Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 69 Bertemu teman lama



Hari-hari berikutnya di lewati seperti biasanya, hari ini Rahimah meminta Dinda untuk menemaninya membeli kain karena Dinda yang kebetulan berkunjung ke rumahnya sejak dari tadi pagi.


Sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa Dinda datang menyambanginya, itu semua karena tadi malam Rahimah memberi kabar jika malam ini Abizar akan datang melamarnya secara resmi.


Jelas saja trio wewek heboh, tidak puas menginterogasinya di WAG dan ingin segera melempar berbagai pertanyaan. Mereka pun memutuskan untuk berkumpul tapi karena Soraya sedang mual akibat kehamilannya ia memutuskan datang di sore hari menjelang malam begitu juga dengan Nurul yang tengah kerepotan dengan Nuri.


Dengan menggunakan mobil Dinda, Rahimah pergi ke pasar guna membeli beberapa jenis kain.


Rahimah juga sudah mengatakan jika kain itu untuk membuat baju Maryam, Abdar dan Intan. Tanpa barlama-lama setelah tiba di pasar mereka segera membeli keperluan bahan.


Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya Dinda mengomel, karena baru sekarang menceritakan tentang kemajuan hubungannya bersama Abizar.


Dinda sempat protes ketika tahu bahwa hanya Ustadzah Habibah saja yang diberi kabari. Rahimah hanya bisa menghela napas pasrah saat menjelaskan dan mencari alasan kenapa baru sekarang mengabari mereka.


Ustadzah Habibah adalah orang pertama yang diberi tahu karena beliau-lah yang akan menjadi pengganti kedua orang tua Rahimah untuk menyambut lamaran.


Menenangkan Dinda, Rahimah beralasan karena sedang memerlukan waktu berdua untuk membicarakan masalah ini dengan Rahman, setelah selesai baru mengatakan pada trio wewek.


Karena jika tidak, ia tidak akan ada waktu bila mendapat gangguan dari teman-temannya. Yang ada Dinda bisa menginap untuk mencecar pertanyaan padanya seperti sekarang.


Sebenarnya itu memang benar, sejak kejadian drama Abdar yang menemuinya, Rahimah dan Rahman membahas itu hingga berhari-hari.


Tentang bagaimana bersikap, juga seandainya ia sudah menikah dengan Abizar, mereka memutuskan untuk memberi tahukan Abizar tentang siapa ayah kandung Rahman supaya tidak ada kesalah pahaman dikemudian hari.


Itulah yang ibu dan anak itu bahas beberapa hari terakhir ini.


Cukup lama Rahimah dan Dinda memilih kain juga bahan yang lain, selain memilih warna mereka juga harus pandai menawar sesuai harga kainnya.


Ketika hendak pulang mereka tidak sengaja bertemu dengan Maya yang sedang berbelanja keperluan warungnya.


"Hai Imah," Maya lebih dulu menyapa.


Setelah kejadian Maya yang disuruh warga untuk meminta maaf kepadanya tentang kejadian sepuluh tahun silam dan yang baru-baru ini, sekarang ia selalu bersikap ramah kepada Rahimah.


"Hai Maya," balas Rahimah sopan.


"Beli apa tuh?" tunjuk Maya pada tas belanja Rahimah.


"Eh ini, lagi beli kain buat pesanan baju teman."


"Oh ... masih buat baju ya?"


"Iya, nih," jawab Rahimah pendek.


"Bisa dong, nanti aku minta dibuatkan baju sama kamu?"


"Insya Allah, kalau gak ada pesanan pasti bisa kok."


Dinda yang masih menyimpan dendam pada Maya tidak ikut menyahut, ia hanya menjadi pendengar.


"Aku dengar, kamu mau dilamar ya? Sama keranatnya Ustadzah Habibah ?"


Kabar seperti ini jelas saja cepat sekali menyebar, hanya cukup satu orang yang membocorkan nya maka akan menjadi topik hangat untuk dibicarakan.


"Loh, tau dari mana kamu?" Dinda akhirnya ikut bersuara, bahkan terdengar kesal. Itu karena ia menyadari bahwa orang lain sudah pada tahu dan ia baru saja tahu.


"Tau tante Hindun 'kan?" balas Maya dengan pertanyaan sambil melirik Rahimah.


"Iya tau, yang rumahnya dekat gang," ujar Rahimah menjawab


"Nah ... tante Hindun yang kasih tahu, kata beliau tiga hari yang lalu gak sengaja liat kamu sama kerabatnya Ustadzah Habibah ngobrol di halaman rumah kamu, dan gak sengaja denger apa yang kalian bicarakan." Jelas Maya.


Rahimah merutuki kebodohan nya beberapa hari yang lalu, akibat selalu menundukkan kepala ia tidak sadar bahwa ada orang yang curi dengar pembicaraan mereka.


"O-oh gitu ya?" Rahimah tersenyum kaku sedang Dinda mencibirkan bibirnya.


"Jangan lupa undang aku ya, kalau sudah resmi."


"Insya Allah, do'akan saja," pinta Rahimah tersenyum.


"Kalau gitu aku duluan ya, masih banyak yang mau dibeli." Pamit Maya sambil melambai.


"Iya." Rahimah membalas tambahannya.


"Wah, ternyata udah satu kampung yang tau. Lah kita ... baru tau, parah-parah ...." sindir Dinda.


"Dinn," keluh Rahimah menunjukkan mimik wajah kasihan.


"Iya, iya ... ayo kita pulang." Memeluk lengan Rahimah sambil berjalan.


"Imah, kita mampir ke resto bentar ya? Ada perlu dikit nih." Kata Dinda tiba-tiba ketika mobilnya sudah berjalan.


"Iya, boleh."


Membelah keramaian ibu kota yang terkenal dengan kemacetan nya, kini tak terasa mobil Dinda memasuki halaman parkir restoran miliknya. Self Restaurant.


Disambut sang pelayan yang membungkuk hormat, Dinda dan Rahimah segera menuju ruang kerjanya.


"Duduk dulu, aku mau liat email bentar."


Rahimah duduk sambil memperhatikan ruangan Dinda, sebuah ruangan cukup luas yang memilki fasilitas lengkap kini terpampang nyata. Perhatian Rahimah tertuju pada Dinda, walau Sekarang temannya itu menjadi bos, tapi Ia tetap proposional dalam hal berkerja hingga kadang lupa sekitarnya.


"Ya ampun, aku lupa pesanin kamu minum."


Rahimah tersenyum karena Dinda yang baru menyadarinya.


"Bentar aku pesan dulu."


"Gak apa-apa, santai aja. Aku bisa kok pesan sendiri, kamu kerjain aja kerjaan kamu," tolak Rahimah melihat Dinda yang hendak menghubungi seseorang.


"Serius? Gak usah di pesanin?"


"Gak usah, aku mau pesan sendiri. Gak apa-apa'kan kalau aku kebagian dapur?" Berdiri meminta izin hendak keluar.


"Oh iya, boleh banget. Kamu taukan tempatnya."


Rahimah keluar dan berjalan menuju bagian dapur, ia merasa bosan berada di dalam ruangan Dinda maka dari itu ia memutuskan untuk berkeliling.


Tentu saja para pelayan sudah mengenal Rahimah, karena ia sudah pernah ke resto tersebut bahkan ikut memasak bersama Dinda waktu itu. Jadi pelayan tidak mencegatnya saat berpapasan.


Belum tiba di bagian dapur ketika melewati ruangan VVIP pintunya terbuka dan ada yang memanggilnya.


"Rahimah." Langsung menoleh karena merasa dirinyalah yang di panggil.


"Eh, mas Adit ya?" Rahimah mengenali Adit yang keluar dari ruangan bersama rekannya yang sedang melakukan rapat dan Ia juga cukup kenal orang itu.


"Iya, mau kemana?"


"Mau ke bagian dapur mas."


"Loh, Rahimah ya?" sapa rekan Adit.


"Lu kenal?" tanya Adit heran.


"Dia teman sekolah gw bang."


"Gimana Imah, ingat aku Gak?"


"Andri."


"Wah gila, kok bisa nebak?" ucapnya kagum.


"Asal aja." elaknya.


"Jarang ada yang tepat biasanya, lah kamu ... baru ketemu langsung bisa nebak. Udah lama gak ketemu, apa kabar kamu?" mengulurkan tangan yang disambut Rahimah.


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?" balas Rahimah.


"Alhamdulillah sangat baik. Nanti aku mau kasih tau Indra, kalau ketemu kamu di sini. Pasti dia gak nyangka, soalnya kabar yang kami denger kamu tinggal di Bandung."


"Sudah pernah ketemu Indra dua kali, waktu di rumah sakit. Ya, dulu aku tinggal di Bandung dan sekarang sudah tinggal di sini lagi."


"Oya, kamu sudah ketemu Indra? Kok dia gak cerita," kesal Andri.


"Emkhem, ada yang lagi reunianan nih. Gw dikacangin," keluh Adit yang dilupakan.


"Haha, sorri bang. Gw lupa sama lu. Tapi gimana ceritanya abang bisa kenal sama teman gw?"


"Ingat penculikan yang gw ceritain 'kan?" Indra mengangguk.


"Nah ... Intan di culik sama anaknya Rahimah." raut wajah terkejut seketika muncul dari Indra.


"Eh, kamu udah punya anak Imah? Kok nggak kasih kabar kalau sudah nikah?" Rahimah meringis mendapati pertanyaan itu.


"Lu gak tau?" tanya Adit, Indra menggeleng.


"Tapi kan sekarang Rahimah udah janda," kembali Indra terkejut.


Rahimah mulai tidak nyaman dengan pembahasan tentang dirinya, ini sangat menganggu privasinya.


"Em maaf mas, permisi ... saya mau ke dapur," Rahimah ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan berikutnya.


"Ngapain ke dapur? Kamu pemilik resto ini?" tanyanya Adit penasaran.


"Bukan mas, ini milik teman saya. Dia lagi sibuk, makanya saya jalan-jalan bentar."


"Saya baru tau," aku Adit jujur.


"Teman kamu yang mana?" tanya Indra.


"Imah," belum menjawab Dinda sudah muncul memanggilnya dan ikut bergabung di depan ruangan VVIP.


"Dinda."


Dinda memandang orang yang memanggil sambil mengerutkan kening.


"Tunggu dulu, biar aku tebak. Kamu pasti Indra 'kan?"


"Eh ... Kamu bisa nebak juga?"


"Hampir enggak sih, tapi ingat terakhir ketemu sama saudara kembar kamu tuh di rumah sakit sebagai dokter anak. Jadi gak mungkinkan, seorang dokter lagi santai di resto?"


"Hem ternyata," keluhnya.


"Lagi ngapain di sini?"


"Aku lagi rapat sama bang Adit, terus gak sengaja ketemu Imah di depan pintu pas kita keluar," jelas Indra.


"Oohh ... Imah kamu udah buat minum belum?"


"Jangan bilang kalau resto ini milik kamu?" Indra memicing'kan matanya.


"Emang."


"Seriusan?"


"Iya serius, udah ah ... dari tadi Imah belum minum, kita mau ke dapur dulu. Kalian mau ikut?" ajak Dinda berbasa-basi.


"Enggak, saya mau kembali ke kantor." Tolak Adit.


"Aku juga mau balik ke kantor."


"Kapan-kapan kita kumpul bareng sama yang lain, aku minta nomor kontak kalian dulu." Indra mengeluarkan Hp-nya guna memasukkan nomor Hp Dinda.


"Boleh," Dinda menyebutkan nomor Hp-nya.


Usai saling bertukar nomor, Indra dan Adit pamit lebih dulu.


"Kamu udah beres sama kerjaan Kamu?" tanya Rahimah.


"Udah, tapi kamu belum minum kan? Kita buat minum dulu yuk."


"Dinda, sebaiknya kita pulang aja deh. Gak usah buat minum."


Mengingat pertanyaan Indra tadi membuat Rahimah tidak tenang dan ingin segera pulang.


"Loh, tapi kamukan belum minum," protes Dinda.


"Gak masalah, kita minum di rumah aja nanti."


"Ada apa sih? Ada masalah?" tanya Dinda curiga.


"Enggak, aku cuman pengen cepat pulang aja. Nanti malam kan bakalan ada tamu, jadi kita musti siapin makanan," elak Rahimah.


"Tapi kamu yakin gak minum dulu?"


"Gak masalah, ayo." ajak Rahimah kembali ke ruangan Dinda guna mengambil tasnya.


Menuju rumah, Rahimah selalu terngiang akan pertanyaan Indra tentang temannya itu yang tidak pernah tahu kapan ia menikah dan tiba-tiba sudah punya anak.


Ia menjadi khawatir dan resah jikalau ini akan berdampak kepada Abizar yang seorang Ustadz jika mereka menikah, pertanyaan-pertanyaan tentang asal usul Rahman pasti akan menghantuinya.


Untuk yang kesekian kalinya, Rahimah .menjadi ragu untuk menikah. Takun menjadi beban bagi keluarga suami kelak.


.


...****************...


.


Jika Rahimah tengah resah, berbeda dengan Abdar yang selalu bersemangat setiap kali menyelipkan namanya di sepertiga malamnya


Sudah tiga malam ini Abdar akan bangun ditengah malam guna melakukan shalat sunah, berdo'a meminta sesuatu yang kini menjadi tujuan hidupnya.


Seperti doa yang diajarkan Abizar, bahkan sama persis ia mengikuti setiap kata-katanya itu.


"Kak Abdar lagi ngapain?" Maryam yang menyambanginya di ruangan kerja langsung bertanya setelah pintu di buka tentu sebelumnya atas izin dari sang abang nya.


"Lagi nunggu Adit, katanya dia lagi rapat sama klien dan akan kesini ngasih laporan sehabis dari kantor." jelasnya tetap menatap layar leptopnya.


"Kakak gak bosan apa, dari tadi di sini mulu? memilih duduk di kursi seberang meja Abdar.


"Enggak," balasnya.


"Tok ... tok ..., Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, masuk." perintah Abdar


Orang yang sedang dibahas kini muncul.


"Ini orangnya, yang lagi ditunggu. Aku buatin minum dulu." ujar Maryam berlalu pergi.


"Apa maksudnya ini?" Adit melempar sebuah amplop putih ke atas meja di depan Abdar.


Melirik amplop, Abdar tersentak ketika melihat nama rumah sakit tertera disudut amplop itu. Bergegas mengambil dan membukanya.


"Positif, sudah gw duga," gumam Abdar tersenyum.


"Bisa-bisanya lu menyembunyikan hal sepenting ini dari gw," sungut Adit kesal.


"Untung tadi, gw nerima surat itu pas mau kesini. Sekarang jelasin, semuanyaaaa," pinta Adit dengan sangat.


Menghela napas Abdar pun bersuara.


"Sorry, gak maksud gw gak bilang-bilang." Ucap Abdar menjelaskan.


"Jadi sekarang, kita udah tau yang sebenarnya. Terus ... iu mau buat Apa?"


"Gak tau, gw juga bingung. Tiga hari yang lalu Raman udah nolak gw sebagai ayahnya. Jadi otak gw gak mau diajak mikir."


"Sialan lu? Jadi lu udah mau tanggung jawab .... Tapi kabar kaya gini aja lu gak ngasih tau gw, terus yang terbaru ini ... juga gak bilang," kata Adit bersungut-Sungut saat tahu beberapa hal yang di rahasiakan darinya.


"Sorry lagi, gw lupa." Abdar meringis melihat Adit melotot padanya.


"Tadi gw ketemu Rahimah sama temannya di restoran tempat gw mitting tadi." Cerita Adit.


"Really?" Adit mengangguk.


"Sebenarnya gw bisa aja bantu lu, tapi mengingat lu udah dua kali main rahasia-rahasiaan, jadi ya gak mau bantu."


"Rahasia apaan tuh?" Maryam masuk dengan pertanyaan, menghentikan pembicaraan.


"Bukan apa-apa, nanti saatnya kamu juga bakalan tau." ujar Adit santai.


"Iih, apaan sih ... bikin penasaran aja."


"Udah, mending kamu keluar ... ini .urusan lelaki." usir Abdar sambil menggunakan tangan.


"Iih nyebelin, iya aku keluar."


"Sekali lagi gw minta maag, soal yang itu. Gw cuman perlu waktu untuk berpikir," bujuk Abdar.


"Jadi please, lu bisa bantu apa?!"


"Ok, untuk kali ini gw maafin tapi gak ada lain kali," ancam Adit.


"Iya, iya ... janji. Jadi bantuan apa?"


"Gw bakal deketin Dinda temannya Rahimah, terus nanti cari kesempatan buat menghasut Rahimah lewat Dinda," usulnya.


"Alahh, bilang aja lu emang ada niatan deketin temannya Rahimah," Abdar tersenyum sinis.


"Mau di bantuin gak? Kalau gak, juga gak masalah."


"Iya deh, gw mau. Terserah lu aja mau pakai cara gimana."


"Gajih bulan ini naik 100%," ucap Adit sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Dasarrr, anak buah launattt."


"Hahahaha." Adit tertawa puas penuh kemenangan.


BERSAMBUNG ....


😴😴 gays mata udah lima watt, tapi tetap di paksain nulis ... jangan lupa bayar saya ya? Seperti bisa, like πŸ‘, komentar πŸ“¨, kalau punya banyak poin minta di kirim bunga 🌹 atau kopi β˜•, terus semisal vote nganggur kirim aja sekalian 🎞. HeheheπŸ˜‰


Ya sudah, saya mau tidur dulu. Salam sayang ....


Noormy Aliansyah 😘😘😘