rahman, pelatih pun menoleh ke arah tunjuk security kemudian berjalan mendekati mereka.


"Selamat pagi pak, perkenalkan Saya Dimas pelatih di sini." Pak Ramlan segera menyambut uluran tangan Dimas dan juga memperkenalkan diri.


"Saya Ramlan dan ini cucu Saya Rahman, dia ingin ikut belajar Taekwondo." Dimas tersenyum saat Ramhan mencium punggung tangannya.


"Baik, mulai hari ini Rahman bisa ikut berlatih. Rahman kalau pulang sekolah jam berapa?" Dengan cepat Rahman menjawab.


"Jam dua belas Pak." Dimas memberi saran untuk latihan yang Rahman ikuti berikutinya.


"Kalau mau latian setiap hari sebaiknya datang saja jam dua siang, biar bisa sekolah juga."


"Disini Rahman bisa panggil Saya Master, ayo ikut Saya ganti baju."Pak Ramlan yang melihat Dimas hendak pergi membawa Rahman segera menahannya.


Pak Rahman sangat berterimakasih dengan itu semua, ia pun kembali duduk menunggu Rahman yang mengikuti Dimas kesebuah ruangan, tidak lama Rahman keluar dengan seraga putih bersabuk senada.


Rahman ikut bergabung dengan anak seumurannya dan di perkenalkan kepada teman barunya. Mula-mula Ia diberi tahu nama-nama teknik dasar dari Taekwondo.


Kyukpa (teknik pemecahan benda keras),


Latihan teknik dengan memakai sasaran atau objek benda mati, seperti papan kayu, batu bata, genting, dan lain-lain. Teknik taekwondo ini bisa berupa tendangan, pukulan, sabetan, bahkan tusukan jari tangan.


Poomsae (rangkaian jurus)


Teknik gerakan dasar dalam menyerang dan bertahan melawan lawan yang imajiner dengan mengikuti diagram tertentu.


Kyorugi (pertarungan)


Praktik teknik gerakan dasar (poomsae) dengan melibatkan dua orang yang bertarung saling menggunakan teknik serangan dan teknik pertahanan diri yang telah dipelajarinya.


Rahman yang cepat mengingat dengan mudah menyebut ulang nama dan kegunaannya. Ia pun di suruh melakukan gerakan pertama dengan baik. Tidak terasa sekitar dua jam latihan yang di lakukan Rahman dan teman-teman, mereka pun di bubarkan dengan tertip dan berpamitan untuk pulang kepada Sang Master.


...****************...


Di sebuah rumah besar nan megah, seorang Anak kecil tengah berlari kejar-kejaran di ruang tengah yang luas dengan seorang lelaki dewasa.


"Bhahaha, Ayo Om Tian, kejar intan.."


"Ahh Om capek, istrahat dulu."Keluhnya duduk di lantai sambil bersandar di Almari dinding, satu kaki ia luruskan dan satu kaki ia tekuk menjadi tumpuan tangannya.


"Ihh Om Tian payah, masa gitu aja udah capek!"


"Hehehe, Om Tian itu sudah tua.. makanya gak sanggup lagi kalau lari lama-lama." Timpal Maryam yang duduk di kursi sofa sembari terkekeh.


"Siapa bilang Om Tian tua? Om ini masih muda." Cristian terlihat kesal di bilang tua, Maryam dan Intan yang melihat wajah kesalnya seketika tertawa.


"Bhahahaha." Dengan cepat Intan berlari ke arah Maryam saat melihat Cristian berdiri dan berlari kearahnya.


"Mama.. tolong Intan, haha." Segera memeluk dan bersembunyi di samping Maryam. Dan itu malah membuat mereka semakin tertawa karena Cristian yang menggelitiki keduanya.


"Awas ya kalian, Om Tian tidak akan memberi ampun." Ia semakin senang memberi hukuman kedapa kedua wanita itu.


"Haha ampun Kak, ampun hahaha."


"Ampun Om Tian.. Bhahaha geli.." Cristian yang mendengar rintihan Adik dan Keponakannya segera berhenti dan berdiri tegap memandang keduanya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Hehehe Om Tian marah ya?" Maryam dan Intan masih terkekeh dalam pelukan, mereka tidak melihat dan tidak menyadari raut wajah Cristian yang tiba-tiba berubah.


"Om Tian ke ruang kerja dulu." Maryam dan Intan langsung berhenti tertawa saat mendengar suara dingin Cristian sambil berjalan keruang kerjanya.


"Om Tian kenapa Ma? Marah ya sama kita gara-gara di bilang tua?" Maryam menatap punggung Kakaknya yang masuk ke dalam ruang kerjanya, dan menjawab pertanyaan Intan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Engga kok sayang, mungkin Om lagi capek beneran."


"Ayo kita main lagi Ma.." Maryam dan Intan kembali bermain melupakan kepergian Cristian, Maryam yang sudah biasa melihat Kakaknya seperti itu tidak terlalu memikirkan sikap dingin Kakaknya ia menganggap itu hanya angin lalu.


...----------------...


Masuk ke dalam ruangan dan langsung duduk di kursi kerjanya, menarik laci mengampil sapu tangan yang sudah lama tersimpan dan tidak tersentuh.


Akhir-akhir ini ia selalu teringat dengan wanita itu, terbesit sesal yang mengganjal di hatinya. Tapi di saat yang bersamaan ia juga teringan dengan Sherlin, membuatnya berpikir jika mungkin saja wanita yang ia tiduri dulu sekarang sudah menjadi wanita murah*n sama seperti Sherlin.


Cristian mulai membuat opini sendiri, mungkin saja setelah ia menodai wanita itu, wanita itu malah dengan senang hati menjajakan tubuhnya kepada pria hidung belang.


"Hehh.. dasar wanita murahan.." Ucapnya geram mengingat penghianatan Sherlin, tangannya mengepal erat menggenggam sapu tangan menjadikannya terlihat kumal.


"Pasti wanita itu sekarang tidak jauh berbeda dengan Sherlin." Sambungnya lagi tanpa penyesalan dengan perbuatannya yang lampau.


"Semua ini terjadi gara-gara Sherlin." Lekas sapu tangan yang ia genggam ia masukkan ke dalam laci dan ia tutup kembali dengan kasar.


"Aaaarrrggghh." Teriaknya membanting pot bunga kecil yang berada di atas meja ke dinding.


Mengeluarkan rokok bersama pematiknya dari dalam laci yang lain dan menyalakannya dengan cepat, bersandar ke kursi mendongkakkan kepala lalu menghembuskan kepulan asap rokok ke udara secara kasar.


"Hfuuuuu" Berulang kali di lakukannya sampai rokok itu habis, dan kembali menyalakan lagi rokok yang baru dari kotak rokoknya. Ia seolah sedang mencari ketenanggan jiwa dengan melakukan itu terus menerus.


BERSAMBUNG.....


...----------------...


Keterangan :


Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan Nasab dengan Ibunya dan keluarga ibunya. Berkaitan dengan hal ini dalam pasal 186 Kompilasi Hukum Islam menyatakan : "Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewarisi dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya."


Dalam hukum Islam, Djubaedah mengatakan anak luar nikah hanya memiliki Nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya. Hubungan Nasab ini berbeda dengan perdata. Sekalipun anak luar nikah punya hubungan perdata dengan ayah biologisnya, tapi ayah biologisnya itu tidak punya hubungan Nasab dengan anak luar nikah. Milasnya, jika si anak berkelamin perempuan, ketika dia mau menikah maka ayah biologisnya tidak bisa menjadi wali nikah. Ini artinya tidak ada hubungan Nasab antara ayah dan anaknya atau tidak ada hubungan yang sah antara anak dan ayah.


Anak luar nikah juga tidak mendapat hak waris dari ayah biologisnya, kecuali ada wasiat tertulis dari ayah biologisnya yang menyebutkan memberikan hartanya kepada anak luar nikah dan di dukung oleh hukum, atau anak luar nikah yang menuntut hak waris kepada ayah biologisnya. Tapi tetap tidak bisa mendapat hak waris lebih banyak dari anak sah.


-Begitu juga dengan Rahman yang bernasab ibunya, Bin Rahimah.-


Maaf jika penjelasannya kurang memuaskan, mohon maklum karena masih pemulaπŸ™πŸ˜Œ


up-nya juga masih belum bisa rutin, maaf lagi karena molor mulu😁✌


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Noormy Aliansyah 😘😘😘