
Setelah sarapan Rahman langsung berangkat dijemput oleh Adit bersama Intan. Asistennya itu mengutuk Abdar dalam hati, karena setiap hari bukan nya berkurang pekerjaannya selalu saja bertambah.
"Yank," panggil Abdar manja memperhatikan punggung Rahimah di pantry dari tempat meja makan.
"Hmmm." Sahut Rahimah tanpa berbalik masih sibuk dengan apa yang ia kerjakan.
"Yank ...." Kembali memanggil ulang sambil berdiri dan berjalan mendekat.
"Hmmm," lagi-lagi Rahimah hanya menyahut dengan gumaman.
"Kenapa sih, jawabnya hmm hmm mulu?"
"Mas." Pekik Rahimah tersentak kaget karena tiba-tiba dipeluk Abdar dari belakang.
Dengan santai Abdar mempererat pelukannya pada perut rata sang istri, dagu nya pun diletakkannya di atas bahu Rahimah sebagai tumpuan.
"Kenapa?" Bisik Abdar lembut di telinga Rahimah.
"Geli ahh, mas." Ujarnya, karena tangan nya berbusa dan kotor ia pun bergerak-gerak guna tangan suaminya terlepas.
"Jangan bergerak, nanti ada yang bangun ...!" Rahimah bergidik ngeri mendengar suara Abdar terkesan berbeda dari yang tadi.
"Gimana nggak gerak, kalau tangan mas malah menjalar kemana-mana!" Protes Rahimah masih sedikit bergerak.
"Kapan ya, dalam sini ada isinya?" Kata Abdar mengusap lembut perut Rahimah.
"Udah isi kali Mas!" Jawab Rahimah santai mencoba kembali mengerjakan pekerjaannya sembari menahan geli.
"Eh serius?" Seketika menegakkan kepalanya dari bahu Rahimah dan menatap sang istri terkejut.
"Sejak Kapan?" sambungnya lagi.
"Sejak tadi!" ujar Rahimah ambigu.
"Maksudnya?" Abdar mengerutkan kening tidak mengerti.
"Tadi 'kan kita baru sarapan? Jadi udah isi!" Kedua bahu Abdar langsung turut setelah mendengar penjelasan Rahimah.
Ternyata apa yang sedang ia bahas dan sedang Rahimah bicarakan itu, berselisih.
"Maksudku bukan itu," sergah Abdar cepat.
"Terus?" tanya Rahimah pura-pura tak mengerti.
"Bayi," ucap Abdar lirih.
Rahimah mengulum senyum, mencuci tangan dan melap nya lantas ia berbalik menghadap Abdar. "Nggak secepat itu kali, mas. Kitakan baru aja menikah? Jadi nggak mungkin bisa langsung isi." Ujar Rahimah lembut sambil mengusap rahang tegas suaminya.
Pandangan mereka bertemu dan saling menatap lekat, "Terus ... Gimana biar bisa cepat isi?" tanya Abdar sambil tersenyum misterius.
Rahimah terkesiap ia terjebak oleh jawaban sendiri, bola matanya pun bergerak gusar mencari jawaban yang tepat. Belum sempat menjawab Abdar sudah bersuara lagi.
"Kita buat setiap hari, siang dan malam biar cepat isi!" Dengan sekali hentakan Rahimah langsung berada dalam gendongannya.
"Mas." Pekik Rahimah sambil melotot.
"Apa?" tanya Abdar santai mendekati anak tangga.
"Mau ngapain?" Tangannya sudah erat memeluk leher Abdar karena takut terjatuh.
"Mau nyicil dulu." Mencium pipi Rahimah cepat.
"Iih, mas ngaco! Ini masih pagi, lagian tadi malam kan sudah?" protesnya tidak setuju.
"Belum puas, masih pengen lagi." Mendorong pintu kamar dan langsung menguncinya rapat.
"Tapi kan Mas," keluhnya.
Abdar tidak peduli dan langsung membaringkan nya di atas kasur. Rahimah menghela napas pasrah ketika jilbab instannya ditarik Abdar dan dilempar nya sembarang arah.
"Setiap dekat kamu tuh, aku jadi pengen dan pengen lagi. Apa lagi kita cuman berdaun di rumah, aku jadi pengen mengurung kamu di kamar seharian semalam." Aku Abdar sambil menindih Rahimah dengan kedua tangan bertumpu di sisinya.
"Kalau gitu nanti aku kerja aja deh, biar nggak dekat-deket mas Abdar." Balas Rahimah cemberut.
"Nggak aku kasih izin," tegas Abdar.
"Habisnya mas sih, tadi malam udah kali! Masih masih pagi minta lagi?" Pukulan manja mendarat di dada bidang pria yang sedang menindih nya.
"Jadi nggak ikhlas, kalau kamu melayani suami?" Suara datar membuat Rahimah menciut.
"Bukan begitu!" Lirih nya sambil menggerakkan jari lentiknya di dada Abdar, membuat pola abstrak.
Rahimah menunduk takut, "Aku kan capek Mas, kalau harus mandi terus," gumamnya.
"Cuman itu?"
"Iya."
"Gampang, nanti aku mandiin!" Rahimah melotot reflek mencubit dada sang suami.
"Awww." Rintihan kecil lolos dari mulut Abdar.
"Bukan cuman itu Mas, ngerti nggak iih? Aku juga capek kalau setiap saat harus bolak balik, tengkurap, terlentang, terus di atas ... napa sih," ujarnya bersunggut-sunggut.
"Ya udah, diam gini aja ... nggak aku bolak balik lagi."
Rahimah masih ingin mengeluarkan unek-uneknya tapi keburu mulutnya disambar oleh sang penguasa tempat bertapa nya.
Menghela napas panjang saat Abdar melepasnya, mau tidak mau ia harus pasrah. Akhirnya dengan sabar ia melepas semua kain yang menempel ditubuh ringkih nya dan mengaitkan kedua tangan di atas leher Abdar.
Terulang lagilah malam panas, eh salah ... pagi panas maksudnya. Apa yang dikatakan Abdar tadi, sekarang ia buktikan ... Rahimah memang dibiarkan nya diam, tapi juga dikurung nya sampai menjelang Rahman pulang sekolah.
"Mas iih, badan ku rasanya jadi remuk." Keluh Rahimah sambil cemberut usai mandi wajib.
"Jangan cemberut gitu! Nanti aku jadi pengen lagi!"
"Kenapa sih? Kok malah jadi ketagihan terus? Mas nggak tau apa, kalau punyaku jadi kaya perih dan lecet gitu." Kata Rahimah menahan tangis.
"Maaf ... habisnya aku nggak tahan liat kamu, jadi pengen terus," ujar Abdar menyesal.
"Kalau nggak tahan lihat aku, mending aku pergi kerja aja."
"Nggak boleh, aku nggak kasih izin. Titik." tegasnya tak terbantahkan.
"Kalau gitu, jangan diulangi lagi!" balas Rahimah tak kalah tegas.
Abdar menggaruk tengkuknya, menyadari ini semua memang kesalahannya. "Iya, akan mas coba," jawabnya pelan.
"Jangan hanya mencoba, tapi HARUS," ucap Rahimah penuh penekanan.
"Iya, iya ...."
"Ini semua salah mas Abdar, aku jadi nggak masak siang," melirik kesal.
"Biar pesan di cafe aja." Ucapnya langsung menyambar hp di nakas.
"Aku sumpahin kamu yang ngidam nanti mas," gerutu Rahimah kesal sambil memperhatikan Abdar yang menelpon seseorang.
Tidak lama pesanan Abdar datang berbarengan dengan Rahman.
"Tumben pesan makanan di luar, ma? Mama nggak masak?" Rahman menelisik Mamanya yang duduk di kursi.
Saat ini mareka tengah berkumpul di meja makan guna bersiap untuk makan siang.
Tatapan tajam Rahimah layangkan kepada tersangka yang membuat dirinya tidak bisa memasak makan siang. Sementara Abdar hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi rapih dan putihnya.
"Iya mama tadi nggak sempat masak, soalnya nggak enak badan." Kata Rahimah memberi alasan sambil melirik Abdar.
"Ya udah ma, kalau nggak enak badan ... nanti istrahat lagi aja di kamar," usul Rahman.
Abdar mengulum senyum.
"Kalau terus di kamar, mama malah tambah sakit. Mending mama kerja aja deh." Abdar langsung menatap tajam.
Rahimah mengangkat sedikit dagu nya, menyatakan kalau ia sedang menantang.
"Mama kan sekarang punya butik? Kenapa nggak ke butik aja?" Seketika Rahimah tepuk jidat.
Ia yang belum terbiasa mempunya butik sendiri bahkan bisa melupakannya, mungkin gara-gara Abdar yang selalu mengurung nya hingga ia tidak bisa berpikir jernih karena sehabis digempur ia langsung tertidur dan ketika bangun kembali digempur.
"Oiya, kenapa mama bisa lupa ya?"
"Di butik kan ada Jihan, dia yang urus itu butik. Kamu cuman nengok sekali-sekali," Abdar menimpali.
"Sama aja namanya itu bukan butik aku," keluh Rahimah kesal.
"Iya deh, besok kamu boleh ke butik. Tapi jangan sampai capek," pesan Abdar pasrah.
Padahal niatnya pengen membuat bayi sampai selesai dulu, baru akan memberi jeda tapi sekarang gatot ... tapi ia tidak menyerah, nanti malam pikir Abdar.
BERSAMBUNG ....